“Dosen-Dosen” Di Luar Kampus

“Dosen-Dosen” Di Luar Kampus

dosen di luar kampus

Jadwal kuliah hari Kamis (14 Juni 2012) seharusnya pukul 10 pagi, 13.30 dan 16.00 WIB. Berhubung hari ini silent week serta materi telah tersampaikan semua, maka perkuliahan pun diliburkan. Namun tidak untuk Mata Kuliah Microteaching. Dosen meminta kami masuk jam 1 siang agar mahasiswa yang maju bisa 3-4 orang. Maklum, karena sebelumnya dosen matkul tersebut sakit dan harus dirawat, maka pelajarannya pun jauh tertinggal. Sedangkan mahasiswa yang maju untuk praktik mengajar baru 4 dari total 14 orang.

Apalagi hari ini aku dijadwalkan maju, maka akupun mesti datang. Tak biasanya aku bersiap diri sehabis adzan dzuhur. Persiapan khusus yang kulakukan yaitu memindahkan file slide (power point) dari computer ke flashdisk, yang kemudian aku letakkan di atas laci bersebelahan dengan ponsel. Tak lupa, akupun memikirkan apa yang akan aku katakan dari mulai opening hingga closing.

Ada SMS. Rupanya dari teman-temanku, Nova dan Intan. Kami janjian untuk datang jam 1 kurang. Selain takut telat, kami pun ingin mempersiapkan mental dahulu. Kami saling bertukar kabar posisi lewat SMS. Dan setelah pukul setengah satu siang, akupun berangkat. Tak lupa, kuambil ponsel di atas laci…

Akupun menaiki elf. Tak seperti biasanya, elf tersebut tak begitu kencang. Di jalan itu, aku tetap menjalin komunikasi via hp dengan Intan dan Nova. Mereka pun sama-sama tengah on the way. Yep! Akupun sampai di daerah pertanian. itu artinya aku mesti transit dari elf ke angkot 02 😀 Yang turun dari elf lumayan banyak. Aku, kakek-nenek, seorang pemuda dan seorang anak kecil. Rupanya mereka satu keluarga dan agaknya belum terlalu mengenal daerah Kuningan, terlihat dari raut mereka yang celingukan seperti kebingungan.

Karena buru-buru, akupun segera menaiki sebuah angkot 02 yang kebetulan menepi. Di dalam angkot tersebut hanya nampak seorang ibu-ibu, sepertinya seorang pegawai PNS. Dia duduk tepat di belakang sang sopir. Melihat pasangan kakek-nenek, seorang pemuda dan anak kecil di pinggir jalan, sang sopir memundurkan kendaraannya dan menyapa mereka dari dalam,

“Mau ke mana, Kek? Nek?”

“Mau ke Rumah Sakit Umum, Mang. Bisa?”

Aku yakin sang sopir kecewa, mengingat RSU bukanlah wilayah trayeknya. 02 memang beroperasi ke pramuka, sedangkan RSU itu wilayahnya sopir 01. Namun kebetulan tak ada 01 yang melintas waktu itu. Sang ibu pegawai yang duduk di belakangnya menyarankan,

“Bawa aja, Pak. Lumayan kan ongkosnya, nanti turunin deh deket 01,”

Sopir tersebut melihat lagi ke rombongan, lalu melambaikan tangannya dan melaju menjauhi mereka. Sambil mengendalikan kemudinya, dia bilang kepada si ibu pegawai,

“Saya mah ikhlas ridho mereka bukan rizki saya, mungkin mereka itu emang rizkinya sopir 01. Biarlah, Bu. Orang mau ke rumah sakit juga, ya pasti mereka lagi kesusahan… Masak mau saya bikin lebih susah lagi?!”

Subhanallaah…

Aku mendelik sang ibu yang hanya terdiam. Sang sopir dengan begitu damainya enggan menyusahkan orang lain, walau dia sendiri tengah susah mencari muatan penumpang. Entah, sikap yang diambil sang sopir membuatku ingin memberi ongkos berlebih padanya, walau jarak tempuhku dekat.

Aku pun tiba di kampus pada pukul 1 siang. Nova telah menunggu di sana. Dan, hanya sekitar 5 menit, Intan pun sampai. Kami lalu berjalan beriringan ke kampus atas. Rupanya di sana telah ada Anti yang juga dijadwalkan harus maju. Di sana, kami hanya bercanda, mengobrol dan mengotak-atik netbook+modem sambil menunggu teman-teman yang lain serta Pak Dosennya sendiri. Lewat alat itu, kami memangkas waktu dengan searching tugas yang lain, sesekali kami juga membuka fesbuk dan melihat-lihat foto banyak akun. Tak lupa masing-masing diantara menaburkan komentar-komentar. Tak heran, canda-tawa atau hanya cekikikan pun berderai-derai 😀

Menit demi menit berlalu. Total mahasiswa/i yang hadir hanya 7 orang. Ada aku, Intan, Nova, Anti, Fini, Teh Ernie dan A Dendi. Dosen dan teman-teman lain yang ditunggu tak kunjung datang. Kami jadi sebal dibuatnya, mengingat tak ada lagi mata kuliah lain. Salah satu diantara kami pun berinisiatif menghubungi sang dosen. Tak lama, beliau membalas kalau mata kuliah tetap jadi, namun diundur menjadi jam setengah 3. Kami semua menghela napas. Fiuhhh

Selain mengobrol ngalor-ngidul dan mencari bahan-bahan untuk tugas sosiolinguistik, kami pun menghabiskan waktu dengan jajan. Termasuk saat ada seorang nenek yang menjajakan roti isi sayur+ayam dan sosis dengan harga Rp. 3.000. Karena kasian, kamipun membelinya. Sambil makan, kami terus bercanda atau sekedar mengobrol ringan, berharap dosen dan teman-teman lain bisa segera datang.

Salah satu diantara kami ada yang meng-SMS sang dosen dan mengatakan kalau mahasiswa/i yang hadir hanya 7 orang. Beliau memberi balasan yang membuat kami semakin dongkol,

Kalau yang hadir cuma 7 orang, ya belum bisa…

Hhh… Aku sendiri berpikir, pergi ke kampus hari itu hanya menghabiskan waktu dan dana saja. Aku harus mengeluarkan uang untuk ongkos dan jajan, lalu pulang dengan keadaan nihil.

Teman-temanku yang lain mencoba bersikap bijak. Ada benarnya juga kalau microteaching tak dapat dilaksanakan dengan jumlah yang minim. Maka dengan perasaan kecewa tertahan, kami pun berjalan ke bawah. Di dalam angkot, kami terlibat obrolan yang menarik,

“Duh! ke kampus cuma gini saja, ya… Ngabisin ongkos, mesti naik angkot dua kali lagi…” celoteh Intan.

“Ah, aku aja yang beberapa kali naik angkot gak ngeluh tuh! hehehe…” timpal Anti. Diantara kami, jalan ke rumahnya lah yang memang memakan waktu lama dengan beberapa kali naik-turun kendaraan. Aku jadi malu sendiri dibuatnya.

“Tadi kamu udah dapet bahan buat tugas sosiolinguistik, kan? Tadi ka nada waktu browsing tuh… Lumayan, Ntan!” tambah Anti.

“Iya, kamu juga jadi dapetin percakapan kita buat penelitian kamu kan, Ntee?! Itu yang soal analisis politeness… ” Aku menengahi.

“Kita juga jadi makan roti si nenek, Iyang…” tukas Intan sambil terbahak. Kamipun mengekori tawa krispinya, sementara Fini hanya cekikikan sambil tetap khusyuk memijit-mijit BB-nya.

Begitulah, kami saling tukar-menukar hikmah dari kosongnya kegiatan kuliah. Meski aku dan beberapa teman pingin segera maju microteaching dan membebaskan diri dari rasa deg-degan, tapi mau bagaimana lagi. Hal terakhir yang bisa kami lakukan hanya pasrah dan mengikhlaskan waktu serta dana, termasuk untuk Pak Sopir angkot, si ibu kantin dan nenek penjual roti. Mungkin Allah mengutus kami untuk menebar rizki buat mereka.

Ah, saling mengingatkan hikmah seperti ini, perasaanku jadi tenang dan damai. Perasaan sebal dan dongkol perlahan luntur. Mereka seolah berlalu dibawa angin.

Sesampainya di rumah, aku merasa lucu juga dengan kelelahan yang mendera. Faktor perjalanan serta rasa kecewa sedikit banyak masih mempengaruhi energiku. Di dalam kamar, aku segera menanggalkan kerudung. Kusimpan tas, bros dan jarumnya ke tempat masing-masing. Tak lupa, kuletakkan juga ponsel di tempat yang sering menjadi ia singgahi. Ya, aku meletakannya di atas laci. Namun belum juga kutinggalkan ia telentang damai di sana, ada sesuatu yang membuatku tercengang.

Kau tahu, di atas laci tersebut selain ada ponselku, juga ada FLASHDISK yang lupa kubawa!

O… Apa ini yang ingin dibenturkan Tuhan padaku? Ini hikmah terbesar dari gagalnya rencana praktik microteaching. Tanpa aku sadari, flashdisk, tempat aku menyimpan format pengajaran dan data-data penting, nyatanya tertinggal! Ah aku jadi berpikir, mengerikan juga kalau seandainya dosen datang dan teman-teman yang hadir lebih dari 7 orang, lalu microteaching jadi dipraktikkan? O’ow!!!

Wew! Bolehlah hari ini aku tidak masuk kuliah, tapi… Aku mendapat pelajaran lebih berharga dari “dosen-dosen” di luar perkuliahan…. [#RD]

*Catatan 14 Juni 2012.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *