Sebuah Penantian (tak) Berbuah

Sebuah Penantian (tak) Berbuah

penantian tak berbuah

Sabtu, 06 April 2013

Statusku sebagai mahasiswi yang tengah bimbingan skripsi cukup beralasan untuk merasa sangat senang saat mendengar kabar, “Hari ini bimbingan dosen Bandung!”

Ya, dosen pembimbing 1-ku merupakan dosen tamu dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Tepatnya yang aku hormati dang banggakan, Pak Iwa Lukmana M. A, Phd. Maka, pertemuan beliau pun menjadi momen yang amat berharga. Sedang dosen pembimbing 2-ku adalah dosen Universitas Kuningan (UNIKU). Beliau adalah sosok dosen yang cerdas nan lembut, Bu Ii Wasita Dra, M. Hum.

Namun yang membuatku kurang senang adalah posisi kampus yang berpindah, dari kampus 2 ke kempus 1. Kondisi itu tentu semakin membentangkan jarak. Selanjutnya, financial. Jika bimbingan dengan dosen tamu, kita mesti siap-siap merogoh kocek tambahan. Terlebih lagi jumlahnya amat besar untuk ukuran mahasiswa. Heuheu

Namanya juga system, tentu sulit diubah. Walau ada itikad baik dari petinggi program studi, secara riil-nya belumlah nampak. Intinya “wind of the change” itu masih belum tegas. Namun karena posisi kami dalam keadaan butuh, mau tak mau hal itu dipenuhi juga.

Well, untunglah temanku (Tita) mengajakku serta ke kampus. Kebetulan dia membawa motor. Jadi aku tak perlu turun-naik angkutan umum. Padahal sebetulnya aku lebih menikmati proses tersebut, tapi kondisi angkutan umum ke kampus 1 lumayan menguras waktu. Alhasil, aku terima dengan senang hati tawaran Tita itu. Dan sekitar pukul 13.10, kami berangkat. Temanku itu sempat terhenti hendak membawakan helm untukku. Tapi karena pertimbangan waktu, aku putuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Karena itulah, Tita susah-payah menyusuri jalan-jalan tikus. Kami pun sampai sekitar pukul 14.00. Sedikit beruntung, acara bimbingan belum mulai, jadi kami bisa bersantai dan melepas rindu dulu. Di dalam bangunan baru, berhadapan dengan mesjid kampus itu, aku dkk duduk-duduk di tangga kiri (dari gerbang masuk). Ada Anti, Sarah, Teh Chika, Teh Erny, Dewi dan Tita. Sesekali yang lain berhenti, lalu pergi lagi. Khusus aku, Dewi dan Teh Erni membuat topic obrolan sendiri, yakni mengenai “deksis”.

Kebetulan pembahasan skripsi kami memang sama, seputar deiksis. Aku membahas tentang deiksis pada lagu, Dewi pada film dan Teh Erny pada iklan. Tengah seru mengupas salah-satu bahasan pragmatic itu, Sarah melambaikan tangannya, mengajakku ke ruang Program Studi (prodi), “Ada Pak Iwa!” katanya. Aku pikir, nanti juga ke kelas?!

Obrolan berlanjut. Tak lama kemudian, datanglah salah seorang petugas prodi menenteng absensi mahasiswa yang dibimbing dosen Bandung. Benar firasat kami, beliau menagih uang bimbingan “tambahan”. Meski mayoritas merasa berat, (maklum uang bimbingan skripsi resmi telah kami bayar) namun kami menuruti saja. Tak ada alasan lain selain kelancaran bimbingan.

Di tengah suasana tagih-bayar itu, rombongan teman-temanku yang juga dibimbing Pak Iwa berbondong-bondong k eke ruang prodi. Aku dkk juga mengekori. Di dalamnya ternyata telah ada 4 mahasiswi yang konsultasi sama Pak Iwa, termasuk Sarah. Ah, agak menyesal juga aku tak mengindahkan ajakannya. -_-‘

Akhirnya, aku dkk masuk “waiting list” bersama puluhan teman lain. Kami pun duduk di kursi-kursi yang tersedia di prodi. Makin lama, makin panjang saja antriannya.

Masih dalam kondisi kesal itu, Pak Dadang (dosen Bandung lain) datang dan meminta kami untuk mencari kelas saja. Memang suasana prodi jadi hiruk-pikuk oleh keberadaan kami. Nah, di sinilah awal klimaks dari mendidihnya hati.

Berduyun-duyun kami mencari kelas kosong. Tak lama, kami langsung menempati kelas IIC, di lantai 2 (sebelah kiri dari tangga). Di sana kami menanti cukup lama sekali. Tiap bertanya, jawab Pak Iwa, “15 menit lagi.”

Beberapa saat sebelum beliau muncul, beredar kabar, “Hari ini yang bimbingan skripsinya 10 orang saja!”
GRI Sector Guidance
Jangan ditanya, kami yang memang telah bayar segera siap siaga. Dalam hati masing-masing, kami ingin menjadi salah-satu dari 10 orang yang dimaksud. Tak lama, Pak Iwa masuk dengan raut sedikit suntuk,
“Wah, banyak sekali. Ada 30-an, yah?” ucap beliau sambil menghitung pelan mahasaiswa/i di hadapannya, “Tapi yang mau Bapak ‘urus’ hanya 10 orang saja…”

Yah…, kami bergemuruh.

“Ya udah, siapa saja yang penelitian eksperimen?”

Yang mengangkat tangan ada lebih dari 10 orang, bahkan lebih dari 20-an. Aku dan beberapa teman yang memilih penelitian kualitatif tentu mematung saja.

“Wah banyak juga. Tapi gak apa-apalah. Sisanya silakan di dalam buat mendengarkan, tunggu di luar atau pulang juga boleh. Kita ketemu lagi, besok. Bimbingan dengan para pemilih kualitatif mesti agak personal,” tutur beliau, membuat aku dkk memilih ke luar untuk pulang.

Firasat buruk kami terwujud. Penantian kami benar-benar tak terjawab. Tak heran, rasa galau pun memanjang. Kami menuruni tangga dengan perasaan lemas, tak karuan.

Di dekat gerbang masuk, aku sedikit berbincang bersama Teh Anih dan Uus. Kami mendiskusikan laporan dan souvenir untuk PPL. Ah, urusan yang satu ini ibarat ‘polisi tidur’ yang mengusik kenyaman perjalanan. Namun bagaimana lagi, kami memang mesti menuntaskannya.

Tak lama, aku dan Tita menaiki motor. Dia sempat menawariku bakso. Namun karena sedang tak berselera, aku menolak dan mengusulkan otak-otak saja. Syukurlah, dia setuju. Dan masih karena ketiadaan helm, kami mesti membeli makanan ringan itu ke jalan pramuka (kampus 2).

Begitu sampai di sana, Si Mang-nya tidak ada. Dan demi menunggu beliau datang, aku dan Tita mengobrol dulu dengan anak-anak Biologi (Ninis, Dudi, dkk). Si Mang tak kunjung muncul. Tercetuslah ide Tita untuk meracik otak-otak, tempura, sosis, nugget, dll-nya sendiri.

“Kamu jadi saksi aku. Aku jadi saksi kamu. Kita belajar jujur, Yang,” katanya.

Aku menurut saja, toh memang aku pun ingin segera menyantapnya. Segera secara bergantian kami memilih, memotong, memasukannya dalam plastic dan membumbuinya sesuai selera. Setelah selesai, aku berinisiatif untuk menulis secarik surat dan menyelipkan sejumlah uang.

Usai mencicipi dan tergelak sebentar, kami pun pulang lewat Perum Korpri Cigintung. Di tengah perjalanan, kami sempat mampir di mesjid dan sekitar wilayah yang konon akan menjadi tempat dinasnya Pak Bupati. Di sana ia juga ia sempat berhenti, membuatku sedikit bertanya-tanya,

“Kenapa?”

“Otak-otaknya enak euy!” katanya, sambil membuka bungkusan otak-otak hasil racikan sendiri. Alhasil, kami memakan makanan itu di pinggir jalan.

Otak-otak ludes dan dengan sigap Tita menyusuri jalan yang membawa kami pada route elf. Di Cigugur, kami sempat terhenti lagi untuk membawa minum. Aku lumayan kewalahan menahan rasa pedas. Hehehe

Hanya beberapa saat, kami segera melanjutkan perjalanan. Dan begitu sampai di rumah, barulah terasa, betapa sakit dan kecewanya sebuah perjalanan yang ditempuh tanpa membawa ‘apa-apa’.

Namun bagaimanapun, hari ini telah terlewati. Yang bisa kuharapkan hanya esok, yang lebih baik dan bermanfaat lagi. Aamiin. [#RD]

Sumber Gambar: Google

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *