Ngobrolin Penulis; Aiman Bagea

Ngobrolin Penulis; Aiman Bagea

novel ketika aiman bagea

Gak terlalu berlebihan kalau aku bilang, ”Siapa sih yang gak kenal cowok muda nan berbakat ini?”

Apalagi akhir-akhir ini dia menjadi salah satu perbincangan ‘panas’ (bukan hangat lagi :D) di jagat komunitas penulis, khususnya dalam jejaring sosial fesbuk. Kiprahnya sebagai penulis muda dikembangkan melalui ‘tetas’nya sebuah novel berjudul… KETIKA (Saat Cinta Bersilangan). Aiman, pemuda rendah hati namun cukup nyocol ini sukses merenggut perhatian penulis serta penyuka sastra dalam fesbuk.

Beruntung sekali aku bisa kenal dan berteman dengannya. Kami dipersatukan dalam persahabatan maya bernama QG; Aiman Bagea (Sulteng), Budi Windekind (Mataram), Diba Azzukhruf (Medan) dan Dee Ann Rose (Jawa Barat). Kadang, aku ‘mencopet’ sesuatu dari sela-sela obrolan dan canda mereka. Eh, malah curhat -__-‘

Well, berikut profil singkat seorang Aiman Bagea…

Aiman adalah pemuda asal Kabaena, Sulawesi Tenggara. Pemuda kelahiran 1 September 1992 (masih cukup unyu! :D) ini memiliki hobi yang terlihat sederhana, namun berbobot, yakni membaca dan menulis. Menurutku, hobi-hobinya ini adalah hubungan parallel yang sempurna (pantes kalau ide, pembendaharaan kata dan diksi karya-karya Aiman itu ‘kaya’ banget). Dari hobi-hobinya inilah diapun bergaul dengan orang-orang yang berminat sama di dunia maya.

Untuk Sahabat (UNSA), grup kepenulisan yang tengah berkembang itu menjadi salah satu media Aiman untuk bersosialisasi, ‘menampakkan’ potensi dan mengais ilmu kepenulisan. Malahan karena persahabatan dan kekeluargaan UNSA begitu kental, Aiman pun begitu aktif dan tak bosan mengikuti berbagai evennya. Bakat Aiman terus berkembang, terbukti dengan beberapa kali menang lomba kepenulisan. Sampai akhirnya Aiman menyatakan diri sebagai ‘pengasah pena di UNSA’.

Dalam suatu even UNSA bertajuk ‘Sumpah Penulis’, fans Ahmad Fuadi ini keluar sebagai pemenang. Sumpah yang ia buat menjadi pecut tersendiri untuknya. Ia bertekad mewujudkan apa yang telah menjadi janjinya. Berikut sumpah Aiman kala itu:

  • Aku akan mengasah pena tiada henti; menulis, menulis dan menulis meski orang-orang meneriaki tulisanku hanyalah seonggok konyolan dan bualan belaka.
  • Aku akan mengasah pena tiada henti; Mendengar teriakan orang-orang yang diam, memicingkan mata hati melihat orang-orang ketika berbicara, membaca mata orang-orang saat memandang, untuk kemudian menorehnya dalam barisan kata.
  • Aku akan mengasah pena tiada henti; Mengeja kejadian-kejadian yang terserak di alam maupun di sekitar, lalu menuangkannya ke dalam putih kertas.
  • Aku akan mengasah pena tiada henti; Konsisten menulis tiap hari meski mood sedang berantakan.
  • Aku akan mengasah pena tiada henti; Meluapkan gelora hati, mencoba merasakan kayu-kayu yang terbakar, mencoba ikut tenggelam dalam aliran banjir, mencoba menjadi api yang berkoar-koar, menjadi sebalok es, menjadi sehelai laying-layang, maupun menjadi rayap-rayap kecil.
  • Aku akan mengasah pena tiada henti; Menghargai buah pena orang lain, mencintai setiap luncuran kritikan dan mengulum selaksa saran yang ber;loncatan pada tulisanku.
  • Aku akan mengasah pena tiada henti; Sampai nanti, selama-lamanya

Uuuu… :’)

Kiprahnya yang makin melejitkan nama serta talentanya sendiri, mengakibatkan dia makin dikenal. ‘Sesuatu’ yang ada di dalam diri Aiman pun terbaca jelas oleh Uncle Dang Aji Sidik (Creator UNSA). Hingga akhirnya… dalam rangka ulang tahun UNSA kedua pada 27 januari 2012, Aiman pun dinobatkan menjadi Mas UNSA 2012, mendampingi Miss UNSA 2012, Diba Azzukhruf (Asal Binjai, Medan).

Lalu… tiba-tiba pada Jumat malam, 08 Juni 2012, pukul 23.21 WIB, aku mendapat SMS ‘kejutan’ dari Aiman. Begini isinya:

TELAH TERBIT novelku.
Judul: KETIKA-Saat Cinta Bersilangan.
Penerbit: Bukune
312 halaman. Harga 38rb. Dapatkan di toko buku terdekat. Thx 🙂
ketika, cerpen, aiman, bagea
Aku amat yakin, gelontoran ucapan ‘selamat’ datang padanya. Aku sendiri ikut ‘speechless’ dan bahagia. Ia pasti benar-benar fokus untuk menjalankan tekadnya, sehingga sebagian dari apa yang ia janjikan telah terwujud. Secara tidak langsung ia telah menepis keraguan sebagian orang bahwa menulis novel itu amat rumit, apalagi kalau tembus penerbit mayor!

Namun Aiman… Ia seolah menegaskan, kalau kita bertekad dan fokus, semuanya bisa selesai dengan hasil memuaskan. Sekedar bocoran saja, Aiman menulis KETIKA hanya dalam waktu 1,5 bulan! Wuih, waktu yang menurutku cukup kilat bagi penulis muda. Isinya murni dari imajinasinya sendiri. Uniknya lagi, ia menggunakan beberapa nama yang ada di dalam grup UNSA sebagai tokohnya.

Sebagai orang-orang yang terinspirasi dari sosok muda ini, semestinya hal yang membuat kita iri tidaklah semata-mata pada hasil akhir yang membahagiakan. Tetapi, pada caranya berjuang, berkorban dan konsentrasi menyikapi masalah maupun ujian-ujian.

Aiman bilang, proses menelurkan novel KETIKA tidak luput dari hambatan. Banyak malah! Tapi, aku begitu yakin, Aiman mampu bahkan telah menumbangkannya. Kepribadiannya yang baik dan menyenangkan memicu teman-teman untuk mencari, membeli, membicarakan bahkan mempromosikannya di dunia maya. Tak ayal, konsekuensi manis pun mesti ia reguk; Dalam waktu singkat, novelnya menjadi ‘penghuni’ daftar ’Best Seller’. Bahkan pada hari Senin (23 Juli 2012), ia menyatakan bahwa penerbit Bukune menelpon dan memberi kabar bahwa KETIKA-nya akan diajukan untuk cetak ulang. Itu artinya, 7000 eksemplar pertama sangat diminati pembaca! Keren, kan? 🙂

Bisa kita bayangkan betapa lebar lengkung senyumnya menikmati perjuangan. Lewat kelihaiannya menaklukan kesulitan dan menggenggam impian, ia telah memahat kebahagiaannya sendiri… Sebagaimana yang pernah ia kutipkan,

“Bahagia bukan berarti tidak memiliki masalah, melainkan mampu menghadapi masalah”. [#RD]

Kuningan, 26 Juli 2012

Dee Ann Rose

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *