Mini Novel; “Hantu Goreng” Bagian 5/5 (TAMAT)

Mini Novel; “Hantu Goreng” Bagian 5/5 (TAMAT)

 mini novel hantu goreng bagian 5_5 tamat

“Iya, Dya?” Aku menempelkan ponsel ke telinga kiri dengan cara menghimpitnya pakai kepala dan bahu. Tangan kananku sedang menulis nota, sementara yang kiri memegang perut yang terasa makin semrawut.

“Silma?” dari sapaannya, Miladya seperti sedang ada apa-apa atau merasakan sesuatu yang berkecamuk,”Kita udah sahabatan sangat lama,…”

“Iya?” Aku tak sabar. Kebetulan toko sedang ramai dan ponselku low battery.

“Ng…” Miladya ragu-ragu.

Kalau saja dia ada di depanku, sudah kuguncang-guncangkan bahunya.

“Kamu seneng gak kalau kita jadi saudara? Jadi adik-kakak, gitu?” tanyanya aneh, “Adik-kakak beneran!” tegasnya, kemudian ada sesuatu yang berhembus dalam dadaku, menyejukan.Mungkinkah Miladya ingin aku dan A Fatih menikah?

“Dya?” panggilku berkali-kali, sementara ponsel yang kugenggam sudah gelap.

Pandanganku terusik oleh kedatangan seseorang. Kukucekkan mata, siapa tahu ketiduran atau mendadak bermimpi. Belum cukup, kurobek nota dan kertas itu memang tercabik, bikin seorang pelanggan manyun. Ha! ternyata benar. Apa yang kulihat memang nyata. Ada A Fatih di toko BT. Dia berjalan sambil celingukan. Jodohkuuu!

“Neng?” tangan seseorang sudah menindih tanganku, “Neng Silma?”

“Eh, Teh!” Aku terlonjak menyadari Rilanti sudah ada di hadapan, “Maaf lagi gak fokus. Teteh mau saya tuliskan notanya?”

“Udah tadi,” katanya, lalu mengelus pundakku, “Teteh cuma mau minta maaf soal yang tadi. Teteh lagi PMS, soalnya. Maaf banget ya, Neng? Maaaf banget!”

“Iya, Teh. Gak apa-apa. Silma juga minta maaf sudah ganggu usaha Teteh,” timpalku. Sebenarnya masih marah, tapi di sisi lain memang aku mengaku salah.

Rilanti tersenyum, “Iya sejujurnya Teteh harap Neng bisa lebih bijak,” katanya, “Tapi teteh udah siasati dengan menyediakan alat-alat bayi juga, jadi biar gak mengandalkan kain-kainan aja…”

“Udah belanjanya, Enti?” suara seseorang berhasil membenturkan hatiku dengan kejam, “Eh, Silma!” sapanya. Kini jarak dekat dan panggilan A Fatih padaku terasa begitu membakar ketimbang menenangkan.

Rilanti sempat melongo, mungkin aneh kenapa aku dan A Fatih sudah saling kenal. Aku hanya diam, biar dia yang menjelaskan. Ingin rasanya kupercepat waktu dan mengambil langkah seribu. Aku betul-betul sedang mau tiga hal; menyendiri, berteriak dan menangis.

“Enti, ini adikku, Silma,” katanya tanpa dosa, “Silma, ini calon istri Aa, Teh Enti.”

mini novel hantu goreng bagian 5 1 tamat

***

“Kejutan!” sambut seseorang ketika kubuka pintu rumah. Sementara sakit perutku menggila, kepalaku pusing, hatiku remuk dan badanku ambruk. Pandanganku menghitam.

***

Aku tak ingat kapan bikin janji untuk ketemuan. Sekarang sudah ada aku, Miladya dan Sahbudin di Darmaloka. Dan entah dari mana pangkalnya, kami tetiba terlibat dalam sebuah diskusi; tentang siapa orang yang paling susah di dunia.

“Aku, RanSilma,” jawabanku konsisten, “Gadis malang yang terenggut masa mudanya, yang bekerja keras, yang dikerjain cinta,…”

“Mimihmu,” telikung Miladya, “Ibu yang merangkap jadi ayah, pasti susah.”

Aku tak menampik jawabannya. Perempuan yang mendidik dan menafkahi anak-anaknya sendirian adalah pejuang besar yang tak dikenal. Namun aku tak mau tahu, menjadi RanSilma adalah hal tersulit.

Diskusi kami terus bergulir. Jika aku bersikukuh menjawab ‘aku’, maka Miladya terus mencerocoskan jawaban berbeda. Dia bilang; orang kelaparan, orang trauma, orang lumpuh, orang yang mengidap kelainan mental/spiritual/seksual, koruptor, para pemimpin, dan jawaban terakhirnya lucu, yaitu orang yang fobia hidup!

“Sariawan?” Aku melirik Sahbudin yang banyak diam, “Jawaban kamu apa?”

“Yang tidak bersabar, tidak bersyukur, tidak sholat,” katanya dengan mata mengarah ke kolam, “Se-kaya, se-sehat, se-keren atau se-sempurna apapun dia, kalau dia belum bisa sabar, sholat dan mensyukuri hidup, pasti akan susah. Segalanya jadi keluhan, kegalauan dan penghilang kenikmatan lain yang dimilikinya.”

“Aku takut, Budin. Kehidupan udah kayak hantu. Ganjil dan menyeramkan.”

“Goreng hantunya, Silma!” saran Sahbudin mencairkan suasana. Kami tertawa.

Miladya bangkit dari bangku yang kami duduki. Dia berjalan dan menenggelamkan dirinya ke kolam. Aku menjerit dan hendak mencegahnya. Aneh, kakiku seakan menancap. Kuguncang-guncangkan juga Sahbudin, tapi ia bergeming.

***

Tubuhku terusik. Mataku mengatup, sementara bibirku mengaduh. Kurasakan posisiku terduduk dengan ditopang banyak bantal.

“Silma?”

Seseorang yang memanggilku mengisi sela-sela jemari tanganku dengan sentuhannya. Aku sudah terjaga dan merasa bisa memfungsikan panca indera. Tetapi aku masih sangat lunglai untuk menyahut, bahkan membuka mata secara penuh.

“Apa kamu gak seneng jadi adik aku?” tanyanya. Suara Miladya.

“Luka lambung itu bukan karena kamu, Dya,” suara lain, A Akmal, “Juga bukan karena hubungan kita,” sambungnya dan aku memutuskan untuk terus terpejam.

“Saking sayangnya, Allah memang pengin Silma istirahat,” sambung seseorang. Ha! Sahbudin?Jadi, sekarang aku sedang dikelilingi orang-orang tersayang?

Beberapa saat kemudian, aku agak membuka mata, terpejam ayam. Ingin kulihat mereka. Tapi sayang, A Akmal dan Sahbudin sudah tidak ada di tempat. Tinggal Miladya. Sejurus kemudian, air mataku menyerobot keluar. Terlalu lemah untuk kubendung. Sahabatku itu menyentuh pipiku dan menyeka bulir-bulir hangatnya.

Dia berbisik, “Kamu pasti sakit ya, Silma? Mimih lagi tidur, semalaman beliau begadang. Kalau Koko, dia lagi sholat dhuha, doain kamu. Eh tadi ada A Akmal sama Sahbudin juga loh! Mereka lagi di ruang depan, ngeronda terus. Sekarang cuma ada aku. Aku tunggu kamu. Kamu perlu sarapan, minum obat dan bicara sama aku.”

Terkaannya meleset. Aku tidak terlalu sakit, tapi begitu terharu. Malah sekarang, seperti ada sesuatu yang mengembuskan energi dan keindahan padaku. Dan kuputuskan untuk membuka mata secara perlahan. Apalagi begitu tahu kami hanya berdua.

“Silma?” Miladya memelukku. Dia sudah berhijab sekarang.

Hilang kesadaran kemarin petang, terjaga Minggu pagi ini, serta dikucuri perhatian oleh orang-orang tersayang membuatku agak baikan.

“Aku minta maaf!” seru Miladya dan kutahu pasti airmatanya membuncah, “Sahabat macam apa, aku? Aku gak tahu perasaanmu sama A Fatih. Sungguh!”

“Gak apa-apa,” Aku menimpali dengan perasaan yang lebih ringan, “Kepastian pahit itu lebih baik daripada kebahagiaan semu, Dya,” ucapku, “Kamu tahu dari mana?”

Kami melonggarkan pelukan.

“Kamu terus ngigau,” jawabnya, namun ingatanku payah.

“Dya?” mata kami beradu dan aku teringat sesuatu,“Kamu cinta Sahbudin?”

Miladya menunduk, menyembunyikan wajah yang memerah “Sahbudin cintanya sama kamu, lagipula aku sudah menerima hati yang lain,” katanya dengan suara sangat pelan, lalu tersenyum malu-malu, “Ngomong-ngomong, kok kamu tahu?”

“Dari mimpi,” jawabku, “Maaf ya, Dya. Maafin aku.”

***

Sebulan setelah aku fit, A Akmal melamar atau kata Sahbudin ‘mengkhitbah’ Miladya. Aku sempat memarahi kakakku itu; berani-beraninya berencana menikah sebelum bekerja. Sudah untung Miladya bisa meyakinkan orang tua dan saudaranya.

“Jangan mempersulit orang yang mau menikah,” Sahbudin membela A Akmal.

Sebulan lagi setelahnya, ada dua kabar besar. Pertama, A Fatih resmi menikahi Rilanti. Kabar ini sempat bikin aku tak berselera untuk bernapas. Atau seperti kata Miladya dalam mimpiku dulu; fobia hidup!

Aku jadi sosok yang benci matahari, loyo beraktivitas, tak mau ketemu orang dan dikurangi kenikmatan makannya. Cintaku pada malam, kamar dan kesendirian bertambah. Aku terus menangis, termenung dan meratap. Betapa beratnya menerima kenyataan yang tak sesuai keinginan, hasil yang tak sesuai usaha dan asa yang tak sesuai doa. Mungkin ditunda, diganti atau dipakai untuk melebur dosa-dosa. Semoga.

“Aa diterima kerja di PT Cai Kuningan, Silma!” kabar lain dari A Akmal, “Aa bakal kerja di divisichemical engineering sebagai analis,” lanjutnya dengan wajah lebih sumringah dibanding ketika dia meminang gadis pilihannya, “Memang bukan pendidikan, tapi masih nyambung dengan apa yang Aa pelajari, Silma. Alhamdulillaah!”

Berita yang satu ini ambigu. Di satu sisi, aku begitu bersyukur A Akmal bisa mendapat pekerjaan. Di sisi lain, aku heran juga. Kenapa tidak dari dulu? Kenapa jelang pernikahan? Mungkin A Akmal akan membantuku, Mimih dan Koko lebih lama.

“Siapa tahu calon istrinya yang menarik rezeki ini,” opini Mimih.

***

Aku jadi berhijab seperti Miladya. Kuputuskan gaya berbusana ini dari dalam hati. Dan semua yang sempat menjauh serasa kembali didekatkan, semua yang bikin galau serasa dinyamankan. Miladya dan Sahbudin, mereka terus mendampingi tepat ketika aku membutuhkan uluran hati. Bahkan sudah setahun sahabatku itu resmi menyandang status sebagai kakak ipar yang penyayang, pengayom, dan sederhana.

Miladya memutuskan untuk tinggal bersama kami. Hebatnya, dia tak ‘menguasai’ A Akmal. Gaji suaminya rela dibagi-bagi untuk keluarga kami. Terlebih setelah aku bedrest sebulan, atas permohonan Miladya, aku resign dari Barokah Textile dan pause berdagang. Begitulah dia, yang memang lebih pantas berposisi sebagai kakak ketimbang adikku. Aku jadi malu pernah keukeuhberdoa, menikah dengan kakaknya.

“Aku tau gimana sakitnya jadi adik yang kakak iparnya possesif, gak transparan dan ngomongnya gak disaring,” tutur Miladya, yang kutaksir mengarah pada Rilanti.

Hidupku enak tak enak. Aku menghabiskan waktu di rumah. Sementara A Akmal bekerja, Koko sekolah, Mimih jualan cakwe, Miladya jadi honorer di Kantor Urusan Agama dan Sahbudin jadi pengajar di Ponpes Riyadhul Mubtadiin.

Sebagai gadis dengan jiwa pekerja keras, situasi ini lama-lama membuat hidup jadi makin menakutkan. Aku seperti dihantui sikap diamku sendiri. Karenanya, kusibukkan diri membantu membuat adonan cakwe, menggoreng dan bikin sausnya.

Dan senja ini kami berkumpul. Agendanya merayakan ‘prestasi’ atas lunasnya utangku pada Pak Haji, dibantu semua pihak. Sebagai hadiah, kusajikan cakwe-cakwe gurih yang golden brown, lengkap dengan saus asam-manis dan tehnya. Sahbudin sampai memilih melahap cakwe banyak ketimbang makan berat. Doyan juga dia!

“Cakwe itu artinya hantu yang digoreng,” jelas Mimih, atas request Sahbudin, “Bentuknya kayak dua tongkat yang direkatkan. Itu diibaratkan sebagai Chin Kwe, seorang pengkhianat negara di Tiongkok dulu, bersama istrinya.”

“Kalau Mimih mengibaratkan siapa, Mih?” goda Sahbudin, coba-coba saja.

“Mantan Mimih sama selingkuhannya!” sahut beliau, “Mimih jadi bisa mup on dan membuka hati pada lelaki terbaik, almarhum ayah Silma,” lanjutnya, terdengar geli.

Tetiba, kata-kata Sahbudin dalam mimpiku tempo lalu terus bertalu-talu, “goreng hantunya, Silma!”. Dan kurasa aku tahu, bisnis apa yang ingin kugeluti. Ya, aku ingin membuka usaha cakwe!

Motivasiku bukan karena ingin kaya (saja) atau ingin ‘melampiaskan kekesalan’, laiknya Mimih. Namun, justeru karena rasa takut dan seperti terus dihantui hidup. Jadi jika hantu diibaratkan sebagai sesuatu yang ditakuti, maka aku justeru ingin ‘menggorengnya’ habis-habisan. Sesuai makna cakwe; hantu yang digoreng.

***

“Aku ingin segera menikahimu, Silma,” todong Sahbudin di lain kesempatan.

“Jangan mempersulit orang yang mau menikah,” tukasku, menirukan apa yang pernah ia ujarkan pada A Akmal.

Kuyakin semua bisa menyimpulkan makna dibaliknya. Mantap, aku menerima Sahbudin dengan sukacita. Ia anak tunggal dan merupakan yatim piatu. Tempat tinggalnya di pesantren. Sementara kekayaan satu-satunya sebagai warisan orang tua, yakni berupa kios perkakas di Darma – tempat yang selama ini kusewa demi menyimpan barang belanjaan. Begitulah, laki-laki itu memang tak sekaya-raya yang kuidam-idamkan, tapi dia sesempurna yang kubutuhkan.

***

mini novel hantu goreng bagian 5 tamat

Waktu bergulir dengan cepat, berat, begitu berat, tapi ni’mat

Pagi ini kuajak Mimih untuk mengunjungi semua cabang usaha cakweku. Di Kuningan, Cilimus, Ciawi, Kadugede dan Darma. Seperti biasa, aku akan mengevaluasi semuanya. Jika dipercaya, aku akan melebarkan sayap ke Pasar Tegal Gubug juga. Kurasa variasi cakwe orisinal, balado, tabur aida (cabe serbuk) dan cakwe ‘hamil’ (maksudnya cakwe isian keju dan krim) bisa diterima. Apalagi aku memegang pesan penjual molen di Pasar Darma; yakinkan pembeli kalau produk kita itu halal dan baik.

Kukendarai sendiri mobil perdana kami, Honda Freed merah ati. Sementara suamiku, Sahbudin, memilih motor bergigi saja untuk pulang-pergi ke pesantren. Kami membeli alat transportasi ini dari laba usaha, gaji dan jasa sewa kios perkakas.

Jika aku konsentrasi berkendara dan mematuhi semua marka jalan, Mimih dengan kacamata bacanya sibuk membuka-tutup buku khusus ‘Fried Ghost Mih Imah’. Setelah bosan, ia beralih pada deretan koran. Ada Kuningan Asri. Kaki Ciremai, Cirebon Post, dan Apa Kabar Kota Kuda:

Cerita Inspiratif Pemilik Fried Ghost Mih Imah

Fried Ghost Mih Imah Eksis, Ben’s Burger & Silver Bakery ke mana?

Lagi Nge-Hits; Hantu Goreng ‘Fried Ghost Mih Imah’

Ssst! Ada Bocoran Resep Cakwe Fried Ghost Mih Imah!

“Alhamdulillaahi robbil a’lamiin,” ucap beliau, “Mudah-mudahan Gusti Allah segera mengkaruniai anak sama kamu, Silma. Udah tujuh tahun Mimih menanti. Hambar rasanya kebahagiaan ini,” lanjutnya sambil melipat koran-koran itu dan menatap lurus ke depan.

“Aamiin, Mih,” sahutku pelan.

Doa & usaha udah, gimana Allah saja. Terserah. Mudah-mudahan Allah Swt memberi kesempatan pada kita untuk terus bersama-sama lebih lama. [#RD]

~TAMAT~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *