Hikmah dan Pelajaran dari Rasa Galau

Hikmah dan Pelajaran dari Rasa Galau

hikmah kegalauan

Kamis, 20 Juni 2013

Beginilah salah-satu hikmah galau. Aku dan rekan-rekan The Deixis Team selain semakin mengeksplor kemampuan, kamipun semakin mengeratkan komunikasi. Rasanya rasa persatuan dan kesatuan kami semakin terpupuk saja. 🙂

Semenjak dosen pembimbing 1 memintaku dkk mengganti teori, kami kembali mengubek-ubek sumber. R sms melaporkan tengah browsing, sementara D dan P saling menawarkan ebook. Bahkan setelah ngobrol dengan T, yang notabene bukan termasuk The Deixis Team, dia malah mengirim banyak pdf mengenai teori yang kucari. Who knows, terselip teori yang dosenku mau.

Dasar rasa malas. Kalau dilayani, cengkramannya makin kuat saja. Tak ada satu ebook pun yang aku baca. Sampai-sampai adik T yang baik mengirim sebuah buku. Karena bentuknya hardcopy itu, barulah aku membacanya. Kadang cerah kadang buram. Aku sangat perlu teman diskusi atau seseorang untuk membimbing dan mengarahkan.

Sesuai kesepakatan, The Deixis Team pun bertemu. Selain hendak sharing mengenai teori yang akan dipakai, mereka memang mendapat ‘tugas’ dari dosen pembimbing 1 untuk ‘mengobrol’ denganku. Awalnya kami hendak bertemu berempat saja, namun lama-lama aku mengusulkan untuk sekalian menemui pembimbing 2 juga. Syukurlah mereka setuju.

Sekitar pukul 11 siang, kami berkumpul di sebuah SMA di Kuningan – Jawa Barat. Begitu menghubungi dosen pembimbing 2 kami, ternyata beliau tengah berada di bengkel MK.

“Ke sini aja. Dari selatan RS J, belok kanan, mentok, belok kiri deh…”

“Selatan itu di mana?”

Glek!!!

“Ya udah deh, yang penting ke RS J dulu. Nanti bisa tanya-tanya…” kataku.

Aku, D sama R pun mengubah haluan dan segera menuju ke bengkel yang dimaksud. Sementara itu P tengah di kampus 1 dulu, mengikuti pengajian yang diadakan kampus. Kebetulan yang memberi siraman ruhaninya itu Pak Drs. H. Jujun Junaedi.

Begitu dekat RS J, R lurus saja. Sementara Begitu aku dan D berhenti dekat sebuah lapangan dan agak ragu untuk belok kanan. Apa mungkin di sini ada bengkel, ya?

“Aku mah gak hapal jalan sini, Dian…”

“Aku sih tau,” memang rumah seorang teman sekelasku di sana dan aku pernah mengunjunginya, sayang mesti masuk gang lagi, “tapi gak tau ada bengkel mobil atau nggak, D. Hehehe”

“Ayolah kita jalan dulu sampai mentok!”

“Iya deh, masih di kabupaten sendiri ini gak bakal nyasar. Malah nanti bisa tembus kampus 1 lho, D!”

“Masak? Eh tapi kadang kita teh mesti menempuh jalan yang sesat dulu untuk…..”

“Untuk sampai ke jalan yang lurus,” sambungku segera. Kami ngakak berdua.

Usaha ‘coba-coba’ kami berbuah membahagiakan. Usai mentok dan belok kiri, kami pun mendapati dosen pembimbing 2 kami tengah menanti. Sambil berjalan menghampiri beliau, aku sibuk membalas sms R yang ternyata lurus terus, tak belok kanan sesuai instruksi. Hadeuh…

Tiba di tempat dosen pembimbing 2 kami berada, kami pun ‘curhat’. Terpaksa, aku lagi yang mesti menjelaskan ulang hasil bimbingannya. Beliau saja sempat kebingungan. Sama-sama galau dengan selalu menyembulkan tanya “emang maunya teori yang seperti apa, ya?”. Kami angkat bahu, memang tak tahu persis teorinya yang diharapkannya itu seperti apa.

Usai diskusi dan saling lontar teori yang cukup alot, aku membuka buku yang kemarin diantarkan adik T. Kuusulkan teori yang ada di dalamnya. Bu dosen membaca-bacanya sejenak, lalu setuju untuk memakai teori itu saja. Sebelum berpamitan kami tanya-jawab seputar cara presentasi dan contoh analisisnya. Meski beliau belum membaca buku tersebut secara menyeluruh, namun beliau dengan sabar menampung segenap kegamangan kami.

Setelah selesai, kami balik badan menuju ke tempat potokopian. Kalau sudah milik sendiri, ‘kan enak mau dicoret-coret juga. Sekalian kami juga bertemu dengan P di potokopian dekat SMK Y itu. Usai menggandakan beberapa lembar dari buku tersebut, kami kembali berdiskusi. Segalau apapun kami, setidaknya kami tak boleh meremehkan kebersamaan ini.

Usai memastikan tak ada lagi bahan diskusi, kami berpencar lagi. Kecuali aku dan P. Kami memutuskan untuk singgah dan beribadah di sebuah mesjid. Pasca menunaikan kewajiban 5x sehari itu, kami berdua diam sejenak. Sambil menyantap kudapan ringan, kami membaca-baca dan bertukar pikiran. Di sela-sela kegiatan kami, datang seorang teman dari jurusan Bahasa Indonesia. Dia datang dengan menenteng skripsi rangkap 3. Rupanya dia telah sidang dan tinggal menanti tanggal wisuda. Wah senangnya…

Ringankan hati kami untuk menghadapi semua ujian ini, Ya Allaaah. Aamiin… [#RD]

Sumber Gambar: Google

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *