Selebrasi Ultah SMAN Kadugede Ke-22 (Bagian 1)

Selebrasi Ultah SMAN Kadugede Ke-22 (Bagian 1)

selebrasi ultah 1

Selasa, 02 April 2013

Mantan sekolah SMA sekaligus sekolah mitra telah beranjak dewasa, rupanya! 😀

Well, pagi ini adalah pagi yang biasa saja. Hatiku juga tawar. Tak ada rasa “exciting” maupun “bad temper”. Hari ini aku seperti mengalir saja, pergi menuju sekolah mitra; SMAN 1 Kadugede, untuk menghadiri perhelatan ulang tahun sekolah sekaligus perpisahan PPL sederhana bersama guru-guru.Sekitar jam 8, aku dan Wulan tiba di sekolah. Sebelum menyeberang jalan, aku disambut Ase (potografer sekaligus adik sahabatku, Iid, yang kuliah di UII Yogyakarta) beserta cameramen-nya.

Begitu di gerbang, beberapa siswa menyambut dan menyalami kami. Mereka adalah anggoa paskibra, pencak silat dan beberapa petugas pembawa kuda. Mungkin mereka bertugas menyambut dan menjemput orang-orang penting semacam Camat, Kadisdik, Komite dan Kepala Sekolah. Beberapa diantara mereka adalah anak X5 dan X6; Siti Novi R (yang senantiasa kupanggil Shofi atau Isabel), Ully dan Yasmin. Masih di sana, Ketua PPL (Aef) kami menyapa,

“Langsung ke ruang praktikum. ya?”

“Iya.”

Mangkir dari perintah, aku dan Wulan malah ke kantor dulu. Kami menyalami guru-guru, rekan-rekan praktikan PPL yang lain sekaligus mengajak serta mereka menuju tempat yang Aef tunjuk. Alhasil, kami jadi punya banyak pengikut. Hehehe

Dari kantor guru, jalan ke depan melewati sebuah taman kecil dan belok kanan, melewati gerbang yang terbuka lebar. Di sepanjang sisi kiri terdapat lukisan-lukisan yang terpajang. Di sisi kanannya terdapat lapangan basket yang tengah menampung panggung dan deretan kursi, mengayomi pelbagai agenda ultah. Panggungnya di sebelah utara. Sedangkan di tepi kedua sisi terdapat stand-stand dari kelas X dan XI. Di sebelah kiri terdapat 3 stand dari perwakilan X1-X9 dan di sebelah kanan terdapat 4 stand dari XI IPA dan IPS. Siswa/i-nya sendiri telah memenuhi kursi, stand-stand dan di sekitar lingkungan sekolah maupun panggung (khusus panitia).

???????????????????????????????

Daku dan kawan-kawan sesama praktikan PPL

Kami sendiri berbelok menuju ruang praktikum yang ternyata berubah wujud menjadi tempat makan. Aku yang masuk pertama kali disambut oleh Bu Hj. Iin, Bu Evi, Bu Wiwin, Bu Lilis dan guru-guru lain. Karena belum saatnya bersantap, kami pun keluar lagi dan sempat mengisi beranda laboratorium bahasa. Di sana yang kami lakukan hanya mengobrol dan berfoto. Padahal, acaranya telah mulai. Nampak anak-anak bergemuruh. Mungkin penyambutan tamu telah dilaksanakan. Kabarnya, Pak Kepala Sekolah dan Pak Kadisdik akan disambut dan dibimbing naik kuda menuju kursi tamunya.

“Ke sana, yuk?!” ajak Mela. (“ke sana” maksudnya ke deretan kursi di depan panggung)

“Kamu aja dulu, nanti kalo ada yang kosong, kabari kita. Hihihi,” candaku.

“Iya, takut penuh,” tambah Meli.

“Nggak, ah. Di sini aja. Panas, tau!?” Wulan menolak.

Beberapa yang lainnya memilih “no comment” atau menggeleng-geleng. Mela, tanpa disangka, pergi duluan. Tak berselang lama dia balik lagi,
“Ada yang kosong. Hayuk!”

Aku, Teh Itha, Meli, Aef dan Teh Tika yang mengekori. Kami duduk diantara guru-guru Smansaka, anak-anak SMP/Mts dan guru-guru pendampingnya juga. Lumayan nyaman posisinya. Tetapi walau teduh, tetap saja suasana panasnya memprovokasi keringat. Heuheu…

Begitu duduk, siswa/i dari paskibra mempertontonkan kebolehannya. Dengan kostum merah menyala, hentakan kaki yang total, seruan yang membakar dan gerakan-gerakan yang apik menambah nilai performa mereka. Keren sekali. Beberapa yang kukenal adalah Andika (XI IPA 1), Lita kelas X3 dan Siti Novi R (X6). Sebelumnya, ada juga pertunjukan pencak silat dan penyambutan menggunakan kuda (sayang, aku tak menyaksikannya).

Seniman/wati beserta alat-alat music tradisionalnya memenuhi panggung. Ada yang memainkan kecapi (Fiona Artha X5), degung/gamelan, gendang, angklung, dst. Di atas panggung bertuliskan “Pinton Wewesan 22 Tahun SMAN 1 Kadugede”. Sedang di bawahnya tertulis tema acara “Dari Seni Menuju Karakter Bangsa yang Bermartabat.” Hum… simple, namun ‘ngena’.

Master of Ceremonies (Insan kelas XI IPA 2 dan Rina Komalasari X3), mulai mengendalikan acara formalnya. Seperti kebiasaan Smansaka, mereka pun memakai Basa Sunda sebagai pengantar acara. Ah, jadi inget sobat-sobat lamaku; Si Inoy dan Si Inggit! 😀

Agenda pertama diisi oleh pembacaan ayat suci Al Qur’an. Pembaca Alqur’an atau qori’ah-nya adalah Intan Nuroctaviani kelas X4 dan pembaca sari tilawahnya yaitu Nurfaidzah XI IPA 3. Suasananya cukup khidmat. Baik Intan maupun Nurfa bisa “menyihir” penonton dengan bakat yang mereka punya. Two thumbs up for you, Girls!

Usai Intan dan Nurfa menunaikan tugasnya, kami menyanyikan lagu “Indonesia Raya”. Tim oubade Smansaka bernyanyi dengan sangat apik. Intensitas latihan yang cukup tinggi membuat suara mereka begitu padu terasa. Kami, penonton yang berdiri, mengiringi dengan semangat yang mereka tularkan.

Selanjutnya sambutan-sambutan. Sambutan yang pertama diisi oleh Ketua Panitia (Reka). Cewek berjilbab itu memaparkan segala yang berkenaan dengan kegiatan ulang tahun SMA. Pembawaannya tenang. Meski membaca, namun cewek berkacamata itu pandai memainkan “eye contact” terhadap audience. Dan diam-diam, aku merasa salut padanya; pada kepemimpinannya untuk mengemas acara yang kerennya terpampang nyata! *standing applause!

logo SMAN Kadugede

Selanjutnya dari Bapak Komite Sekolah (Pak Kyai H. Endon Diyauddin). Seperti biasa, beliau memadukan sambutan dengan nilai-nilai islami di dalamnya. Tak ayal, sambutan itu pun dihujani hadist, khususnya tentang ilmu dan rasa syukur (mensyukuri usia Smansaka). Lalu Bapak Kepala Sekolah (Pak Maryanto). Aku selalu suka gaya berkomunikasi beliau di depan public. Sangat berisi dan apresiatif. Beliau menderaskan pujian dan rasa bangga atas kinerja panitia (khususnya OSIS) untuk acara ultah tersebut. Beliau juga menciptakan sesuatu semacam yel-yel untuk menyulut kebanggaan siswa/i Smansaka. Hebatnya lagi, siswa/i-nya sangat menyambut antusias ketika beliau berseru,

“Smansaka?”

“Yes!”

“Smansaka?”

“Is the best!”

“Smansaka?”

“Jaya!”

Nyaris semua murid meneriakannya dengan penuh gelora. Terakhir, Bapak Kadisdik (Pak Maman). Suara beliau itu ‘laki’ sekali. Hehe. Perawakannya pun gagah. Mula-mula, beliau mengomentari penyambutan ala Smansaka (ternyata pengalaman pertama bagi beliau ketika naik kuda), seni tradisional yang dipampangkan anak-anak (membuat beliau terkagum-kagum), jumlah murid Smansaka yang tiap tahun kembung, tak adanya catatan miring tentang Smansaka, dst.

Acara sambutan selesai, lanjut pada acara yang kata MC, “Pagelaran seni tradisional asuhan Pak Jaja Pujadi”. Alat-alat dan personel mulai beraksi, di atas panggung tergelar layar hitam, lalu dari belakangnya tersembul 5 wayang. Tak lama, ada 2 suara laki-laki dan perempuan pembaca puisi (dari praktikan PPL; Meli dan Yogi). Di tengah-tengahnya, Meli melantunkan beberapa bait puisi sunda tersebut. Tak lama, muncul sosok “Si Cepot”. Bagiku pribadi, sungguh mengejutkan. Terlebih lagi pengisi suaranya memang mirip “Asep Sunarya”. Ah, selalu ‘kece’ Si Cepot ini. Hehehe

Acara belum selesai. Tak lama, datang seorang penari (Suci, XI IPA 1). Dengan kostum tradisional, dia mulai menari tari topeng (masih tanpa topeng). Sambil diiringi music dengan penabuh gendang eksklusif (Pak Jaja sendiri), Suci menari dengan energic, lentur dan dinamis. Dari proses latihannya pun, dia telah menunjukkan totalitasnya. Hebatnya Suci itu, walau dia adalah penari tunggal, namun penonton tetap suka. Berkali-kali kami menghujaninya dengan tepuk tangan meriah.

Kini tiba bagi Suci untuk mengenakan topengnya. Dan seketika dia berubah. Lebih maskulin. Dia pun bermonolog ria. Adapun pengisi suaranya adalah Pak Jaja. Perlu aku tegaskan, beliau adalah guru seni yang serba bisa (khususnya dalam penguasaan seni suara dan alat musik). Isi yang disampaikan Suci-Pak Jaja berupa nasihat dalam balutan guyonan dan gelak tawa yang membahana. Tak jarang kami terpingkal dengan ulah dan joke-jokenya. Sungguh, aku sendiri sangat meni’mati. Sampai akhirnya Suci menanggalkan topeng dan ‘kembali’ menjadi dirinya sendiri.

Tarian belum berhenti. Usai Suci meninggalkan panggung, datanglah Gilda (X3), Gina (X9) dan Erin (X9). Ketiga gadis dengan kostum terang itu cukup membuat penonton membelalakkan mata. Penampilan mereka sangat cantik, ditambah gerakan-gerakan mereka begitu seirama. Musik gamelan pun masih setia mengiringi, namun kini dilengkapi pula dengan ke-10 pemain angklung. Wah, semakin semarak saja! 😀

Ketika MC membacakan acara selanjutnya, mula-mula lancar, namun kalimat-kalimat terakhir cukup membuatku dan penonton lainnya tercengang,

“Salajengnya nabeh gong minangkala tepang taun SMAN 1 Kagudege. Dihaturanan ka Bapak Kadisdik disarengan ku Bapak Kepala Sakola kangge nabeuh gong 22 kali, sapertos yuswa SMANSAKA ayeuna. Penonton disumanggakeun ngadeg, sasarengan ngetang.”

Artinya: Selanjutnya menabuh gong sebagai simbolisasi ulang tahun SMAN 1 Kadugede. Dipersilakan kepada Bapak Kadisdik disertai Bapak Kepala Sekolah untuk menabuh gong sebanyak 22 kali, seperti usia SMANSAKA sekarang. Penonton diharap berdiri, sama-sama menghitung.

Kukira menabuh gong sebanyak itu bakal agak lama, ternyata singkat juga. Hehehe. Namun kudengar celetukan seorang guru (identitas dirahasiakan. Hehehe),

“Nanti kalo usianya udah 100 bagaimana, ya? Hahaha.”

Setelah menunaikan permintaan panitia, Bapak Kadisdik dan Bapak Kepsek pun duduk kembali. Lalu, waktu membawa pada acara pengumuman lomba-lomba (antar SMP/Mts). Pak Maman (guru Bahasa Indonesia sekaligus Basa Sunda) yang membacakannya. Adapun jenis lombanya yaitu lomba olimpiade sains, pasanggiri degung, pupuh putera dan pupuh puteri. Perlahan namun pasti, masing-masing peserta (ada juga yang diwakili gurunya) maju dan menerima hadiah. Mau sombong dulu, ah. Sekolahku dulu (MtsN Darma) menjadi juara 1 olimpiade sains sekaligus merebut piala bergilirnya. Hehehe. Adapun pemenangnya atas nama M. Arif.

Seorang pemenang pupuh putera berkesempatan menampilkan kebolehannya. Suaranya yang agak ng-bass itu begitu beruntung, beriringan dengan alunan kecapi Pak Jaja Pujadi.

Begitu selesai, seseorang memanggilku dari belakang. Rupanya Bu Hernawati dan Bu Evi,

“Makan dulu, Dian?!”

“Iya, Bu. Nanti mau ngajak yang lainnya juga.”

“Sms aja yang lainnya. Hayuk… Hayuk…” Bu Hernawati memapahku menuju ruang praktikum.

Dengan segera, kuseret rekan-rekan yang terdekat; Meli, Teteh Tika, Teteh Itha, Mela dan Aef. Di muka ruangan praktikum tersebut, aku mengetik sms dulu, memanggil yang lainnya. Bu Ucu dan Bu Herna lagi-lagi mendesak kami,

“Ayo, Dian. Awali sama kamu!” perintah beliau. Mungkin karena aku alumni, jadinya selalu jadi pengajak yang lainnya.

Kami pun masuk dan Bu Hj. Iin langsung menyambut, lengkap dengan sodoran piring,
“Ayo… Ayo…”

“Lho, kok kita duluan, Bu? Sama ibunya juga, dong?!” kataku sama beliau dan guru-guru yang melayani di balik meja perasmanan.

“Iya nanti kami nyusul. Gampang kita mah. Kan nanti kalian mau ada kegiatan lagi.”

Aku menuruti saja. Aku dan rekan-rekan PPL makan bersama guru-guru lain (kebanyakan laki-laki) yang tengah makan dan tamu-tamu (termasuk Pak Kadisdik dan staf, Pak Camat dan staf serta mantan Kepala Sekolah waktu aku kelas X. Beliau juga menjadi dosen Bahasa Indonesia di kampusku. Seseorang yang menyedot rasa takjubku; Pak Kasiyo).

Makan selesai. Begitu kami keluar, acara hiburan telah mulai. Waktu itu ada yang sedang menyanyi (aku tidak terlalu memerhatikan). Aku hanya melihat penampilan mereka, namun belum terlalu meni’matinya. Kerennya itu, mayoritas hiburannya berupa nyanyian. Tetapi antusiasme penontonnya tak berkurang. Semakin siang, semakin garang. Hehehe. Walau demikian, panitian mengumumkan,

“Sekarang ‘break’ sholat dzuhur dulu.”

“Kemana nih, kita?” Tanya Teteh Itha.

“Pulang aja?” kataku.

“Nanti aja dulu, pengin liat hiburannya,” timpal Mela.

“Ya udah, sholat, yuk? Wajahku pengin disentuh air nih dari tadi,” kataku, akhirnya.

“Haha, sama. Hayuk!” kata Mela yang langsung ditanggapi positif Teteh Itha.

Kami bertiga berjalan menuju mushola. Kulihat Fenny (kelas XII),

“Katanya mau nyanyi, Fen. Kapan?”

“Lho tadi yang bawain Cinta Satu Malam itu aku, Teteh.”

“O… yah…”

“Nanti tampil lagi, kok. ABG tua. Hehehe.”

“Sip deh!”

Obrolan terputus. Kami bertiga menuju mushola, sedang cewe manis itu entah ke mana.

“Hari ini kita sholat terakhir di mushola ini, Miss,” Teteh Itha bicara dengan nada memprihatinkan, terus ikut-ikutan anak-anak memanggil “Miss”.

“Iya, Teh. Alhamdulillaah, akhirnya.”

“Ih, Miss mah.”

Dialog terputus. Di mushola yang sesak oleh jemaah itu, kami berusaha menentramkan diri lahir dan batin. Dan, cukup berhasil. ^_^ [#RD]

Bersambung ke… Selebrasi Ultah SMANSAKA Ke-22 (Bagian 2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *