30 Langkah Jadi Seorang Penulis untuk Pemula (Bagian 2)

Langkah – Langkah Jadi Seorang Penulis untuk Pemula (Bagian 2, Langkah 11-20) 

 langkah jadi penulis untuk pemula 2Sebelas, Jadi Penyabar

Menjadi penulis pemula tanpa deretan cerita menyedihkan itu kurang afdhol. Hehe. Kita kerap kali tertatih-tatih menulis, lalu tak diapresiasi bahkan diejek, tak selesai, tak menang lomba, diabaikan penulis senior, dianggap belum tahu apa-apa tentang menulis, dst. Wajar. Kuncinya, tak ada yang lebih baik selain sabar. Walau kita berkeluh-kesah sampai berbuih pun, semua “penderitaan” kita tak ujug-ujug selesai, bukan? Tapi kalau dihadapi dengan sabar, masak iya Allah Swt. akan cuek aja dan tidak “mengasihani” usaha – doa – kedisiplinan kita? Heuheu

Dua Belas, Belajar dari Pengalaman

Kata orang “kegagalan lebih banyak memberi nasihat ketimbang kesuksesan”. Kata orang juga “pengalaman adalah guru yang terbaik”. Nah kalau disatukan jadi “pengalaman gagal”? Itu berarti tengah ada guru yang sedang menasehati banyak hal pada kita. Hohoho. Mungkin saja kita kurang teliti, mungkin kita perlu belajar lebih lagi soal menulis, mungkin kita kurang tahu selera penyelanggara, kurang disiplin, dst.

Tiga Belas, Legowo Kala Dikritik atau Diejek dan Tetap Rendah Hati Kala Dipuji

Jika sudah melempar tulisan pribadi ke ranah publik, ada dua konsekuensi yang mungkin terjadi; antara dipuji, dikritik atau parahnya sampai diejek/dihujat. Bagaimana lagi, semua itu sudah jadi sesuatu yang tak bisa kita tampik. Istilahnya, kalau tulisan kita gak mau dikomen, ya sudah simpan saja di folder komputer atau di buku pribadi.

Di dalam sebuah grup, pernah ada acara bedah karya. Jadi suatu karya dipublish tanpa menyebutkan siapa penulisnya. Siapapun anggota berhak untuk memberi pandangan. Ada yang menyanjung, banyak pula yang menyepelekan. Bahkan ada yang memberi opini secara “bablas”, seolah tak mempertimbangakan perasaan penulisnya. Wuih, mental titanium banget deh penulisnya! Apalagi sampai lapang dada mengatakan “terima kasih” sama semua penghujat karyanya. #applause

Empat Belas, Pertahankan Nyala Semangat

Ibarat iman, menulis pun memiliki fase naik dan turun. Namun biasanya fase turun itu terjadi karena diri sendiri. Sebenarnya tak ada yang bisa membendung hasrat untuk menulis, kecuali itu berasal dari sendiri. Karenanya, soal mempertahankan nyala semangat menulis tetap jadi tanggung jawab diri pribadi. Yakin saja bahwa kita layak meneruskan dan mengembangkan apa yang kita jalani. Selama kegiatannya positif, kenapa terhenti? Terus gali ide, sharing dengan yang lain, apresiasi karya sendiri, banyak baca dan terus belajar.

Lima Belas, Refresh Diri Kala Mandek atau Writer’s block

Ada yang bilang, “writer’s block itu akal-akalan penulis yang malas”. Setujukah, Bro-Sist? Heheh. Terlepas dari benar atau tidaknya, yang jelas kemandekan memang selalu jadi momok yang menakutkan bagi penulis. Tak pandang yang masih pemula maupun yang sudah profesional.

Bisa jadi pula, saat kita mandek menulis, itu pertanda kita perlu istirahat sejenak. Menulis memang asyik, namun jangan diporsir juga kala lelah melanda. Karenanya tak ada yang salah jika menyimpan dulu buku, pulpen, laptop, referensi dan segala peralatan menulis lainnya. Refresh diri sendiri dengan bepergian ke suatu tempat yang menentramkan, mendengarkan musik favorit, menonton film atau melakoni hobi lain, yang tak terlalu menguras pikiran.

Enam Belas, Jangan Terlalu Minder

Sebagai penulis pemula, point ini pernah melanda saya. Rasanya tak pede untuk ikut berkompetisi dengan rekan-rekan lain, yang berasal dari kota-kota besar dan skill menulisnya begitu mumpuni. Apalagi untuk melangkah jauh, seperti mengajukan karya ke media atau penerbit. Namun semua rasa itu perlahan pupus tatkala banyak penulis senior yang berbagi bagaimana mereka saat merangkak menjadi penulis.

Ada yang dahulu jadi langganan penolakan, mesti berjibaku dengan rental komputer karena belum punya laptop pribadi, keluar modal banyak untuk nge-print dan ngirim via pos namun hasilnya nihil, dst. Maka benarlah, kesuksesan sebenarnya tidak datang secara tiba-tiba. Banyak duri yang diinjak, empedu yang ditelan dan sederet pengalaman pahit yang mesti dikunyah habis-habisan, sebelum merasakan manisnya keringat perjuangan.

Tujuh Belas, Jangan Terlalu Ge-Er (Gede Rasa)

“Kamu penulis, ya?”

Entah berapa banyak yang bertanya demikian padaku. Dari mulai orang asing, sampai teman-teman lama. Mungkin mereka melihat sepak terjangku di dunia maya, lalu memutuskan demikian. Perasaanku tentu senang. Disebut sebagai penulis, siapa sih yang tak bangga? Hohoho. Bahkan (maap mau sombong dulu), ada yang minta tulisannya dikoreksi, ada yang memintaku jadi endorser, penulis prolog, menjadi juri, dst.

Dadaku yang semula kembung, pelan namun sangat pasti, kempis juga. Rasa bangga itu berubah jadi rasa malu yang amat sangat. Betapa tidak, aku masih sangat pemula, amatir, belum berkarir solo di penerbit mayor (sedang diusahakan, mohon doanya. ^_^).

Menurut para penulis senior, “GR” adalah penyakit berbahaya yang kerap menjangkiti para penulis pemula kayak saya. Kenapa? Biasanya (menurut saya, ya) Jika sudah merasa lebih bisa/ berpengalaman, biasanya akan tumbuh rasa angkuh. Merasa sudah saatnya diapresiasi lebih, sudah tak perlu belajar, sudah tak butuh lomba kecil-kecilan, sudah tak level gaul dengan penulis-penulis baru, dst. Weleh-weleh, bahaya beudh! Na’udzubillaahi mindzalik, ya Allaah. :O

Delapan Belas, Mengalah

Semua sudah paham, menulis juga termasuk industri. Tak hanya mengedepankan idealisme semata, melainkan juga keadaan riil di lapangan. Jika kita bersikukuh ingin menulis dengan idealisme sendiri, kalau penerbit tak setuju, maka tulisan kita tak akan pernah terbit.

Bagaimanapun, fokus utama penerbit adalah mencari laba dari karya yang dijualnya. Karena itu, sebagai penulis, kita mesti mengalah pada mereka. Jika ingin diterbitkan di penerbit A, mau tidak mau kita mesti menuruti kriteria naskah yang diinginkannya.

Sembilan Belas, Pandai Membaca Pasar

Industri menulis pasti tak lepas dari pasar. Sudah jadi rahasia umum kalau penerbit sangat mengutamakan ‘pasar’ ketika melempar suatu karya. Karenanya, penulis pemula seperti saya mesti tahu “genre apa yang sedang populer”. Cara yang lebih efektif adalah mengunjungi toko buku sekitar yang update, toko buku online atau tanya langsung penerbitnya.

Dua Puluh, Tulis Dulu, Edit Kemudian

Tak jarang kita merasa tidak selesai-selesai menulis. Ada apa gerangan? Usut punya usut, kita kerap mengedit ketika menulis. Ini kebiasan buruk bagi pemula kayak saya ya, Bro-Sist. Padahal, kadang-kadang proses mengedit lebih menguras waktu dan pikiran ketimbang saat menuliskannya. Karena itu, yuk menulis aja dulu. Kalau kata penulis senior sih, jika tulisan sudah benar-benar selesai, endapkan dulu barang sebentar, baru deh kita edit dan percantik. [#RD].

Biar afdhol, lanjut ke Bagian 3/Akhir, ya. ^_^

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *