Mencari Judul Skripsi

Mencari Judul Skripsi

mencari judul skripsi

Sabtu, 24 November 2012

“Hari ini adalah hari terakhir pengajuan judul skripsi!!!”

Kaget? Tentu! Pihak prodi memberitahu sekaligus membagikan format pengisian judul skripsi pada hari Senin, 19 November 2012. Dalam waktu seminggu itu, aku dan kawan-kawan dibuat ‘galau’. Bagaimana tidak, menentukan judul-judul skripsi untuk diajukan tentu tak gampang. Apalagi skripsi dianalogikan sebagai salahsatu jembatan menuju gerbang kelulusan dan masa depan. Yah, ibarat memilih sekolah atau jodoh, mungkin. Benar-benar butuh banyak pertimbangan!

Sebetulnya membuat judul skripsi itu mudah, sebab memang contoh dan daftar judul skripsi bisa kita ‘pungut’ di mana-mana. Kita hanya perlu sedikit memodifikasi variable atau objeknya saja. Tapi jika begitu, apa bedanya ketika ingin menentukan tempat menuntut ilmu lalu kita hanya sembarang masuk ke sebuah sekolah? Atau ketika menjemput jodoh, kita malah sembarang menempatkan hati? Walaah… Kepepet sih, tapi ada waktu kok untuk mematangkan pikiran dan pilihan, sesempit apapun itu!

Makanya agak heran juga aku ketika ada beberapa orang bilang, ‘Bagi judul dong?’ Lalu ketika aku menyebutkannya secara acak, ia malah ‘tega’ menulisnya dan bersorak, ‘Asyik dapet!’. Sementara kata teman-temanku, Anti dan Intan, “Jangan sembarangan, kita mesti punya feeling ke judul tersebut!”

Yep! Peranan hati ketika memilih judul skripsi memang penting. Entah karena aku dan teman-teman adalah wanita (yang katanya) mengedepankan rasa, tapi menurut kami memang hati itu mesti terlibat. Apa jadinya jika judul yang akan mendampingi titian tangga sarjana itu kurang sreg di hati? Tetap mengerjakan namun di bawah tekanan? Belajar menyamankan diri dalam waktu yang panjang? Atau… Melemparnya ke jasa pembuat skripsi? Oh, jangaaan!

Sabtu siang, 24 November 2012, menjadi jadwal kelasku untuk mengikuti 3 mata kuliah dosen tamu. Dikarenakan aku dan teman-temanku (Anti dan Intan) belum ‘sreg’ atas rancangan judul masing-masing, kamipun sepakat untuk ikut dosen tamu pagi hari (bergabung dengan kelas lain). Jam setengah 8 kami telah stand by di kelas. Hal ini (datang tepat waktu) sangat jarang kulakukan. Mengingat aku adalah ‘pengungsi’ di kelas orang, maka akupun mesti melaksanakannya.

Kami tak hanya bertiga. Ternyata ada beberapa orang dari kelas lain yang juga ikut ‘menumpang’. Sebutlah namanya Rocky dan Nono. Kedua cowo itu juga sama-sama tengah dibuat dilemma oleh rumusan judul. Beberapa kali Rocky memintaku dan Anti untuk membuat judul padanya. Aku bertanya-tanya seputar desain penelitian yang ia mau serta topiknya,

“Pokoknya jangan yang kuantitatif. Itu aja, code mixing…”

Kamipun merumuskannya. Rocky merasa senang. Diantara obrolan kita seputar kuliah dan proses kelulusannya, aku mengutip apa yang ia tegaskan,

“Kita mah jangan memaksa diri untuk lulus tepat waktu, tapi lulus dalam waktu yang tepat. Udah, gitu aja!”

Aku jadi ingat kata-kata seorang dosen yang agak kontradiktif dengan pernyataan temanku itu,

“Di Indonesia, mahasiswa yang serius maupun tidak serius, tetap di wisuda.”

Heu…

Mata kuliah dosen tamu 1, tentang Cross Cultural Understanding, hanya masuk di awal. Selain karena bad mood atas keterlambatan sang dosen yang ‘sungguh terlalu’, lagi-lagi yang bercokol di kepala kami adalah… judul skripsi. Heu…
jenuh
Memasuki mata kuliah 2, tentang TOEFL Preparation. Sang dosen menerapkan ‘preaching method’. Tak ayal, entah beberapa kali mataku berair menahan uap di mata. Beberapa teman dari kelas lain juga menengok pada kami sekedar bilang,

“Ngantuuuk!”

“Mataku merah, ya?”

Atau malah hanya menguap panjang, “Hooaaam.”

Akhirnya kami keluar. Kebetulan dosen ke-3, Pragmatik, (yang sebetulnya paling ditunggu) malah tidak masuk, namun akan melaksanakan ‘make up’ kelas pada hari Seninnya. Kami pun langsung keluar, makan bakso dan menyiram tenggorokan dulu. Usai sholat dzuhur, barulah kami bergerak ke perpustakaan.

Beberapa kali aku, Anti dan Intan menulis-coret calon2 judul yang datang dan terhapuskan pikiran. Tak puas dengan diskusi dan berbagi pertimbangan satu sama lain, kami sharing dengan teman2 dari kelas lain yang kebetulan sama2 ke perpus untuk melihat-lihat skripsi kakak kelas (siapa tahu dapat inspirasi, memetik jari lalu berseru, ‘Ah iya ya, yang ini aja. Gak kepikiran. Lumayan dapat satu!’)

Di perpustakaan, aku merasa lebih ‘bersyukur’. Setidaknya yang galau karena judul itu bukan hanya aku seorang, melainkan banyak!

Di sana kami juga bertemu dengan kakak kelas yang sudah sidang skripsi, namun belum diwisuda. Beliau berkata,

“Beuh, emang lebih susah nentuin judul daripada pas mengerjakannya!”

“Masa sih, A? Gampangan apa antara kualitatif sama kuantitatif?”

“Tergantung, sih… Minatnya ke mana…”

“Gampangan kuantitatif. Ada SPSS ini. Kalo guru mah udah PTK aja, Neng!” kakak kelas yang perempuan menambahkan.

“Kualitatif juga gampang, tinggal menganalisis dengan telaten.”

“Emang Aa apa?”

“PTK!”

“Jyaaah…”

Entah berapa skripsi yang aku, Anti dan Intan ‘angkut’; Untuk sekedar ditulis judulnya, mempelajari metodologinya, melihat-lihat bab per babnya, merenungkan ‘finding and discussion’nya, sampai2 karena saking bête-nya cuma melihat profil penulis dan fotonya. Hadeuhhh…

Bukuku pun telah penuh coretan tentang konsep judul yang kutulis-kucoret-kutulis lagi. Bergonta-ganti variable, objek penelitian dan penempatan grammarnya. Benar-benar layaknya audisi!

“Duh, bingung pilihan satunya mau apa???”

“Yang nempel di hatimunya yang mana? Yang ada feel-nya yang mana?” begitulah tanggapan Anti dan Intan ketika meyakinkanku.

Mereka tidak ‘menjugde’, ‘Yang ini aja, yang itu aja!’ namun mereka mengembalikan semua pilihan padaku. Ya, sebab pendapat orang lain hanya sebagai bahan pertimbangan saja, bukan keputusan finalnya. Akupun berlaku sama ketika salahsatu diantara mereka mengeluhkan kemantapan yang belum mereka dapat.

Pokoknya kami saling support dan ‘gila’ satu sama lain! Maksudnya, dalam keadaan genting, tak jarang bahan candaan dan tingkah nakal lolos begitu saja dari mulut dan aksi kami. Jadilah kegalauan itu campur aduk dengan tawa. 😀

Sampai akhirnya,

“Gimana? Judulmu udah mantep, belum?” bergantian kutanya Anti dan Intan.

“Iya udah aja ah aku mah…” timpal Anti.

“Iyang, anter minta kertas format judul lagi ke prodi, yuk? Yang ini mah salah, ah…” pinta Intan.

Kami pun melangkah ke kantor prodi, meminta kertas format judul skripsi.

“Judul, yah? Mana liat, Intan!” perintah Ketua Prodi begitu Intan hendak menulis ulang judul yang ia anggap salah.

Dengan sukarela, Intan menyerahkannya. Sang ketua prodi segera memakai kacamata dan menghunuskan pulpen. ‘Wah akan dikoreksi nih…’ Aku begitu antusias. Dari 3 judul yang Intan ajukan, sang ketua prodi menceklis nomer 3 (temanya tentang pendidikan).

“Punya kalian, mana?”

Aku dan Anti menyerahkan format judul masing2. Beliau berkata padaku,

“Yang kedua, Improving Students’ writing skill by making notes in Facebook. Itu sulit. Ganti aja. Tapi kalo bisa masih tentang writing, ya. Menarik, soalnya. Yang nomer 1 dan 3 mah udah oke.”

“Yang Anti, semuanya oke. Hanya saja judul seperti ini udah banyak. Saya saranin, Dian analisis koherensi dan Anti kohesivitasnya aja, dalam paragraph. Itu menarik, lho!

Kan ketika kita menulis, maka pada paragraph pertama kita secara tidak langsung telah membuat ‘kontrak’ dengan pembaca untuk menyajikan sebuah bahasan. Tapi kalau pada kalimat atau paragraph selanjutnya tidak sesuai dengan pembahasan, maka koherensi dan kehesivitasnya perlu diteliti tuh, sebab secara tidak langsung pula kita telah menyalahi ‘kontrak’ dengan pembaca tersebut, kan?”

Aku hanya mengangguk-angguk. Lalu daripada keburu lupa, segera saja kutulis kata2 beliau di draft HP. Hehehe…

Kami keluar lagi dan memutuskan untuk mengumpulkan judul bersama teman2 sekelas (yang pada waktu itu masih mengikuti dosen tamu). Sambil menunggu mereka, kamipun menuju sebuah kelas kosong dan mengobrolkan banyak hal. Lelah berkutat dengan judul, kami memilih tema yang jauh terpental dari pendidikan. Heu…

“Duh, kok pacarku gak ngangkat telepon mulu, ya?” Intan berekspresi galau.

“Jadwalnya lagi sama cewek lain, Ntan,” selorohku, tanpa perasaan 😀

Dia merengut. Namun tak lama, sambil membelalakkan mata dan memegang HP, dia berseru,

“Wah pacarku ngambek nih, kayaknya. Haduuuh… Maaf aku pulang, ya?” Intan memandang kami, memelas.

“Kamu takut, Ntan?” Anti bertanya, retoris. Intan hanya diam.

“Kamu takut? Lebih takut ke siapa, ke pacar kamu atau ke kita? Lebih takut mana, ngambeknya pacar apa teman?” tanyanya lagi, “Hey, sesayang-sayangnya kamu ke dia, ingat! Dia itu pernah bela-belain segala sesuatu buat mantannya. Bukan cuma buat kamu seorang. Jadi cintamu ke dia jangan diporsir begitu, ah!” Anti menyambungkan omongannya.

Nampaknya Intan hanya merenungkan perkataan Anti sesingkat kilat. Sambil berlagak panik, dia berujar pada kami,

“Iyang, Teh Anti… Maaf aku duluan, ya???”

“Ya sudahlah…”

Jadilah Aku hanya berdua dengan Anti, di kelas yang kosong. Hanya sesekali mahasiswa/i yang lalu lalang, itupun jarang. Entah bagaimana awalnya, obrolan kami tiba2 sambung-menyambung ke hal2 mistis. Anti banyak menceritakan hal2 berbau horror. Hingga mungkin karena sugesti atau apa, lengan kiriku terasa dingin. Berulang-ulang kuusap lengan kiriku, mencoba mengundang hangat.

“Ga taulah, percaya atau nggak aku mah sama hal2 yang begituan,” komentar Anti.

“Percaya. Hal2 ghaib mesti kita percaya.”

Tak terasa senja makin sempurna. Aku sms Ketua Mahasiswa kelasku, ternyata masih ada dosen tamu. Kami mengobrol lagi. Lalu karena hari makin redup, kamipun keluar kelas. Aku membeli minuman dan beberapa permen. Tadinya Anti hendak buang air kecil, namun urung.

“Langsung aja ke ruang prodi, yuk..” ajaknya. Aku menurut saja.

Serentak kami berdua kaget memandang apa yang ada di depan. Pak Budi tengah mengunci ruang prodi!

“Tunggu, Pak!”

“Cepat, simpan aja di atas tumpukan. Gak usah rapi-rapi!”

“Tadinya kita nunggu KM. Kelas F udah ngumpulin, belum?”

“Udah, barusan…”

“Grhhh…”
project
Usai menumpukkan kertas judul di atas kertas2 teman sekelas, aku dan Anti langsung menuju gerbang depan. Di sana telah ada KM kelas kami,

“Tega, ih…”

“Ih ini saya mau sms, kalian ada di mana…”

“Hhh… Udahlah, emang udah kok…”

Cahaya senja mengucur makin deras saja. Kami memutuskan untuk pulang dan istirahat, membuang jauh rasa penat.

Well, mengajukan judul kelar, tinggal menanti di-ACC atau tidak. Bismillaah… Semoga gak ada hal2 tak penting yang merusak niatku untuk semangat dan focus! Amiin… ^_^ [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *