Cinta itu Memungkinkan yang Mustahil

Cinta itu Memungkinkan yang Mustahil

cinta itu memungkinkan yang mustahil

Cerita yang akan aku bagikan berikut aku dapat setelah mendatangi sebuah acara tahunan di suatu pesantren.

Minggu, 08 Juli 2012, aku menemani ibu untuk menghadiri acara bertajuk “Imtihan dan Haflah Akhirussanah ke-19 (semacam acara puncak dari ulangan umum sebuah pesantren) di Ponpes Tarbiyatul Athfal”. Setelah berjalan melewati tempat duduk laki-laki, aku dan ibupun mendapat bangku kurang lebih baris ke-5 dari depan, serta bersalaman dengan kaum hawa lain. Sebagian ada yang kukenal, sebagian besar lain betul-betul asing.

Kulirik kanan-kiri, semua orang berpakaian sopan. Sebagian besar wajah-wajah mereka meneduhkan pandangan. Ah, mungkin ini yang namanya keberkahan majelis pengajian. Aku sendiri merasa terkesiap melihat anak-anak dan para remaja berpenampilan agamis seperti itu, mengingat sebagian besar yang kulihat amat jauh dari lingkungan pesantren. Mereka menutupi aurat, memekarkan senyum, menumataikan damai setiap orang yang memandangnya. Aku menjadi malu sendiri.

“Inilah acara yang ditunggu, yaitu ceramah dari Habib Sholeh…” terdengar suara MC (kutaksir ia masih kelas 6 SD) menggantung. Aku yang berada tak jauh darinya melihat seseorang bapak-bapak membisikkan sesuatu padanya.

“Mohon maaf, Habib masih di perjalanan…” tuturnya kemudian setelah bapak-bapak tersebut selesai berbisik. Suasana yang semula gaduh, sejenak hening, lalu gaduh lagi.

“Posisi habib masih 6 km lagi, maka untuk menunggu kedatangan beliau, mari kita simak dulu tausiyah dari Ustad Miftah,” sambung sang MC dibarengi raut lega dari bapak-bapak tadi. Nampaknya ia memang ditugaskan di divisi acara.

Dari arah depan panggung, nampak seorang pemuda dengan janggut khas seorang ustad di dagunya. Ia menjuntaikan sorban pada salahsatu bahunya. Langkahnya tegap, tanpa ada rasa canggung atau grogi yang berlebihan. Bahkan saat ia menyapa jamaah dengan salam, suaranya nge-bass dan sangat lantang. Ustad muda itu cukup berhasil menggaet perhatian kami.

Inti dari ceramah beliau yaitu kita mesti benar-benar ‘menyimak’ ayat-ayat Allah SWT untuk memperoleh pertolongan dan perlindungannya dalam hidup. Semua tuntunan hidup telah dijabarkan dalam Alqur’an, hanya saja kita semakin hari semakin jarang ‘menyimak dan mengkajinya. Beliau menyindir,

“Pasti kita sudah pernah mendengar ayat Allah yang berarti, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, bukan?”

“Iya…” jawab jama’ah serempak.

“Tapi ayat itu tinggallah ayat… Dengung bacaan Alqur’an saja sudah jarang terdengar di tiap rumah. Sebuah keluarga akan bising oleh suara televisi dari pada suara bacaan Alqur’an. Betul tidak?”

“Betul…” jawab kami lagi, serempak, diiringi suara cekikikan di sana-sini.

“Nah, saya gak nuduh lho, ibu-ibu aja yang ngaku sendiri…” celoteh sang ustad lagi, sambil tersenyum diikuti cekikikan jamaah.

Dari ceramah singkatnya, ada satu kutipan sang ustad yang langsung kusikat. Setelah menuliskannya versi kata-kataku sendiri, akupun membagikannya lewat fesbuk:

“Jika Allah yang sudah menolong, maka sesuatu yang kita pikir mustahil ada, akan menjadi nyata dan sesuatu yang kita pikir mustahil terjadi, akan terbukti.”

Tak lama kemudian, sang habib dari Pekalongan itu datang. Tanpa berlama-lama beliau langsung menaiki panggung dan menduduki sofa khusus yang telah disediakan. Diluar dugaanku sebelumnya, sang habib ternyata masih cukup muda, 35-36 tahunan. Perawakan beliau tinggi besar, hidung mancung, kulit sawo matang, tatapan tegas dan rona wajah yang teduh serta berkharisma.

Inti dari ceramahnya yaitu didikan terhadap anak tergantung dari keluarga serta lingkungannya. Beliau membenarkan kalau anak-anak itu adalah perekam dan peniru yang amat baik, maka sebagai orang tua atau orang-orang yang mendidiknya, kita dianjurkan untuk berhati-hati dalam ucap dan tingkah. Terutama dalam hal mengata-ngatai sang anak. Kebetulan anak beliau yang bernama Umar sering memecahkan gelas, maka beliau pun pernah marah dan berkata,

“Dasar bocah nakal!”

Karena ucapan tersebut, beliau dipanggil sang ibu dan balik memarahi sang habib,

“Jangan dikatain nakal, katain aja pinter!” ucap ibunda beliau.

“Lha, pinter mecahin gelas apa?”

“Eh, perkataan itu doa. Apalagi kamu sendiri, bapaknya, yang ngatain nakal, bisa jadi doa loh?! Doa orang tua kan mudah terkabu?! Makanya katain yang baik-baik aja,” tutur ibunda beliau yang cukup menamparnya.

Selain berkata-kata dengan baik, alangkah baiknya untuk mendidik mereka dengan agama. Beliau tidaklah mengesampingkan urusan duniawi. Silakan saja sekolah sampai tinggi, hanya saja agama menjadi anjuran utama sebagai didikan terbaik bagi anak.

Dari ceramah yang beliau sampaikan, ada satu cerita yang baru pertama kali aku dengar. Mendengar cerita ini, hatiku bergidik sekaligus haru. Berikut cerita lengkapnya (maafkan jika ada kesalahan):

Ketika zaman Rosulullah SAW ada yang dinamakan perang khondakh, yakni perang dengan menggunakan parit sebagai penjerat musuh. Maka, Rosul dan sahabatnya pun bergotong-royong membangunnya. Dan, diantara sahabat-sahabat beliau, ada salah satu sahabat yang amat mencintai dan mengagumi beliau. Bahkan istrinya pun sama. Pasangan suami-istri itu begitu menyayangi dan meneladani perangai Rosulullah SAW. Sang sahabat itupun mengutarakan niatnya untuk mengajak Rosul makan bareng kepada sang istri di rumah.

“Kita kan punya kambing, kita sembelih aja untuk lauk makan bareng Rosul…”

“Iya deh, nanti ibu masak yang spesial buat beliau…”

“Kalau begitu, Bapak mau ke belakang dulu, ngambil golok sekaligus nyembelih kambing…” ucap suaminya sambil diikuti kedua anak mereka yang masih kecil, Abdullah dan Abdul Shomad.

Di belakang, kedua anak tersebut menyaksikan tata cara bapaknya menyembelih kambing. Kambing ditelentangkan dan lehernya digorok perlahan oleh sang bapak. Usai menyembelih kambing, dagingnya dibawa untuk dibersihkan dan dimasak oleh sang ibu, sementara si bapak keluar lagi untuk melanjutkan pekerjaan membuat parit bersama Rosul dan para sahabat lain.

Sementara ibunya sibuk berkutat dengan daging kambing di dapur, Abdullah dan Abdul Shomad nampak berbincang di belakang.

“Kak, tadi kakak liat bapak nyembelih kambing, kan?”

“Iya, Dek.”

“Kita maen sembelih-sembelihan yuk, Kak?!” ajak adiknya.

“Hayuk… Siapa yang jadi kambing?”

“Adik aja… Kakak yang jadi bapak, yah?”

“Iya deh… kakak ambilin golok bekas bapak nyembelih kambing yah, Dek?”

“Iya…”

Tak lama, sang kakak pun menenteng golok tajam bekas bapaknya menyembelih kambing. Dengan menirukan gaya sang bapak, si kakak berkata pada adiknya,

“Hey kambing, aku sembelih kamu! Ayo jangan bermalas-malasan, sini kamu!”

Si adik yang kebagian peran sebagai kambing pun bertingkah layaknya kambing. Ia merangkak mendekati sang kakak.

“Ayo telentang, hadap samping!” perintahnya yang dituruti sang adik.

Bocah itu memasrahkan lehernya. Lalu sang kakak yang sama-sama belum mengerti apa-apa itu segera menggesekkan sisi tajam dari golok tersebut, sebagaimana yang ia saksikan dari bapaknya. Maka muncratlah darah dari leher sang adik. Bocah itu menggelepar. Ia meronta-ronta kesakitan sambil menangis kencang. Sementara si kakak gelisah dan ketakutan.

Sang ibu yang tengah memasak pun dapat menangkap suara tangisan anaknya. Dengan langkah cepat ia melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dan, begitu ia sampai, alangkah terkejutlah sang ibu ketika mendapati anaknya yang kecil telah menjadi mayat dengan ceceran darah di sekitarnya. Begitu melihat si kakak masih memegang golok dengan noda darah, ibu mendekatinya. Si kakak panik. Ia berlari belingsatan, takut ibunya akan marah besar. Dengan susah payah sang ibu mengejarnya,

“Kembali, Nak. Ibu gak akan marah. Ayo kembali…” seru sang ibu, namun si kakak tak menggubrisnya.

Ia terus lari kencang, membabi buta. Si ibupun tanpa kenal menyerah terus mengejar dan membujuknya. Sampai akhirnya si kakak menuju sebuah loteng. Karena langkah kakinya terlalu cepat, ia jadi hilang kendali. Sang kakak terjatuh dari loteng tersebut. Ia pun meninggal seketika.

Jadilah si ibu menghadapi kejadian tragis dalam hidupnya. Kedua anaknya meninggal, tapi ia tidak memanggil siapa-siapa, bahkan ia pun tak mengabari suaminya. Ia hanya membawa dan memandikan kedua mayat anaknya seorang diri. Setelah keduanya bersih, sang ibu menggeletakannya di kamar. Kemudian ia melanjutkan memasak daging kambing sebagai lauk makan untuk Rosulullah SAW.

Waktu berlalu. Bapak pun pulang ke rumah dengan sosok yang mereka cintai, yakni Rosulullah SAW. Tamu agung itu disambutnya dengan hangat. Masakan berupa daging kambing juga telah siap sedia. Bersamaan dengan itu, datanglah malaikat Jibril. Ia membisikki sesuatu kepada Rosul sebelum beliau menyantap masakan yang disajikan,

“Suruh anak-anak mereka untuk makan juga.”

Karena perintah itu dari malaikat jibril, yang juga berarti dari Allah SWT, Rosul pun meminta pasangan suami-istri tersebut untuk mengajak serta kedua anaknya.

“Cepet panggilkan Abdullah dan Abdul Shomad, Bu…” perintah bapak kepada si ibu.

Tentu sang ibu kikuk. Ia kebingungan harus menjawab apa kepada suami dan Rosul. Ia tentu kesulitan jika harus berkata jujur bahwa anak-anak mereka telah menjadi mayat. Setelah tercenung sejenak, ia mendapat ide,

“Mereka sedang di kamarnya, Pak, tapi gak bisa ikut makan bareng,” tutur istrinya.

Mendengar jawaban itu, Rosul pun hendak memakan masakannya, namun lagi-lagi malaikat jibril menghadang dan meminta suami-istri tersebut mengajak anak-anaknya. Rosul mengutarakannya lagi kepada mereka. Sang bapak berkata,

“Mana Abdullah dan Abdul Shomad, Bu?”

“Mereka sedang tidur, Pak.” jawab sang ibu, berbohong.

“Bangunkan mereka, Rosul ingin makan bareng dengan mereka!”

“Mungkin mereka capek, Pak.”

“Ya sudah deh, bapak saja yang membangunkan mereka,” Sang bapak berkata sambil beranjak menuju kamar anak-anak mereka.

Sang ibu langsung lemas, namun ia pun pasrah jika harus menerima kemarahan yang besar dari suaminya. Diatatapnya sang suami yang melangkah, makin mendekati kamar anak-anak, sambil terus berseru,

“Abdullah… Adbul Shomad… Ayo bangun, Nak… Ayo makan sama Rosul SAW!”

Sang bapak lalu melongokkan kepalanya ke dalam kamar. Melihat itu, Ibu semakin tegang. Degup jantungnya makin kencang. Namun tak ada perbedaan dari raut wajah si bapak. Tampangnya biasa saja, tidak memancarkan apapun.

Tak lama kemudian, bermunculanlah Abdullah dan Abdul Shomad dari dalam kamar, diikuti bapaknya. Dengan keceriaan khas anak-anak, mereka berlari dan melompat-lompat girang mendekati tempat di mana sang Rosul tengah menunggu untuk makan.

Subhanallaah…

Sang ibu tak henti-henti mengungkapkan pujian serta syukuran akan apa yang disaksikannya. Berkat keajaiban dan keberkahan cinta kepada Rosul, kedua anaknya telah dihidupkan kembali oleh Allah SWT. Sungguh, airmata yang ia tumpahkan tak lagi bermakna kesedihan, melainkan keharuan yang amat dalam!

***

Cinta… apalagi yang bertumpu pada ridho-Nya, akan senantiasa membawa keajaiban, kemudahan dan kebahagiaan. Ia takkan menyusahkan. Bahkan, ia membuat hal-hal yang mustahil menjadi mungkin. Walau prosesnya sulit, namun sebenarnya ia tengah mengajari dan memapah hati pada ujian yang berujung senyum.

Demikianlah cerita penuh hikmah aku bagikan. Semoga bermanfaat dan mencerahkan sahabat sekalian…. Amiin… [#RD]

*Catatan 09 Juli 2012.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *