Hari yang Melelahkan Sekaligus Mengejutkan

Hari yang Melelahkan Sekaligus Mengejutkan

Kuliah pagi…melelahkan dan mengejutkan

Duh, meski pagi selalu menerbitkan semangat, namun bagiku, yang memang mahasiswi kelas siang, hal itu menyebalkan. Biasanya pagi itu bisa mengerjakan tugas lain, malah dipakai ke kampus dan tentu, berkompetisi dengan anak2 sekolah demi mendapatkan transportasi. Tapi ya sudahlah… Sabtu, 17 November 2012, Aku berangkat dan tiba tak jauh2 dari pukul tujuh.

Mata kuliah pertama; Second Language Acquisition

Bu dosen datang telat. Begitu masuk, beliau langsung menyuruh kami untuk ‘sit in group’. Usai kami duduk berkelompok, beliau menyuruh kelompok 1 untuk maju hendak diinterview. Oh ya, tugas Bu dosen minggu lalu yaitu menentukan topic penelitian dan research question-nya. Ya ampun… Aku lupa!

Mana dari 5 anggota kelompok, hanya 3 yang datang (Aku, Intan, dan Teh Adis). Tanpa Anti dan A Cahya Indra.
Maka, mendadak kami bertiga yang datang membuat topic. Sembari sesekali mencuri dengar tentang interview yang diajukan, kami memutar otak, menuding-nuding topic penelitian yang tepat. Akhirnya kami merumuskan sebuah judul; The effectiveness of Total Physical Response Toward Students’ Listening Skill. Lengkap dengan 2 research questions; Keefektivitasan metode Total Physical Response dan Kendala saat menerapkan metode tersebut.
Tak lama, “Kelompok 2 silakan maju…”

Kelompok 1 ke tempat semula. Giliran kami yang maju dengan agak ragu2, berbeda dengan kelompok lain yang nampak mantap. Beruntung, sesi interview itu bisa kami cairkan dengan guyonan dan tawa. Beruntung pula Si Ibu dosennya ‘hangat’ dan toleran sewaktu bertanya dan mengusulkan iniitu pada kami.

“Hm, research question-nya pake WH question, ya? Jangan yang jawabannya yes or no saja,” kata Bu Dosen sembari mencoret-coret buku tempat konsep kami.

“Iya, Bu.”

“Hm, kalau misalnya waktu menerapkan metode itu anak2 tidak paham maksud kalian, bagaimana, hayooo?”

Hening sejenak.

“Makanya, Bu. Kami membahasnya dalam research question yang kedua. Itu termasuk kendala…” jawabku sekenanya, sebenarnya.

Rekan2 tersenyum lega begitu Bu Dosen tak punya sangkalan lagi. Beliau agak sedikit tercenung, lalu, “Ya udah, makasih… Minggu depan saya minta perkembangan dari research question, ya… Sampai metodologi deh!”

Mata Kuliah Kedua; Teaching English for Adult Learners
Aku lupa, mata kuliah ini juga memiliki tugas. Yakni mengumpulkan print-an ‘course description’ yang telah masing2 kelompok buat minggu lalu. Sedangkan softcopy dari course description yang telah kami buat itu berada di salah atu neti teman sekelompokku.

“Netinya gak dibawa!” jawabnya membuat dadaku kempis.

Entah kenapa, aku baru ingat juga kata teman dari kelas lain, “Yang gak ngerjain tugas, disuruh keluar loh…”

Ah, aku pasrah. Disuruh keluar, ya tinggal keluar lah…

Padahal Bu dosen kedua datangnya telat. Namun aku keburu ‘bad mood’ mendapati softcopy-nya tak ada. Meski akhirnya kuketik juga course description itu lewat neti kelompom lain. Tak terkejar dan tak ada hal lain kecuali tawakal.

“Maaf saya datang terlambat. Tadi lepi saya jatuh sewaktu mempotokopi materi buat kalian, tentang pembuatan silabus,” tutur beliau.

“Sekarang silakan kumpulkan course description yang udah kalian ketik,” perintah beliau. Aku bersiap jika disuruh keluar.

“Kelompok Dian, bagian intermediate, mana?”

Teman-teman sekelompokku yang menjawab, “Ketinggalan, Bu.”

Aku sendiri sibuk mengetik course description-nya. Beruntung sekali beliau tidak emosi berapi-api saat mood buruk karena lepinya jatuh. Fiyuuuh… Nasib baik masih mengipasiku, ternyata…

Namun di akhir pertemuan, beliau menegaskan,

“Dian! Print dan kumpulin course description-nya. Kalau silabus kursus buat minggu depan tidak dikerjakan, out!”

Mata Kuliah Ketiga; Teaching English for Children
Awalnya sang dosen, yang lagi2 perempuan, menyapa dan tersenyum2 seperti biasa. Beliau juga sedikit berkelakar kepada temanku yang menikah 28 Oktober lalu. Beliau lanjut mengabsen kami, lalu bilang,

“Kelas lain ada yang ngumpulin lesson plan via email. Kok dari kalian gak ada satupun sih?”

Kompak, kami celingukan.

Lesson plan???

Aku pribadi belum pernah mendengar tugas membuat lesson plan dari beliau. Teman-teman yang lain pun malah ramai berbisik-bisik dan saling Tanya, apakah tugas itu ada.

“Makanya Tanya ke kelas lain, keenakan ah gak ada tugas.”

“Ih emang gak tau, Bu.”

“Gak ada info, Bu.”

“Kan kita ketinggalan, Bu.”

“Jadwal kita sering terganggu, Bu.”

Setelah beralasan tralala, beliau akhirnya menyudahi perdebatan dan bertanya,

“Berdasarkan silabus, sekarang kita belajar apa, ya? Udah dibaca kan bukunya? Yang berbentuk pdf itu loh…”

Lagi, kami sekelas celingukan. Buku??? Buku yang mana? Aku pesen saja belum dikasih.
Silabus??? Duh, aku lupa gak copas sebelumnya.

Kebetulan, HP si Ibu bergetar. Beliaupun menyalurkan rasa bête-nya atas sikap dan ketidaktahuan kami. Waktu ngaret dengan percuma. Di sela-sela obrolannya dengan ponsel, beliau berkata,

“Selagi kalian gak ingat materi kita sekarang tentang apa dan bagaimana inti dari buku itu, maka saya gak akan ngasih materi apa2.”

Beliau lanjut menerima telpon. Sementara kami malah sempat saling tuding dan sebagian lagi mencari-cari silabus serta e-book yang dimaksud. Ketemu!

“Sekarang materinya tentang ‘giving instruction’, Miss.”

Bu Dosen selesai menerima telpon, “Iya. Intinya bagaimana?”

“Giving instruction kepada anak2 perlu gesture, Miss…”

Sang dosen meng-iya-kan lalu menerangkan sedikit. Giving instruction kepada anak2 memang mesti mempertimbangkan gesture. Misal saat kita menerapkan kata perintah sederhana, seperti ‘Sit down!’, ‘Be quiet!’, ‘Stand up!’, ‘come forward!’, ‘Close the door!’, ‘Pay attention!’, dll. Maka tanpa menerangkan makna, gesture cukup untuk memberitahunya. Hm, mungkin semacam ‘drilling’. Semakin sering diujarkan, si anak semakin ingat bahkan melekat dalam memorinya.

Fiyuh…

Perkuliahan pun selesai. Hari ini benar2 lelah, penat sekaligus muak dengan diri sendiri yang belum bisa berdisiplin, padahal telah memasuki semester akhir!

Aku memutuskan untuk pulang saat seorang temanku, Novy, bilang,

“Gak sholat dulu?”

“Di rumah aja….”

Pas di rumah, kubasuh tenggorokan. Dinginnya air sedikit mengobati kekerontangan, meski rasa lelah masih saja mencengkram. Ketika tengah menikmati suasana santai itu, tiba2 datang sms yang membuatku makin lemas. Tulang2 yang menyangga lututku seakan tanggal,

“Ibu KM kita meninggal.”
sorrow
Ya Allaah…

Beberapa waktu yang lalu sang KM mengirim SMS, meminta doa untuk kesembuhan ibundanya. Rupanya beliau sakit jantung dan mesti dirawat di RS. Sayang, aku dan teman2 tidak sempat menjenguk. Duh, aku jadi membayangkan betapa sesaknya…
Capek2 pulang kuliah, lalu pas pulang malah disuguhi jenazah ibu sendiri :’(

Semoga ketabahan dan baktimu selama ini menjadi jalan beliau untuk tinggal dengan nyaman di sisi Tuhan YME. Amiin… [#RD]

*Catatan 02 Januari 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *