Selebrasi Ultah SMANSAKA Ke-22 (Bagian 2)

Selebrasi Ultah SMANSAKA Ke-22 (Bagian 2)

selebrasi ultah 2

Selasa, 02 April 2013

Ba’da sholat dzuhur, aku, Mela dan Teh Itha menuju area panggung hiburan. Rupanya semua kursi telah penuh. Penonton tengah menikmati sesuatu, semacam dokumenter (katanya dari alumni, namun entah dari angkatan berapa). Sementara Meli dan Teh Tika masih damai berada pada bangkunya.

Cuaca yang sangat menyengat membuatku sedikit frustasi untuk bertahan. Teh Itha telah memberi isyarat untuk pergi menuju depan lab bahasa. Aku pikir, mending pulang, dari pada menuju ke sana. Toh, hiburannya tak akan terlihat jelas.

Beruntung, satu per satu ada kursi kosong. Walau posisinya masih tersorot matahari, setidaknya kami bisa duduk. Teh Aisyiah (rekan PPL prodi Bahasa Indonesia) datang dan gabung. Detik demi detik, suasananya makin membakar. Aku duduk dengan keadaan sangat tidak nyaman. Mela usul,
“Pindah ke stand siswa aja, yuk?”

“Ke mana?”

“Tuh!” (dia menunjuk stand, di mana terdapat siswa/i X4, X5 dan X6-nya)

Aku tak langsung nurut, “Di sana aja.” (aku menunjuk stand yang ternyata milik X1, X2 dan X3. Menurutku, lebih dekat dan ‘space’-nya lebih luas).

Satu per satu, mulai dari Mela, Teh Aay, Teh Itha lalu terakhir aku, pindah menuju stand yang kumaksud. Jenita, Neng Fitria dan Isnaenul (X5) menemani kami. Syukurlah, aura di sana lebih adem. Kami sedikit bisa konsen menikmati sajian hiburan dari panitia.

Selanjutnya host mengumumkan bahwa penampil berikutnya akan menyanyikan lagu Bendera-nya Cokelat. Kebetulan, band dan lagu itu sangat kusuka. Aku jadi teringat sosok Kikan, mantan penyanyi Cokelat yang juga kukagumi suaranya. Heu. Ah, anak-anak 2013 tapi masih menyanyikan lagu zamanku? Syukurlah. Hehehe. Penampilan mereka cukup bagus dan berhasil menghentak penonton. Susah sih, kalau lagu dan band aslinya juga super wow! 😀

Penampil berikutnya dari guru, yakni Pak Sunardi. Beliau membawakan lagu dangdut berjudul “Selayang Pandang”. Sejak zamanku, beliau memang cukup getol menjadi partisipan ketika hiburan. Memang lagunya kurang familiar, namun aku berusaha meni’mati liriknya. Duhai, ‘ndangdut’ memang selalu melenakan pendengaran. Heuheu

“Sekarang masih dari aliran dangdut. Kami persilakan Teh Fenny dan temannya membawakan lagu ABG tua!”

“Horeee!!!”

Begitu host selesai mengumumkan tampilan berikutnya, penonton langsung histeris dan mayoritas dari mereka maju menuju area depan panggung. Area itu cukup luas, jadi bisa menampung banyak anak. Semoga aku tak berlebihan, namun jumlah penonton yang maju untuk joget sekitar 80-an anak. Makin petang, jumlahnya makin tak ter-prediksikan. Sadaaap!

Fenny-nya sendiri bisa “menghipnotis” penonton untuk maju dan ikut goyang bersamanya. Dia tak hanya menguasai lagu dan panggung, namun juga ‘luar’ panggung. Sempat ada insiden ketika music ‘mati suri’, penonton bergemuruh. Haha :D. Lalu ketika menyala, mereka bersorak kembali. Sangat bergembira. Mereka bergoyang se-enjoy mungkin, seolah-olah ingin melepas kepenatan khas sekolah (walau sejenak). Begitu music selesai, penonton dengan tertib kembali ke tempatnya.

“Menyanyi sudah, kini kita tampilkan dancer kita. Selamat menikmati!”

Yang kulihat 2 siswi maju ke depan panggung untuk mulai menari. Baru saja mulai, anak-anak telah maju menutupi pandanganku. Bagian depan panggung begitu sesak. Bahkan beberapa penonton di barisan tengah sampai belakang, mesti menaiki kursi mereka masing-masing. Semuanya merapat, hendak melihat siapa dan tarian seperti apa yang akan disajikan. Se-antusias itu! Maklum, dari tadi seni suara terus. Alhasil, aku tak dapat meni’mati total pertunjukan tersebut. Oh ya, perlahan aku jadi ingat grup dancer sewaktu aku SMA (kalau gak salah, namanya Bazooka Dancer), yang diasuh oleh Ajeng, Ina, dkk. Hehehe.

“Sekarang kita tampilkan sebuah grup band, dengan nama The Front Enemy. Mereka akan membawakan lagu One More Night-nya Maroon 5!”

Penonton bertepuk tangan. Riuh. Aku pribadi langsung memberi ekspektasi yang spektakuler dari band itu. Dari sekian lagu yang telah dibawakan, pemilihan One More Night-nya Maroon 5 cukup menarik. Benar, aku dibikin penasaran oleh aransmen music dan lagu ala band itu. Harapanku kembali menggelora begitu megetahui semua personilnya perempuan. Wuih…

Sayang, jeda ketika persiapannya lumayan lama. Kami agak jenuh juga. Namun kemudian, mereka pun beraksi. Vokalisnya, pianisnya, drummernya, gitarisnya dan bassist-nya. Tentu tidak sama dengan musikalisasi dan pembawaan band aslinya. Dan aku sempat, yang tadinya tegang menanti, jadi agak kendor. Entah kenapa, serasa kurang maksimal. Tapi… yang sangat kukagumi dari mereka adalah keberanian untuk keluar dari “comfort zone”, personilnya unik, lirik lagu bahasa Inggris tentu lebih sulit dan tetap ada kesan bahwa mereka itu berkualitas.

“Saatnya penyanyi solo. Kita persilakan penyanyi kita membawakan rindu-nya Agnes Monica!”

Ajib! Lagu Agnes yang nada rendahnya sulit diimbangi dan nada tingginya sulit dicapai itu mengalun dengan syahdu. Keren. Pantas saja kami secara tidak sadar terus menghujankan tepuk tangan.

Oh ya, di tengah-tengah… Aef (Ketua PPL) sempat ‘mencuri’ waktu untuk memberikan kenang-kenangan kepada pihak sekolah (diwakili oleh Bapak Kepala Sekolah). Hadiah tersebut sejujurnya adalah permintaan sekolah sendiri. Sudah lumrah bahwa tiap tahun, anak praktikan PPL akan memberi kenangan dalam wujud benda kepada sekolah mitranya. Hanya saja bentuknya berbeda-beda. Kebetulan kata seorang guru,

“Daripada nanti hadiah buat sekolahnya mubadzir, kami tentukan saja apa yang diperlukan sekolah. Contohnya dulu ada yang memberi kipas angin. Namun secara kondisi, tentu kipas tidaklah diperlukan di daerah sedingin ini. Terlebih lagi, kipasnya cepat rusak. Jadi untuk tahun ini kami rekomendasikan saja hadiahnya.”

Kami selaku praktikan mampu memahami maksud baik guru tersebut. Jadi kami hanya menurutinya saja. Namun demi kesuksesan acara pula, selain kado, kami juga memberikan sedikit sumbangsih dalam bentuk uang untuk menambah biaya konsumsi guru-guru dan praktikan PPL.

Tapi sudahlah, kita lanjut lagi. Aef juga sempat meng-screen share poto-poto dokumentasi praktikan PPL. Iringan lagu NOAH sempat mengheningkan suasana.

“Sedih euy!” komentar Meli, sementara Teh Itha memang sudah dari kemarin-kemarin menyatakan kehilangannya akan SMA ini.

Aku sendiri hanya tersenyum simpul. Dalam hati, aku ingin sedih, tapi memang kenyataannya gak sedih. Perasaanku tawar menghadapi akhir dari PPL. Tidak sedih dan tidak senang. Rata saja. Hum, entahlah…

Sayang sekali, poto-poto tersebut kurang ‘up date’ dan dari kuantitas juga kurang banyak. Aku sendiri beneran lupa, tidak meng-up date dokumentasiku bersama anak-anak X5 dan X6. Tapi, gak apa-apalah. Udah berakhir, kok! Hehehe. Kita lanjut.

“Kali ini band dari sekolah kita bakal bawain lagu dari Rosemary-Punk Rock Show!”

Ternyata band yang host maksud adalah band-nya Indra dan Lulu (X4). Mungkin campur dengan kelas X lainnya, hanya saja aku tak kenal. Band ini juga berhasil menggaet penonton untuk maju ke area joget. Benar saja, yang terhipnotis semakin banyak. Terlebih lagi, sang vokalis begitu lihai berkomunikasi dengan penonton. Tanpa mengedepankan ego, dia malah mengundang penonton lebih banyak dan memprovokasi mereka untuk ikut bernyanyi dan menari. Yeah!

“Yuk kita tampilkan penyanyi solo lagi, dengan lagu dari Titi DJ!”

Seorang gadis berjilbab dan berkaca mata membawakan lagu dari Titi DJ dengan percaya diri. Host pandai juga menempatkan penyanyi tersebut sebagai ‘spasi’ dari lagu yang mengakibatkan goyangan, dengan lagu yang cukup dini’mati sambil ngangguk-ngangguk. Hehehe

“Kita lanjut ke band lagi, dengan lagunya berjudul Just A Friend!”

Lagi dan lagi, penonton yang aktif segera memenuhi area joget. Aku rasa, walau pun penyanyinya membawakan lagu gak jelas sekalipun, selama musiknya mengundang goyangan, penonton akan tetap maju dan mengekspresikan diri. Beneran, kekompakan dan kerelaan penonton untuk menghebohkan acara selayaknya diberi apresiasi yang tinggi.

“Ada satu penampilan dari guru lagi. Yaitu dari Pak Bayu. Silakan, Pak!”

Begitu mendengar siapa yang maju, penonton dengan reflex langsung memadati bagian depan panggung. Agak geli juga ketika guru seni lukis dan gambar maju, beliau menenteng kertas cukup besar berisi lirik lagu.

“Belum hapal benar. Latihannya Cuma sekali. Maklum aja,” kata beliau, yang ketika bernyanyi dibantu Pak Roni di belakang. Hehehe

Walaupun begitu, anak-anak tetap antusias. Mereka tetap menari, seolah-olah mereka memiliki tenaga lebih yang tak habis-habis. Bisa dibayangkan joget beberapa kali dalam suasana berdesakkan dan matahari tengah terang-terangnya? Wajah-wajah mereka menjadi merah tomat dan bulir-bulir keringat terlihat memenuhi muka dan jidat. Mungkin karena bawaannya asyik, banyakan dan iramanya ‘rege’, jadi mereka tetap ‘joyful’.
reggae-music1
Ketika itu, padahal yang menyanyi dan joget itu orang lain, namun aku yang malah haus. Aku, Meli, Teh Aay dan Teh Itha pun menuju koperasi siswa untuk membeli minuman. Ah, lumayan damai juga nih tenggorokan! 😀

Lanjuuut.

“Oke, demikianlah penampilan band terakhir…”

“Yaaah…” kata penonton yang kecewa. Riuhnya.

“Sekarang saatnya kita tampilkan band tamu yang pertama!”

Kembali, penonton riuh-rendah memasukki area joget. Jumlahnya makin berlipat. Semakin petang, semakin ‘hot’ dan semakin membakar semangat penonton untuk berpartisipasi dalam bentuk joget massal. Mirip ‘flash mob’, tapi dengan gerakan yang rupa-rupa warnanya. Hehehe

Pembawaan lagu dan music band ini sedikit berbeda. Lebih matang. Bisa dikatakan, dari semua band yang tampil, hatiku lebih terpincut pada band yang membawakan 3 lagu ini. Aku jadi ingin maju dan bergabung meluapkan ekspresi juga. Ah, andai masih jadi siswa. Hehehe. Walau tabuhan drum-nya itu cepat, namun aku bisa menikmatinya. Musik seperti ini memang sudah tak asing di telinga, terlebih lagi adik-adikku memang suka band-band seperti Superman Is Dead, Burgerkill, Marjinal, dkk. Kadang diam-diam, aku sering mendengarkan band-band rock juga (sembunyi-sembunyi dari adik-adikku itu). Jadi semuanya baik-baik saja. 😀

Menariknya pas lagu kedua, mereka membawakan lagu “Someone Like You”-nya Adele versi super beda. Karena sangat lekat dengan telinga kawula muda, mereka tak kesulitan ketika meminta kami ikut bernyanyi. Namun sayang, pas lirik “I heard that you found a girl…”, mereka tidak mengganti “girl” dengan “boy”. Padahal kalau penyanyinya versi cowok, mereka mesti mengganti satu kata sederhana namun cukup mengubah makna tersebut. Hehehe. But over all, they’re amazing!

“Selanjutnya kita sambut ‘Scooby Cat’!”

Penonton belum beranjak. Yang ada malah semakin menggila. Apalagi band tersebut formasinya unik dan personelnya agak banyak. Mereka menambahkan seruling dan alat tiup semacam saxophone atau apa gitu (yang biasa Tipe-X bawa) sebagai instrumen music andalannya. Jadi aliran rege yang mereka usung seperti ‘kawin’ dengan nuansa tradisional juga. Hermoso!

“Sekarang penampilan terakhir dari band Gamaican!”
reggae2
Setelah dipanggil, band tamu terakhir itu sangat cerdas ‘memprovokasi’ penonton untuk menambah jumlahnya dan makin total goyangannya,
“Yang masih duduk, ayo berdiri. Ini yang terakhir!”

Penonton ada yang kasak-kusuk ikut membujuk teman-temannya yang mematung,
“Iya ih, besok mah udah belajar lagi. Ayo sekarang terakhir!”

Sukses. Area depan panggung tak lagi mampu menampung hampir ratusan siswa/i Smansaka yang bergelora mengekspresikan dirinya. Jiwa dan darah muda mereka meluap-luap. Walau wajah telah merah, banjir keringat, dan penampilan acak-acakan, namun mereka tetap larut dalam euphoria goyangan bersama.

Kami yang diam di tempat (menahan diri, tepatnya. Haha), merasa terhibur juga. Beberapa kali mataku menangkap adegan lucu ketika mereka berjoget mengikuti irama lagu. Ada anak berkostum SMP (entah dari mana) yang goyang sendirian di tepi para dancer dadakan lain, ada yang joget sambil merem-melek padahal di depannya itu guru matematika, ada yang joget namun tidak nyambung dengan musiknya, ada yang joget mirip lari di tempat, ada yang jogetnya over spirit, ada yang joget asal menggerak-gerakkan jari atau kelingkingnya, dsb. Yang bikin iri itu, mereka yang joget bareng sahabatnya. Wah…

Cahaya senja semakin deras mengguyur bumi. Acara perayaan ulang tahun Smansaka pun usai. Kuyakin anak-anak pulang dengan rasa senang dan rasa pegal-pegal yang bergandengan. Mereka tentu memonggok sensasi yang sangat indah hari ini. Indah, walau beberapa menit kemudian semuanya hanya berstatus kenangan.

Aku sendiri segera ingat sesuatu. Aha! s k r i p s i. Oke yang tenang ya, cakep. Aku menujumu. [#RD]

Baca juga ~> Selebrasi Ultah SMANSAKA Ke-22 (Bagian 1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *