Ketika Teman Jadi Alarm

Ketika Teman Jadi Alarm

teman jadi alarm

Lumrahnya, alarm dipakai untuk mengingatkan kita akan sesuatu yang ‘urgent’ ataupun sesuatu yang mengharapkan kesigapan respon kita. Tanpa alarm, mungkin kita akan terlena dan mudah lupa.

Alarm… Tuhan telah memfungsikannya pada banyak hal. Konon katanya, suatu bencana atau kejadian tragis pun boleh jadi adalah alarm kalau manusia telah banyak berulah dan harus segera memperbaiki kebiasaan.

Ya, sebuah pelajaran untuk hati kadang tercerna tanpa sengaja. Tak perlu tempat atau waktu khusus, formalitas atau aturan-aturan mengikat. Malah kedatangannya yang tulus seringkali lebih mengena dan mudah dipahat maknanya. Daun jatuh, obrolan orang, air mengalir, arak-arakkan awan, kecipak hujan, bentangan langit, julang ilalang,tangis bayi, gemuruh perut, dst.

Dalam percakapanku dengan beberapa orang teman, terbetik sesuatu yang menarik. Sebagaimana kebiasaan wanita, obrolan kamipun melanglang buana. Topik pembicaraan merambat tanpa sebab, blah… blah… blah…

(Kebetulan aku tengah memainkan ponsel)

A: Kamu pernah ciuman, B?

B: Hm, jujur saja aku pernah! (sambil menatapku dan A, bergantian)

(Aku menoleh sebentar, kemudian memalingkan muka, berlagak cuek dan melanjutkan memainkan ponsel. Sebenarnya, aku tengah mengingat obrolan yang sama dengan seorang teman lain, bahkan ia telah melakukan sesuatu yang diluar batas wajar dari sebuah hubungan, diluar nikah.)

A: Beneran pernah? (A bertanya lagi, meminta keyakinan. Sebab setahu aku, B adalah orang yang sepertinya agak jauh untuk hal-hal seperti itu. Aku jadi merasa kalau aku ini masih belum mengenalnya sepenuh hati.)

B: Iya, aku gak munafik. Aku ngaku pernah! Sama pacarku, Si Z…

A: Kok mau?

B: Dia cowok yang suka melindungi aku…
(A tertegun. Aku sendiri kurang setuju mendengar kalimat terakhir B. Cowok mencium pacarnya dikatakan ‘melindungi’? Bukankah justru sebaliknya?). Pendapat itu kusuarakan dalam hati saja, aku tidak mengucapkannya terang-terangan. Bukan urusanku, kupikir.

Obrolan pun berkembang. Lama-lama, pada saat yang pas, aku berhenti memainkan ponsel, masuk dan bergabung dengan obrolan mereka. Hingga tak terasa, matahari makin membungkukkan badan.

Dalam suatu kesempatan, B berbicara empat mata denganku,

B: Kalau kamu punya unek-unek tentangku, omongin aja…

Aku: Apa, yah?

B: Kalau aku berbuat khilaf gitu, omongin aku… Ingetin!
(Aku terdiam, teringat beberapa sahabat lain yang gemar berkomentar padaku. Mereka tak segan-segan memberi masukan dengan cara yang ‘kejam’ maupun halus. Ajaibnya, aku tak sedikitpun tersinggung)

B: Aku bakalan dengerin nasihat kamu, kok… Tapi kalau aku khilaf lagi, ya… ingetin lagi…
(Entah kenapa, aku jadi ingat pengakuannya tentang ciuman dengan cowok yang dia bilang melindungi itu. Padahal sekarang status mereka telah menjadi ‘mantan’)

Aku: Perbuatan kamu, ya konsekuensinya ada di kamu…

B: Apa kamu canggung?

Aku: Iya… (sekenanya)

B: Padahal gak apa-apa ih…
(Aku terdiam. Aku pikir, selama perbuatannya tidak berkenaan denganku ya silakan saja, terserah dia. Toh dia sudah dewasa dan bisa mempertimbangkan perbuatan dan tanggung jawab…)

B: Aku senang kalau ada yang ngingetin… Aku pingin lebih baik…
Aku: Introspeksi aja…

B: Soalnya kadang kita sendiri gak nyadar dalam bertindak… Dan, seorang teman biasanya lebih tau…

(Gerak mulutku terkunci. Aku merasa baru saja berbuat suatu kesalahan besar pada temanku itu…)
Dia… dia menampar hati kecilku…

Layaknya seorang teman, ya mesti saling mengingatkan. Aku lupa hal itu. Aku lupa betapa senangnya ketika ada teman-teman yang menasehati dan memberi saran dengan cara mereka. Aku lupa betapa indahnya jika diperhatikan, atau bahkan dikoreksi. Aku lupa keindahan dari sikap saling peduli.

Karena keegoisanku, aku malah cuek pada temanku itu, pada keinginannya untuk saling koreksi dan saling menjadi alarm jika ada kekeliruan. Aku malah berpikir, selama perbuatannya tidak merugikanku, ya terserah dia… yah, piiranku dangkal sekali…

Sejatinya teman itu menjadi ‘alarm’ bagi yang lain. Cara seorang teman dalam menasehati atau menyodorkan masukan, meski dengan candaan atau omongan pedas, tetap saja lebih mudah menelusup dan diterima. Beda dengan ‘dakwah’ orang tua, guru atau orang-orang yang dianggap senior.

Meski perbuatan salah seorang teman tidaklah merugikan secara langsung, namun mengingatkan kekeliruannya adalah salah satu bentuk perhatian sekaligus kepedulian, jika masih ingin disebut sebagai seorang ‘teman’. [#RD]

*Catatan 18 Juli 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *