Perpisahan itu (Tak) Kejam

Perpisahan itu (Tak) Kejam

perpisahan tak selalu kejam

“Perpisahan adalah akhir sebuah pertemuan untuk awal sebuah pertemuan lain.”

Entahlah kata-kata itu benar atau enggak. Yang jelas, kata “perpisahan” itu memang akrab dalam hidup-kehidupan kita, ya? Tak terhitung deh berapa kali kita mesti mengalami fase perpisahan dari sebuah pertemuan, lalu kemudian memulai sebuah pertemuan lagi.

Berpisah dengan dunia anak-anak, berpisah dengan bangku SD, SMP, SMA, dst., berpisah dengan sebuah tempat kerja, berpisah dengan kost-an, berpisah dengan sebuah komunitas, berpisah dengan sahabat, berpisah dengan tempat bertugas, berpisah dengan kesendirian atau mungkin… berpisah dengan kehidupan.

Perpisahan itu, kata orang, merupakan hukum alam. Ia pasti datang. Kedatangannya itu bisa mengendap-endap atau bahkan sangat cepat. Mungkin dalam pikiran kita, waktu berubah sangat kejam manakala ia mengantarkan kabar perpisahan. Benarkah seperti itu? Lebih kejam mana dengan perpisahan yang kemudian saling mengabaikan? saling melupakan? 😀

Ternyata, hal yang terjadi sesudah perpisahan itu cukup menentukan kesedihan akibat perpisahan. Tak seberapa jika aku berpisah dengan teman-teman semasa SMA yang sedang solid-solidnya. Sakitnya itu sementara. Tapi jika setelah perpisahan, mereka tiba-tiba berubah dingin dan lupa, barulah sakitnya akan terasa sangat lama. :’(

Akhir-akhir ini datang mimpi tentang perpisahan. Selasa, 14 Mei 2013 yang lalu, aku bermimpi diriku dan dua kakakku meninggal. Entah bagaimana ceritanya, kami memang seperti tiga roh yang tengah menunggu panggilan untuk pulang. Pulang yang sebenar-benarnya. Jasad kami telah dibalut kain, bahkan ditutup sampai mata. Namun tiba-tiba kami hidup kembali, urung mati.

Mimpi itu memang terasa konyol. Kalau boleh aku kasih judul, maka judulnya; kematian yang tertunda. Hehehe. Sewaktu menceritakannya pada ibu dan adikku pun, mereka tersenyum geli. Padahal jauuuh dalam hatiku, aku begitu takut. Bisa kubayangkan jika hal itu menjadi kenyataan. Toh, meski aku meninggal dengan kedua kakakku, namun tentu kami akan kembali sendiri-sendiri dan merasa sunyi di suatu alam asing. Orang tua, ponsel, selimut, gelar/jabatan, para sahabat, cita-cita yang telah tercapai, dan bahkan dunia sekalipun tak akan bisa menemani kesendirian itu.

Amal. Kata para guru agama, hanya itu yang akan mengiringi perjalanan paling sepi nanti. Aku sering bergidik sendiri membayangkan segelintir amal yang kupunya. Itupun belum dikurangi oleh rasa riya, rakus, sombong, ngegosip, berprasangka buruk, korupsi, menyakiti hati banyak orang, dan seabreg dosa lain. Ternyata ada yang lebih ‘kejam’ dari perpisahan kita dengan dunia, yakni minimnya bekal dari diri sendiri untuk ‘dunia’ baru yang ABADI.

Belum lagi jika setelah perpisahan itu, orang-orang yang masih bernapas perlahan melupakan kita. Setelah berduka sejenak, tertunduk, menabur bunga, melantunkan sepatah doa dan mengunjungi makam kita, mereka akan cepat berlalu ke rutinitas masing-masing. Tak mengingat sedikit pun dengan doa-doa. Duh, itu makin menyakitkan. Hm… ya, mimpi itu sedikit membuatku parno. Aku… aku seperti… diintai sesuatu. -_-‘

“Mimpi seperti itu mah pertanda rezeki, Yang,” Ibuku membesarkan hati.

Mungkin cuma kebetulan. Aku dan kedua kakakku memang benar mendapat rezeki yang sebelumnya tak kami sangka, hari itu juga. Sayang, menjelang sore adikku membawa kabar yang kembali menyengat dada,

“Ayo ke rumah Mak XXX, beliau lagi sekaratul maut, Teh!”

“Masak, sih? ‘Kan bentar lagi beliau mau umroh?”

“Emang kalo bentar lagi mau umroh gak boleh meninggal, yah?”

“Ng… hm, eh, kata siapa? Jangan sembarangan, ah!”

“Kata Pak YYY yang bekerja di rumah tetangga kita itu, Teh.”

“Allaahummaghfirlahaa wa’aafihaa wa’fu ‘anhaa…” gumamku bergetar, tak kuasa kutahan takut yang datang. Lagi-lagi, aku mengingat mimpi dan ‘perpisahan’.

Singkat cerita, ibu datang membawa nasi kotak. Aku yang telah dirundung takut tergopoh-gopoh menghadap beliau dan mengkonfirmasi kabar duka tersebut. Rencananya aku ingin mengunjungi rumah Mak XXX tersebut bersama beliau.

“Hah? Kata siapa? Nih makanan juga dari beliau. Barusan ibu sama ibu-ibu pengajian lain mengaji di rumah beliau, sekalian silaturahm sama yang mau berangkat umroh. Biar dapet berkah gitu…”

“Hah? Alhamdulillaah…, berarti beliau masih hidup!” seruku, serasa kabar baik yang kudengar itu adalah rezeki yang sangat besar.

Namun demikian, rasa kesalku pada adik dan seorang pekerja di tetangga sebelah cukup meninggi. Adikku itu hanya terkekeh dan kembali menyalahkan sang pekerja.

Terlepas dari gurauan yang ‘sungguh terlalu’ itu, aku kembali berandai-andai. Jika saja Mak XXX memang meninggal, tentu kami akan sangat sedih sebab ‘momen’ berpulangnya itu tepat jelang keberangkatan umroh. Tapi… Malaikat Izroil tentu akan mengabaikan momen atau apalah. Entah mau lagi bahagia kek, lagi betah-betahnya kek, lagi muda-cerianya kek, lagi naik daun kek, dst, waktu berpisah raga dan ruh tak bisa di-pending. Tak bisa.

Hhh… ternyata ada yang lebih ‘kejam’ dari perpisahan kita dengan dunia, yakni minimnya bekal dari diri sendiri untuk ‘dunia’ baru yang ABADI. Wallaahu a’lam. [#RD]

Sumber Gambar: Google

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *