Masa Kanak-kanak: Enak Tak Enak

Masa Kanak-kanak: Enak Tak Enak

masa kanak-kanak

Rabu, 19 Juni 2013

Baru saja kunyalakan netbook, pintu terketuk. Mulanya kuabaikan, sebab ketukan itu tak disertai salam. Aku sedikit curiga, itu hanya ulah adikku saja. Tak berapa lama, tersembul juga ucapan salam dari luar. Suaranya pernah kudengar, namun sedikit terlupakan.

Kontan saja aku beranjak untuk membukanya. Begitu terbuka, ternyata yang tengah berdiri itu merupakan sahabatku semasa Sekolah Dasar. Dasar Imonk! 😀

Imonk yang bekerja di RS GP Jakarta memang cukup rutin berkunjung jika tengah pulang kampung. Aneh, sore itu ia datang sendirian.

“Si Rita gak enak badan, katanya…” Dia mengonfirmasi rasa penasaranku.

Semasa SD, aku memiliki teman-teman yang baik juga sahabat-sahabat yang superduper baik lagi. Kami merupakan sahabat dekat yang terdiri dari aku, Imonk, Rita, Eva dan Nonk. Semuanya pecah dengan kesibukan di tempat masing-masing. Yang mengagumkan, kami masih terikat tali persahabatan. Bahkan, kuanggap naik ke level persaudaraan. Di saat-saat seperti ini, komunikasi dan silaturahim memang menjadi hal yang sangat penting.

Sambil menyantap kripik tempe, peuyeum dan segelas teh manis hangat, kami membicarakan banyak hal. Aduk-campur. Dari hal umum sampai khusus. Di tiap detik pembicaraan kami, selalu saja tersembul tawa. Kalau semuanya tengah berkumpul sih, udah ngakak-ngakak lompat indah kali. 😀

Imonk datang dengan berita cukup mengejutkan. Kata Imonk… setelah dia bekerja selama 3 tahun di salahsatu RS besar di Jakarta itu, dia memutuskan untuk ‘resign’ dan ingin bekerja di kampung halaman saja.

“Pas aku ke sini, eh anak-anak malah pada ke kota,” katanya.

“Iya orang lain mah pada ke kota, eh kamu malah balik?!”

“Udah 3 tahun gak lebaran di sini, ya nyesek lah… pengin kerja di sini aja.”

“Di sini mah kerja apaan?”

“Masak kata ibu, ngurus ayam aja?! Hahaha”

“Hahaha, eh tapi bagus dong biar…..”

“Biar jadi juragan ayam? Bos ayam? Ogah. Biar kata cuma ngasih makan juga ‘kan gimana?!”

“Yeee, biar kamu gak bekerja di atas telunjuk orang lain, Monk.”

“Nggak, ah. Untuk sekarang mah pengin kerja yang lain aja. Kemarin-kemarin ‘kan udah pengalaman di RS mah…”

Diapun tak lupa membeberkan pengalaman-pengalaman menariknya semasa kerja di RS. Dari mulai mendapati suami seorang artis yang ternyata memilih berobat di kelas III, ketemu artis-artis, para pejabat sampai pada pengalaman asem seperti diomel karena beberapa barang RS diboyong pasien, dibuat nahan mental oleh pasien-pasien sepuh yang rewel, dibikin bergidik saat ‘emergency’ meraung-raungkan pasien yang sekarat dan meninggal, direpotkan oleh membludaknya pasien, naik-turun tangga karena lift-nya penuh sementara dia sedang tergesa dst. Sementara pengalaman kuliahku gitu-gitu saja. Walau Imonk bertanya, aku sendiri tak terlalu untuk membicarakan lebih lanjut mengenai skripsi dan seabreg tugas akhir lainnya.

“Ya udah deh, asal sabar saja kalau mau kerja di sini mah…”

“Eh iya, Dian. Kapan-kapan kita main ke rumah barunya Rita, yuk?!”

“Kapan atuh?”

“Nanti kalo dia libur kerja.”

“Tempatnya enak, ya?”

“Iya. Apalagi dia ‘kan anaknya bersih, kata Si Efi mah tempatnya nyaman banget. Segala masalah pun seolah-olah kebawa angin di sana mah! hahaha”

“Gitu, ya? Wah mau atuh! Hahaha”

“Hm, perasaan dulu waktu kecil mah hepi-hepi aja hidup teh…”

“Iya. Kerjaannya kalau gak main ya jajan! Hahaha”

Obrolan kami pun mengalir ke masa-masa SD. Memang sih, topic itu selalu hadir ketika kami berkumpul. Anehnya, pembahasan itu tak habis-habis untuk diperbincangkan dan tentu ditertawakan. 😀 Entahlah… membicarakan masa-masa kecil yang sangat membahagiakan itu selalu bikin amnesia sama masalah.

Tak heran… ketika mataku dan mata-mata mungil keponakan atau anak-anak lain beradu, selalu terbersit rasa iri. Mata mereka polos dan berbinar. Tak ada raut ambisi dan kegalauan apapun. Ah dulu akupun memiliki mata dengan sinar seperti mereka. Kini, tak lagi…

Di sisi lain, perasaan iri itu berubah jadi khawatir. Mata mereka yang tentram itu, toh suatu saat nanti akan menatap kenyataan sangat pahit. Banyak hal yang kami (orang-orang dewasa zaman sekarang) hancurkan. Moralitas semakin merosot, kejujuran semakin langka, hewan-hewan punah, tanaman-tanaman berguguran, tanah tak bisa berfungsi dengan baik, air tercemar, udara kotor, dst.

Tangan mungil merekalah yang mesti menghadapi dan memperbaikinya. [#RD]

Sumber Gambar: Google

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *