Menjadi Praktikan PPL

Menjadi Praktikan PPL

ppl 1

Senin, 14 Januari 2013, adalah hari perdanaku masuk dan mengajar di sekolah mitra sebagai praktikan atau guru PPL. Tepatnya di SMAN 1 Kadugede, mantan SMA-ku dulu…

Pagi-pagi sekali , aku mesti grasa-grusu menyiapkan segala sesuatu; terutama pakaian, materi dan yang terpenting yaitu mental. Bagaimanapun, sesuai dengan kesepakatan antar teman praktikan PPL prodi Bahasa Inggris, aku dan Wulan kebagian mengajar hari Senin. Wulan jam 1-2, sedang aku jam 3-4 dan jam 7-8. Hasil random, jadwalku hari Senin dan Kamis serta memegang kelas X5 dan X6.

Bismillahirrohmaanirrohiim…

Bersaing dengan waktu, kupercepat semua persiapan begitu hendak berangkat. Sungguh, suasana menyambut upacara bendera telah begitu lama tak kurasa. Dan usai memastikan semua barang yang kuperlukan terbawa, segera saja aku berangkat. Bergabung dengan kebisingan pinggir jalan, berjajar menanti angkutan umum, menempuh jarak 6 km dan menerka-nerka tentang kejadian di sekolah nanti memang bersensasi luar biasa.

Kupikir, di hari yang pertama ini tak baik rasanya jika aku kesiangan. Hampir semua orang sepakat, kesan pertama itu paling utama. Beda rasanya ketika dulu aku masih jadi siswa; terburu-buru yang berujung kesiangan sudahlah biasa 😀

Sekitar 20 menitan (akibat banyak faktor), sampailah aku di muka SMAN 1 Kadugede, SMA yang menjadi salahsatu bagian hidupku. He he he

Seolah ingin menikmati hiruk-pikuk pagi dengan khidmat di lingkungan sekolah, aku memelankan langkah. Kususuri jalanan dari gerbang luar ke gerbang utama sekolah. Di sisi kiri-kanan temboknya, nampak semacam grafiti2, gambar2 hasil kreasi siswa SMA. Tentang lingkungan, kehidupan sosial, sejarah, dsb.

Baca Juga: Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Menjadi Praktikan atau Guru PPL.

Tentu, tak akan kulewatkan pandanganku ke sisi kanan; sisi di mana teman2 sekelasku semasa kelas XII (XII IPA 1 yang beken dipanggil LEGENTSY1) mengkreasikan gambar dengan pesan ‘go green’ dan ‘no smoking’. Gambar tersebut telah ‘dihapus’ oleh cat biru yang tipis, namun bayangannya masih jelas terlihat, terlebih lagi belum ada gambar lain yang menindih gambar using tersebut. Kuperhatikan, hanya gambar tersebutlah yang ‘bertahan’ setelah 3-4 tahunan pembuatnya lulus dari sekolah. Heuheu…

Tap!

Aku tiba di kantor SMAN 1 Kadugede. Tatapan, senyuman dan tangan2 beku menyapaku. Mereka, teman2 praktikan PPL dari berbagai program studi datang dengan misi yang sama; mengukir kesan baik di awal. Untuk sekedar mengundang hangat, kami mengonrol dan meletupkan canda satu sama lain. Sementara guru-guru SMAN 1 Kadugede pun perlahan berdatangan. Hampir semua dari mereka, begitu melihatku, berujar,

“Hey! Alumnus, yah?”

Atau ada juga yang menebak-nebak nama dan alamatku, bahkan sembari mempertahankan genggaman tangannya 😀 Ada yang masih ingat, ada pula yang tertukar dengan nama serta alamat lain. Bahagianya yaitu ketika guru2 yang dulu tidak mengajar pun masih ingat padaku :’)

Berulang-ulang kutumpahkan pujian,

“Hebat nih Si Ibu, Bapak… masih ingat saya!”

Mentari makin membelalakkan mata. Tak ayal, kehangatan makin merayapi tubuh dingin kami. Dan, bel berbunyi… Kali ini bunyi bel-nya berbeda dengan bel-ku yang dulu. Detak yang ditimbulkannya pun beda. Lebih tergesa-gesa…

Maka dengan berduyun-duyun kami memasukki lapangan upacara (lapangan basket yang masih berwajah sama). Sengaja, kami praktikan PPL berbaris di sebelah kiri guru-guru. Dan dengan otomatis, ada sekat diantara kami. Lalu tiba2, guru Bahasa Indonesia meraihku,

“Alumni nih!”

Aku terkesiap. Segera saja kusalami beliau. Aku ingat, beliau adalah guru tipe tradisional yang menyenangkan, ceria, memperlakukan kami dengan lembut dan terkesan kekanak-kanakkan, selalu memeriksa pekerjaan kami, dan beliau pula yang meramalku untuk menjadi psikolog atau guru saja. Hehe

“Eh, barisannya satuin aja!” seru guru sejarah yang dulu kukira jutek, tapi ternyata hangat.

Kami menuruti. Barisan kami menyatu. Dan gelombang barisan ‘mendamparkanku’ ke jajaran depan. Aku pasrah. Kutelusuri saja apa yang ada di depan; Podium, petugas upacara, barisan peserta upacara, bendera, lapangan dan semua suasananya. Mereka semua menyajikan kenangan2 semasa SMA dulu. Mataku seolah melihatku diriku sendiri dan teman2 SMA-ku ada diantara petugas dan peserta upacara (kayak sinetron, memang, tapi itu nyata! :D).

Baca Juga: 15 Tips Menghadapi PPL

Barisan depan di isi oleh murid laki-laki, sedang di belakang adalah perempuan. Aku berulangkali mengendalikan senyumku sendiri. Barisan upacaraku dulu lebih bergemuruh, berbeda dengan sekarang yang lebih tenang. Dan begitu melihat barisan siswi di jajaran belakang, ingatanku kembali ke masa dulu. Ya, aku dan sahabat2ku selalu berada di barisan belakang. Seringnya sih karena terlambat datang 😀 Tak jarang pula, saking bingungnya mencari barisan kelas, kami terdampar di kelas2 lain. He he he

Hm, matahari sedang super baik!

Cahayanya turun, tak tanggung-tanggung. Berulangkali teman2 di sisi kanan-kiriku menoleh atau menyenggol untuk sekedar berujar,

“Panas!”, “Pegel!”, “Hadeuh…!”

Maklum, hampir 3-4 tahunan kami tidak mengikuti upacara bendera. Apalagi sekarang kami mesti berdiri di jajaran paling depan dengan pengawasan mata2 berbinar dari anak2 SMA, berusaha tetap tegak dengan bayang2 citra, kesan serta seabreg ‘beban’ lain. Aku hanya bisa berusaha menikmatinya. Slahsatunya yaitu tadi, dengan menikmati kenangan2 yang datang walau tanpa undangan. Mengasyikkan!

Lagipula, sedari SMA, guru Biologiku menasehati, “Sewaktu upacara bendera, jangan memaksakan keadaan. Harus sikap tegak, tapi kalau pegal mah gerak2an saja kakinya. Biar aliran darahnya lancar dan gak terasa pegal2 lagi.”

Aku selalu menurutinya. Terbukti, rasa pegalnya sellalu terobati. Proses2 upacara berjalan dengan lancar. Lagi2, selama proses tersebut aku selalu teringat diriku sendiri dan teman2 SMA-ku. Sayang, oubade-nya kurang lepas.

Sampailah pada amanat Pembina upacara yang diwakili oleh guru Sosiologi. Seperti tradisi dulu, Pembina mengomentari penampilan petugas upacara. Benar saja, tim oubade yang paling nyaring dievaluasi. Ternyata petugasnya adalah X1, aku maklum. Sementara tema amanat beliau yaitu mengenai pembentukan karakter siswa, meliputi senyum-salam-sapa-sopan-santun. Berbagai eksplorasi dan contoh beliau sampaikan, termasuk sindiran pada siswa/I yang pilih2 ketika menyalami gurunya. Yang bikin kagum, barisan upacaranya sangatlah rapi (kalau ingat barisan upacara dulu, m a l u). Heuheu…

Matahari meninggi, barisan mulai gusar. Aku yang memang belum terbiasa lagi untuk ‘berjemur’, merasa begitu gerah dan pegal. Upacara pun usai dan pasukan dibubarkan.

Kami, praktikan PPL, berkumpul untuk mengadakan ‘briefing’. Guru-gurupun melakukan hal yang sama di kantor guru. Sementara itu, Wulan resah karena jadwalnya adalah jam 1-2.

“Gimana nih? Langsung masuk aja atau nanti dulu?”

“Karena mengajar pertama, ke guru pamong dulu aja…”

Namun begitu hendak menemui guru pamong, segenap guru tengah dalam ‘briefing’ yang serius dengan Bapak Kepsek. Alhasil, aku memilih meng-print RPP dan soal untuk kemudian digandakan. Tak lama, kami bergabung lagi dengan teman2 praktikan PPL. Yang dibahas seputar ekskul, jadwal ngajar dan piket, transparansi, kerja sama, dsb. 15 menit jelang jam ke-3, ‘briefing’ guru selesai.

Bu guru pamong berujar,

“Yah, waktunya Wulan udah mau habis. Paling ibu cuma bisa nemenin Dian aja.”

Aku dan teman2 dari prodi Bahasa Inggris mengira Wulan adalah ‘tumbal’ pertama untuk mengajar, nyatanya keliru. Malah akulah yang pertama, sebab aku kebagian jam ke 3-4 dan jam tersebut tidaklah terganggu! Fiyuh!

“Jangan kaget kalau anak2 terkesan melecehkan. Mereka hanya menguji mentalmu. Tapi kalau kamunya sendiri udah meyakinkan, wibawamu akan terpancar dengan sendirinya. Kepercayaan diri itu bisa timbul dari penguasaan diri dan materi,” tutur guru pamong sembari mempelajari RPP-ku. Tak lama, beliau berdiri, “Yuk ah ke kelas, nanti ibu revisi RPP-nya. Kamu punya 2 RPP, kan? Yang satu untuk ibu yang satu sebagai peganganmu sendiri di kelas?”

Aku mengangguk sambil ikut berdiri berdampingan dengan guru pamong, menuju ke kelas X6. Sementara itu, kata ‘good luck’ dan tepukan tangan di bahu menyertai perjalananku dan guru pamong ke kelas. Tak lupa, kuhirup napas sepuasnya, mengatur dan mengendalikan ketenangan langkah, ucap serta gerak tubuh. . . [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *