Ngucapin Terima Kasih Enggak Bikin Lecet, ‘Kan?

Ngucapin Terima Kasih Enggak Bikin Lecet, ‘Kan?

terima kasih

Sabtu, 13 April 2013

Sore hari, kakakku menangkap raut kesal yang tak sengaja aku perlihatkan. Perlahan, dia menanyakan penyebabnya dan aku pun bercerita…

Hm, padahal sore itu kakakku datang dengan istri dan anaknya. Mereka adalah sosok-sosok yang selalu aku rindu kedatangannya. Keberadaan mereka selalu sukses membuatku menunda pekerjaan dulu, lalu menikmati waktu kebersamaan yang cukup jarang datang. Meski begitu, aku tak dapat menyembunyikan kekesalanku atas suatu hal.

“Kenapa? Santai aja lah skripsi mah,” kata kakak kandungku itu, menduga skripsi adalah penyebab utama raut sebalku.

“Bukan, A. Ini temanku. Aku lagi ngerjain skripsi, dapat sms dari dia. Dia minta bantuan. Udah capek-capek aku balas, eh gak ada ucapan terima kasih sama-sekali. Sepele, sih. Tapi ya kesal aja…” cerocosku.

“Sms apa, emang?”

“Nanyain materi.”

“Jangan dibalas kalau dia sms lagi. Dia mah tipe temen pembawa beban.”

“Tapi gemes aja kalau orang nanya, terus akunya ngerti, ya balas aja…”

“Tapi kesel, kan? Udah gak apa-apa, apalagi orangnya gitu mah…”

“Kalau akunya gak ngerti mah bakal jawab jujur, kok… ”

“Meski ngerti juga kalau orangnya gak menghargai mah, jangan. Mesti tegas. Nih, temen aa juga… dulu dia sering menghubungi sampai sering datang ke rumah buat belajar potografi sama aa. Sekarang dia udah lebih sukses. Eh pas aa nanyain teknis kamera aja balas smsnya singkat banget. Sakit. Dari situ, aa gak bakal murah saran lagi deh, apalagi sama orang kayak gitu!”

Aku tahu siapa yang beliau maksud. Memang benar. Dan karena berbagai pengalaman tidak menyenangkan, aku sendiri sebenarnya agak pilih-pilih juga sekarang. Kalau orangnya memang merupakan sahabat dekat atau teman biasa yang sangat baik, aku akan berusaha membantu semampunya. Malah kadang, jika mereka menanyakan materi atau translate sebuah kata, aku akan sedikit berjuang membuka-buka buku atau kamus. Namun jika orangnya itu asing atau teman biasa yang jarang kontak, aku tak akan terlalu memperjuangkan.

“Terus, ada juga temen. Padahal dia itu jutek banget kalo ketemu. Kayak yang bukan temen aja pokoknya mah. Eh awalnya dia add fesbuk, terus kontekan via hp, lanjut deh datang ke rumah. Bener aja ada maunya. Dia ngerayu-rayu aa buat ikut bisnis MLM-nya, terus langsung nyuruh-nyuruh tetangga aa buat ikutan juga. Padahal aa sendiri belum tentu ikut. Akhirnya tegas aja deh. Aa tolak. Selain gak berminat, gak suka aja sama sikapnya. Bener deh, habis itu kita gak komunikasi lagi…” sambungnya.

Well, sekelumit curcolku merambat. Memang waktu itu aku sedikit kesal dengan polah seorang teman. Sederhana sih. Hanya ingin melihat dan merasakan bentuk penghargaannya atas secuil bantuanku, eh nihil. Padahal ucapan terima kasih saja sangat berharga. Setidaknya ucapan itu cukup berhasil membesarkan hati seseorang yang meluangkan waktu untuk mendengar bahkan mengusulkan solusi.

Sebelumnya, pernah ada seseorang yang meminta bantuan dalam bentuk lain. Ketika itu, aku tengah melunasi undangan seorang teman untuk menulis puisi bertemakan “Palestina” yang akan dia terbitkan menjadi buku antologi. Ketika konsen membaca-baca referensi mengenai negara tersebut sambil menuangkan bait-bait puisi pada layar computer, seorang teman meng-sms. Dia memintaku menulis sebuah puisi romantis hari itu juga. Kalau saja bukan karena sms-smsnya yang terus menderingkan ponselku dan nada-nadanya yang seperti permohonan, aku pun luluh. Otomatis, pikiranku terbelah.

Perasaan tak enak sekaligus kasian membuatku memutuskan untuk menutup sejenak referensi dan puisi setengah jadi mengenai Palestina, lalu mulai merenung. Meski tema puisinya jauh dari Palestina, aku terus berimajinasi mengundang kata-kata romantis. Dengan durasi cukup lama dan rasa pegal tiada tara, akhirnya aku berhasil menyelesaikan puisi romantis tersebut. Tak tahu bagus atau tidak, yang penting aku telah mengirimkan puisi tersebut sesuai “pesanan” temanku itu. Seperti permintaannya, aku pun memberi tahu bahwa puisinya sudah aku buat dan kirim. Dan apa responnya? Hanya; OK. Krik sekali!

Memang, keluh-kesah atas bantuan yang tak mendapat ungkapan “terima kasih” itu menciderai rasa ikhlas. Tapi biarlah Tuhan saja yang menghakimi ikhlas-tidaknya hati. Yang jelas, sebagai manusia biasa, rasa kesal itu tak dapat terhindarkan. Tentu saja, aku kapok untuk sedikit berjuang demi temanku itu. Dalam hati, aku akan pikir-pikir jika suatu hari dia “butuh” lagi.

Namun kejadian itu cukup menampar nurani. Sebab mungkin, aku sadar-tak sadar, telah melakukan hal yang sama pada orang lain. Bahkan aku berpikir; andai saja Tuhan memiliki perasaan, tentu Dia telah lebih dulu merasa sangat sakit atas tiadanya rasa syukur dari makhluk-makhluk-Nya. [#RD]

Sumber Gambar: Google

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *