Mini Novel; Hantu Goreng (Bagian 3/5)

Mini Novel; Hantu Goreng (Bagian 3/5)

Kuserahkan uang masuk ke penjaga loket yang murah senyum. Kami sudah saling akrab, walau tak mengenal nama dan alamat satu sama lain. Semasa sekolah, Miladya memang kerap mengajakku kemari. Kami bisa mengasingkan diri dari kebisingan duniawi, sekaligus sharing hal-hal yang bikin pusing. Walau aku tak menampik, ke manapun bersembunyi, hati yang gaduh akan tetap bergemuruh.

Tak hanya itu, ternyata Miladya memiliki misi lain. Di sinilah dia ‘menjodohkanku’ dengan

Sahbudin, mantan pacarku waktu kelas XII. Kebetulan dia adalah salah seorang santri di pesantren dekat objek wisata Darmaloka, Riyadhul Mubtadiin. Waktu itu aku menerimanya lantaran tiga hal. Pertama, Sahbudin sholeh dan wajahnya adem. Aku serasa mudah menyukainya balik, hanya tengsin saja. Kedua, aku sedang tak berpacaran dengan siapapun. Terakhir, dia adalah rekomendasi sahabatku sendiri. Tapi tak lama kemudian, kami putus. Sahbudin sendiri yang bikin keputusan.

“Kalau Sahbudin adalah cowok terbaik, kenapa gak kalian aja yang pacaran?”

“Karena dia cintanya sama kamu, bukan aku!” Miladya seperti tersinggung.

Heran. Dia yang mencintaiku, namun dia juga yang meremukkan hubungan itu. Hummm, dasar laki-laki – sama misterius dan peliknya dengan hati perempuan. Serba salah waktu itu. Hendak berdebat, takut dikira aku masih cinta berat. Tapi kalau tak kecewa, aku memang harus jujur. Aku sudah mulai menyayanginya. Huft!

“Kata Sahbudin, gak ada istilah pacaran islami seperti yang aku katakan,” ucap Miladya di tempat ini, persis di kolam besar dekat pendopo, “Dalam Islam, cara untuk menyatukan dua hati hanya lewat pernikahan dan dia belum siap untuk itu.”

“Oke!” sahutku, lalu sibuk menepuk air Darmaloka, mengundang ikan dewa.

“Katanya juga, gak baik berlindung pada label ‘islami’. Nanti bisa-bisa ada istilah ‘judi islami’, ‘mabok islami’ bahkan ‘lokalisasi islami’ demi ketahanan ekonomi.”

“Sip!” kucemplungkan saja sobekan bolu ke kolam, ketimbang menganggap serius apa yang Miladya omongkan. Jangan coba-coba menasehati orang emosi!

Awalnya aku menjalani saja apa yang Miladya sebut sebagai pacaran islami. Tiap ketemuan dengan Sahbudin, harus ada pihak ketiga. Isi ketemuannya mengobrolkan seputar cara wudhu yang benar, sholat yang khusyuk dan pentingnya berbuat baik. Belum lagi topik sms-annya. Paling-paling mengingatkan untuk makan dan sholat. Tetapi kemudian, mereka sendiri yang meralat kalau semua itu masih salah. Ya, aku hanya angkat bahu.

Hari ini aku kembali ke sisi kiri pendopo utama, tak jauh dari loket pembayaran. Kulepas sandal yang panas dan kubenamkan kaki ke kolam berisi ikan dewa alias ‘kancra bodas’ atau kancra putih. Atau, orang-orang menyebutnya ikan keramat.

Konon, ikan-ikan ini merupakan jelmaan dari prajurit yang berkhianat pada Prabu Siliwangi. Kita dilarang keras menangkap, apalagi mengkonsumsinya. Bahkan di Objek Wisata Cibulan, ikan-ikan tersebut akan raib secara misterius ketika kolamnya dikuras. Dan, mereka lalu kembali lagi setelah rampung.

“Sendirian wae, Neng?” tanya Si Emak penjual bolu basi, sebasi pertanyaannya.

“Iya, Mak,” timpalku, lalu segera kubeli bolunya. Biar cepat, sebab tiap aku berkunjung, sapaannya selalu begitu.

Sambil menikmati kecipak air Darmaloka, kuedarkan pandangan. Di sisi kanan pintu masuk terdapat warung-warung jajanan. Perut mulai lapar. Ada warung mie rebus, mie goreng, batagor, hucap, kopi, dan hey! ada burger juga, rupanya! Tapi kok cuma gerobaknya?

“Sil? Silma?” panggil seseorang, yang dari suaranya, amat kukenal. Aneh, kenapa dia selalu datang di saat perut sedang tarlingan?

“Hai, Ben!” suasana hatiku sedikit lebih rileks, “Ngapain di sini?”

Bolu yang kuumpankan diserbu ikan-ikan. Mereka mengerumuni kakiku, lalu menggigit-gigitnya. Geli, tapi kuharap kotoran kakiku akan lenyap terlumat.

“Kamu sih lagi ngapain?” Ben jongkok dan terkesan kikuk untuk ikut duduk atau melepas sepatunya, “Aku kebetulan mau buka cabang di sini,” lanjutnya, lalu jari telunjuk Ben mengarah ke gerobak burger yang mencuri perhatianku.

Aku mengembuskan napas, tersenyum getir. Betapa Ben yang masih muda, sudah bisa menjadi orang kaya. Kedai Ben’s Burger­ di dekat Barokah Textile begitu ramai. Malah sudah bisa buka cabang lagi, walau dalam formasi gerobak. Selain mempertebal penghasilan, juga bisa menjadi ladang pekerjaan bagi sekitar.

“Sil?” Ben duduk. Ia menggunakan plastik sebagai alasnya.

“Eh, Ben,” Aku nervous juga bisa duduk berdua saja dengan jarak sedekat ini, “Aku… aku cuma lagi mastiin kalau Silma ini adalah seseorang yang ikhlas,” ucapku agak terbata dan sudah kutaksir, Ben akan tertawa, “Tapi… tapi… rasa capek dan kecewa itu manusiawi, ‘kan? Apakah semua itu menodai keikhlasanku ini?”

Tawa Ben reda, “Kita ngobrolnya sambil…?” Dia melirik deretan warung jajan.

“Makan hucap!” timpalku, dan kami segera berbenah diri.

Ben memang datang di waktu dadaku tengah sesak dan sudah harus disemburkan. Maka, kubeberkan saja segala kegalauanku, kecuali soal A Fatih. Sebab, aku masih menghargai perasaan sosok donatur yang pengertian ini.

“Intinya aku butuh suntikan dana gitulah, Ben.”

“Kenapa gak coba bisnis aja? Kamu udah lama kerja sama orang terus, udah saatnya mandiri,” Ben menyembulkan ide keren, “Gak perlu pendidikan. Bahkan bisa jadi bos, bikin aturan sendiri, punya laba yang utuh, bahkan bisa buka lapangan kerja?”

“Brilyan!” seruku, “Tapi kepentok modal!” sambungku, lesu.

“Sil… Sil… Kamu teh gak liat aku?” Ben menunjuk hidungnya sendiri, “Ben’s Burger itu berawal dari satu-dua burger, bukan ujug-ujug se-kedai! Hahaha.”

Aku tertawa datar, menghormati saja. Baru kusadari, aku tak tahu detail sejarah bisnisnya Ben,”Sausnya? Mayonesnya? Gimana? Itu juga modal, Ben! he he he.”

“Oh iya, lupa!” Ben menepuk jidat.

“Untung aja burgernya enak,” pujiku.

“Aku rela mengorbankan seluruh burgerku padamu, Sil,” kata Ben, mulai menciptakan kecanggungan, “Aku cinta sama kamu, aku cinta kamu.”

“Hehehe, bisa jadi ide bagus tuh!” Aku membelotkan tema, “Burcin, alias burger cinta. Ya, sekali-kali boleh dong bentuk burger itu love, gak tembem mulu!”

Ben hanya menanggapinya dengan senyuman. Dia lalu mengerahkan pelayanan terbaiknya untuk memuaskan hasrat perutku – memesankan hucap spesial, minuman yang segar dan cemilan yang enak. Wah! aku mesti belajar jatuh cinta sama Ben nih!

***

Obrolan setengah hariku dengan Ben lusa lalu cukup mengubahku. Aku jadi lebih semangat, khususnya untuk terus mengasah jiwa bisnis, mengumpulkan modal dan merancang segala hal untuk memulainya. Ternyata Ben benar, ‘memulai’ kadang menjadi bagian tersulit dalam suatu skema perjuangan. Aku bahkan belum tahu ingin usaha apa, lokasinya di mana, bakal pinjam dari bank atau mengumpulkan saja. Aaaaaak!

“Sil,” sapa Pak Haji begitu kuhampiri di meja kasir, sebelumnya seorang rekan memberitahuku kalau aku dipanggil, “Nanti Sabtu ikut Bapak ke TG, ya?”

“TG, Tegal Gubug, Pak?” Aku memastikan, “Apa Silma bakal dimutasikan?” tanyaku was-was, sebab Barokah Textile memang memiliki cabang di sana.

“Iya, Tegal Gubug,” Pak Haji tersenyum, “Tapi enggak kok, kamu enggak akan dimutasikan. Ikut aja, biar kamu tahu gerak bisnis di sana.”

Bisnis? Aha!

Tibalah Sabtu. Sekarang waktunya. Sesaat setelah sholat subuh, aku bergegas menuju area parkirBarokah Textile yang masih sangat senyap. Hanya ada seorang sopir yang stand by. Dia tengah memanaskan Toyota Fortunernya Pak Haji.

“Denger-denger sih, Neng,” kata Pak Sopir, yang ternyata berbakat jadi biang gosip juga, “Anak-anak angkatnya Pak Haji teh pada gak jujur, termasuk yang di cabang TG itu. Makanya, beliau pengin membereskannya sekarang.”

“O,” Aku lebih banyak bilang ‘O’ sambil mengangguk-angguk, lalu menguap.

“Eh, Silma!” Pak Haji keluar dari toko yang sudah terang namun lengang, “Yuk!”

Aku masuk ke mobil dengan antusias. Selain karena naik mobil bagus, aku memang selalu exciteddalam urusan perjalanan. Jika Pak Haji duduk di sisi sopir, aku memilih di belakang sendirian.

“Kalau mau tidur mah, ya tidur aja,” kata Pak Haji. Beliau memang tak sering menyembulkan pembicaraan, seperti sedang memikirkan sesuatu dan aku enggan mengusiknya. Paling hanya menawari makan dan minum.

“Sayang kalau tidur mah, Pak,” kataku, “Banyak momen di jalanan.”

mini novel hantu goreng 3 1
Perjalanan berlanjut. Mataku tak terpejam sama-sekali. Aku girang bisa menyapa hiruk-pikuk alam dan jalanan, walau dari balik kaca film. Aku juga disibukkan oleh beban yang tak kunjung ringan serta oleh fantasi yang entah kapan akan terjadi.

Dari Barokah Textile ke arah Terminal Cirendang, melewati objek wisata Cibulan, terus jalan sampai masuk Cirebon yang panas, melewati jalan tol yang bisu dan sekitar sejam lebih, mobil meluncur ke daerah Arjawinangun. Tak lama kamudian, kami tiba di tempat tujuan; Pasar Tegal Gubug.

“Sudah sampai,” info Pak Haji, lalu menandaskan air mineral sebelum keluar.

Mobil menepi. Kami berjalan memasuki toko besar bertuliskan ‘Barokah Textile Putra’ (BTP). Tak henti mataku berkedip-kedip. Langkahku pun serasa gemetar. Banyak karyawan yang sibuk, banyak pula pelanggan yang belanja. Namun mereka bukan pembeli eceran, melainkan pembeli grosiran.

“Pak Haji,” banyak yang menyapa, menyalami dan berbasa-basi di sela-sela langkah kami. Banyak juga yang lirik-lirik padaku. Kalau yang laki-laki mungkin tertarik, kalau yang perempuan mungkin bertanya-tanya – aku ini siapa? Atau, mereka iri. Duh, kambuh deh gede rasanya, Sil!

“Nah, Sil,” Pak Haji merogoh uang dari saku celananya ketika kami tiba di area kasir dan aku berkenalan dengan anak angkat beliau, “Ini, tolong kamu beliin sepuluh meter kain kahatex, sepuluh meter gress putih, sepuluh meter batik semi sutera sama sepuluh meter grenada hitam di pasar Tegal Gubug ini.”

Titahnya terbilang aneh. Pemilik toko textile kelas kakap mau beli ngecer? Namun selagi uang sejuta itu sudah dalam genggaman, semuanya serasa akan gampang.

“Syukur-syukur kalau ada sisa. Silakan buat kamu,” lanjutnya.

Otakku segera bergerak. Jika dijumlahkan; sepuluh meter dikali Rp. 16.500, sepuluh meter dikali Rp. 16.000, sepuluh meter dikali Rp. 23.000 dan sepuluh meter dikali Rp. 27.000, sama dengan Rp. 825.000. Sisanya sekitar Rp. 175.000, leluasa dipakai setor listrik, uang jajan Koko atau beli tepung terigu buat cakwenya Mimih.

Dari Toko BTP, aku menyeberang jalan. Langkah kakiku mantap memasuki pasar. Aduhai! Inilah salah satu pasar tradisional yang denyutnya masih begitu meletup. Orang-orang tumpah-ruah – yang menjual, yang membeli – sama sesaknya. Mereka menyeleksi barang, melakukan negosiasi,deal, dan mengangkut barang. Indah sekali!

Belum lagi para pedagangnya yang begitu beragam. Ada penjaja makanan, para pedagang yangmobile, toko sandal, tas, aksesoris dan mayoritas bergerak di bidang tekstil. Kios-kiosnya terbuka. Semuanya ada; kain sprei, batik, gorden, celana, seragam, jeans, cotton, korea, dst. Tempat ini jadi syurganya pemburu kain!

“Gress putih ini harganya berapa, Bu?” Aku menyambangi sebuah lapak yang ramai. Pertanyaanku tentu pura-pura, sebab aku sudah tahu harganya. Harga belinya Rp 17.000. Dan di Toko BT, kami biasa menjual Rp 18.000-18.500 untuk pelanggan dan Rp 20.000 untuk pembeli umum.

Pira naware?” Si Ibu balik bertanya dengan bahasa yang agak aneh, namun aku bisa menerkanya – mungkin artinya ‘berapa nawarnya?’, “Mau tuku akeh, ta?” katanya lagi, yang artinya kurang-lebih ‘mau beli banyak kah?’.

“Sepuluhribu semeter ya, Bu?” tawarku, bercanda saja.

“Gak bisa meteran,” katanya, “Setumpuk seratusduapuluhribu, wis.”

Ternyata kainnya dijual kiloan, bukan meteran. Setumpuk bisa berisi rerata 10-13 meteran. Aku melongo sejenak, lalu meminta si ibu segera membungkusnya.

“Kahatex ada, Bu?” tanyaku membuat si ibu diam sejenak, mungkin sedang berpikir, “Itu loh bahan yang buat seprei atau kasur, Bu?”

“O, itu sih di sebelah sana, Mbak!” Dia mengarahkan telunjuk.

Berbekal informasi darinya, aku menelusuri para pedagang yang berkeringat. Sebagian bahkan ada yang cuek tertidur di lapaknya. Mereka dan barang dagangannya begitu banyak. Para pembelinya pun tak kalah sesak.

Dari para pedagang yang kusinggahi, aku mempelajari banyak hal. Bahwa di sini, kita bisa terperdaya kalau tak tahu harga pasar. Kita bisa juga kehilangan barang belanjaan kalau tak waspada. Lalu kita mesti tahu dasar-dasar bahasa Jawa Cirebon ketika transaksi dan, kita juga mesti maklum, banyak pedagang yang melayani dengan mata terkantuk-kantuk. Aku baru tahu, hari pasaran di sini Selasa – Sabtu. Dan pada kedua hari itu, pasar bahkan buka 24 jam! Wuih!

Awal-awalnya aku linglung, seperti plastik yang diseret lautan manusia dengan berbagai macam kebutuhannya. Namun lama-lama, aku tak kesulitan juga. Semua pesanan Pak Haji sudah kudapatkan dengan mudah. Semuanya beres, kecuali satu hal; perutku lapar dan aku belum tahu tempat ‘pelipur kelaparan’.

“Sudah kelar belanjanya?” tanya seseorang yang kukira hantu, ternyata bukan.

Betapa tidak, kemunculannya sangat mendadak dan tanpa kusangka.

“Ben? Kamu?” Aku tak habis pikir, “Kamu gak lagi buka cabang di sini, ‘kan?” tanyaku, sebab sepertinya belum ada gerobak Ben’s Burger di Pasar TG ini.

“Hahaha. Aku sedang coba buka pintu hatimu, Sil,” Ben ngegombal, “Udah, yuk! Kita cari warung Empal? Bakso? Mie ayam? Nasi jamblang?….”

“Cakwe?” tetiba aku ingat andalan Mimih. Di TG ini sepertinya belum ada.

“Itu gak termasuk!” serunya, lalu dia tertawa.

Kami berjalan berdampingan menembus langkah orang-orang. Ben sepertinya sudah tak asing dengan tempat ini. Dan tiap kali kupercepat langkah, Ben mencegah. Ia berbisik, ‘Jangan cepat-cepat, biarkan waktu menghadiahiku dengan momen ini’.

Oke, aku nurut saja. Namun sesuai pesan Mimih, aku menghindari kontak kulit dengan lawan jenis. Apalagi dengan Ben, sosok yang memiliki rasa padaku walau aku merasa biasa saja. Tapi andai dengan A Fatih, pasti aku sudah kejang-kejang duluan.

“Gimana tempat ini?” tanya Ben begitu kami duduk berhadapan menghadapi dua porsi empal, nasi dan teh pahit panas, “Sama pasar ini, kamu tertarik?”

“Banget, Ben!” Aku antusias, “Kebayang jadi pedagang makanan di sini, pasti seru dan menghasilkan. Rasa-rasanya, bakal banyak pedagang dan pembeli yang lapar.”

“Enggak, ah,” kata Ben bikin dahiku bergelombang, “Jangan dagang di sini. Tapi belanja ke sini dan dagangnya di tempat lain,” cetusnya kemudian.

Obrolan dengan Ben terus menggelinding, khususnya tentang dorongannya agar aku buka usaha sendiri. Aku masih gamang hendak belanja apa di sini dan mendagangkan apa di tempat lain – dimana pula? Dan Ben seperti hadir untuk merapikan semangatku yang sempat terkoyak.

“Kamu ini penguntit, ya?” tanyaku.

“Kok tahu?” tanya Ben, terkesan menggoda.

“Aku gak lagi ngegombal, Ben!” bibirku maju.

“Kalau pertemuan kita di Darmaloka itu memang gak disengaja, Sil,” jelasnya.

“Kalau di sini, disengaja?” serobotku.

“Ya,” tegasnya, “Bahkan sudah diatur,” katanya lagi, bikin aku kaget.

Dari bibir Ben, aku baru tahu kalau dia adalah keponakan Pak Haji, Bosku. Bahkan beliau hampir saja mengangkatnya jadi anak, kalau saja Ben tak memutuskan untuk bisnis fastfood ketimbang meneruskan pertekstilan. Karena itu, Pak Haji yang belum dikaruniai anak memercayakan cabang-cabang tokonya ke orang lain, yang ia percayai dan angkat sebagai anak, tapi nyatanya berkhianat.

Ben sendiri yang membongkar aksi culas anak-anak angkat Pak Haji. Diam-diam, Ben menyelidiki kejanggalan demi kejanggalan yang terjadi di cabang-cabang Toko BT. Ben heran, mereka kerap meminta uang pada Pak Haji, padahal laba toko pun sudah begitu besar. Belum lagi karyawan yang sering mengeluh karena gajinya telat dibayar. Usut punya usut, ternyata mereka tidak menjalankan bisnis dengan amanah. Terbukti, mereka memperkaya diri sendiri. Mereka menimbunnya dengan membeli aset semacam rumah, perhiasan dan tabungan.

Karena jasanya itu, Pak Haji menawari Ben hadiah. Terserah Ben mau apa. Bahkan kalau dia meminta jatah toko pun, Pak Haji akan merelakannya.

“Ajari Silma berbisnis,” itulah permintaan Ben, sweet! “Arahkan dia.” [#RD]

(B E R S A M B U N G)

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *