Resensi Buku; Siluet Sang Perindu

Siluet Sang Perindu; Lantunan Doa dan Kerinduan dalam Sebuah Persahabatan

Judul buku      : Siluet Sang Perindu Resensi Buku Siluet Sang Perindu Hw Prakoso

Penulis             : HW Prakoso

Penerbit           : Deka Publishing

Cetakan           : Cetakan Pertama, Oktober 2013

Halaman/Isi     : x + 88 hlmn/11,5 x 19cm

ISBN               : 978-602-7915-41-1

Harga              : Rp. 28.000,00

 

“Rindu menggebu” dan “persahabatan sejati” nampak tampil sebagai kata kunci atas lahirnya buku ini. Tak terelakkan, kerinduan memang kerap datang pada setiap orang. Keberadaannya menjadi bukti bahwa ada fragmen-fragmen masa lalu yang amat berharga, yang maknanya baru terasa ketika waktu secara halus menyapunya. Termasuk masa-masa ketika bisa memahat jejak bersama para sahabat. Jika dulu kebersamaan itu berstatus sebagai sesuatu yang “biasa”, maka setelah waktu dan keadaan memisahkan, kebersamaan itu berubah status jadi sesuatu yang “luar biasa” dan mengharukan.

Buku ini berisi rentetan perjalanan penulis bersama sahabat-sahabat SMA-nya. Dari mulai menjadi “anak baru” di sebuah SMA, bergabung dan merajut persahabatan dalam naungan Kepanduan Hizbul Wathan (HW), mengikuti Jambore Wilayah Se-Jawa Tengah di Karanganyar, tersesat saat mengikuti Tadabur Alam, menghadapi pilihan pelik antara kehidupan pribadi vs persahabatan sendiri, menjadi panitia inti dalam Jambore Daerah HW pertama di Tegal, menelan kepahitan atas meninggalnya salah seorang sahabat, kembali ke realitas dunia kerja sampai akhirnya terdampar ke provinsi lain, bekerja dan meniti mimpi.

Menilik konten buku, maka buku ini cocok untuk semua usia dan kalangan. Jika pembaca masih dikelilingi sahabat-sahabat sejatinya, buku ini menjadi salah-satu penambah motivasi untuk makin menjaga, mengokohkan dan mempertahankan ikatan persahabatan itu. Sebaliknya, jika pembaca telah dipenggal jarak dan kesibukan dari sahabat-sahabat sejatinya, lagi-lagi buku ini tampil sebagai alarm untuk kembali menjalin tali silaturahim. Sebab, segala hal yang telah terlewatkan bersama para sahabat, sejatinya ada dalam genggaman kita – …untuk dikenang atau hanya tinggal kenangan? (HW Prakoso, 2013:53).

Cover buku begitu apik dan menarik. Warna ungu berpadu dengan hitam menyiratkan kesenduan karena rindu yang mendalam, sementara pendar oranye dibelakang siluet sang penulis seolah menunjukkan percikan doa dan asa. Tepatnya harapan bahwa rindunya yang tak biasa – kelak – berbuah persahabatan sejati nan bertabur keberkahan. Ilustrasi gambar berupa siluet Si Penulis menajamkan fakta bahwa isi bukunya memang based on true story, sekaligus mempertegas betapa rindu itu benar-benar meremas perasaannya. Adapun siluet burung-burung yang berkelebat seakan mewakili kenyataan kalau penulis dan sahabat-sahabatnya telah “mengepakkan diri” ke berbagai tempat, menjalani kesibukan demi meraih cita-cita yang tergantung di sana. Sementara ketebalan dan ukuran buku, jenis huruf, footnote, paduan narasi-dialog yang baik, dst, mendukung daya tarik serta kenyamanan membaca.

Karena based on true story, pemaparan dalam buku ini mengalir dan mudah dicerna pembacanya. Mengalir, sebab isinya memang berloncatan dari memori penulis sendiri. Bahkan isi kejadian, waktu, tempat, daftar orang-orang yang terlibat, hal-hal menarik dan segala detail di dalamnya terpapar dengan tulus dan menggelontor begitu saja. Tak jarang, penulis pun secara tidak langsung “menyelundupkan” hikmah-hikmah dibalik peristiwa yang dialaminya, baik ketika sendiri maupun bersama para sahabat. Adapun penyajiannya yang mudah dicerna datang dari ke-original-an bahasa yang penulis gunakan. Diksi-diksi yang dituturkannya pun begitu populer di mata pembaca, sehingga tak perlu mengerutkan dahi lama-lama ketika memahami ceritanya.

Keputusan penulis untuk mempertahankan dialek dan gaya bahasa ngapak ala Tegal, nyatanya menjadi keunggulan tersendiri untuk buku ini. Meskipun gaya bahasa dan kosakata tersebut awalnya menjadi pembeda antara penulis dan para sahabatnya, namun siapa sangka ke-khas-an itu pula yang memadukan perbedaan mereka. Sehingga buku ini menyembulkan salah-satu pesan, bahwa perbedaan – jika dihadapi dengan bijak – justeru mampu menjadi pemersatu dalam persahabatan. Buku ini juga dilengkapi dengan puisi dan koleksi poto penulis beserta sahabat, yang makin menusuk kalbu karena rindu.

Namun tak ada buku yang sempurna, termasuk buku ini. Dilihat dari pengalaman-pengalaman penulis dengan para sahabatnya, ditambah dengan kompleksitas kejadian-kejadian tertentu, menyebabkan buku ini terbilang tipis. Sehingga terkesan ada keterbatasan ruang untuk mengeksplor kisahnya.

Terlepas dari sekelumit kritik tersebut, buku ini tetap menjadi rekomendasi bacaan untuk setiap orang. Sebab, Siluet Sang Perindu menjadi salah-satu bukti kalau persahabatan sejati itu memang ada dan patut dijaga. [#RD]

Resensi Buku Siluet Sang Perindu

*Resensi ini diikutsertakan dalam lomba yang diadakan oleh sang penulis, HW Prakoso. Dan… Mas HW, terima kasih banyak buat hadiahnya. ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *