Kenapa Lagu Anak-anak Jarang Nampak?

Kenapa Lagu Anak-anak Jarang Nampak?

lagu anak-anak

Seringkali ketika aku melintasi anak-anak kecil, mereka tengah menyanyi dengan riang, sebagaimana khas mereka. Aku juga ikut gembira, tentunya. Namun, lagu serta lirik yang mereka bawakan tidaklah mencerminkan siapa mereka. Dengan asyiknya, mereka tengah mendendangkan lagu-lagu pop dewasa sekarang. Kebetulan waktu itu aku mendengar mereka menyanyikan lagu sebuah girl band. Entah kenapa, miris dan prihatin saja melihat hal tersebut.

Aku jadi bertanya-tanya, “Kenapa lagu anak-anak jarang nampak?”

Padahal pada era tahun 1990-an, banyak sekali lagu-lagu anak serta penyanyi ciliknya yang nge-top. Misalnya nih Bondan Prakosa dengan albumnya “Lumba-lumba”, Enno Lerian dengan “Malas Bersih-bersih”, Trio Kwek-kwek dengan “Si Jago Mogok”, Laura Dacosta dengan “Anak Jalanan”, Kak Seto (Si Komo) dengan “Si Komo Lewat”, Joshua dengan “Diobok-obok”, Chikita Meidy, Tasya, dsb. Lagu-lagu tersebut sangat bagus serta sesuai dengan usia kanak-kanak, apalagi beberapa diantaranya mengandung nilai pendidikan dan nilai moral. Dari sisi promosi pun, banyak perusahaan rekaman lagu anak-anak bersedia mengeluarkan biaya yang tidak kecil. Lha, sekarang? Yang berdengung kok ya lagu-lagu tentang cinta, rindu, perselingkuhan/kekasih gelap, penghinaan pada ‘rakyat jelata’, ciuman pertama, playboy, balas dendam, dsb.

Bukannya bermaksud mencela lagu-lagu pop top zaman sekarang ya… Sekali lagi, cuma menyayangkan kalau lagu-lagu tersebut telah dikonsumsi oleh anak-anak. Idealnya kan lagu anak-anak memiliki karakteristik sebagai berikut:

  • Nadanya cenderung ‘fun’, atau bit-nya itu memang khas. Meski lagunya agak mellow seperti lagu ‘Kasih ibu’, tetap saja ada ke-khas-an di dalamnya. Tidak terlalu ng-rock, metal, atau seperti lagu-lagu pop zaman sekarang.
  • Lirik biasanya mudah dipahami dan tidak terlalu panjang. Tak jarang, para pencipta lagunya menyelipkan pesan moral atau nasihat. Jadi, meski kata-katanya sederhana, tapi tetap berbobot.
  • Tema lagunya itu gak jauh dari kehidupan sehari-hari, yang dikemas dengan kata dan nada yang menyenangkan. Tak lupa juga, ada unsur pendidikan atau nilai agama di dalamnya. Misalnya dalam lirik lagu ‘Pelangi’ berbunyi, ”Pelukismu agung, siapa gerangan? pelangi-pelangi ciptaan Tuhan…”
  • Nada lagunya seringkali cocok dipadukan dengan gerakan, goyangan atau tepukan tangan. Kalaupun mellow, sekali lagi, tetap khas kok jiwa kanak-kanak dalam lagunya…
  • Isinya itu tidak tentang keluhan, pesimistis, rendah diri dan emosi-emosi desktruktif lainnya. Biasanya malah ceria, atau agak slow tapi tentu bukan untuk mengasihani diri sendiri.

Aku amat mengagumi pencipta lagu anak-anak zaman dahulu. Terbukti lagu-lagu mereka layak disebut ‘legenda’, walau sekarang-sekarang ini mulai tak terdengar gaungnya… Ah, andai aku seorang musisi, mungkin aku akan berkontribusi dengan menjadi pencipta lagu anak-anak generasi selanjutnya: Menggantikan Ibu Sud, SM Mochtar, AT Mahmud, A. Riyanto, Pak Kasur, dkk. Kenapa? Agak memprihatinkan juga loh dampak dari lagu dewasa terhadap anak-anak… Beberapa yang bisa kurangkum yaitu:

  • Jelas-jelas penggunaan kata dalam lagu orang dewasa itu belum sepenuhnya bisa dicerna anak-anak. Hal-hal abstrak seperti cinta, main serong, rindu, derita, sakit hati, frustasi, dsb belumlah sesuai diinterpretasikan anak-anak. Lagipula kasian juga kan kalau mereka mesti memaknai kata-kata orang dewasa. Apalagi kalau mereka sudah bertanya-tanya tentang arti kata-kata tersebut? Mending kalau orang tuanya bisa menjawab dengan bijak, kalau nggak? Jangan salahkan kalau sewaktu-waktu mereka mencari artinya sendiri sesuai dengan pemahamannya sendiri, entah itu dari teman sebaya, internet, televisi, dll. Maka pantes, banyak orang bilang, “Anak-anak zaman sekarang banyak yang ‘dewasa’ sebelum waktunya.” Hmm…
  • Setelah urusan musik, maka selanjutnya yaitu sang penyanyi. Gak perlu dijabarkan lagi deh penyanyi, busana dan gayanya seperti apa di zaman sekarang ini… Mereka, public figure itu, kan punya pengaruh kuat bagi penonton maupun pendengarnya? Apalagi anak-anak itu adalah peniru yang ulung… Repot juga kan kalau apa yang dia tiru kurang positif? Terus lagi, acara music kok sering di jam-nya sekolah yah? Liat anak-anak melambaikan tangan dan berjoget di bawah panggung dengan sorot sinar mentari kok jatuhnya jadi kasian…
  • Lirik lagu orang-orang dewasa kan kompleks temanya. Selain tentang keceriaan, ada juga yang tentang keterpurukan, keputus asaan, dan bahkan hujatan. Tema yang belum layak dinikmati anak pun agak disayangkan juga, kan? Lagu mereka yang semestinya tentang keceriaan atau nasihat, malah berubah rumit seperti itu… Duh…
  • Video klip lagu orang dewasa tentu berbanding jauh dengan anak-anak. Walaupun video klip tersebut telah lulus sensor, tapi tetap saja belum laik dilihat mata anak-anak. Hal-hal yang lazim dalam video klip kita seperti berpelukan, ciuman kening, goyangan pinggul, menampar, berjingkrak, dsb kemungkinan besar menjadi objek tiruan mereka.

Hm, kalau diingat-ingat sewaktu aku kecil, aku begitu menggemari lagu-lagu khusus anak. Teman-temanku pun demikian. Gak di sekolah, gak di rumah, lagu yang kami dendangkan sambil menari-nari itu ya lagu anak-anak. Bahkan sampai sekarang, aku masih suka kalau harus mendengarkan lagu-lagu zaman itu. Serasa ada kenangan indah masa kanak-kanak yang dibawakan nadanya. Tapi sekarang? Kok lagu anak-anak kurang diminati anak-anak, yah? Apa karena:

  • Lagu pop dewasa gencar ditayangkan media. Jungkir balik dengan keadaan lagu anak-anak, bukan? Zaman searang jarang sekali ada media yang ‘sudi’ menayangkan acara atau lagu anak-anak. Eits, tapi ada sih beberapa radio yang tetap memutar lagu anak-anak… Pokoknya aku salut! Mm, dulu sih ada juga acara semacam ajang pencarian bakat di televisi, tapi yang mengecewakan adalah, lagu yang peserta bawa kok genre-nya pop dewasa?
  • Pencipta lagu anak-anak mulai berkurang, yah? Entah karena memang susah, atau mungkin karena pengaruh pasar? Yang jelas, mulai tak terdengar siapa yang ingin menciptakan lagu bagi anak-anak generasi kita. Yang ada, orang-orang kita malah latah… Ketika gaya-gaya melayu tengah digandrungi, orang-orang ikutan bermelayu ria. Atau kalau sekarang sih ber-Korea/boy-girl band ria.
  • Setelah penciptanya yang berkurang, penyanyi cilik pun tak ada… Artis cilik sekarang kebanyakannya berakting sinetron atau iklan. Sehingga, tidak ada idola cilik yang ditiru anak-anak dari penyanyi cilik.
  • Acara-acara televisi, selain music, juga didominasi orang-orang dewasa atau remaja. Sosok-sosok artis tersebutlah yang akrab di mata anak-anak. Sehingga, mereka pun cenderung meniru artis-artis itu. Entah itu gaya berpakaiannya, cara bicaranya, jargon-jargonnya, dsb.

Entah aku yang terlalu dramatis memandang fenomena ini atau bagaimana, tapi aku yakin ada pengaruh kuat dari ‘menyimpangnya’ lagu anak-anak. Terlepas dari peran sebuah lagu sebagai hiburan belaka, namun alangkah baiknya kalau kita (orang dewasa yang mendampingi si kecil) memberi porsi lagu sesuai dengan usianya dulu serta tidak dulu ‘membebaskannya’ mendengarkan, bahkan meng-imitasi lagu-lagu dewasa. Biarkan dulu mereka menjadi anak-anak dengan keriangan alaminya… 😀 [#RD]

*Catatan 16 Juni 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *