Cerpen; Yang Abu di Bulan Biru

Cerpen; Yang Abu di Bulan Biru

cerpen yang abu di bulan biru

“Padahal tiap hari badanku panas, tapi Elva tak pernah memberi kesempatan padaku untuk istirahat. Sungguh kelabu nasibku. Pendengaranku telah benar-benar pengang!”

“Hikmahnya, kita bisa selalu bersama. Hehehe…” Aku berusaha mencipta sesungging senyum darimu, namun nihil. Rona wajahmu sama sekali tak berubah bahagia, “Ng, iya sih, aku juga gerah. Tapi mungkin, hm, Elva udah benar-benar jatuh cinta pada kita.”

“Benar kata bapaknya yang sesak itu. Jarang mendengarkan dengan hati membuat Elva tuli. Dan, egois!”

“Iya sih… Tapi ingat, Panjang. Kita adalah pilihannya. Seleksi dari rasa suka dan butuhnya. Jauh-jauh Elva memburu kita ke Jakarta.”

“Bukan Elva, tapi bapaknya. Dan, ah… Semestinya Elva bijak. Tidak memporsir. Atau seenggaknya, tidak melulu memperdengarkan hal-hal yang membuatku mual, karena diputar lantang dan berulang-ulang.”

“Lalu, haruskah kita mengutuk agar telinganya pecah?”

“Bisa jadi… kalau tidak, ada cara kedua,” Kau mendelik,badanmu yang panjang masih telentang, “Kita rusak!”
Aku tercekat, tak kulanjutkan perdebatan rutin itu. Sementara adzan maghrib berkumandang. Dan, cahaya senja makin sayu terasa, alamat Elva, si gadis yang baru saja lulus SMA itu sebentar lagi menyelesaikan mandi dan wudhunya. Fiyuh….
***
Malam di bulan yang tergolong biru, Desember, senantiasa berwajah hitam dan lengang, tanpa bintik-bintik bintang. Nuansa dingin dan hening seolah mendukung keadaan mereka yang tengah dirundung kegalauan dan dilemma. Tak terkecuali Elva, anak bungsu dari seorang pedagang asongan bangkrut di Jakarta. Sifat cuek dan tomboynya runtuh seketika manakala pintu hatinya disesakki rasa. Sebagai anak perempuan yang tengah menapaki tangga kedewasaan, dia sulit mengelak dari keadaan itu. Wajar. Namun sayang, menurutnya rasa itu tak jatuh pada tempatnya. Dia malah tergeletak dalam sosok Maerul, si tukang jaga taman rumah Pak lurah. Pemuda lulusan SMA di kota kuda itu, wajah dan hatinya nampak rupawan. Itulah yang Elva rangkum dari tutur kata dan tingkah si pemuda. Alasan utama mengapa dia begitu tersiksa adalah anggapan ayahnya tentang seorang laki-laki, suatu hari,

“Kamu teh satu-satunya anak gadis Bapa, Va. Almarhumah mamah telah menitipkan masa depan terbaikmu sama Bapak. Uhuk… Uhuk… Berat sekali rasanya kalo Bapak mesti menerima itu. Tapi memang, siapa lagi atuh yang peduli, kalau bukan Bapak? Hhh… Uhuk… uhuk… Iya sih, Bapak teh tenang, kedua kakakmu mah udah berumah tangga dan mampu menghidupi kehidupan masing-masing dengan baik. Hm, setidaknya buat diri mereka sendiri. Tinggal kamu, uhuk… uhuk…

Sekolahmu, kariermu termasuk keluargamu kelak, Va. Bapak mah tak akan tenang sebelum melihat dan merasakan hidupmu itu nyaman. Uhuk… uhuk… Bapak teh selalu berdoa supaya panjang umur, setidaknya sampai kamu teh bersuami. Bapak pengin memastikan suamimu nanti teh tampan dan mapan. Uhuk… uhuk… Bukan karyawan, tapi direkturnya. Bukan pesuruh, tapi mandornya. Bukan juga Maerul, tapi uhuk… uhuk… majikannya. Begitulah… Bukankah kata orang, hidup adalah pilihan? Uhuk… uhuk… Kita pilih yang tidak merepotkan saja,” Bapak menuturkan unek-uneknya, lalu minum air mineral. Banyak sekali.

Ada sesuatu yang berdesir dibalik dada Elva. Bapaknya mengeja nama Maerul. Mungkinkah dia telah tahu rasa rahasianya? Itu terakhir kali dia mendengarkan kata-kata bapaknya dengan tenang. Itupun karena rasa iba, sebab bapak terbatuk-batuk parau dan seperti meredam sesak yang berat. Ia takut, bapak meninggal setelah ‘berkhotbah’ dan ucapan-ucapan itu adalah wasiatnya. Ia percaya, kesan buruk jelang perpisahan akan menjadi penyesalan paling tragis. Tentu, ia tak mau itu. Biasanya, ketika mamah masih ada, ia akan menggerutu dan memberondongkan selaan selama isi ‘khotbah’ itu mengusik kebebasannya. Kini suasana telah berbeda. Ia memutuskan untuk memalangkan penghalang di gendang telinganya saja, mencoba menjegal suara apapun yang hendak menyusup ke indera pendengarannya. Ia tak tertarik untuk menyimak segala titah yang sebenarnya bersifat sunnah.

Dan, hidup adalah pilihan? Kapan gitu Tuhan memberi semacam multiple choices pada kita; Pilih hidup atau tidak? Hidup adalah ketetapan bagi-Nya, namun ketidakpastian bagi kita. Dalam hidup, kita ditatap-hadapkan dengan pilihan-pilihan. Nah, lalu bagaimana rasanya jika dalam proses memilih itu kau didikte orang lain? Jangan-jangan, jika ada kejanggalan dengan harapan atas pilihan itu, kita akan sangat menyesal dan memusuhi si pendikte. Bukankah pilihan-pilihan itu, semestinya, memapah kita untuk menjadi mandiri dan bertanggung jawab? Akan gagal atau bersinar, nantinya. Begitu Elva menyembulkan isi hatinya padaku. Terakhir kali. Aih, kehidupanmu seru. Mana pernah aku berdilema ria untuk menentukan sesuatu, heh?

Setelah itu, Elva lebih banyak menghabiskan waktu denganmu, Panjang. Aku hanya digeletakkan, atau tangan Elva akan menggenggam. Dalam ejaan yang kadang jelas dan kadang seperti kumur-kumur, Elva melantunkan lirik-lirik. Cara menyanyikannya yang menghentak, berbau pemberontakan serta keterpurukan, entah kenapa, kusimpulkan sebagai jenis musik rock atau metal, mungkin. Dengan cara itu ia mengacuhkan semua peraturan bapak, tentang yang wajib dan haram. Lalu dengan tiada bosan, bapak akan berujar,

“Bapak mohon atuh… dengerin Bapak, Elva. Dengan mendengar, setidaknya kamu teh jadi paham maksud mulut dan hati Bapak ini,” lirih bapak sambil menepuk-nepuk pelan dadanya.

Bapaknya terus mengoceh, namun aku tak dapat dengan jelas menangkap sarinya. Paling-paling tentang peraturan, pikirku. Lama-lama, adegan itu terus berulang. Hingga aku bosan menyaksikan buih dalam mulut bapak, sedang Elva malah terus bergeming. Sampai badanku dan Si Panjang berubah panas, dia tetap merapal lirik-lirik yang ia telah hapal. Baik Elva maupun Bapak tak ada yang menggelar bendera putih. Bapak makin menjadi. Ada jilatan api dalam matanya ketika bicara. Ada pula julang kekuasaan di tiap tegak telunjuknya. Dan sangat kurasa, tangan Elva tak lagi menggenggam, melainkan mencengkram. Gemeretak giginya terdengar tertahan. Malah, sering kudapati kaca-kaca di pelupuk matanya remuk. Bilakah ucapan-ucapan bapak jadi mengandung racun? Tapi racun macam apa itu?

Kuyakin ucapan-ucapan bapaknya dianggap sebagai halimbubu debu yang tak perlu, namun mungkin saja hati Elva tetap terjaga untuk merasa. Memang, dari dulu bapak sangat ketat mengurus kehidupannya. Mungkin karena Elva anak gadis satu-satunya. Ketika bapak berdagang asongan di Jakarta, kebutuhan rias, sekolah dan aksesoris Elva sangat diperhatikan. Dan semenjak mamahnya pergi, gadis jelita itu merasa kekangan bapaknya makin kuat saja. Seakan selalu ada mata-mata yang siap memicing, mengawasi dan membelit kehidupannya sampai ke akar-akar,

“Jaga pola makan, hati-hati memilih jajanan! Gak bagus buat kesehatan dan kecantikanmu.”

“Jangan pulang telat tanpa alasan yang jelas! Bapak takut ada laki-laki bengal berbuat jahat padamu.”

“Istirahat yang cukup. Kalau stress karena sekolah dan pengin hiburan, bilang saja. Nanti Bapak ajak refreshing. Ke taman kota, Waduk Darma atau Cibulan, misalnya.”

“Bergaul dengan teman-teman pilihan, jangan sembarangan. Jangan pacaran dengan siapapun tanpa restu Bapak!”

Aku tak tahu alasan pasti kenapa bapak mengatur-atur sedemikian rupa, selain alasan klasik; Elva gadis belia, jelita dan satu-satunya yang bapak miliki. Hey, milik? Hh, mungkin benar, manusia memang selalu merasa memiliki, bahkan pada apapun yang bukan menjadi miliknya sejati. Ah, yang kujepret dalam memoriku seputar alibi perlakuan bapak yaitu; Diri kamu teh adalah aset untuk hidupmu. Hm, Tak tahulah….

***

Sedari pagi, ketika Elva menerima pengumuman lulus dari SMA, dia malah tercenung. Gurat kepuasan hanya sekilas terlukis di wajahnya. Ia lalu berubah abu dalam rona wajah dan sinar matanya. Malah pandangannya terlihat berkabut. Sebentar saja, bulir-bulir bening itu luruh. Dan dengan sigap ia menyekanya. Berantakan. Ya aku tahu, senyum dan air mata kadang menjadi topeng paling mahir. Dibaliknya bisa tersembunyi tawa, bisa juga terkepal duka. Namun tatapan dan detak kalutnya membuatku menerawang; Bilakah ada hal buruk yang ia takutkan. Tapi apa?

Ingin rasanya aku mendiskusikan semua itu denganmu, Panjang. Namun akhir-akhir ini aku sering cepat lelah. Elva hampir tak meluangkan waktu untukku merasa tenang. Aku juga khawatir, kau merasakan hal yang sama. Lagipula, entah dari kapan tepatnya, kau menjadi cepat meradang. Aku risih apabila harus berhadapan dengan ocehan konyolmu, yang tak mungkin Elva dengar dan perhatikan. Seperti tadi sore, ketika kita menanti Elva mandi. Perdebatan kusir itu bagai tayangan seru yang selalu diminta siar ulang oleh para pemirsanya.

Adzan isya tiba, memanggil sesiapa untuk menghadap-Nya. Suara sang muadzin, Maerul, terdengar lirih. Iramanya terkesan sendu, menyatu dengan rumah Allah yang nyaris punah dari jamaah. Seperti biasa, Elva yang usai sholat maghrib mengaji, lekas bersiap untuk sholat lagi. Indah dan menentramkan. Ternyata rasa kagum yang ia kurung, lalu tumbuh menjadi suka pada maerul, membawa dampak positif tersendiri. Setidaknya, telah setahun dia memutuskan untuk menggenapi ibadahnya. Walau ia belum tertutup secara fisik, namun hatinya mengarah pada perubahan yang lebih baik.

Elva bertakbir, rukuk, sujud, bersimpuh dan akhirnya duduk terkulai, memanjatkan harapan-harapan. Ya ampun, matanya sembab. Dadanya terisak hebat. Pundaknya berguncang. Lama sekali ia menelungkapkan tangan pada wajahnya, seolah menutupi diri dari keberlanjutan cerita hidupnya.

“Va, Elva…” Bapak memanggil-manggil. Derap langkahnya terdengar makin dekat.

Elva terperanjat. Dengan sesegera mungkin ia menanggalkan mukena, meraihku dan dirimu, lalu membenamkan diri di atas kasur. Berpura tidur.

“Eh kamu teh malah tidur! Hayu, bangun…” Bapak menggoncang-goncangkan lengan Elva. Cukup lembut.

Elva membuka mata. Bapak terkesiap. Pandangan mereka beradu. Mata bapak menelusuri jejak tangis di wajah puterinya. Sedang Elva berusaha mengalirkan permohonan yang sangat dalam.

“Denger Bapak, tidak? Hayu atuh bangun!” seru Bapak, lalu menelan ludah. Elva hanya tertunduk meratapi kesia-siaannya berwajah memelas.

“O, pasti gara-gara ini!” Bapak mencerabut dirimu dari telinga Elva. Akupun ikut terusik, “Kamu jadi tuli, seolah di dunia ini tak ada suara lain saja.”

Elva memberontak kecil, “Headset-ku, Pak. Jangan…”

Bapak membantingmu ke sembarang arah dan aku hanya terperangah. Tak bisa kulakukan sesuatu, selain menyaksikan pemandangan paling abu di bulan biru; Elva dipaksa menghadap seseorang di ruang tamu. Kau tahu? Ada Maerul dan seorang penghulu. Ah, bukan dia yang mengucap akad, melainkan majikannya. Ya, Si Lurah. Sedang Maerul menjadi saksi untuk sebuah nikah sirri.

“Nah, selain biaya sekolah SMA, bapak juga akan memberimu ponsel baru. Jadi buang saja ponsel jadulmu itu!” Si Lurah berseru. Elva yang tertunduk, mendadak menatapku. Aku beku. [#RD]

 

Kuningan, 14 Desember 2012

Dee Ann Rose

*Cerpen ini jadi juara ke-2 lomba cerpen FLP Kabupaten Kuningan 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *