Cerpen; The Pocong is My Best Friend

Cerpen; The Pocong is My Best Friend

cerpen the pocong is my best friend 1

Relakan yang terjadi
Takkan kembali
Dia sudah miliknya
Bukan milik kita lagi….

Hilang memang hilang
Wajahnya terus terbayang…

Berkali-kali Atit meresapi lagu Om Iwan Fals itu. Seudah tujuh hari ini lagu “Hadapi Saja” menjadi list “most played” di HP Samsulnya, eh, Samsung maksudnya! Maklum, memang lagu itu yang sesuai dengan tema harinya akhir-akhir ini.

“Hiks… Hadeuh… meski malu dengan vonis cewe tomboy, gue rela bersedu-sedan demi Lo, Win!” isak Atit sambil menggelatakkan “Yasin” diatas meja belajar. Pada halaman kedua nampak muka Winny sedang tersenyum mengimut-imutkan diri. Kalau dulu Atit sering tertawa dan mengolok-olok hidung mininya Winny, maka kini dia malah sesenggukan tanpa sadar menatap wajah itu. Sehingga dia lebih memilih menyimpannya dulu dari pandangan.

Setelah menanggalkan kerudung blusnya yang asal “nemplok”, Atit tengkurap diatas kasur dengan posisi menghadap jendela yang dibiarkan terbuka. Memberi ruang besar pada purnama yang gerah, hingga angin malam makin tajam menusukkan keberadaannya. Helaan nafas Atit masih sesak,

“Hiks… baru kerasa kalo gue kehilangan Lo, Win!” Atit makin menenggelamkan diri dengan kesedihan yang sebetulnya sudah mereda. Tapi gara-gara nongolnya foto Winny secara permanen di “Yasin” itu, memorinya terobrak-abrik lagi,

“Cuma Lo satu-satunya cewe feminim plus tulalit yang nekat sahabatan sama gue! Cuma Lo yang sabar dengerin semua curhatan gue! Cuma Lo yang sering bayarin jajan gue di kantin! Cuma Lo juga yang ngehargain perasaan gue ke Si Memet ngondek! Hiks…” Ia menelan ludah sebentar, lalu meraung tertahan,

“Cuma Lo yang tepuk tangannya paling kenceng kalo gue lagi lomba lari se-gang! Cuma Lo yang tulus garukin bentol-bentol gue! Pokoknya Cuma Lo best fren gue, Win! Hiks…”

Sambil guling-gulingan menikmati lagu Om Iwan Fals lewat headset, Atit memeriksa wajahnya sendiri dengan cermin raksasa andalannya. Wajahnya tetap sama (Ya iyalah!); kulit yang sering terjemur dan rambut pendek kebanggaanya. Namun yang berbeda hanya matanya yang bengkak dan wajahnya yang sembab,
“Demi Lo, gue rela memprasastikan bekas mewek gue ini! Padahal besok sekolah… Hiks…”

19 menit 45 detik berlalu. Lagu Om Iwan Fals terhenti. Atit baru sadar kalau dia sudah me-replay lagu tersebut beberapa kali. Atit memutuskan untuk tidak melanjutkan lagu yang hendak bermain itu. Ia mencopotkan headsetnya. Hening. Udara dari jendela seperti jarum pentul yang ditusuk-tusukkan. Lembut, tapi tajam!

Lamat-lamat terdengar suara kertak-kertuk diluar jendela. Sepertinya ada sesuatu yang menyebabkan bunyi itu. Bahkan jendela yang terbuka-pun sering menggoyangkan kacanya, seolah-olah merasakan pula sesuatu yang lain selain Atit. Jelas bukan angin! Suara itu seperti “disengaja”. Tiap detik makin keras saja.

Dengan modal setumpuk rasa penasaran, Atit yang masih memegang cermin raksasa dan kesulitan membelalakkan matanya nekat mendekati jendela. Perlahan namun pasti tak pasti. Iapun melongokkan kepala, dan,

“Huwaaaaaaaa!”

Atit segera menutup satu telinganya, persis orang mau iqomat,
“Berisik!” omelnya secara spontan sambil membekap asal jeritan. Brrr… tangannya beku!

Atit memelototkan mata. Memicingkan fungsi indera itu. Barulah ia sadar satu hal; hidung mini!
gambar pocong lucu, pocong kartun
“Hah, Winny???” pekik Atit kaget seperempat mati. Dicermatinya sosok Winny yang pucat dibalut kain putih. Dengan perlahan ia melepaskan bekapan tangannya. Yang dia panggil malah mendengus.

“Kenapa Lo yang ngejerit?” Tanya Atit heran sekaligus terbengong-bengong melihat sosok sahabatnya yang telah “berubah”.

“Hehehe… Tadi gue liat wajah gue sendiri lewat cermin Lo!”

Gedebuk!

“Hahaha… Lagian pake kostum ginian segala, kayak nasi aja Lo dari kejauhan!” Atit tertawa geli mendengar pengakuan sahabatnya itu.

Winny meloncat-loncat makin mendekati Atit yang masih tertawa,
“Gue kangen sama Lo, Sista…”

Atit tertegun. Tawanya seketika terendam angin. Tanpa daya dan upaya diapun mengakui kekangenannya dan segera merangkul Winny. Dingin.

“Gak nyangka banget ketemu Lo lagi, Sist!” ucap Atit sambil melonggarkan pelukannya dan menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu. Makin lama makin keras.

“Husss! Kangen sih kangen, tapi jangan kenceng-kenceng dong nepuknya!” protes Winny.

“Ayo lawan gue, Win! Hahaha… gak bisa berkutik Lo!” Atit menjitaki kepala Winny yang hanya bisa merengut kesal dan berusaha menghindar. Huh!

“Gue bercanda… Ayo masuk!” ajak Atit kemudian.

Winny diam sejenak, memejamkan mata, dan…
Tap!

Pocong cantik itu sudah meloncat-loncat diatas keramik kamar Atit. Atit yang keheranan bertanya,
“Tadi Lo ngapain dulu?”

“Gue konsentrasi dulu biar bisa ‘fly’.”

Atit mengangguk-angguk tidak faham. Sementara Winny segera menatap wajahnya sendiri lewat cermin lemari,
“Ckckck… jelek banget gue tanpa blush on, lip gloss, pelembab, sama bedak!”

“Hihihi… ada-ada aja Lo, Win!” Atit terkekeh. Tiba-tiba dia merasa semua ini begitu janggal,
“Eh Win, Lo gak apa-apa nih kesini? Mkasud gue… Ng… Secara Lo kan?…”

“Iya… kemarin-kemarin gue ikutan MOP dulu…”
“MOP?”
“Masa Orientasi Pocong, Neng…”
“Oh hihihi… terus?”
“Ceritanya gue dihukum tuh, terus menang! Pas pocong-pocong senior nanya…”
“Tunggu-tunggu, dihukum?”
“Iya… pas kita-kita lagi berbaris, gue ngelakuin hal yang diharamkan di dunia perpocongan!”
“Waduh?! Apaan tuh?”
“Gue telentangin tangan! Gkgkgk…”

Atit ikut terbahak. Dia membayangkan betapa pegalnya jadi Winny (Jadi pocong maksudnya). Tangannya terpenjara. Malah mungkin dijadikan aurat, sampai-sampai Winny bilang ‘diharamkan’.

“Gue lanjutin ya… Gue dihukum adu loncat sama pocong senior bersemangat 45!”
“Hah?! Kok Lo menang, Sist?” tanya Atit tidak sabar.
“Ya iyalah… pas gue liat nisan lawan gue, beuh… tahun lahirnya bo 1945!”
“Hahaha… terus?”
“Iya jelas beda banget sama gue yang masih fresh. Apalagi gue punya sahabat jago lari kayak Lo. Gue kan banyak belajar soal kecepatan.”
“Hehehe… Asik! Hadiahnya?”
“Hadiahnya ada 2. Yang pertama, ya gue ketemu Lo disini…”
“Terhura, eh terharu gue!” Atit melirih-lirihkan responnya. Winny hanya nyengir.
“Lha, hadiah kedua apaan?” tanya Atit lagi, masih memburu jawaban sahabatnya.

“Gue pingin Lo cepet nemenin Gue!”
“Eh parah Lo!” spontan Atit tidak menyetujui permintannya.
“Wahahaha… Boonglah… gue minta asuransi buat kaki gue! Pan di dunia gue mah kaki itu segalanya…”

“Hahaha… Eh,…” Atit mendadak menghentikan tawanya,
“Ngomong-ngomong, kenapa Lo milih ketemu sama gue?”

Winny memperbesar lubang hidungnya. Kalau untuk makhluk yang masih hidup biasanya disebut ‘menghela napas’.
“Ada hal yang belum gue kasih tau ke Lo…”

“Hal? Yang belum Lo kasih tahu? Apaan tuh?”
“Pertama, gue punya hutang ke Si Ibu Kantin sepuluh ribu. Itu juga waktu gue nraktir Lo kok! Bayarin ya… hehehe…”

Atit mengangguk dan melongo,
“Trus yang kedua?”

“Yang kedua, gue cuma mau bilang kalo Memet juga suka sama Lo!”
“Ah, fitnah tuh!” Atit berusaha mengendalikan perasaan girangnya.

“Serius! Dia ngomong sebelum gue kecelakaan. Makanya gak sempet ngasih tau Lo…” pungkas Winny dengan roman muka lega. Sementara detak jantung Atit kacau. Tiba-tiba ia menyeruput aroma kalau sahabatnya akan pergi untuk waktu yang sangat lama. [#RD]

***

Kuningan, 08 Juli 2012

Dee Ann Rose

*Cerpen ini pernah diikutsertakan dalam lomba yang diadakan Kang Andika Wardhana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *