Sidang Komprehensif: Ada Sisi Negatif

Sidang Komprehensif: Ada Sisi Negatif

belajar

Jumat, 31 Mei 2013

Aneh. Dulu ketika sidang komprehensif gelombang 1, daku merasa ikut deg-degan. Padahal jelas-jelas daku tidak ikut gelombang 1.

Selain nervous, aku pun ikut ‘hewir’ membuka-buka kembali materi dari semester 1. Kuubek-ubek buku paket, catatan, potokopian, dst. Sesekali aku mencatatnya dalam lembar khusus, jika tak paham… segera saja kutanyakan pada teman yang lain. Rajin, ya. Sayang, rajinnya karena syarat dan ketentuan berlaku. 😀

Karena rentang waktu antara sidang komprehensif gelombang 1 dan 2 terbilang lama, mungkin, aku ketenangan. Tahu-tahu, waktu sidang telah di muka. Dua hari sebelumnya, teman-temanku yang kebetulan ke kampus 1 mengabari bahwa nomor urut sidangku ke-11 dengan penguji-pengujinya; Mr. Wendi, Mr. Roni and Mrs. Rissa. Walaaah.

Malam Jumat, seorang teman mengabari kalau sidangku akan dimulai pada pukul 07.00 WIB. Berdasarkan informasi dari teman-temanku yang baik hati itu, aku dan Neneng (teman bernomor urut 12) berangkat sekitar pukul 07.30 dari rumah (padahal niat sih maksimal jam 7). Kami sadar, waktu tempuh selama sejam-an lebih akan membawa kami pada ‘kemepetan’. Kami pun menduga, “Datang-datang, langsung sidang ini mah!”

Ah, waktu masih memberi ampun rupanya. Kami datang tepat ketika nomor urutan 6-8 tengah diuji. Glek! Aku melihat, di mana-mana, raut teman-teman seperjuanganku pasi, panik, repot, tangan-tangannya beku, kebelet pipis, dlsb. Beberapa yang telah keluar dari ruang sidang pun, ada yang tersenyum mekar ada pula yang muram karena diberi tugas tambahan dengan ‘deadline’ yang mendesak.

“Kalau pertanyaannya gak bisa dijawab, ya ditugaskan, terus dikumpulkan hari ini juga!” begitu kata mereka, membuatku dkk mendengus.

Mungkin deg-deganku telah ‘basi’, aku masih bernapas dengan normal dan lancar. Hehehe. Jadi ketika ada dosen yang kosong dan teman nomor urut sebelumku belum terlihat, aku ‘nekad’ masuk saja. Aku pikir, mau sekarang atau nanti… tetap saja akan dites. Daripada menumpuk ketidakpastian, kalau ada kesempatan, kenapa tidak kita gunakan? Hehe

Di ruangan itu ada 3 dosen di sudut-sudut yang berbeda. Dua diantara mereka tengah duduk menghadapi masing-masing mahasiswa. Kuyakin, kedua temanku itu tengah menjelaskan segala pertanyaan dosen secara maksimal. Dan, tepat di sudut dekat jendela seorang dosen lagi tersenyum padaku. Di depannya terdapat bangku kosong – menantiku. Laa haula walaa quwwata illaa billaah

What have you learned? Tell me, please…” perintah beliau, sesaat setelah mempersilakanku duduk.

Karena beliau memegang “applied linguistics”, akupun mulai menjelaskan sebisa mungkin tentang apa yang aku tahu. Meliputi pemahaman dangkalku akan sociolinguitics, lingua franca, language variation, dialect, register, Cross Cultural Understanding, dsb. Setelah aku terhenti dan belum sempat melanjutkan penjelasan mengenai translation, multilingualism, code-switching, dst… beliau tersenyum dan berucap singkat,

Okay. Thank you….”

Ah, syukurlah. Ringan sekali langkah kakiku untuk keluar dari ruangan itu. Kembali berbaur dengan teman-teman, membahas materi-materi, sharing, mendiskusikan ‘tugas tambahan’, saling mendorong untuk mengisi bangku di depan dosen yang kosong, dst. Mereka yang telah masuk dan merasakan cecaran pertanyaan para dosen tak henti-hentinya untuk memotivasi dan membesarkan hati,

“Tenang saja…”

“Pak xxxx kayak ngobrol kok, santai…”

“Bu xxxx cerewet sih, tapi baik… kalau salah, ya beliau luruskan.”

Ada lagi bangku dosen yang kosong. Kali ini aku sedikit ragu-ragu, sebab aku sendiri ragu akan pengetahuan tentang materi yang beliau ujikan – ilmu pendidikan dan pengajaran. Namun karena dorongan seorang teman, lagi-lagi aku ‘nekad’ masuk saja. Laa haula walaa quwwata illaa bilaah…

Usai duduk dan bertukar sapa dengan beliau, beliaupun bertanya-tanya sambil menikmati kudapannya. Suasananya sangat santai, seperti dua teman yang tengah berdiskusi ditemani penganan-penganan ringan. Terlebih pertanyaan-pertanyaan beliau pun tidak langsung menohok pada materi.

Do you want to be a teacher?”

Actually yes, but after doing Teaching Practice Program (PPL) in a SMA… I have to think twice to be a teacher.”

Why?”

Being a teacher is so complicated. It’s not just about preparing lesson plan, teaching-learning process and giving evaluation. I have to control all students in a class, keep my image and be a model for them, because they will see my style, my way to speak, my attitude, etc. I have to change myself first before I change them to be better. Yeah… it’s like a mirror, …”

Complicated, yeah?”

Yes.”

When you did Teaching Practice Program (PPL), is it important for you to make a lesson plan?”

Yes. It becomes my guidance and reminder when I’m teaching a class. When I did Teaching Practice Program (PPL), I ever forgot to bring it and yeah… my mind is a blank.”

So, is lesson plan useful to be your guideline and reminder?”

Yes, Sir.”

Hum… how can you know the students’ understanding?”

“By their enthusiasm and evaluation.”

“Well, there are students who passed the examination and there are also students who failed. What will you do to the failed students?”

Hum… I’ll give them the opportunity to learn to the success students, I explain the material again and hold a remedial test.”

Selanjutnya pertanyaan mengenai apa yang aku tahu tentang Genre Based Approach (GBA) dan cycles-nya. Lagi, aku jawab berdasarkan apa yang kupahami saja. Tak lama kemudian, selesai. Syukurlah, aku kembali tak mendapat ‘tugas tambahan’.

Hanya beberapa menit setelah aku ‘lolos’ dari dosen di pos bidang pendidikan, seorang teman menyerukan namaku. Ternyata dosen terakhir, yang menguji Linguistics, memanggilku. Padahal kala itu, aku masih sedang saling sharing mengenai materi-materinya yang cukup ‘njelimet’. Tak heran, mayoritas dari kami kurang berhasil di pos beliau dan terpaksa menggondol ‘tugas tambahan’. Sedikit tak menyangka, aku pasrah. Masuk saja. Laa haula walaa quwwata illaa bilaah…

“Dian?” sapa beliau.

Yes?”

What’s phonology? What’s phonetic? What morphology? What’s free morpheme? Bound morpheme? Derivational? Inflectional? Mention all parts of speech! …”

Beliau bertanya dengan tempo yang cepat tentang morphology, phonetic dan phonology, mata kuliah yang telah lama tak kupelajari (lagi). Bahkan, aku belum sempat (lebih tepatnya tak menyempatkan diri) membuka atau membaca barang sekilas saja.

“Okay, stock pertanyaan ibu udah habis,” tutur beliau menggunakan Bahasa Indonesia, sambil menyodorkan selembar kertas berisi semua mata kuliah Linguistics lengkap dengan istilah-istilahnya. Aku menelan ludah, lemas.

“Jelaskan istilah-istilah phonetic and phonology berikut yang kamu tahu…” beliau menunjuk-nunjuk daftar istilah yang memang tak asing, namun telah terlupakan. -_-‘

Aku nurut saja. Kujelaskan beberapa istilah yang masih kupahami seadanya, sampai akhirnya… aku bertanya,

Phonetic and phonology only, Bu?”

No, you can explain all of them…”

Jyaaah… Kuperas daya ingat dan keterampilan berbicara Bahasa Inggrisku ketika menjelaskan beberapa istilah tentang syntax dan semantic. Aku sangat berharap beliau memahami penjelasanku. Syukurlah sepertinya beliau memang mendengarkan dengan seksama, sehingga beberapa kali ketika materi presentasiku keliru, beliau segera meluruskannya. Tak berhenti di situ, beliau kembali menyodorkan sebuah buku yang dulu sangat familiar – buku paket Systemic Functional Grammar. Beliau hanya membuka daftar isinya saja,

“Jelaskan yang mana saja…”

Mataku dengan cepat menyusuri materi-materi mana yang masih kupahami walau secuil dan memungkinkan untuk aku jelaskan. Cukup kilat, aku jelaskan saja mengenai theme dan rheme. Seperti sebelumnya, beliau kembali meluruskan jika penjelsanku keliru. Dan akhirnya…

“Ok deh…”

Phew!

Kali ini kelegaanku telah bulat. Tak lagi berjibaku dengan buku dan nuansa khas penantian sidang. Namun… di sisi lain, ada yang membuatku miris terhadap diri sendiri. Ya, sidang komprehensif ini menyadarkan sisi-sisi negatif yang mesti diubah jadi positif.

Kenapa materi-materi dari seluruh mata kuliah itu baru aku pelajari lagi? Apa tradisi belajar hanya karena ujian dan nilai mesti aku pertahankan?

Bisa-bisanya aku melepas pemahaman materi begitu saja, padahal aku telah bertaruh biaya, waktu dan pikiran untuk semua itu. Hadeuh… [#RD]

Sumber Gambar: Google

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *