Sebuah Balasan

Sebuah Balasan

sebuah balasan

“Waktu adalah ladang. Niat, ucap dan perbuatan adalah tanaman-tanaman. Terawat baik, berbuah kebajikan. Terawat buruk, berbuah kebusukan.”

Makna dari kata-kata tersebut mungkin lazim kita dengar. Namun memang, pesannya senantiasa terulang. Ia tak hanya berwujud kata-kata, malah menjadi kenyataan yang sehari-hari di hadapan.

Sabtu, 20 Oktober 2012, senja menurunkan cahaya ke sisi baratnya. Mata cahaya yang mengantuk itu memang terlihat, usai hujan beberapa saat. Aku yang dari pagi telah mengikuti kuliah, memutuskan pulang dengan seorang teman. Sebut saja dia, Mutiara. Orangnya supel dan ceria.

Kami pulang menggunakan jasa angkutan umum. Di sebuah perempatan, ada seorang ibu berjilbab yang naik. Usianya kutaksir sekitar 58 tahunan. Beliau membawa barang yang cukup banyak; kardus, corong yang cukup besar, tempat nasi kotak yang banyak, serta plastik hitam. Angkotpun melaju. Namun jelang perempatan berikutnya, sang ibu berseru,

“Duh, Mang! Kue serabi saya ketinggalan!”

“Di mana, Bu?” tanya Pak Sopir, ikut panik. Namun semua tahu, jalan itu hanya satu jalur.

“Di perempatan yang pertama, Mang. Saya ambil dulu, boleh?”

“Boleh… Cepet ya, Bu?!”

“Takut lama?!”

“Ya jangan dong, Bu!”

Si ibu keluar. Tetapi baru sekitar 3 langkah, dia masuk dan duduk lagi,

“Gak jadi, ah… Cuma 5rb ini, biarinlah…”

Meski berkata seperti itu, namun raut wajahnya menyiratkan ‘rasa sayang’. Aku yakin si ibu masih sangat ingin mengambil kue serabi tersebut, hanya saja merasa iba pada sang sopir jika mesti menunggu lama. Rupanya pendapat hatiku disetujui oleh Pak Sopir. Dia berkata,

“Ambil aja, Bu. Saya tunggu. Tapi jangan lama-lama, ya…”

Mendengar saran sekaligus ‘restu’ itu, buru-buru sang ibu keluar lagi. Dengan tergopoh ia menuju perempatan pertama, mengambil sesuatu yang telah menjadi haknya.

Sembari mengisi waktu menunggu, aku dan Mutiara mengobrolkan banyak hal. Yang menjadi topik utama yaitu tentang curahan hatinya. Dia mengklaim sering dilukai hatinya oleh orang-orang yang dicinta (pacar dan mantan-mantannya). Kubiarkan Mutiara meloloskan semua unek-uneknya. Kadang meletup, redup sebentar lalu meletup lagi. Sesekali kusela ucapannya, sebagai tambahan dan bahan pertimbangan saja. Sampai akhirnya tercetus kata darinya,

“Tapi lebih baik disakiti sih, daripada menyakiti.”

“Bukannya lebih enak sebaliknya? Hehehe…”

“Iya sih… Kalo berpikirnya pendek mah, emang kayak enak menyakiti daripada disakiti.”

“Maksudnya?”

“Kalo menyakiti itu mungkin puas pas awalnya, tapi bakal menyesal dan tak tenang setelahnya. Mending kalo bentar?!”

“Oh…” Aku mengangguk-angguk.

“Nah, kalo disakiti mah ya pasrah aja. Toh gak lama, Cuma sementara. Selalu ada jalan buat ketawa dan mengalihkan pikiran dari semua rasa sakit. Gak merasa salah, gak ada penyesalan dan tenang, gak ada beban.”

Aku mengulum senyum, mulai mampu menarik benang merah dari semua yang Mutiara ucapkan. Kutelusupi binar matanya. Sinarnya yang makin terang seolah meyakinkan kalau semua yang dituturkannya itu memang benar. Dan memang, Mutiara yang kukenal adalah sosok ceria. Apalagi sifatnya yang supel membuat dirinya senantiasa dikerubungi banyak teman dengan latar belakang beragam. Merekalah, tentunya, yang dominan mengalihkan pikiran dari segala masalah yang tengah ditanggungnya.

Tak terasa, angkot yang dari tadi diam dan telah didahului kawanannya, berangsur-angsur penuh penumpang. Sang ibu yang pergi ke perempatan pertama pun telah datang. Melihat itu, Pak Sopir tersenyum. Garis bibirnya mengguratkan kegirangan dan rasa lega. Ia pun menyalakan dan mengemudikan benda sumber kehidupannya dengan keluarga.

Kuyakin, salah satunya atas kemurahannya untuk mempermudah dan meredam kesulitan yang dihadapi sang ibu, Allah SWT utus banyak penumpang dengan segera selaku buah dari sikap manisnya. Angkot yang kutumpangi itu bergerak dengan tenang. Sementara pikiran dan hatiku, entah kenapa, serasa lapang. [#RD]

*Catatan 15 November 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *