Mini Novel; Hantu Goreng (Bagian 1/5)

Mini Novel; Hantu Goreng (Bagian 1/5)

mini novel hantu goreng 2

Berikut ini adalah contoh mini novel karyaku. Sebenarnya malu mau share di sini, tapi ya sudahlah, itung-itung melatih nulis sama membuka ruang – barangkali ada yang mau memberi saran. He he he.

Mini novel ini baru bagian 1 (satu) alias perdana. Karena kepanjangan, jadinya daku post secara bersambung. Sebenarnya, biar penasaran juga! *siapa lagi yang baca?* wkwk. 😀 Yang pasti, Insya Allah akan tamat sebanyak 5 (lima) bagian, jadi 5 (lima) harian gitu.

Kalau jelek jangan diketawain, ya. 😀 Lebih baik sampaikan kripik aja. Mau kripik pedas atau manis, silakan deh! Hehe. Jom!

***

“Kebahagiaan terhambar itu…” Aku mendongak, menahan embun di mata agar tak menetes, “Ketika seorang anak hanya tertawa di atas keringat orang tuanya, atau,” Aku menatap sahabatku itu, “Ketika seorang anak singkong bisa sukses, namun orang tua – yang sudah susah-payah mengantarkan kesuksesannya – meninggal.”

Entahlah, Miladya terenyuh atau malah tak paham dengan kecamuk hatiku. Aku memang ingin total membantu Mimih setelah sekian lama menyusahkannya. Namun kulihat matanya yang semula bersinar berubah temaram. Entah ia berpikiran sama denganku atau ada hal lain. Seumpama bosan, karena keluhanku yang klasik.

“Gimana sama aku atuh, Sil? Aku juga punya beban,” kata Miladya setelah diam beberapa saat, “Aku… Aku seorang anak yang berada di lumbung uang orang tua dan saudaranya, namun minim kasih sayang dari mereka,” lanjutnya lagi, “Itu juga termasuk kebahagiaan terhambar, ‘kan?”

Kali ini aku yang diam. Sambil duduk bersila, kueratkan pelukan pada guling Miladya yang empuk dan wangi, sementara ia menyandar pada ranjang begitu sadar aku bungkam kelamaan. Kurasa, apa yang kukatakan barusan menciderai pertemuan ini.

Tadinya sebelum Miladya benar-benar merantau kuliah Hukum Islam ke Yogyakarta, aku ingin pol-polan curhat dengannya. Bukan malah membicarakan keluarga; hal yang selama ini kerap merecoki sekaligus menyatukan persahabatan kami.

Kita punya kebahagiaan dan kesedihan versi masing-masing atuh, Sil,” kata Miladya lagi, “Kamu jangan menyamaratakan.”

“Iya, Dya,” jawabku asal cepat.

Miladya pasti tak seutuhnya tahu, bagaimana berat dan sulitnya jadi aku. Tak yakin aku, dia bakal kuat bertukar posisi walau sehari. Kalau aku sendiri menjadi dirinya? Menurutku semuanya akan mudah-mudah saja. Entah di mana sisi tersiksanya.

Aku justeru cemburu dengan dunia yang direngkuhnya. Tergiur juga merasuki kehidupannya. Bahkan kadang aku berandai-andai. Kalau saja kamarku, baju-bajuku, ponselku, uang sakuku bahkan cemilanku seperti Miladya. Pasti nyaman rasanya.

Tapi yang aku tak habis pikir, Miladya pernah nyeletuk “Pasti enak jadi kamu, Sil!. Semula aku ingin marah tiga hari tiga malam padanya. Kuanggap celetukan itu sebagai joke yang penuh pelecehan. Namun ocehan Miladya selanjutnya membuatku kaku. Dia bilang, “Kamu dicintai Sahbudin, cowok yang baik. Terus, kamu juga hidup di tengah keluarga yang harmonis dan tulus. Sayangnya, uangku gak bisa membeli semua itu. Padahal aku ingin merasakannya juga.

“Aku teh tetap nggak akan lanjut kuliah, Dya,” kataku, melempar tema awal, “Aku akan kerja untuk bantu dapur Mimih, kuliah A Akmal sama sekolah Koko aja. Mumpung kami sama-sama masih hidup dan sehat.”

“Gimana sama cita-citamu, jadi orang kaya?” tohok Miladya, “Kamu udah sangat serius sekolah di SMA, dapet ranking bagus, masak gak lanjut kuliah? Sayang…”

“Orang kayak aku, selain mesti optimis juga mesti realistis, Dya,” Aku mengangkat bahu lalu tertawa tawar, “Zaman sekarang mah banyak cita-cita keren yang dibeli orang ber-uang.”

“Gak selamanya begitu, Sil,” Miladya nampak keberatan, “Kamu aja yang terlalu ngefans sama uang, uang, uang…”

“Tapi tetap aja…”

“Ya udah,” Miladya mengubah posisi duduknya, lalu ikut memeluk guling, “Orang lain cuma ngasih opsi, toh keputusan dan resikonya ada di tanganmu sendiri.”

“Kalau ada uang mah, semua keputusan akan gampang.”

Miladya berdecak ,”Uang itu gak se-powerful yang kamu pikirin, Sil.”

“Pret!”

Miladya hanya geleng-geleng, lalu menuju pintu kamarnya. Belum juga Miladya membuka total pintunya, seseorang melintas. Seketika itu, jantungku serasa tergelincir. Panas dingin.

“Aa!”seruan Miladya membuat sosok itu mendekat, mengusap rambut adiknya dan melihat ke arahku. Duh! Alis yang hampir menyatu itu, terlalu menyesakkan untuk kutatap dekat-dekat!

“Eh ada Silma,” A Fatih, lelaki yang Miladya panggil itu merangsek masuk. Dia juga mengusap rambutku. Brrr!

“Es kelapa muda atuh, A! Si Silma haus tuh!” Miladya memelas manja.

“Idih, jual nama!” Aku mendengus.

Menurut Miladya, dia dan kakaknya itu tak terlalu dekat. Saling cuek. Yang satu pulang-pergi sekolah, yang satunya lagi sibuk bisnis di bidang pendidikan. Kakaknya, A Fatih, memang membuka beberapa lembaga kursus si sekitaran Kota Kuningan. Dan aku disebut-sebut sebagai jembatan mereka. Betapa senang Miladya ketika kakaknya mulai biasa mendekati, walau sekadar mengelus kepala atau memberi uang.

“Nih!” jurus pamungkas A Fatih – menyembulkan uang dari dompet kulitnya, “Aa mau monitor LKP,” alibinya sambil berlalu, menenggelamkan jejak di kamar adiknya. Persis seperti ayahnya yang pebisnis atau ibunya yang seorang PNS di Depag.

Miladya menerima uang itu, namun wajahnya merengut. Mirip seorang koruptor yang selalu muram, merasa pendapatannya yang besar belum cukup juga memuaskan. Ia lalu mempraktikkan apa itu tangan di atas, sedangkan aku menjadi tangan di bawah. Ya, uang itu dalam sekejap sudah beralih kepemilikan. Lumayan.

“Lihat, betapa letoynya uang, yang gak selalu bikin senang,” sindir Miladya, “Jadi gak nafsu beli es kelapanya juga, kita minum soft drink dari kulkas aja, ya?”

“Bikin es teh manis aja, boleh? Hehehe,” tawarku. Di luar memang sangat panas, alamat hujan akan kembali mengganas.

Miladya melirik sejenak, lalu tersenyum. Aku sengaja menolaknya, sebab minuman itu biasanya malah menimbulkan rasa haus ketimbang meredakannya. Sedang sekarang aku, mungkin juga Miladya, tengah butuh sesuatu yang menyegarkan.

***

Tiga Tahun Kemudian…

Dasar hari pasaran, dari menit ke menit pengunjung Barokah Textile terus saja membludak. Baru saja hendak melahap sorabi,Teh Silma, retuuur!”. Ketika mau buang air, “Teh, minta katalog seprei! Selimut juga! Bed Cover-nya sekalian!”. Bahkan ketika mulut berhasrat untuk menguap, “Cepet di-nota, Teh! Terus cek, ya!” Huft!

“Sil, ada yang nyari nih!” seru rekanku, bikin emosi meroket jadinya.

Aku nyolot, “Woy! aku lagi ngelayanin pelanggan! Kenapa sih semuanya mesti aku yang tanganin? ‘kan masih banyak yang lain?”

“Ihk, marahnya enggak banget,” komentar rekanku itu. Ekspresinya begitu beku.

Sesaat setelah ia melengos, di belakangnya nampak seseorang. Bukan pelanggan. Ia laki-laki berperawakan tinggi, putih, cungkring, mata agak sipit, botak, memakai jeans hitam dan kaus kerah berwarna merah. Semua padu-padan itu membuatnya makin ‘menyala’.

Seperti biasanya, ia menenteng bungkusan dan aku sudah tebak, isinya mestilah makanan! Tak lupa, tangan kirinya mencekik botol minuman bersoda. Glek!

“Jiaaah! Kamu, Ben! Aku kira siapa?” Aku salting,Punten, ya?”

“Aku maafin!” sahut rekanku yang lesung pipitnya begitu dalam. Kulihat ia tengah menggulung kainsandwash, sementara Ben hanya mengangguk dan tersenyum. Manis dan tampan, tapi aku tak tertarik. Mungkin, belum.

“Wajah kamu teh mirip kain pel-nya super mop, tauk!” kata Ben sambil menyerahkan apa yang ada di kedua tangannya. Bibirnya terbuka bagai tirai, memamerkan deretan gigi rapinya yang aduhai.

Setelah berbasa-basi busuk dengan membalas senyumannya, aku menyerobot bungkusan itu. Kelahap burger saus tomat secara sporadis. Sesekali kusedot juga soft drink dinginnya yang menyegarkan.

“Tewima kaswih yaw, Bewn,” ucapku dengan mulut penuh.

Aku sadar pemandangan itu bisa mencideraiku keanggunanku sebagai perempuan. Tapi bicara masalah lapar, apapun bisa terlupakan, nekad, bahkan khilaf. Orang pun bisa nekad merenggut hak orang lain, ketika perut keluarganya sudah berdangdut akut, bukan?

Lagipula di hadapanku adalah Ben, bukan A Fatih. Sehingga, aku tak punya kepentingan rasa. Bahkan aku memintanya untuk stay, setidaknya sampai aku sendawa. Seperti biasa, aku melakukan itu agar Si Bos Pak Haji mengira aku tengah ada kegiatan.

“Udah baikan?” tanya Ben, begitu aku menyerahkan botol yang sudah melompong, sementara plastiknya kucemplungkan pada bak sampah. Walau begini, aku adalah karyawan yang jarang buang sampah sembarangan, “Emosi bisa jadi ngeri kalau perut lagi demo.”

“Hahaha. Iya, Ben.” timpalku, sambil mengelus perut, “Nuhun, ya?”

“Iya,” jawabnya dengan lengkung senyum yang begitu ranum.

Ben, pemilik Ben’s Burger, kurasa adalah pengusaha termuda dan termurah hati sekota kuda, Kuningan – Jawa Barat. Kupanggil dia dengan namanya, sebab dia pernah protes ketika kusematkan panggilan ‘Aa’. Dari gelagat dan perhatiannya, kuyakin dia menyukaiku. Usianya lima tahun di atasku, seangkatan dengan kakaknya Miladya – A Fatih. Duh, tiap kusebut namanu, A, konsentrasiku mendadak terganggu.

Aku mengenal Ben begitu masuk ke dunia kerja di pasar. Kurasa inilah tempat yang paling memungkinkan untukku meniti karier. Aku bertempat tinggal di Jalan Eyang Weri, Awirarangan – kawasan yang menempel dengan Pasar Baru Kuningan.

Selain itu, mimihku sudah terbilang populer di pasar. Rasanya semua tahu, siapa itu Ceu Rohimah. Beliaulah mimihku, pedagang cakwe yang enak dan murah meriah. Pelanggannya terdiri dari konsumen biasa, ibu-ibu kantin berbagai sekolah dan sebagian para pemilik warteg. Jadi biarpun lapaknya kecil, namun pengunjungnya berjubel.

Setahun pertama pasca lulus SMA, memanfaatkan relasi luas mimih, aku masuk bekerja di sebuah warnet dekat SMAN Kuningan. Antusias sekali aku. Pekerjaanku hanya buka-tutup warnet yang memakai rolling door, bersih-bersih kala pagi, menjadi kasir, fesbukan, searching everything di google, dsb. Hanya saja, aku tak kerasan.

Betapa tidak, aku buka dari jam enam dan tutup ketika adzan maghrib berkumandang, dengan gaji yang kurang memadai. Belum lagi tak ada libur dan disulitkan jika sewaktu-waktu izin gak masuk. Ketika imun tubuh menurun pun, sang majikan malah bilang, “Makanya dikit-dikit jangan minum obat, dikit-dikit jangan ke dokter, oles balsem aja, bisa sembuh cepat!”

“Panas dingin begini, dioles balsem di mananya, Buuu?”

Memang sih, kerja di situ tidak sampai pegal-pegal. Namun lama-lama hati yang babak belur. Belum lagi quality time aku terkuras habis. Alhasil, lima bulan kemudian aku resign. Dan tak lama setelah itu, tanpa intervensi mimih, aku masuk bekerja di toko sembako ternama. Gajinya lumayan. Sayangnya, aku hanya bertahan selama dua bulan.

Mungkin aku kaget. Biasanya pegang buku, pulpen, ngotak-ngatik komputer atau paling berat, memikul tas gendong berisi buku-buku paket. Kali ini aku mesti berjibaku dengan gula, tepung, minyak, beras, telur dan kebutuhan pokok lain. Kadang-kadang malah ikut menjinjing atau mengangkat ini-itu. Sampai kata mimih takaran makanku jadi bertambah, tidurku jadi mendengkur dan tiap malam mesti dipijat di bagian-bagian tertentu yang kukeluhkan.

Enelan deh! Sekalipun kamu dapat uang, tapi badanmu jadi remuk begini, Ma,” sungut mimih, yang sedari dulu tak memberi izin padaku.

“Ma… Ma…, emangnya aku Emak-emak?” jawabku sengit, “Tapi ciyus, Mih. Uang hasil keringat sendiri itu ni’mat pisan, ya?” pikiranku menerawang. Rasanya ajaib juga, uang hasil kerjaku bisa cukup menyumbang uang kuliah A Akmal dan sekolah adikku, Koko.

mini novel hantu goreng 2 1

“Itulah yang namanya berkah, Sil,” kali ini panggilan ibu tidak meleset, “Kebaikan yang berbuah keni’matan atau kebaikan-kebaikan lagi.”

“Hummm,” Aku merasa berhasil sudah mengalihkan arah pembicaraan.

“Tapi tetep aja, kamu teh mesti keluar,” tegas Mimih, huft! “Istirahat aja dulu.”

Waktu istirahatku tak bisa lama-lama. Maka, aku pun sudah terdampar di sebuah rumah makan. Sebenarnya aku bisa masuk sebab pemiliknya adalah pelanggan setia ibu. Beliau adalah pembeli paling royal, yang kerap memborong gorengan ibu.

Sesuai gambaranku, aku pun bertugas menghampiri orang-orang yang datang dengan motif lapar. Kutanyakan ingin makan apa, minum apa, pedas atau tidak, dan tak lupa, kusodorkan cakwe yang tampangnya memang menggiurkan.

“O, sama dua cakwe?” tanya ibu pemilik rumah makan, “Jadi tambah tiga ribu.”

Etdah! Harga beli dari mimih pan cuman empat ratus!?

“Lha kalo ngejualnya gak segitu, dari mana gaji karyawan? dari mana sewa lahannya? dari mana pajaknya? dari mana labanya?” kata Mimih, yang ternyata menjawab diluar dugaan setelah aku menceritakan hal tersebut, “Lagipula cakwenya ‘kan enak, jadi wajar konsumen rela menebusnya.”

“O,” Aku mengangguk-angguk. Hummm, kayaknya enak juga jadi pebisnis!

“Bisnis itu gak cuma ngandelin harga murah, tapi juga kualitas, pemasaran, update,” tutur mimih lagi, bak pengamat ekonomi tengah memberi pandangan, “Ya mudah-mudahan kita sebagai penjual dan orang lain sebagai pembeli bisa saling ridho, sehingga uang dan barang yang Sil’mati pun bisa berkah jadinya,” pungkas mimih, lalu memilih konsen memasukkan tepung terigu pada adonanbacking powder, backing soda dan garam. Saking higienisnya beliau, sampai menyedikitkan berbicara karena takut ada yang muncrat pada adonannya.

Betah tidak betah bekerja di rumah makan itu. Betah, karena aku tak harus menguras waktu dan tenaga secara tak manusiawi. Aku bahkan merasa seperti ‘anak emas’ majikanku. Beliau begitu baik dan pengertian. Namun aksi bullying karyawan-karyawan lama bikin aku ciut juga. Mungkin mereka dapat bocoran dari film Spiderman. Kalau menyerang orang yang fisiknya tangguh tak bisa, maka serang dia lewat hati dan orang terkasihnya.

Mereka kerap melakukan aksi sabotase. Pernah tercium bau kentut di sekitar meja pelanggan, mereka lalu menuduhku. Padahal kutahu, merekalah yang buang angin berjamaah pasca mengunyah banyak kacang. Pernah juga, mereka mengacung-acungkan uban dari cakwe mimih. Sampai tak kusangka, majikanku marah dan mengomel pada beliau. Kutahu juga, mereka mencabut salah satu helai uban sendiri. Namun apalah kesaksianku dengan persekongkolan mereka yang rapi dan sistemik.

Lima bulan berlalu dan aku pun hengkang. Tapi tak lama setelah itu, aku masuk menggantikan seorang karyawati toko sepatu. Dia memelas agar aku mau menolongnya, sebab jika ia ingin cuti hamil maka mesti mencarikan penggantinya. Ia juga bilang, gajinya empat ratus ribu dan majikannya itu seorang tante-tante yang pemurah. Tapi kalau dilihat, perutnya belum terlalu buncit. Apa memang dia ingin cuti dari awal?

Aku tergiur. Tapi begitulah, jika awalnya sudah sangat gombal, maka kenyataannya kerap meleset dari harapan. Seperti yang sudah-sudah, aku tak mampu pura-pura bahagia sampai setahun. Seminggu sudah berjalan, aku pamitan.

“Kalau kamu mau keluar, kamu harus cari pengganti dulu!” kecam si tante.

“Aku aja gak betah, gimana mau tega ngelempar ke orang lain?”

“Ini sudah peraturan!”

“Peraturan dari mana? Ada kontraknya, enggak? Ada perjanjian hitam di atas putih, enggak? Ada saksinya, enggak? Pake materai, enggak? Kalau tante bikin aturan sembarangan, urusan kita bisa sampai ke meja dengan taplak meja hijau loh!” terangku ngasal, namun hanya pemandangan wajah menganga saja yang kutelan.

Si tante tiap hari membawa dua anak kembarnya yang masih berusia setahun. Dia ngelayab, sementara kerjaku merangkap dari karyawan toko sekaligus baby sitter. Pantas karyawati lama bilang si tante itu pemurah, ternyata maksudnya kita gak cuma dikasih tanggung jawab berupa toko, tapi juga dua bocah sekaligus!

Pengelanaan kerjaku selanjutnya jatuh di toko tekstil yang cukup besar dan terkenal; BarokahTextile. Kutahu infonya dari Miladya, kebetulan pemiliknya adalah teman bisnis ayah sahabatku itu. Berbeda dengan pekerjaanku sebelum-sebelumnya, untuk masuk ke sini aku mesti melewati seleksi. Mulai dari tes fisik, mental, tulis sampai interview.

Dari subuh sampai dzuhur, pembeli di toko ini mayoritas eceran. Sehingga partai pembeliannya pun terbilang kecil. Sedangkan dari dzuhur sampai maghrib, para pembeli mayoritas merupakan pelanggan tetap. Mereka adalah para pedagang yang kerap belanja partai besar. Karena itu, toko ini membagi karyawannya menjadi dua; shift SD alias Subuh-Dzuhur dan DM alias Dzuhur-Maghrib. Dan, semua pendaftar ingin masuk shift kedua.

“Kamu lolos jadi karyawan shift DM, Silma. Selamat!” ucap Pak Haji.

Mau sombong sebentar. Dengar-dengar, tim personalianya memilih sosok yang memiliki fisik-mental kuat, calistung-nya lancar dan memiliki motivasi tinggi – tak peduli apapun pendidikan terakhirnya – untuk menempati shift ini. Gajinya sekitar tigapuluh sampai limapuluhribu rupiah per hari, tergantung lama kerja, sudah berkeluarga atau belum dan kinerjanya.

Tempat ini memecah rekor kerjaku. Buktinya, aku bisa bertahan sampai dua tahun. Mungkin karena proses masuknya butuh perjuangan, dan aku menikmatinya, dan banyak pelajarannya dan lingkungan kerjanya yang nyaman dan majikannya paham agama. Padahal tahun lalu, aku jadi jongos.

“Sil, tata gulungan kainnya dengan eye catching!” seru senior 1.

“Sil, singkirkan kain perca, sampah plastik sama jejak-jejak kaki yang menjijikkan ini!” seru senior 2, yang higienis abis.

“Sil! beliin cakwe yang golden brown, kue bantal yang gak gembos, molen setengah mateng sama es teh manis yang gak terlalu dingin!” koor senior yang di pojok.

“Sil, sini dulu! Garukin punggung saya!” seru senior 4 tak mau kalah.

Begitulah. Kerjaanya seputar tunduk-patuh pada senior, menyapu toko, membereskan barang, melipat kain atau handuk, membawakan belanjaan pelanggan, dst. Kabar baiknya, selalu ada pelanggan yang merasa iba dan menyelipkan uang tip.

“Kamu hebat, Sil, sudah bisa tahan selama setahun,” kata Pak Haji waktu itu, sebagai titik awal bangkitnya gairah kerjaku, “Nih, selamat bertugas!” sambungnya sembari menyerahkan nota besar.

Melihat tanda itu, mataku berkaca-kaca. Sementara para senior juga rekan-rekanku memberi selamat. Betapa tidak, selama ini para pemegang nota besar adalah karyawan-karyawan DM yang sudah makan asam-garam. Ini artinya, aku sudah sejajar dengan para senior. Aku jadi berhak untuk tahu harga pokok, menulis nota partai besar, men-training karyawan-karyawan baru, turut andil dalam menentukan harga jual dan yang terpenting, tak disuruh ini-itu lagi seenaknya.

Semakin tinggi posisimu, semakin meraksasa tanggung jawabmu,” kata rekanku yang lesung pipitnya begitu dalam, sedalam nasihatnya padaku – nasihat yang kucurigai diadaptasi dari film Spiderman. Ya, ya ya. [#RD]

(B E R S A M B U N G)

***

[07-09-2014]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *