Cerpen; Segi Cinta

Cerpen; Segi Cinta*

(*Dimuat dalam Antologi Riskaninda Maharani)

cerpen-segi-cinta_antologiDari segi penampilan, aku memang menggilaimu. Dari dulu sekali. Tetapi dari segi cinta, aku baru menemukan jejaknya akhir-akhir ini. Dan, aku sangat menyesalinya.

Sekarang ini aku sering berkata padamu, Tuhan tidak mencetak hati sebesar bulat bumi. Ruang rasa itu teramat mungil, hingga seseorang bisa membawanya kemana-mana. Lagipula ia hanya satu. Tunggal. Namun, dengan satu hati itu aku mesti mencintai banyak orang serta beberapa hal. Jadi satu hati untuk satu orang itu… keliru, bukan?

Kau selalu tersenyum mendengarnya, tanpa gelengan atau anggukan. Mungkin kau tersinggung, atau mungkin juga bingung. Ah…  raut wajah dan binar mata kosongmu kini begitu teduh. Terlalu tenang dengan sindiran gagal itu. Aku… jadi semakin malu. Apalagi, telah hampir setengah bulan aku tak menyambangimu, berkutat dengan rencana rahasia yang belum boleh kau tahu.

Dan, siang ini kau tak membukakan ketukan pintuku. Kau hanya merespons dengan deheman parau, tapi cukup lantang. Maka aku terpaksa mendecitkan pintu kamarmu, perlahan. Dengan hati-hati kujinjing plastik berisi mie ayam pangsit, kegemaranmu.

Sementara kau terduduk di tepi ranjang, membelakangiku. Kulihat punggungmu, tetap tegap. Pasti dua bola mata di belakangnya juga tetap indah menghadap jendela, walau keduanya berputar tanpa tujuan.

“Hendra… Nih aku bawain mie ayam kesukaanmu?!”

“Makasih…”

Aku menghampirimu, berusaha mengendus kejanggalan yang kau ekspresikan. Kuletakkan plastik kecil itu pada meja di tepi ranjangmu. Kau masih meluruskan pandangan, maka aku ikut memandang ke jendela, berharap menemukan sesuatu sebagai bahan obrolan. Namun, astaga! Kaca jendela itu memantulkan pelupuk matamu yang telah mengembun. Bilakah kau menangis? Bilakah kau telah tahu semuanya?

Jujur saja, aku menjadi sangat khawatir. Aku seumpama penanggung jawab atas semua dukamu. Aku seolah wajib menepisnya dengan kembali memekarkan senyum menawanmu itu. Benar katamu dulu, dulu sewaktu kau berkorban paling tragis untukku.

Kau bilang, cinta itu menghitamkan pandangan bagi mata yang terjaga. Sebaliknya, cinta pula yang bikin benderang malam yang gulita. Kau bilang lagi, cinta bukanlah lawan sepadan untuk logika. Sebab karena cinta, sering kita berkata, berniat dan bertindak diluar pemikiran serta pengendalian, asal senyumnya terpancar.

Bagiku sendiri, selama ada percik cinta, maka batu bisa lunak dan api bisa padam. Sebaliknya, dingin bisa jadi didih dan senandung bisa jadi raung. Cinta… Cinta… Ia bisa mengembuskan energi lebih yang tak kita kenali. Meski positif atau tidaknya, kembali pada hati.

“Kamu gak enak badan, ya?” tanyaku pelan.

“Riskaninda Maharani…” desismu menghiraukan tanyaku. Sementara posisi dan pandanganmu tak berubah.

“Iya, Hendra Saputra,” jawabku, meyakinkan keberadaanku di sisimu.

“Kenapa kamu masih mau datang kemari?” tanyamu. Bibirmu bergetar.

“Lho… Aku… Aku kan masih pacar kamu… Cinta sama kamu… Apa aneh kalau aku datang? Ah, ada-ada aja kamu! Makan mie-nya dulu, yuk?!” bujukku agak kikuk. Aku mematut-matut jilbabku yang baik-baik saja, tanpa kusut.

“Kamu kasihan sama aku?”

“Ng… Iya, kasihan tampangmu tampang lapar… Sini aku suapin deh… Tunggu, ya…” timpalku lagi, refleks. Kau tersenyum. Ah, lega juga melihatnya. Segera aku keluar kamar, mengambil mangkok hadiah dari penyedap masakan.

cerpen-segi-cinta_antologi_RM jpg

Aku tak sengaja menncintaimu, kalau bukan karena sahabatmu itu. Ketika gadis-gadis kampus sibuk membicarakan dan mengagungkan kepopuleranmu, aku malah menepikan pandangan. Aku berusaha tak tertarik pada orang sepertimu.

Memang, aku tak munafik. Wanita mana yang tak terbius matanya oleh keelokan rupamu. Badan tinggi tegap, kulit putih, mata sipit tapi tajam, alis hampir beradu dengan ujungnya yang melengkung, serta pembawaan diri yang supel.

Namun aku tak suka dengan kelakuanmu menimang-nimang hati banyak orang. Meninakbobokkannya sampai terlelap tak sadarkan diri. Atas nama cinta, awalnya kau junjung hati itu, lalu diam-diam kau detakkan pula bom waktu untuk meremukkannya. Dari segi cinta, hal itu tak diterima.

“Riska?” seseorang menyapaku ketika tengah kuamati kau dikerumuni banyak wanita.

“A…Av… Avet?”

Dia mengangguk.

“Avet Batang Parana?”

Dia mengangguk lagi, makin mantap.

“Kam… Kamu masih mengenaliku? Syukur deh…” jawabku girang, tak menyangka akan bertemu dengannya di kampus baruku, semester 4 kala itu.

“Ya iyalah… Walau sekarang kamu berjilbab, aku masih suka kamu. Eh, maksudnya aku masih kenal kamu dan… aku sangat suka gaya barumu, Riska! Lebih anggun dan wah…” celotehnya. Dadaku berdesir, kebiasaan lama jika melihat wajahnya. Tak ada yang bisa kulontarkan selain senyum terkembang.

“Eh ngomong-ngomong, kamu fans-nya Hendra juga, ya? Samperin aja, gih… Dia sahabatku, orangnya welkam ke semua orang, kok!”

Aku menggeleng cepat-cepat.

“Ngaku aja, jangan malu-malu… Dia nyadar lho kamu perhatiin?! Pas liat kamu, temen SMA-ku, makanya aku samperin. Gabung, yuk?!”

“Hah? Apa?” mulutku ternganga saja, sementara lenganku telah dalam kepalan tangan Avet. Entah kenapa, aku pasrah saja. Dari dulu sampai sekarang, berada di sisinya masih menaburkan rasa nyaman.

Semenjak SMA, aku telah menaruh hati padanya. Dia berbeda dengan anak laki-laki lain yang kebanyakan pamer serta menebar perhatian. Ekskul remaja mesjid yang diikutinya mencetak kealiman tersendiri dalam segenap tindak-tanduknya. Lagaknya yang tidak terlalu genit terhadap cewek, semakin menajamkan sifat dinginnya. Hingga aku dan teman-teman malah semakin penasaran. Walau dia orangnya gaul dan berbaur dengan kalangan apapun, tapi bagi kami, cewek yang mengobrol lama-lama dengannya adalah orang yang beruntung.

Tetapi aku agak kesulitan untuk menjalin komunikasi dengannya. Bagaimana tidak, kami hanya satu kelas ketika kelas 1 saja. Selebihnya kami berpisah, bahkan ekskul yang diikuti pun berbeda. Namun, aku masih mengikuti beritanya. Dan tanpa kutahu, diapun menyukaiku.

Sekarang… Dia hadapanku!

Meski mataku dirayu oleh tampang memesona darimu, tapi tetap saja degup jantungku terpacu karena berdekatan dengannya. Kau tahu, pertemuan itu adalah awal dari dilemma paling menyiksa ini.

Perkenalanku denganmu makin mengakrabkanku dengannya. Lama-lama, waktu menuntunku pada suatu hubungan yang lebih dari sekedar teman. Dalam hari yang sama, kau dan Avet menyatakan cinta. Aku terlebih dahulu menyambut Avet di beranda hati. Padanya kuceritakan, kalau kau juga meminang cintaku. Malah kau berjanji akan menanggalkan kebiasaanmu mempermainkan hati. Menggondol jauh gelar playboy.

Aku tak sepenuhnya percaya. Namun Avet malah membujukku untuk menerimamu. Dia bilang, semoga keberadaanku bisa memberimu pelajaran untuk menghargai perasaan serta menempatkan sebentuk hati pada tahta yang suci. Bodoh, aku malah menurutinya.

Semula aku berpikir sederhana; Dalam hatiku, aku akan memahatkan nama Avet saja. Kuyakin semua akan berjalan sesuai kehendak kami berdua. Namun, malam naas itu…

Mobil dengan rem rusak yang kita tumpangi itu menghantam pembatas jalan. Demi melindungiku, kau mengedepankan badan, menghalangi badanku. Akupun pingsan. Setelah kusadar, wajah dan badanmu berdarah-darah. Kedua matamu dijejali pecahan kaca.

***

cerpen-segi-cinta_buku antologi_RM

“Riska? Kamu melamun, ya? Dari tadi suapanmu meleset terus?!” suaramu merobohkan lamunanku.

Segera aku memfokuskan diri pada sendok dan mangkok berisi mie ayam pangsit. Aku terbatuk-batuk kecil, menutupi kekerdilan hati. Aku menyuapimu lagi, lebih hati-hati.

Ketika kau tengah mengunyahnya, diam-diam aku mengambil tisu dari tas. Kukeringkan airmata. Aku sempat tercekat, sebuah kartu undangan pernikahan tersembul dari dalam tas. Kucengkram kartu undangan itu erat-erat. Aku hampir terisak.

Sial, isakanku makin sendu saat harus menatap mata kosongmu.

Tatapanku beralih pada kartu undangan pernikahan itu. Di dalamnya tertera namaku dan nama sahabatmu. Aku mengaku. Dari segi cinta, kebaikanku akan menyakitimu saja. [#RD]

***

Darul Ma’i, Juli-Agustus 2012.

Dee Ann Rose

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *