Menjadi Juri Tamu

Menjadi Juri Tamu

menjadi juri tamu

Kamis, 07 Maret 2013

Begitu keluar dari kelas AKSEL, aku pun segera menghampiri Teh Itha yang ternyata telah berada di kantor. Di sana telah ada pula Teh Anih, Tatang, Uus dan rekan-rekan dari prodi Biologi.

“Ini periksa soalku, Dian,” pinta Teh Anih yang sebelumnya memang telah memintaku untuk memeriksa (tepatnya mengedit) soal UTS yang beliau bikin.

Memburu kenyamanan, kami lalu beranjak ke ‘saung sosro’. Di sanalah aku melihat dan memberi masukan untuk soal-soal tersebut. Namun tak lama, datang kelas XII. Teh Anih pun segera membereskan laptop yang sedang kupelototi. Kelas XII tersebut dengan agak tergopoh bilang,

“Teh, kata Pak Jaja ditunggu di ruang kesenian, eh OSIS. Katanya ajak juga teman-teman PPL yang lain.”

“Mau apa, emang?”

“Membantu memberikan apresiasi saja, Teh. Gak tahu sih, Pak Jaja. Cuma menyampaikan saja.”

Karena yang lain ada yang mengajar dan sebagian enggan, aku pun menggaet Teh Itha dan Teh Anih saja. Kami bertiga berjalan menuju ruang OSIS. Rupanya di dalam ada satu kelas, kelas XII IPA 1, yang hendak memberi penampilan Seni-Budaya, bidang tarik suara. Dalam sekejap, aku jadi teringat peristiwa serupa waktu SMA. Dulu aku, Winny, Atit dan Esa menjadi grup vocal juga dan menyanyikan lagu Krisdayanti berjudul “Cobalah Untuk Setia”. Hadeuh…

Sayangnya karena sedang ada renovasi dan sebagian aula maupun laboratorium dipakai kelas, kelas XII mesti rela tempat ujiannya di ruang OSIS. Heuheu…

Pak Jaja segera mengutarakan maksudnya untuk menjadikan kami bertiga sebagai ‘juri tamu’. Aku menyebutnya sebagai pemberi apresiasi tambahan, mengingat kami sangat awam di bidang tersebut. Beliau meminta kami untuk memberi penilaian layaknya ulangan, meliputi aspek; ‘balancing, expression and performance’ per-grup. Beliau sendiri akan memberi penilaian secara personal.

“Wah berasa jadi juri X-Factor nih!” gurau Teh Itha.

“Iya, jadi kayak Anggun C Sasmi!” Teh Anih menambahkan.

Aku yang duduk bersebelahan dengan Pak Jaja hanya cekikikan. Beliau pun meminta masing-masing kelompok yang berjumlah 5 itu untuk latihan dulu, satu per satu. Dalam sesi latihan itu, aku langsung dibuat ‘merinding’ oleh sebuah grup acapella. Selain versi mereka itu unik, ‘balancing’ suaranya bagus (cieh!), lagu yang dibawakan merupakan salahsatu lagu nasional yang paling kusuka. Yep! “Indonesia Pusaka”.

Semuanya telah selesai memberi gambaran penampilan masing-masing. Akhirnya mereka membagi nomor urutan tampil dan bersiap. Kamipun sama; siaga untuk berkonsentrasi dan memberi apresiasi penuh untuk penampilan mereka.

Grup 1:
Mereka terdiri dari 8 orang siswi (yang paling kiri tidak berkerudung) yang menyanyikan lagu “Manuk Dadali”.

MANUK DADALI
Ciptaan: Sambas Mangundikarta | Asal Daerah: Provinsi Jawa Barat

Mesat ngapung luhur jauh di awang awang
Meberkeun jangjangna bangun taya karingrang
Kukuna ranggaos reujeung pamatukna ngeluk
Ngepak mega bari hiberna tarik nyuruwuk

Saha anu bisa nyusul kana tandangna
Gandang jeung partentang taya badingan nana
Dipika gimir dipika serab ku sasama
Taya karempan ka sieun leber wawanenna

Ref :

Manuk dadali manuk panggagahna
Perlambang sakti indonesia jaya
Manuk dadali pang kakoncarana
Resep ngahiji rukun sakabehna

Hirup sauyunan tara pahirihiri
Silih pikanyaah teu inggis bela pati
Manuk dadali gadung siloka sinatria
Keur sakumna bangsa di nagara indonesia

Diawali dengan solo vocal siswi yang di ujung kiri, mereka membawakan lagu sunda tersebut. Lalu kemudian diiringi oleh vocal-vokal yang pecah. Aku memberi penilaian lumayan bagus dalam suara, namun kurang dalam ekspresi dan performance. Bagaimanapun, aura tegang mereka (mungkin factor nomor urut 1) memberi efek tegang lagi ke kita. Kurang enjoy, gitu. Namun, mereka tetap keren!!!

Grup 2:
Grup ini lumayan kocak kocak di awal, sebab sang solo vocal yang kebetulan cowok satu-satunya di grup tersebut mesti mengulang. Dia malah bertanya,

“Nada saya sudah pas apa nggak, sih? Kagok gini…”

Namun akhirnya mereka melanjutkan saja. Grup tersebut terdiri dari 8 orang; 7 perempuan (ada 1 yang jadi solo vocal di tengah penampilan) dan 1 laki-laki yang jadi solo vocal di awal penampilan. Berbeda dari grup lain, mereka menyanyikan lagu “Butet”, lagu daerah Sumatera. Tak ayal, begitu mendengarnya, aku hanya celingukan tak paham.

Lirik Lagu “Butet”

Butet dipangungsian do apangmu ale butet
Damargurilla damardarurat ale butet
Damargurilla damardarurat ale butet
I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge
I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge

Butet sotung ngolngolan ro hamuna ale butet
Pai ma tona manang surat ale butet
Pai ma tona manang surat ale butet
I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge
I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge

Butet tibo do mulak au apangmu ale butet
Masunta ingkon saut do talu ale butet
Masunta ingkon saut do talu ale butet
I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge
I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge

Butet haru patibu ma magodang ale butet
Asa adong da palang merah ale butet
Da palang merah ni negara ale butet
I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge
I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge

Namun bagaimanapun, aku tetap mesti mengisi kolom nilai. Menurutku (yang awam) perpecahan suaranya agak monoton, ada bagian di mana seorang siswi mendominasi suara (power-nya terlalu kuat) sehingga menenggelamkan suara teman-temannya yang lain, serta dari ekspresinya masih terlihat ada keraguan. Heuheu… Namun, salut deh mereka bereksplorasi sejauh dan (mungkin) se-nekad itu. Heuheu… Wuih, sadap!

Grup 3:
Grup ke-tiga ini terdiri dari 3 perempuan dan 3 laki-laki. Seorang laki-laki dan seorang perempuan memegang alat music ‘gendang’, keempat lainnya vocal. Awal penampilannya berupa improvisasi,

“Bu bu bu bu buy bulan…”

Lirik Lagu “Bubuy Bulan”
Ciptaan : Benny Korda

Bubuy bulan
Bubuy bulan sangray bentang
Panon poe
Panon poe disasate

Unggal bulan, unggal bulan
Unggal bulan abdi teang

Unggal poe,unggal poe
Unggal poe oge hade

Situ Ciburuy
laukna hese dipancing
Nyeredet hate
Ningali ngeplak caina

Duh eta saha nu ngalangkung
unggal enjing
Nyeredet hate
Ningali sorot socana

Sama seperti grup sebelumnya, ada keraguan dalam vocal. Terus yang memegang gendang terlalu semangat, sehingga suaranya nyaris menutup vocal yang memang dalam keadaan ‘tidak lepas’. Ritme gendangnya pun (menurutku sih) tidak stabil. Namun… Diluar dari semua kekurangan itu, mereka telah berimprovisasi dan memberi sentuhan lain dalam salahsatu lagu kebanggan sunda tersebut. Mantap!

Grup 4:
Petikan gitar disusul alat pukul yang seirama awalnya kukira adalah awal dari lagu ‘Laskar Pelangi’, menjadi pembuka penampilan mereka. Gesture grup yang terdiri dari dari 6 perempuan (semuanya vokal) dan 3 laki-laki (1 gitar, 1 gendang dan 1 lagi masih alat pukul, lebih kecil) itu begitu rileks. Namun ternyata alat pukul tersebut terhenti, berganti dengan petikan gitar saja. Tiba-tiba 4 dari anggota perempuannya maju satu per satu dan membacakan bait-bait “Manuk Dadali”.

Setelah semuanya selesai, mereka pun menyanyikan lagu “Manuk Dadali” dengan versi amat berbeda dari grup sebelumnya. Pemecahan suaranya bagus, enyoyable dan performanya keren (terbantu juga oleh alat music yang mereka usung), terlebih ada improvisasi dengan seruan ‘kurrr!’, menyemarakkan suasana saja. Bener-bener seperti ada pembukaan, klimaks dan penutup dari performa mereka itu.

Grup 5:
Grup ini terdiri dari 6 siswi dan 3 siswa. Awal performanya adalah ‘musik buatan’ dari ketiga mulut siswa laki-lakinya, terdengar seperti sambutan untuk sebuah pertunjukan,

“Parampam paaam… Parampam paaam…”

Setelah agark reda, salahsatu siswanya memperkenalkan masing-masing anggota. Tak lama, suasana hening, dan seorang siswi menjadi solo vocal mengawali lirik nyanyian,

“Indonesia tanah air beta…”

Indonesia Pusaka
Ciptaan: Ismail Marzuki

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya

Indonesia sejak dulu kala
Tetap di puja-puja bangsa

Reff :
Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata

Karakter suaranya lembut, tinggi namun tidak terlalu mendominasi. Sehingga ketika teman-temannya memecah suara, terdengar harmonis dan menyatu. Mereka benar-benar menyampaikan “Indonesia Pusaka” dengan versi yang segar. ‘Musik buatan’ dari siswa laki-lakinya pun begitu padu. Sayang, tidak ada bass-nya (rupanya mereka berencana memakai gitar, namun karena alasan teknis jadi urung rencana tersebut).

Mungkin karena aku telah mendengar dan menyaksikan penampilan mereka saat sesi latihan, sehingga efek ‘merindingnya’ sedikit berkurang. Namun tetap saja, penampilan mereka begitu mencuri hati walau tanpa alat music apapun. Tanpa ragu, akupun segera membubuhkan nilai terbesar pada kelompok ini. Begitu selesai, tepuk tangan membahana mengisi ruangan.

Semua grup selesai unjuk gigi. Pak Jaja pun sedikit memberi apresiasi,
appreciation-
“Kamu tahu? Bapak sangat bangga padamu! Diluar sangkaan, alam tempo dua hari, kamu telah berhasil memberikan penampilan sebaik ini!”

Aku sedikit tercekat mendengar lamanya mereka latihan. Kalau saja latihan tersebut lebih intens, tentu penampilan mereka akan lebih keren!

“Meski ruangan test-nya sederhana dan tanpa kostum ini-itu, namun kamu semua telah memberi gambaran tentang sebuah kualitas. Bapak sangat salut! Dan, …” Beliau melirik padaku lalu meminta isian kolom nilaiku.

“Feeling Bapak rupanya sama,” Beliau melihat dan menunjukkan kolom penilaianku terhadap semua siswa, “Bapak juga memberi nilai tertinggi pada…” Beliau menggantungkan kalimat.

“Butet!!!” seru seorang siswa yang menjadi vocal solo dalam lagu “Butet”.

Seruannya disambut tawa, termasuk Pak Jaja dan kami. Guru yang mumpuni dalam bidang seni itu pun melanjutkan informasi penting tersebut,

“Grup yang tampil terakhir, keduanya grup yang tampil keempat, dst.”

Mereka bertepuk tangan, “Rangking ini bukan berarti yang lainnya jelek. Bukan. Melainkan memang ada grup-grup yang terbaik. Khusus grup yang ke-5, mengusung acapella. Itu adalah skill yang rumit dan berkelas. Namun kalian mampu membawakannya dengan sangat baik! Maka, Bapak utus kalian nanti jika ada kesempatan dalam acara HUT Sman 1 Kadugede, kalian bisa tampil. itung-itung memberi kenangan terakhir,” tutur beliau.

Lagi-lagi, tepuk riuh mereka menghingar-bingarkan suasana. Dalam hati, aku sangat setuju akan keputusan itu. Aku juga kagum akan sosok Pak Jaja dengan cara dan penyampaian apresiasinya. Heuheu…

Begitu selesai, aku dan Teh Itha menuju ke kantin, sementara Teh Anih memutuskan untuk ikut gabung bersama Uus. Di kantin, aku dan Teh Itha sering berpapasan dengan anak kelas XII, khususnya XII IPA 1, yang barusan menunjukkan kebolehannya di bidang seni. Mereka ada yang senyum-senyum, ada yang menyapa dan ada juga yang bergabung makan, yaitu yang menyanyikan lagu “Butet” itu.

“Kenapa gak ngasih 100 buat Butet, Teh? Hahaha…” siswa itu membuka obrolan, sambil memakan nasi dan lauk-pauknya ditemani seorang teman perempuannya.

“Latihannya singkat, Teh. Terus, lagunya juga ditentuin Si Bapak, jadinya teh susah…” tambah yang perempuannya.

“Mana mesti praktik drama Bahasa Inggris pula!”

“Terus, olahraga!”

“UN-lah yang utamanya mah. Mana Bahasa Inggris suka nebak-nebak jawabannya. Gimana mau mikir, soalnya aja gak ngerti apaan?!”

“Itu tuh listening-nya yang susah. Pada ngomong apaan, gak ngerti!”

“Bayangkan, 30 paket, Teh!”

“Beuh, HP kita dirazia, Teh!” cerocos mereka bergantian.

Aku pun menjelaskan alasan pemberian nilaiku. Kujelaskan pula kalau aku pernah berada dalam posisi mereka. Keduanya nampak tertarik, apalagi setelah kukatakan kalau aku adalah alumnus Sman 1 Kadugede. Bahkan akupun menjadi alumnus kelas XII IPA 1. Waktu zamanku, nama beken dari XII IPA 1 itu LEGENTSY1. Istilahnya, aku berbagi pengalaman gitu. Obrolan kami berlangsung hangat.

Aku doakan, semoga semua ujian mereka berlangsung lancar dan sukses serta mereka bisa lulus dengan hasil yang memuaskan hati. Aamiin… [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *