Mini Novel; Hantu Goreng (Bagian 2/5)

Mini Novel; Hantu Goreng (Bagian 2/5)

mini novel hantu goreng 1

“Limapuluhribu, Mih,” suara adikku, Koko, tepat ketika aku tiba di muka pintu, ”Wajib beli buku itu,” katanya lagi, membuat langkahku tertahan untuk masuk rumah.

Kurogoh saku. Ada uang delapanratusribu. Sekarang memang tanggal lima dan Pak Haji, seperti biasa, menunaikan kewajiban membayar gaji para karyawannya. Hanya saja aku sudah kasbon limaratusribu untuk biaya A Akmal. Kalau tidak salah, untuk uang seminar proposal dan sidang komprehensif.

“Uang bimbinganku sejuta, Mih,” sambung suara lain, A Akmal, “Kalau belum bayar teh, aku belum bisa dapet kartunya. Terus, nanti bisa disulitkan ikut sidang.”

Limapuluhribu ditambah sejuta? Duh!

Senja semakin ringkih. Beruntungnya, semburat oranye tak lagi segan menyemarakkan langitNya yang lapang. Memang, musim penghujan sudah berlalu. Dan begitu terasa, empat tahun aku melenggang jauh dari dunia sekolahan.

Meski demikian, aku masih sangat intim dengan urusan biaya sekolah. Baik itu Koko maupun A Akmal. Adikku yang rajin mengaji itu sudah jadi siswa kelas X SMA, sementara A Akmal masuk semester tujuh – semester yang rawan biaya dadakan.

Ku-sms A Fatih. Kutanyakan besarnya biaya bimbingan skripsi tahun ini dan apakah bisa dicicil atau tidak. Kebetulan beliau alumninya, barangkali tahu. Sekalian, aku kangen bertukar-pesan dengannya. Walau tak pernah asyik, tak pernah mesra.

“Sil?” Mimih sedikit terlonjak ketika aku memutuskan untuk masuk rumah,”Minum dulu gih di belakang!”

Kebiasaan. Koko segera menghampiri dan mencium punggung tanganku. Ketika pertama kali pulang kerja dan disambut seperti itu, airmataku langsung meleleh dan hatiku mengeras, sekeras tekadku untuk habis-habisan mencintai dan memperjuangkan kebahagiannya.Sementara A Akmal langsung bungkam, tak membahas soal biaya lagi.

Aku tersenyum, meremas rambut Koko, lalu ngeloyor menuju ke dapur. Di atas dipan sudah tergeletak segelas teh manis. Kuraba gelasnya, sudah lebih dingin. Glek!

“Gelasnya bocor, ya?” tiba-tiba Mimih datang, lalu duduk bersebelahan denganku. Begitupun dengan Koko dan A Akmal. Ah kalau mereka sudah berkumpul begini, aku seperti memiliki alasan kuat kenapa harus terus hidup dan ikhlas bertahan.

Aku hanya nyengir. Kuyakin mereka tak akan memberitahuku dulu soal biaya sekolah. Mereka biasanya baru akan terbuka ketika aku tengah santai, senyum-senyum gajian atau nyanyi-nyanyi karena berkhayal jalan bergandengan dengan A Fatih. Bukan ketika pulang kerja atau wajahku kusut begini.

“Maafin Koko ya, Teh, suka ngerepotin Teteh,” ucap Koko.

“Kalau Kokonya rajin, jujur dan baik, Teteh akan seneng,” Aku berbasa-basi

“Koko kasian sama Teteh,” katanya lagi, bikin mata Mimih terlihat memerah, “Teteh teh perempuan, masih muda, teman-teman Teteh mah pada main-main, tapi…”

“Udah, sekarang Koko sholat maghrib di mesjid, ya?!” potongku, menjegal kata-katanya – yang bisa bikin Mimih sedih, “Doain Teteh sama Mimih agar panjang umur dan rezekinya banyak,…”

“Juga berkah!” serobot Mimih.

“Iya, pasti!” Koko bersemangat, “Sekalian Koko mau berdoa jadi orang sholeh yang sukses, biar bisa ngebayarin pengorbanan Teteh sama Mimih.”

Duh, Koko. Mana bisa hati Teteh tak meleleh?

Berbeda dengan A Akmal. Dia selalu minta maaf atau berterima kasih secara personal, tidak terang-terangan. Tapi tak apa, aku memaklumi nalurinya. Mungkin dia malu, sebab selama ini belum bisa memberi sumbangsih pada keluarga dan malah, kerap dibiayai oleh adik perempuannya yang lemah ini.

Biar banyak anak-banyak biaya, tapi kalau pada sholeh-sholehah, jadi banyak rezeki juga. Bukankah rezeki itu gak selamanya berwujud harta?” kata Mimih.

Aku dan A Akmal hanya menunduk, membenarkan.

“Mimih sering dihantui rasa bersalah, gak bisa bikin kamu bahagia dan senang kayak orang lain,”Mimih ‘mulai’, “Bisa kuliah, punya baju bagus, hidupnya santai,…”

“Ssst, Mih!” Aku mengusap punggung beliau, “Pamali jangan nangis maghrib-maghrib, nanti ada yang niru!” kataku, tentu hanya fiksi belaka.

Kelegaanku melihat tangisan Mimih surut tak berlangsung lama. Ponselku bergetar. Datang sebuah pesan balasan dari A Fatih. Selesai membacanya, dadaku seperti digedor-gedor sesuatu;

750.000

Darahku mendidih. Mataku memanas. Segera aku masuk ke kamar mandi. Dalam sekejap, bulir-bulir bening dibalik mataku menyerobot keluar dengan cepat. Aku menangis, bukan karena menyadari A Akmal telah membuat kebohongan (saja), melainkan terharu juga. Betapa Allah Swt telah mencukupkan gajiku; tujuhratuslimapuluhribu ditambah limapuluhribu, pas delapanratusribu.

***

Subuh ini, aku sudah berniat mengendap-endap ke kamar A Akmal. Begitu dia terlihat ke kamar mandi, aku segera masuk dan mencari surat atau apapun itu, yang bisa jadi bukti kuat soal pembayaran uang bimbingan.

Dahiku mengernyit ketika tas kecil A Akmal menyembulkan dua kwitansi; kwitansi seminar proposal dan sidang komprehensif. Masing-masing duaratusribu rupiah. Eh, jadi semuanya empatratusribu? Bukan limaratusribu?

Tak lama kemudian, ponsel A Akmal bergetar. Wallpaper-nya yang terang menunjukkan foto kakakku bersama seorang perempuan. Penampilannya necis dan menor. Kubuka kuncinya dan ada sebuah pesan. Rasa kepo serta keraguan sempat tarik-ulur. Lalu aku memutuskan untuk mengotak-atik ponsel A Akmal. Tanpa membuka sms terbaru, aku melihat-lihat inbox-nya. Ada satu pesan yang bikin napasku tersengal,

Kita jalan lagi ya, Sayang. Sekalian aku pengin beli tas lagi. Tapi jangan yang kayak kemarin. Pengin dong yang harganya duaratusribuan. :*

Dadaku seperti merosot. Ponsel yang mulai memanas karena kugenggam, refleks terjerembab ke atas kasur, tepat ketika kusadari A Akmal tengah berdiri. Dia mematung di muka pintu, seperti hendak berkata namun ragu-ragu.

Antara marah, kecewa dan tengsin berat, aku bangkit. Sengaja kugeleng-gelengkan kepala di hadapannya. Lalu sebelum berlalu, kurogoh saku dan mengulurkan isinya, “Ini, A, uang buat bimbingn skripsi. Tujuhratuslimapuluhribu, bukan sejuta.”

A Akmal diam saja. Dia hanya tertunduk dan jakunnya terlihat naik-turun. Kutelentangkan tangannya dan kuletakkan uangnya dengan sedikit kasar, “Uang seminar proposal sama sidang kompre juga cuma empatratusribu, bukan limaratusribu,” kataku lagi, menyindirnya.

“Aa banyak pengeluaran tak terduga, Sil,” A Akmal membela diri.

Aku yang hendak melangkah, tercekat sejenak, “Termasuk untuk tas pacar Aa itu?” Aku memberanikan diri menatap tumpuan harapanku itu, “Inget, A! Yang udah nganter Aa menuju sarjana itu bukan pacar Aa, tapi kami! Aku dan Mimih.”

Tak peduli lagi apa yang hendak A Akmal sampaikan. Aku segera pergi ke kamar mandi, menangis dalam diam yang menyesakkan!

***

Lega melepas Koko ke SMA dalam keadaan sudah sarapan, aku membantu Mimih meladeni pembeli yang membludak di pagi hari. Jam setengah delapanan, aku pamit. Mungkin Mimih mengira aku akan pulang ke rumah, sekadar bersih-bersih atau menonton acara kuliner. Tidak. Aku memilih menyetop angkot enol satu, jurusan Pasar Baru – Kadugede.

Aku ingin bepergian, menjauhi wilayah tempat tinggal. Ya beginilah kalau orang kecil – yang lagi stress – ingin menyalurkan hasrat travelling-nya. Semuanya serba sederhana.

Punten ya, Neng. Angkotnya mau tidur dulu,” kata Mang Sopir sambil menepikan angkotnya tepat di depan Silver Bakery, “Siapa tahu ada penumpang yang nyangkut,” asanya, lalu menyeru ‘Gede…Kadugede! Darma!’ yang terkesan percuma.

“Emang mau langsung ke Desa Darma, Mang?” tanyaku, meski tak merasa masalah kalau Si Mang hanya menipu.

“Gimana nanti ya, Neng,” jawab Si Mang ‘ngegantung’, “Kalau waktunya memungkinkan dan Si Neng ada temannya, ya lanjut.”

Dari aku naik sampai ngetem sekarang, belum ada ‘sepotong’ penumpang pun yang mengisi kuota kursi. Karena itu, aku siap-siap juga kalau-kalau Si Mang akan menyetop angkot lain dan mengalihkanku.

“Neng mau ke mana?”

“Ke Objek Wisata Darmaloka, Mang,” jawabku sambil menatap lalu-lalang orang, kendaraan dan sampah di jalan lewat kaca film, “Buang stress.”

“He he he, hidup terlalu lucu untuk dibikin stress, Neng!” kata Si Mang sambil terkekeh, kata-katanya sok iyeh!

Tapi hidup terlalu tragis untuk diketawain, Mang!” timpalku, tak mau kalah.

Aku rasa hidup Si Mang monoton, hanya bolak-balik mengendarai angkot. Dari Pasar Baru ke Kadugede, syukur-syukur sampai ke Desa Darma, ngetem, mengumpat dan kembali lagi ke Pasar Baru. Lalu berhenti, makan, mungkin mabok dan mungkin juga pasang nomor. Dia tak tahu betapa sulitnya jadi seorang Silma!

“Ya tapi kalau pun stress, gak ada obat mujarab selain sholat ya, Neng?” tanyanya, tentu tak perlu menunggu jawaban dariku.

mini novel hantu goreng 1 1
Aku terhenyak. Kulongokkan kepala dari kursi belakang sopir, Si Mang tattoan tapi bicaranya sudah seperti ustadz kondang. Meski demikian, entah kenapa, masukannya lebih menyerap dalam hati. Ketimbang dinasehati ustadz betulan yang dakwah tentang sedekah, tapi tetangga sebelahnya sengsara parah.

Ketika menopang dagu dan ingatan akan beban hidupku menyeruak, entah dari mana, tetiba orang-orang berdatangan. Di sisi sopir diisi seorang yang nampaknya preman, sedangkan di sekelilingku ada lima orang. Mereka sampai menggoyang-goyangkan bahuku, agar aku tersadar dari lamunan dan bisa geser, berbagi ruang.

“Gimana kabar anak-anakmu, Lur?” tanya si preman yang rupanya sudah akrab.

“Alhamdulillaah, yang cikal mah udah semester akhir. Yang kedua masuk semester pertama,” jawabnya, “Tapi si bungsu yang masih SMP itu…” Si Mang menciptakan jeda, “Udah ditegur sekolah, kakinya patah pula, kecelakaan.”

“Ya Allah! Berat pisan cobaannya, Lur!” lawan bicaranya sedikit memekik, terkesan timpang dengan penampilannya.

“Ya… saya mah tafakuri diri saya sendiri. Anak saya sekarang jadi gambaran dari saya di masa lampau. Suka malak sama orang tua, suka ngancam kalau gak diturutin,” nada bicara Si Mang bergetar, “Duh, gini ternyata perasaan almarhum orang tua saya dulu. Astaghfirullaah!”

Mang Preman bungkam. Angkot kemudian melaju dengan hambar, tanpa obrolan. Jalannya tak cepat, tak juga lambat. Namun yang pasti, kendaraan ini lambat-laun sesak. Kebetulan sekali, banyak yang bertujuan Desa Darma.

Dalam perjalanan tiga perempat jam itu, pikiranku dicekokki oleh banyak hal. Ada Mimih yang belum bisa kubahagiakan, Koko yang tengah kuperjuangkan, A Akmal yang mulai menciderai pengorbananku, rasa yang tertindih, A Fatih yang tak terselami perasaannya, gaji yang statis, kebutuhan yang menanjak, blank-nya gambaran masa depan dan segala hal lain yang ujung-ujungnya mengerucut pada belum kokohnya pilar ekonomi keluarga kami serta buramnya gambaran masa depanku sendiri.

Aku mengkhayal. Suatu saat nanti bisa menikah dengan laki-laki tampan nan mapan macam A Fatih. Lalu aku jadi saudara ipar Miladya, A Akmal dapat kerja dengan posisi bagus, Koko kuliah (syukur-syukur dapat beasiswa) dan Mimih tinggal ongkang-ongkang kaki di rumah. Ah. Semua lamunan ini masih wajar ‘kan, Tuhan? [#RD]

(B E R S A M B U N G)

***

[07-09-2014]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *