Cerpen; Siloka

Siloka

siloka kujang, siloka kahirupan, siloka bahasa sunda, siloka sunda buhun, siloka sinatria, siloka urang sunda, siloka sunda jeung hartina, siloka wayang golek“Bagi seorang perempuan, janji suci seorang laki-laki itu tercatat dalam selembar hati. Dinanti. Tak ada yang bisa menghapusnya, kecuali amnesia dan realisasi,” Kau menanggapi pernyataanku untuk mempersuntingmu. Tepatnya, mengikat hatimu yang masih melayang-layang. Memintanya menunggu perasan juangku nanti, sehabis aku melumat jenjangnya pendidikan.

“Kematian?” tohokku, tersenyum. Tujuanku hanya merayu.

“Memang kenapa dengan kematian? Dia bukan siloka akan sebuah garis akhir. Dia, justru akan menjadi tanda pembuktian. Bukti kalau keabadian memang akan kita temui.”

***

Kau tak waras. Begitu kata para sahabat dan adik-adik, memandang kesendirianku. Bahkan sampai kedua orang tuaku tiada. Ketimpangan hati memang kupertahankan, walau telah kujamah materi dan reputasi.

Dan sekarang, jiwa ragaku terpaku. Tak apa. Bukan kekeliruan naskah Tuhan. Tak dapat kutangkis memang, gagasan fiksiku terlampau liar. Semuanya, walau tanpa kendali, sering memapahku pada setumpuk kenangan tentangmu. Bagaimanapun, mereka masih berserakan di teras luas ingatan.

Aku tak kuasa mengutuk kata ‘kebetulan’, atau kenyataan yang kusambung-sambungkan spontan. Seperti wajah bulat nan pucat di hadapanku. O, seperti itukah penampilanmu saat aku tengah berjuang di kota? Saat aku tanpa daya, hanya menenggak berita pahit itu saja? Bahwa, kau telah pulang. Menuju dimensi keabadian, siloka perpisahan semua indera dan kesemuan. Kenapa tak dari jauh hari, kau bilang, kau tengah tak nyaman dengan badanmu, Sayang?

Ia menghadap ke kanan. Kusingkirkan puing-puing pesawat yang menutupi kaki, dada dan dahinya. Kelopak matanya mengatup. Dalam raut kaku itu ada damai, sekaligus gurat galau. Mungkin dia tengah menunggu atau berhutang sesuatu. Rambut ikalnya tergerai sembarang. Sebagian besar dijejali daun-daun kuning dan kering. Helai-helai lain menciumi pipi kirinya yang tebal dan dingin. Begitu kupangku, leher, kedua tangan dan kakinya terkulai pasrah, patah.

Atau mungkin, kabut Gunung Salak memang senang mengembuskan masa lampau. Tebingnya yang tak terlalu mengangkasa, 2.221 meter, justru sukses besar menjulangkan memori yang mustahil kubekap rapi. Memang, sudah tak ada wajah bulat, pipi gendut dan suara cemprengmu. Juga tak kunikmati polahmu yang kadang manja, kadang dewasa. Dulu, ketika kita mendaki bersama saat SMA. Aku ketua Pecinta Alam. Kau sekretarisnya.

“Heli! Heli!”

Aku memejamkan mata, meredam amuk rindu, dan menggeleng-gelengkan kepala sekuat mungkin. Memohon paksa agar fragmen dalam kisah itu beringsut, seperti ketombe yang terbang secuil oleh kibasan rambut. Lidahku berdecak, tapi aku mesti mencerabut keputusan. Lagi, aku menelurkan bening dari kedua sudut mataku.

Disiram tatap pepohonan yang loyal, kumasukkan raga itu ke dalam kantong mayat. Sebelum kututup resletingnya, senyum pasi itu terjepret sempurna. Lalu kantong jingga itu diponggok seorang relawan, mahasiswa MAPALA yang kubina. Dia menjauh. Desau angin memainkan kelimis rambutku yang memutih. Hening. Namun keheningan seringkali lebih cerewet dari keramaian. Dalam hati, janji suciku mengeraskan kepakan sayapnya. Kebisingannya mengingatkanku akan siloka keabadian yang kau ujarkan dulu.

Lalu senja, dia melambaikan tangannya, seolah memintaku segera beranjak dari sana. Dan, demi kesejatian serta kesakralan cinta, aku akan bertahan, menggenapi janji. [#RD]

***

Kuningan, 08 Mei 2012
Dee Ann Rose

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *