Ngapain Sholat Jumat? Minggu Depan juga Masih Ketemu Jumat!

Ngapain Sholat Jumat? Minggu Depan juga Masih Ketemu Jumat!

laki-laki sholat jumat

Jumat, 31 Mei 2013

Teman-temanku yang sangat baik memberi info: Jadwal sidang komprehensif-mu hari Jumat, 31 Mei 2013. Nomor urut 11, dengan dosen A, B dan C.

Aku pun berangkat bersama Neneng. Selain rumah kami satu arah, nomor urutnya dekat (12), dia pun memiliki niat yang sama untuk meng-print. Ternyata memang tak ada yang namanya kebetulan, ya? Telah jauh-jauh hari aku menyiapkan kertas A4, kalau-kalau mesti ng-print mendadak. Namun… kertas telah siap, eh printer-nya rusak. Alhasil, aku mesti kembali akrab dengan jasa-jasa print.

“Kita ke M dulu buat ng-print ya, Dian?” sebelum berangkat, Neneng meminta demikian.

“Di dekat prodi Bahasa Inggris aja sekalian, Neng,” Aku menawarkan.

“Memangnya ada? Aku mah gak tau, Dian. Udah langganan sama M.”

“Kalo aku langgananya sama yang di dekat prodi itu. Hehehe.”

Karena lokasi jasa print yang aku tawarkan lebih dekat dengan lokasi kami sidang, Neneng pun tak mengelak. Lagi-lagi, meski rencananya kami meng-print sebelum sidang, nyatanya kami mesti mengurungkan rencana itu. Karena waktu, kami memutuskan untuk melaksanakan sidang terlebih dahulu sampai agak siang.

Sekitar jam sebelas, aku telah merampungkan sidang. Kecuali Neneng, dia masih harus menghadapi seorang dosen lagi. Tetapi karena istirahat untuk melaksanakan sholat Jumat, kami pun memutuskan untuk keluar. Tujuan kami kembali ke rencana awal; nge-print.

Di tempat jasa print itu… seorang laki-laki yang (sepertinya) menjadi penjaga tetap ruko tersebut melayani kami dengan sigap. Aku yang pertama kali meng-print – hanya 22 lembar. Sekitar beberapa menit saja sudah selesai. Giliran Neneng. Dia meng-print sebanyak 90 halaman. Sambil menunggu, aku dan Neneng duduk-duduk sambil ngobrol ngalor-ngidul. Mungkin karena tak lagi sungkan, sang pegawai jasa print (sebut saja A) itu sesekali ikut menimpali obrolan kami.

Ketika menunggu itu, datang bapak-bapak yang hendak mem-potokopi sesuatu. Sayang sekali, mesin potokopiannya tak lagi beroperasi. Tak lama kemudian, datang juga dua orang pemuda. Dilihat dari dandanan dan apa yang mereka hendak print, kami perkirakan mereka itu para mahasiswa. Namun kali ini bukanlah mesin rusak yang menjadi alasan A menolak mereka, melainkan…

“Sorry euy, Bro! Mau jumatan nih, takut telat! Jadi Si Neng inilah yang terakhir…”

“Jum’atan?” sambil mendelik, mahasiswa yang hendak ng-print itu menoleh pada teman di belakangnya. Hanya beberapa detik kemudian, keduanya terkekeh.

“Minggu depan juga masih ketemu atuh sama hari Jumat mah!” enteng saja, mahasiswa yang di belakang itu berujar.

“Iya kayak yang gak bakal ketemu Jumat lagi aja, Bro! Ng-print-nya juga dikit, kok! Buat tugas nih!” timpal temannya, empat belas – lima belas. -___-’

Baik aku maupun Neneng menumbukkan pandangan ke arah A. Dalam hati aku bilang, “Pede amat tuh anak, udah memprediksi Jumat depan masih hidup. Mending kalo iya, lha kalo nggak?!”

Ada bagusnya juga A tidak menjawab apa-apa. Hanya tersenyum ‘cool’ dan bertanya,

“Berapa lembar, Bro?”

“6 lembar doang!”

“Iya deh.”

Kedua mahasiswa itu pun berlalu. Aku dan Neneng langsung saja membicarakan keduanya. Baik Neneng maupun aku sepakat: Dulu, orang batal puasa atau ninggalin sholat dengan sengaja itu sembunyi-sembunyi. Kalau sekarang semuanya serba terbuka dan malah ngajak-ngajak ‘followers’ segala. Ckckck alias ce-ka-ce-ka-ce-ka. -___-‘

Di sela-sela suara mesin printer, aku dan Neneng mendengar adzan berkumandang. Kamipun memberitahu A untuk segera pergi sholat Jumat. Setengah kaget, dia berkata,

“Nitip dulu ya, Neng. Print-an mah masih jalan, tunggu aja. Terus kalo ada yang masuk, gak apa-apa tolak aja. Bilang kalau saya lagi Jumatan.”

“Sip…” jawab kami serempak, “Kalau gak jumatan mah kami juga yang dosa,” Neneng menambahkan, sementara aku meminta izin ikut ke kamar kecil.

Selang beberapa menit, aku keluar dari kamar kecil dan mendapati Neneng telah sendirian. Begitu kutanya, memang benar A telah pergi sholat Jumat.

“Tadi cepet banget ganti bajunya, Dian. Cuma pergi ke belakang bentar, eh tau-tau udah pake koko,” begitulah penuturan Neneng.

“Ooo…”

“Eh, tadi ‘kan A ngajak temannya yang lain tuh, eh malah gak berangkat?!”

“Masak, sih? Emang ngejawab apa? Terang-terangan nolak, gitu?”

“Nggak sih… cuma pas A ngajak, temannya itu bilang ‘iya duluan aja’. Gitu…”

Kami berdua menggeleng-geleng, menyayangkan beberapa kaum adam yang jelas-jemelas mangkir dari sholat Jumat. Padahal kata Pak Ust. Maulana (Islam Itu Indah – Trans TV): Kalau sudah ber-rumah tangga kelak, dosa anak-istri itu ditanggung oleh suami. Dosa suami, ya ditanggung sendiri. Walaaah… jadi, menjadi imam sebuah keluarga itu gak sederhana, ya?!

Se-keren apapun laki-laki, jika mereka ‘tega’ meninggalkan panggilan Tuhan… hum, ‘tega’ juga gak ya meninggalkan tanggung jawabnya pada keluarga? ‘tega’ juga gak ya melumuri ketampanannya? ‘tega’ juga gak ya mengkhianati hati sucinya? hum…. Wallaahu a’lam. [#RD]

Sumber Gambar: Google

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *