Cerpen; Wujud Ibu

Cerpen; Wujud Ibu

cerpen wujud ibu

“Ada malaikat yang menanggalkan sayap. Memang, ia tak lagi mengepakkan kesempurnaan. Namun ia selalu seperti pagi; yang menyudahi gulita dan membawa pelita. Malaikat itu… berwujud IBU.”*

Ibu? Seperti itukah wujud seorang ibu?

Aku menelan ludah. Kurasa, ada yang mengganjal di tenggorokan, membuatku sedikit susah. Membaca update status dari sahabat lamaku, Dinda, ada yang berdesir dibalik dada. Mungkin karena itu, degup jantungku meletup-letup. Antara geram dan takut. Sedikit menyesal juga aku membelotkan pencarian google ke ranah fesbuk. Sementara bilik warnet yang mengelilingiku, seolah menyergapkan pandangannya padaku. Triplek-triplek berukuran tak kurang dari satu meter itu menjadi saksi, betapa ada dilemma bertalu-talu dalam pikiranku. Terutama karena buah renungan Si puitis Dinda, yang ia bagi lewat beranda maya. Ah, apa kabar sahabat SMA-ku itu?

“Apa prioritasmu selain sekolah, Dinda?”

“Malaikatku; Ibu.”

“Ibu?”

“Ya!”

“Hanya dia?”

“Hm…”

“Maksudku, tak ada yang lain? Pacar, misalnya?”

“Aku hidup, sekolah, jajan dan bahkan merasa nyaman bukan karena pacar, Tria.”

“Hahaha… Bener… bener…!”

“Kamu menertawakan caraku memprioritaskan beliau?”

“Eh, ng, nggak. Hm, maksudku, hm, mungkin karena aku udah gak punya ibu…”

“Iya, jadi kasih sayangmu tumpah semua ke Si Black Sweet, Rafik!”

“Hahaha… Hidup, jajan dan rasa nyamanku memang dari dia, Dinda.”

“Ayah?”

“Hhh…” Aku menyemburkan napas. Tak kujawab dengan kata-kata. Aku hanya menggeletakkan kepalaku pada pundak kanan Dinda.

Dulu dari jauh, ia nampak dingin dan mungkin tak akan banyak memunculkan variasi obrolan. Setelah bicara lebih akrab, barulah endapan-endapannya menyembul. Tak jarang curahan hati dan sari dari pemikirannya kadang membuatku tercenung. Sebaliknya, akupun jadi tak segan melenggangkan buah perasaan. Biasanya, aku akan memakai topeng sebagai pemancar wajah keceriaan. Jadi teman-temanku hanya tahu, aku adalah sosok gadis beruntung. Selain cantik, kurengkuh pula ketenaran dan reputasi yang tinggi. Bagaimana tidak, aku adalah pacar sang idola; Si kapten basket yang tajir. Siapa lagi kalau bukan Rafik. Namun bersama Dinda, kutanggalkan topeng itu. Kurobek kepalsuan.

Suatu hari, aku pernah terlibat obrolan yang dalam dengannya. Siang itu sang guru tak masuk, sementara teman sebangkuku dan Dinda kebetulan absen. Aku mendekat dan duduk bersanding dengannya, sekedar memecah jenuh. Mulanya memang aku bingung mesti memilih tema apa. Semua tahu, Dinda agak pendiam dan hanya sering terlihat bersama alat-alat tulisnya. Kadang malah dalam waktu lama, seolah mereka tengah bercengkrama tentang sesuatu yang menarik. Lama berbasa-basi, mengeluhkan guru dan pelajarannya, aku sampai dalam sebuah pembahasan,

“Kamu pernah merasa jenuh dengan aktivitasmu? Dengan ini? Ini?” Bergantian kuacung-acungkan buku dan pulpen yang tak pernah jauh dengannya.

“Hehehe, nggak.”

“Apa yang membuatmu betah?”

“Kesetiaan mereka.”

“O, apa mereka menjaga sesuatu yang berharga darimu?”

“Tepat sekali. Aku menumpukkan banyak rahasia dalam diri mereka.”

“Hm, paling-paling sebagai tempat keluh-kesah, yah?”

“Lebih. Mereka kadang menjadi kamar, tempatku melamun, bermimpi, istirahat atau menghibur diri.”

“Lengkap, ya? Emang kamu udah gak percaya dengan kami, teman-temanmu?”

“Sejauh ini, belum.”

“Hahaha… Sama!”

Dinda memutar pandangannya padaku. Tatapannya penuh selidik. Kini aku yang menghindari sinar dari bola matanya. Sungguh, aku memang tak punya tempat mencurahkan hati se-setia apa yang Dinda punya dan andalkan. Tiap beban yang kupangku dari rumah akan reda sementara di sekolah. Itupun karena aku dan teman-teman akan saling berbagi tawa. Jadi keceriaan itu hanyalah kesementaraan. Tak ada berbagi duka, tak ada nasehat bahkan rangkulan yang menenangkan. Dengan Rafik pun begitu. Aku hanya merasa terlindungi, terjamin dan mendapatkan sensasi keren belaka. Usai pulang, barulah beban itu berbondong-bondong lagi, bertengger di pundakku. Tanpa mereka dan tawa-tawa palsu yang mengiringiku. Selalu seperti itu.

“Ayah.”

“Kenapa dengan ayahmu, Tria?” Dinda menyorotkan pandangan dengan perhatian yang sempurna, seolah tak ingin melewatkan satu kata saja dari luapan hatiku.

Kuceritakan saja semua tentang ayah. Dia adalah figur yang setia. Bisa kusimpulkan dari keputusannya untuk tidak menikah lagi. Tapi menurutku lagi, beliau sangat memfokuskan diri pada uang. Pekerjaan beliau sebagai karyawan di took oleh-oleh khas kota kuda, Kuningan, mengharuskannya pergi pagi-pagi sekali. Namun beliau akan pulang melebihiku. Tak jarang malah larut malam beliau baru datang. Cari objek, selalu begitu alibinya.

Aku tak tahu persis bagaimana wataknya. Tak ada tempat untukku bertanya. Tak seperti kebanyakan orang, yaitu pada ibunya. Ya, aku bahkan tak ingat kapan kurasakan sentuhan sosok ibu. Baru ketika aku SMP, aku diberitahu tentang sebuah fakta maha penting dalam hidupku. Kata ayah, ibu meninggal ketika melahirkanku. Begitu sesak dadaku. Semenjak itu, aku sangat merasa bersalah pada ayah. Mungkinkah ayah memang sengaja mempersedikit waktu untuk bertemu denganku? Mungkin beliau mual melihat wajah buah hati yang telah merenggut istrinya? Tapi lama-lama aku tak mau tahu. Yang kutahu, aku bisa hidup dan sekolah esok harinya. Ia memang memerhatikan kebutuhanku, namun tidak dengan kejiwaannku. Hatiku seolah kerontang tanpa kasih orang tua.

“Ternyata kita sama,” komentar Dinda.

“Sama?”

“Kita diasuh oleh satu orang tua.”

Tanpa menyempurnakan informasi dalam kalimatnya, aku telah paham. Dia tinggal dan menggantungkan hidup pada salah satu orang tua, sepertiku. Tapi,
“Dengan seorang ayah?”

“Ibu,” Dinda menggeleng-geleng.

“Bagaimana dengan beliau?”

Perlahan, Dinda menenggelamkan perhatianku dalam lautan ceritanya tentang sosok ibu. Beliau adalah single parent untuk Dinda dan kedua adiknya. Entah karena naluri perempuan atau memang Si cikal Dinda begitu peka, semenjak kecil dia telah tahu, ada sesuatu yang janggal dengan ayah ibunya. Mereka sering bertengkar, mendiskusikan sesuatu dengan ketegangan, memperlantang suara, walau tidak sampai kontak fisik yang kasar. Atau mungkin, Dinda memang belum pernah melihat adegan memilukan itu. Yang dia tahu, ibu tak merasa nyaman hidup dengan ayah.

“Kita cuma berbeda pendapat saja, Dinda,” Ibu menjelaskan.

“Tapi kenapa sering sekali?”

“Tak jauh seperti kamu dan adik-adikmu. Selalu rebut, namun tetap saling sayang juga.”

Ah, ibunya memang pandai menentramkan. Entah kata-katanya maupun usapan lembut tangannya, selalu saja membuat hati panasnya terkipasi. Tak jarang, Dinda malah kehabisan kata-kata untuk menimpali atau terus merogoh isi hati ibu. Barulah setelah ia beranjak dewasa, SMP, Dinda mendapati perpisahan nyata antara ibu dan ayahnya. Tak ada lagi pertikaian dan diskusi panjang. Rumah hening dan ayah tak pernah pulang. Belakangan ia tahu, ayahnya telah berkeluarga. Entah dengan siapa. Waktu itu, ia memutuskan untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik dengan ibu dan adik-adiknya ketimbang meratapi nasib dan menyesali perbuatan ayahnya. Beruntung, ibu yang terdidik untuk tidak menggantungkan diri pada ayah, mampu manata diri. Lebih mandiri. Beliau memfokuskan diri mengembangkan warung sembako di rumahnya. Mungkin karena keberkahan niat sucinya, warung itu selalu mampu menjegal kebutuhan hidup mereka. Begitu pengakuan Dinda. Di saat bercerita itu, tak jarang airmata kami tumpah bersamaan. Baru kali itu juga, aku merasa beban di pundak terhempas, walau sejenak. Setidaknya ada keringanan jiwa.

Pertemananku dengannya lama-lama merangkak menjadi sahabat. Kami tak saling mengubur denyar rasa dalam dada. Semuanya telah memiliki telinga dan hati yang setia. Mulanya aku tak yakin, persahabatanku dengan Dinda bisa bertahan lama. Aku tak menemukan hiburan dalam dirinya. Dia sosok yang lurus dan kadang mendewakan kesunyian. Inspirasi biasanya datang kalau suasana sepi, katanya suatu hari. Seperti waktu itu, aku dan teman-teman ber-rok abu tengah ramai berjingkrak-jingkrak, mendukung tim basket kelas yang tengah bertanding. Terutama karena ada Rafik di sana. Namun tanpa sadar, Dinda malah hilang. Ketika istirahatlah, kuketahui posisinya di mana. Ia malah memilih sudut perpustakaan. Seperti biasa, begitu akrab dengan buku harian dan pena hitamnya. Sedikit ragu, kuintip saja dia. Aku takut apa yang tengah digoreskannya pada kertas, buyar seketika. Lagipula, nanti setelah rampungpun ia akan menyetorkannya padaku,
“Silakan komennya…” Dinda menyodorkan hasil tulisan, mirip pelayan rumah makan yang menyodorkan menu makanan.

Aih, tak aneh. Tulisan-tulisannya selalu berbau ibu. Sesekali saja ia selipkan persahabatan dan asmara. Terutama tentang rasa yang terkubur dalam hati. Menurutnya, ia takut terlalu sering membicarakan rasa hati. Takut bangkit, tumbuh, besar, lalu menuntut pengorbanan darinya.

“Bukankah cinta memang pengorbanan, Dinda?”

“Iya.”

“Lalu kenapa kamu tak mau berkorban untuk pujaan jiwa?”

“Lelaki, maksudmu? Aku belum menemukan cinta dalam mata mereka.”

“Jadi apa yang kamu temukan selama ini?”

“Hanya rasa kagum ketika memandang fisiknya. Atau, suka akan kepintarannya.”

Ah, Dinda… Dinda… Tentu saja dia masih merasa demikian. Dia memang terlalu sibuk dengan dunia dan mimpinya. Interaksinya dengan teman-teman, khususnya laki-laki, menjadi sangat terbatas. Jadilah dia hanya tahu tampilan luar. Namun sementara lebih baik begitu, daripada aku. Aku selalu yakin, suatu saat nanti ada sosok pangeran yang tepat menyandinginya. Bukankah Tuhan selalu luput dari kekeliruan?

Keyakinanku dulu terbukti sekarang. Kutelusuri profil fesbuk Dinda, sahabat yang hampir 7 tahunan tak bertatap muka. Sayangnya, akun itu tidak aktif. Kutelusuri saja foto-fotonya, status-statusnya, semua hal tentangnya. Wajahnya sedikit lebih matang dan dewasa. Terlihat olehku gurat-gurat ketegasan dan ketegaran. Status-statusnya tak lepas dari kata puitis. Jelas saja, guru sastra! Aku hanya selalu menebak-nebak, apa sekiranya yang ia maksud. Sungguh, kata-kata puitis yang selalu ia banggakan itu, memang pandai menjaga rahasia. Di dalamnya pasti terkandung isi rasa yang berharga, yang tak semua orang akan mudah menerka-nerka. Status hubungannya menikah. Aku tak tahu persis siapa suaminya. Mungkin teman semasa kuliahnya. Foto-foto pernikahan mereka yang terpampang di dunia maya, mampu mengalirkan rasa iri yang tinggi. Senyum mereka merekah dengan tulus dan lepas. Kuelus-elus perut, yang lama pacaran siapa? yang menikah siapa?

Ringtone ponselku bertalu-talu. Kuhembuskan napas, begitu tahu siapa nama di dalam layar bercahaya itu. Diusahakan untuk tenang pun, dadaku berdegup kencang. Keringat dingin dengan perlahan turun dari dahi, mengkristalkan kekalutan. Kudekap perutku, tak buru-buru menekan tombol hijau pada layar itu. Suara itu terus saja menceracau. Aku rasa makin keras, memanggil sesiapa untuk menanggapi keberadaannya. Sementara layar computer di hadapanku seakan semakin membelalakkan sinarnya. Ditambah dengan status-status beragam. Menyilaukan.

Ada malaikat yang menanggalkan sayap. Memang, ia tak lagi mengepakkan kesempurnaan. Namun ia selalu seperti pagi; yang menyudahi gulita dan membawa pelita. Malaikat itu… berwujud IBU. Status Dinda bertengger di mata. Makin menusuk, membuat jiwaku remuk. Ringtone itu reda sejenak, namun meraung-raung lagi. Kupejamkan mata, meminta kekuatan entah pada siapa. Sedikit bergetar, kupijit saja tombol hijau,

“Kenapa lama? Sudah selesai kan, Sayang?” suara berat di sana memburu.

“Maaf tadi gak kedengaran,” Aku berbohong.

“Tapi sudah, kan? Dengan apa? Atau, di mana?”

“Hm,” Sejenak kutinggalkan fesbuk. Kuubah tab menjadi pencarian google. Miris sekali pandanganku mendapati apa yang kucari.

“Tria sayang?”

“Nikahi aku, Rafik.”

“Kam, kamu? Kamu kan tahu, aku…”

“Iya aku tahu, kamu belum siap. Mesti melanjutkan strata dua. Tapi ini adalah pengorbanan cintamu yang terakhir.”

“Bukankah kita udah sepakat?”

“Aku ingin menjadi ibu!”

“Say…”

Kupenggal pembicaraan itu. Seharusnya dari dulu aku sadar, menyerahkan jiwa-raga pada lelaki yang bukan suami adalah kesalahan besar dan bodoh. Semestinya kuanut prinsip Dinda tentang lelaki jantan, Dia yang mampu menjemputmu dari orang tuamu, mengucapkan akad nikah sebagai janji sakralnya di depan semua orang dan melindungi serta membimbingmu dalam keadaan apapun. Pada dialah, semestinya, kau serahkan hidup dan kehidupanmu.

Ini memang menyebalkan. Aku telah memahat penyesalan besar dalam hidupku. Aku telah (dengan tidak sengaja) meniadakan istri untuk ayah dan ibu dalam kehidupanku. Kalau saja apa yang aku dan Rafik sepakati terjadi, tentu penyesalanku akan bertambah. Menggunung. O, Tuhan. Kau tak pernah memperlihatkan wujud ibu padaku. Kini, aku akan menjadi sosok ibu untuk calon anakku. Anak Rafik. Bagaimana ini? Meski diluar janji sakral, namun ini kesempatanku untuk merasakan wujud sebagai ibu. Dalam diriku sendiri. Aku takkan menuruti bisikan keji, menggagalkan diriku untuk menjadi seorang ibu. Tidak, Tuhan. Ini hanya hampir terjadi. Ya, belum terjadi dan takkan terjadi!

Ku-delete saja kata-kata semacam ‘cara menggugurkankandungan’ dan ‘tempat aborsi’ dalam kotak pencarian. Dengan mantap kusudahi saja perselancaranku di sana. [#RD]

*Status Senin, 22 Oktober 2012

Ket: Cerpen diambil dari buku Kumpulan Cerpen “Selepas Hati Pergi”-Dee Ann Rose (terbitan Deka Publishing: 2013)

Sumber Gambar: Google

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *