Rangkuman Pelajaran dari Bimbingan Skripsi

Rangkuman Pelajaran dari Bimbingan Skripsi

skripsi 2

Kamis & Minggu/ 02 & 05 Mei 2013

Kata orang bijak, orang yang berkualitas dapat dilihat dari caranya menghargai waktu. Kata para pemuka agama, menghargai waktu itu mesti seimbang dunia dan akhiratnya.

Pernyataan di atas memang bijak. Intinya waktu tak akan pernah beristirahat sejenak. Ia akan terus berjalan, peduli amat kita mau memanfaatkannya atau bahkan menyia-nyiakannya. Hm, andai saja bisa istikomah atas pemikiran tersebut, tentu waktu akan ‘ramah’ pada kita dengan sendirinya. Heuheu

Kamis, 02 Mei 2013
Hari ini aku dkk membuat janji dengan dosen pembimbing 2 untuk melakukan bimbingan skripsi. Seharusnya jadwal kami itu pagi, namun beliau ternyata mesti melakukan upacara Hari Pendidikan Nasional dulu. Maklum, selain menjadi dosen, beliau juga tercatat sebagai guru sebuah SMA negeri. Maklum juga, aku dkk tak ingat peringatan tanggal 02 Mei tersebut, tahu-tahu juga dari akun yang ramai mengupdate status. Hehehe

Malaaas sekali kalau jadwalnya mundur seperti itu. Mengetahui bimbingannya pagi, aku jadi ‘on fire’. Aku dkk memang sangat menanti waktu bimbingan. Bagaimanapun, kami perlu berkonsultasi mengenai konten dan strukturnya. Tetapi begitu jadwalnya menjadi siang, semangatku bagai kerupuk yang terguyur hujan. Melempem. Kalau bukan karena dorongan teman, mungkin sekarang aku telah menyesal.

Alhasil aku, Tita, Dewi, Teh Fera dan beberapa yang aku lupa namanya, hadir bimbingan sekitar pukul satu siang. Untuk bimbingan kali ini, Ibu dosen lebih teliti dan detai memeriksa hasil kerja kami. Karena aku urutan kedua, tak berapa lama kemudian isi kertas calon skripsiku pun beliau komentari. Hasilnya, aku mesti lebih teliti dalam mengutip teori, menyimpulkan, mencantumkan contoh-contoh kalimat, memperdalam materi ‘context’ dan syukurlah beliau merestui untuk melanjutkan kerja pada bab berikutnya.

Tetapi, ini nih yang membuatku bingung; kata beliau sesekali aku mesti menyelipkan kata ‘the writer’ dan jangan ‘the study’ terus, sedangkan menurut pembimbing 1-ku ungkapan semacam ‘the writer/researcher/author’ itu ungkapan yang narsis dan sebaiknya dihindari. Beliau juga memintaku untuk menulis outline berdasarkan prodi saja, berbeda lagi dengan dosen pembimbing 1-ku yang telah merekomendasikan outline-nya sendiri. Usai beliau membimbingku, aku tercenung sejenak. Gamang juga sejenak. Akhirnya aku hanya bisa mengonsep rencana-rencana untuk melakukan revisi dan melanjutkan analisis.

Karena hasil kerjaku telah selesai dibabat habis, aku sedikit kesal hendak melakukan apa. Kulirk sana-sini semuanya sibuk dengan kertas masing-masing. Iseng-iseng kulihat Dewi yang kebagian urutan akhir bimbingan tengah menatap kertas-kertas lain.

“Liat judulmu, Dew!” seruku sambil pura-pura memerhatikan kertas kerja Dewi, padahal tentu saja aku telah mengetahuinya. Dewi sendiri pasrah saja menyodorkan kertas tersebut dengan raut aneh, “Masih ini judulnya?” tanyaku lagi sekadar bercanda.

“Hahaha. Ya iyalah!”

“Yakin gak mau ganti?”

“Udah tanggung nyemplung, jalani aja.”

“Wuih! Katanya susah?”

“Yakin aja lah, lorong panjang pun pasti ada titik terangnya,” katanya lagi membuatku tak berselera untuk mendebatnya.

Ucapan Dewi terakhir membuatku menyesali rasa malas yang pernah aku rasakan sebelum berangkat bimbingan. Andai saja aku menuruti si rasa malas, tentu aku telah membunuh waktuku sendiri. Kemungkinan tak akan tercipta suasana bimbingan seperti Kamis lalu dan kemungkinan kecil juga aku tak akan mendengar secuil nasihat berharga temanku itu.

Minggu, 05 Mei 2013
Hari ini menjadi salah-satu hari yang paling aku tunggu. Pasti teman-temanku yang senasib pun sama-sama menantinya. Ya, sekarang adalah jadwal bimbingan skripsi dengan para dosen pembimbing 1. Karena mereka merupakan dosen dari UPI Bandung, pertemuan dan waktu bersama mereka pun menjadi sangat berharga.

Atas rekomendasiku, aku dan Tita berangkat 1 jam lebih telat. Kebiasaan jadwal dosen Bandung yang telah 1 jam-an membuat kami sedikit malas untuk sekadar bermalas-malasan karena menunggu lama. Beda halnya di rumah, kami bisa melakukan pekerjaan rumah dulu, menonton tv dulu atau kembali merevisi bakal calon skripsi. Heu

Tak lama setelah kami tiba di kampus 1, para dosen datang. Aku, Tita, Lia, Intan dkk segera membuat absensi bimbingan. Dari sekitar 42 mahasiswa, aku kebagian nomor urut 6. Kami pun segera ‘merapat’ ke sebuah kelas ‘langganan’ di lantai 2 bersama sang dosen, Pak Iwa. Seperti biasa, kami menempati kursi-kursi depan. Namun,

“Kok ada yang memakai jas almamater? Emang lagi ngapain?” tanya beliau.

“Lagi sidang komprehensip, Pak,” jawab kami. Kebetulan hari itu tenga diadakan sidang komprehensip gelombang 1. Aku sendiri berniat mengikutinya di gelombang 2.

“O, ya udah yang mau sidang dulu. Yuk mari bimbingannya duluan,” putus beliau.

Aku melihat ke sekitar. Yang memakai jas almamater ada sekitar 3-4 orang. Aku memperkirakan nomor urutku menjadi sekitar 10-11. Meski kecewa, kami berusaha merelakan. Tetapi lama-lama yang memakai jas almamater makin banyak. Temanku nyeletuk,

“Terus aja terus jas kuning, percuma absen awal juga kalo keselip mulu mah!”

“Apa mesti pinjem jas dulu, yah?” timpalku.

Aku mengedarkan pandangan. Kali ini yang nampaknya hendak sidang makin banyak saja. Kebetulan ada yang posisinya dekat, di belakangku. Aku pun bertanya,
“Emang sidangnya belum, A?”

“Belum euy!”

“Emang berapa nomor urut sidangnya?”

“Aa mah masih jauh, nanti kayaknya kebagian siang atau sore deh!”

Glek!!!

Ini nih yang luput dari pertimbangan dosen pembimbing 1 kami… Urutan berapapun, selama ada jadwal sidang komprehensip, terus saja didahulukan. -_-‘

Semakin lama waktu semakin memanjakan mereka yang hendak sidang, walaupun jelas-jelas mereka baru saja datang. Meski aku dkk duduk di urutan depan, tapi tak bisa rasanya jika kami mesti mengheningkan cipta. Demi menunggu waktu giliran, kami pun terus saja mengobrol, ngemil dan poto-poto. Barulah ada instruksi yang membuat kami diam sejenak,

“Dari tadi saya merasa bersalah yah sama yang udah datang duluan terus kebagian absen awal. Kasian mereka menunggu lama terus antriannya keselip sama yang baru dateng. Udah deh sekarang mah dari urutan 1 berdasarkan absen aja. Sekarang mah meski yang mau sidang kalau datangnya belakangan ya maaf saja urutannya sesuai dengan kedatangan saja. Silakan nomor 1 dan 2 maju…”

Aku mengembuskan napas lega. Secara dari tadi waktu kami terbuang sia-sia, padahal sengaja kami ingin segera bimbingan sebab memang telah tersusun rencana-rencana setelahnya. Ya meski keputusannya terkesan telat, tapi cukup memuaskan. Kami jadi kembali konsentrasi membuka bab demi bab yang hendak diajukan.

Beda dari bimbingan sebelumnya, kali ini prosesnya lebih detail. Meskipun dosen kami itu bertipe humoris dan gampang menggelontorkan guyonan, namun tak jarang juga ada yang kena ‘semprot’ begitu tajam disertai coretan-coretan merahnya. Beberapa membuat kami mematung dan menghentak jantung. Apalagi ketika nomor urut 5 dan 6 disebut!

Usai menghirup napas sepuasnya serta membaca “Laa haula walaa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘adziim”, aku pun melenggang maju bersama seorang kawan. Kawanku nomor 5 dulu yang menerima wejangan. Perasaanku sedikit terusik ketika raut beliau telah capek dan kecewa. Aku jadi buruk sangka beliau akan melampiaskan kemarahannya pada siapapun, meski kita tak salah. Hadeuh…

Tiba giliranku. Seperti biasa, beliau meminta kertas yang telah dicoret pada bimbingan skripsi sebelumnya. Kebetulan waktu itu hanya ada selembar kertas yang beliau coret, itupn pada bagian ‘research question-nya’. Sesaat setelah aku menyerahkan hasil kerja terbaru, beliau memeriksanya.

“Lumayan!” Beliau bergumam dan tanpa disangkan menyimpulkan senyumnya, “lumayan kali!”

“Ih Si Bapak mah…” kataku dongkol, selalu saja dibuat ‘gondok’.

Bab awal lewat, nyaris tanpa komentar. Memasukki bab selanjutnya, ada satu halaman dalam sebuah paragraph yang mengganggu perhatian beliau.

“Yang ini mah cara mengutipnya kurang tepat,” kata beliau sambil menuliskan sesuatu dengan tinta merahnya. Aku mengikuti tulisan tersebut. Betapa terkejut dan sedihnya aku ketika tahu beliau menulis kata “plagiat” pada paragraph tersebut.

“Ih kok plagiat, Pak? Engga, kok! Engga plagiat! Kan dicantumkan sumbernya, dari George Yule halaman 9.”

“Ngutipnya bukan begitu. Salah ngutip itu udah jadi plagiat bahasa… benerin, ada caranya kok!”

Aku hanya mendengus. Aku kira “plagiat” tersebut disematkan karena aku telah diduga meng-copy paste. Ckckck…

Bab 2 hanya satu halaman. Bab selanjutnya 4 halaman sekaligus. Halaman yang satu, beliau memintaku untuk ‘to the point’ menuliskan research design. Halaman berikutnya beliau memintaku untuk merubah point-point analisis menjadi paragraph saja (padahal ketika aku membuatnya menjadi paragraph, dosen pembimbing 2-lah yang mencoretnya). Dua halaman selanjutnya, benar dugaanku, beliau hanya mencoret outline dari prodi (sesuai instruksi pembimbing 2). Jadilah 5 halaman yang hanya dicoret tak sampai sepertiga kertas, paling kata ‘method’ mesti diubah menjadi ‘design’, terus kata ‘collecting’ menjadi ‘collection’, dst. Perbedaan pandangan antara pembimbing 1 dan 2 menjadi salah-satu alasan besar aku mesti merombak outline bab 3 yang tak sampai 5 kata.

Bimbinganku usai. Meski dicoret-coretnya ‘nanggung’, namun ada kelegaan tersendiri. Aku jadi tak gamang lagi. Apapun alasannya, aku akan menuruti pembimbing 1 saja. Dengan penyampaian santun, aku rasa pembimbing 2 akan memahaminya. [#RD]

Sumber Gambar: Google

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *