Jejaring Sosialku Adalah Segalanya Bagiku

Jejaring Sosialku Adalah Segalanya Bagiku

Building Digital Tablets Horizontal

Selasa, 23 April 2013

“Penelitian menyebutkan; pada pagi hari, orang-orang zaman sekarang lebih mengutamakan diri untuk memeriksa jejaring sosial ketimbang sarapan.”

Aku terhenyak mendengar celotehan seorang penyiar radio. Meski sambil mengetik, namun kalimat yang ia ucapkan cukup berhasil membelotkan perhatian. Aku berpikir, hasil penelitian itu ada benarnya juga. 😀

Fenomena jejaring sosial (apapun) telah mewabah dengan begitu luas. Layaknya wabah, ia tak memandang siapapun dengan kedudukan apapun. Remaja, anak-anak, lansia, pengangguran, pengacara, artis, pengamen, tukang gorengan, dosen, dan bahkan presiden tersedot untuk memiliki akun dalam jejaring sosial.

Dari segi manfaat, jejaring sosial bisa digunakan sebagai:

1. Media Eksistensi
Para artis, penyanyi, tokoh politik, penerbit, Koran-koran, band, penulis, radio-radio, program televisi, buku-buku, club sepak bola, film, dst berbondong-bondong membuat akun di jejaring sosial untuk mengukuhkan eksistensi mereka. Selain sebagai bukti keberadaan dan keaktifan, mereka memanfaatkannya sebagai media mendekatkan diri dengan public. Para selebritis dengan fans-nya, para penulis dengan pembacanya, para Koran dengan pelanggannya, dst.

Namun “eksistensi” tak hanya berlaku bagi seleb. Bagi orang biasa kayak aku juga bisa. Hehehe. Lewat kemunculan status, tweet, jempol, retweet, komentar, share tautan atau apapun itu, orang-orang dumay (dunia maya) bisa menyimpulkan kalau kita “masih ada”. Dalam artian masih aktif bergaul di ranah maya. Jadi khusus orang-orang yang jarang kontak langsung atau via ponsel bisa deh menghubungi lewat akun jejaring sosialnya.

2. Media ekspresi diri
Saat ini, tak bisa terbayangkan betapa sibuknya jejaring sosial mengunggah poto, video dan tulisan-tulisan. Media-media itu bisa menggambarkan ekspresi sebuah akun. Tak pandang apakah akun tersebut introvert atau memang terbuka, yang jelas jejaring sosial selalu berhasil membuat orang “rela” mempublikasikan data, wajah, ide, pandangan, bisnis dan permasalahan diri sendiri. Bedanya, ada yang blak-blakkan adapula yang implisit.

Kadang suka risih dengan akun-akun yang tiba-tiba “berteriak” di beranda. Mereka meluapkan marah atau rasa kecewa dengan kata-kata yang tak lagi masuk penyaringan. Bagaimanapun, ungkapan kasar yang menyeret nama-nama hewan itu telah menjadi konsumsi publik. Ada juga akun-akun yang mungkin tengah galau lalu sepuasnya update status atau ng-tweet. Mungkin dua menit sekali.

Terus, kemarin-kemarin banyak akun yang “protes” entah pada siapa tentang status atau tweet berisi doa. Mereka berasumsi kalau doa itu ya sama Tuhan, bukan beranda fesbuk. Selanjutnya, lebih banyak lagi akun yang memanfaatkan jejaring sosial sebagai lapak promosi. Banyak yang mengaku terganggu. Adikku pernah bilang,

“Itu kronologi apa tempat sampah? Penuh banget!”

Aku hanya tersenyum. Memang, entah kenapa banyak akun yang percaya hingga kronologiku “penuh” oleh tag foto, catatan, status, tautan, dst. Aku pribadi sih sangat maklum. Toh setting “public” dan fungsi jejaring sosial memang untuk hal-hal tersebut, kok. Aku sangat ikhlas jika ada beberapa akun yang promosi atau berekspresi. Asal tak mengganggu kebebasan orang lain, tidak merugikan dan tidak merusak akhlak, syah-syah saja. Lagipula, hal-hal tersebut sering kulakukan juga. 😀

Wah kalau dijabarkan, mungkin akan sangat banyak deh tingkah-polah para pemilik akun. Yang jelas, manfaat atau madhorot jejaring sosial akan sangat tergantung pada kebijakan sang pemilik akun sendiri.

3. Media Dakwah
Tujuan mulia seperti dakwah banyak bermunculan di media sosial. Aku sering mendapati beberapa fans page dengan likers yang tumpah ruah. Selama postingannya bermanfaat dan sesuai syariah, tentu tak ada salahnya. Malahan, postingan seperti itu bisa menjadi tambahan berharga untuk pengetahuan dan amalan agama kita.

Sayang, aku juga sering menemukan beberapa fans page yang saling menghujat agama. Double sayang, likers-nya itu banyak dan mudah terprovokasi. Tak heran, pas si admin posting status yang controversial terus raib begitu saja, eh para komentatornya lah yang ter-adu domba. Duh, semoga kita senantiasa diberi hidayah dan lindungan-Nya. Aamiin

4. Media Interaksi dan Komunikasi
Nah fungsi yang satu ini begitu vital. Lewat fesbuk, contohnya. Aku beberapa kali “dipertemukan” dengan orang-orang yang secara “nyata” jarang ketemu. Lewat media ini, jarak tak lagi menjadi hambatan nomor 1 untuk sekadar bersilaturahim. Kita bisa tetap saling bertukar kabar, berbisnis, bahkan menjalin hubungan yang lebih intim.

Aku pernah membeli sebuah jajanan “cilok” pada seorang laki-laki. Herannya dia itu tidak bisa berkomunikasi dengan Bahasa Sunda. Usut punya usut, ternyata dia adalah pendatang dari Pulau Sumatera sana. Yang bikin aku kaget, dia menikah dengan orang sunda setelah dijembatani fesbuk. Widiiih…

5. Media Promosi
Bagi penggiat bisnis, media sosial adalah marketing yang ampuh dan nyaris tak menguras modal. Maka, tak heran jika sekarang-sekarang bermunculan fans page atau tautan-tautan dari sebuah produk yang menghiasi beranda kita. Hal itu sangat syah. Bahkan bagi sebagian orang akan sangat membantu. Aku pun bisa membeli beberapa buku yang kuinginkan via online ini.

Yang jadi catatan, bisnis via media sosial mesti mengedepankan kepercayaan. Jika terjadi ketidaknyamanan pelayanan, boleh jadi bisnis yang kita geluti akan “di-black list”. Karena sensitif itulah, sebagai promotor di ranah maya, kita mesti siap memberikan service yang memuaskan. Tak kalah penting, sebagai konsumen, kita mesti jeli dan selektif.

Jangankan untuk jualan, kini jejaring sosial bahkan bisa menjadi promosi para pejabat yang berkehendak mempertinggi tahta atau memulihkan citeranya. Hehehe.

6. Media Curhat
Fungsi nomor 6 ini lebih privat. Telah disinggung sebelumnya bahwa kolom status atau tweet sangat menggoda untuk kita isi dengan tulisan. Meski sangat banyak tulisan ringan seputar “Met pagi/siang/sore/malam, All”, “Ngantuk beudhttt!”, “Aku kangen kamu”, “Laparnya…”, “Acara xxx seru!”, dst… namun mayoritas tulisan tersebut berisi curahan hati.

Jejaring sosial menjadi magnet tersendiri bagi kita untuk meluapkan unek-unek. Tak jarang kutemui beberapa akun yang aslinya pendiam, namun begitu berbicara di dumay sangat lantang. Selain sekadar mencurahkan perasaan, aksi itu cukup ampuh menarik perhatian banyak orang. Sehingga selain dari teman dekat dan keluarga, kita kerap kali mendapat empati dari orang asing via dumay tersebut.

7. Media Berbagi
Selain akun atau fans page yang abal-abal, banyak pula yang berkualitas. Ada yang mengusung topic motivasi, kesehatan, agama, ilmu pengetahuan, berita terkini, dst. Misalnya page Mario Teguh yang sering meng-share kalimat atau kisah motivasi dengan tujuan membangkitkan semangat orang-orang. Selain mengembangkan “brand” dan sebuah program, hal itu bermanfaat bagi para pembacanya.
Tweet Pak Beye
Akhir-akhir ini juga kita sedikit dikejutkan dengan berita Pak SBY punya twitter. Mungkin bisa dikatakan telat dibanding Obama yang dari 2007 telah aktif “berkicau”. Tweet pertama beliau: “Halo Indonesia. Saya bergabung ke dunia twitter untuk ikut berbagi sapa, pandangan dan inspirasi. Salam kenal. *SBY*”

Sebagian menganggap tindakan itu berbau “politis”. Maklum, tahun 2013 jelang 2014 ini politik menjadi salah satu tema yang sangat sensitif. Apalagi public sudah tahu bagaimana keadaan partai yang beliau rintis. Jadilah banyak asumsi berkembang. Untuk mendongkrak citera partai lah, meraup kembali kepercayaan rakyatlah, dsbg. Hohoho. Wallaahu a’lam. Nanti keterusan. -_-‘

Dari segi kemanusiaan, sangat wajar jika Pak SBY juga ng-tweet. Selain jembatan curhat, beliau juga bisa berbagi motivasi dan inspirasi serta mensosialisasikan kebijakan, program, intsruksi-instruksi, informasi atau tindakan-tindakan yang telah dilakukan.

Dengan hadirnya twitter resmi beliau juga, secara tidak langsung, presiden kita membuka diri untuk komentar atau kritik dari mulai yang nyocol sampai radikal sekalipun. Jadi masyarakat bisa leluasa meluapkan isi hatinya pada beliau langsung, tanpa berdemo atau memenuhi prosedur yang njelimet untuk ketemu beliau di Istana Negara. Hehehe

Lagipula selama isi kicauannya baik, ya akan berimbas baik pula. Berikut tweet beliau yang menurutku inspiratif:

“Memfitnah & buruk sangka hanya bikin hati panas & terbakar, bersabar & baik sangka bikin hati teduh & bahagia. *SBY*

“Jika terlalu melihat kekurangan orang lain, jangan-jangan kita tidak melihat kekurangan sendiri. Mungkin lebih banyak. *SBY*.”

Well, kita bebas melakukan apa saja pada akun yang kita miliki di jejaring sosial. Bisa bermanfaat, bahkan bisa juga membahayakan. Dan nampaknya, tak ada hal lain untuk menyikapinya selain bersikap bijak. [#RD]

Wallaahu a’lam

Sumber Gambar: Google

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *