Suatu Hari Ketika Bimbel yang Tiba – tiba Puitis

Suatu Hari Ketika Bimbel yang Tiba – tiba Puitis

suatu hari ketika bimbel yang tiba-tiba puitis

Banyak hal menarik ketika aku melaksanakan Bimbingan Belajar (Bimbel) di lokasi KKN UNIKU 2012, Desa Kubang Jero-Banjarharjo. Salah satunya ada kejadian di suatu malam yang membuatku salah tingkah; bangga, terharu, kesal, sekaligus memaksa untuk mengurungkan marah.

Pada waktu itu, ba’da isya, seperti biasa aku mengadakan bimbel di teras depan rumah, mengingat di dalam rumah telah penuh dengan peserta bimbel dan rekan-rekan KKN lain. Aku pun membuka bimbel dengan doa, lalu pembahasan PR. Bagiku, guru yang memberi PR namun tidak mengoreksinya berpeluang besar untuk dibenci murid, maka telah menjadi komitmenku untuk membahas PR, bagaimanapun kondisi dan strateginya.

Waktu itu aku mempersilakan mereka untuk menulis dan menjawab PR di white board buatan (selembar kertas manila yang dilapisi isolatip). Dengan begitu, para peserta bimbel (mayoritas anak kelas 5dan 6), akan terangkul perhatiannya. Mereka begitu ‘khusyuk’ memperhatikan pengerjaan PR, membetulkan hasil kerja masing-masing, dan men-ceklisnya.

Usai pembahasan PR tersebut, aku melanjutkan materi tentang matematika. Oh ya, awalnya aku memegang Bahasa Inggris sebagai spesialisasiku di kampus. Aku sadar, a right man on the right place. Atau intinya, kita lebih baik mengajar sesuai dengan jurusan. Namun karena aku pernah membantu PR salahsatu diantara mereka, dan cepat paham, merekapun mengajukan request agar aku menangani Matematika saja. Hhh… karena pertimbangan minat dan adanya peserta KKN lain yang memegang Bahasa Inggris, akupun mengikuti saja.

Malam itu, kupikir mereka jenuh juga jika mesti berkecimpung terus dengan angka. Maka karena alasan akan diadakannya lomba cipta puisi, akupun meminta mereka untuk membuat puisi di sela-sela bimbingan belajar. Berikut komentar mereka:

“Ini lebih sulit dari mengisi soal matematika, Kak!”

“Kasih contoh dong, Kak!” celetuk anak perempuan.

Merasa ditodong, akupun membuat puisi kilat. Kupilih tema ‘Ibu’ sebagai daya tarik bagi mereka. Berikut puisi super sederhana yang kucontohkan pada mereka:
Terima Kasih, Bu
Ibu,
Sembilan bulang engkau mengandungku
Tiada akhir engkau mendidikku
Menjadi anak yang kuat
Sekuat langit menyangga
Bumi ini
Terima kasih, Bu
Atas semuanya!

Aku menyediakan tema ‘sahabat’, ‘ibu/ayah’ dan ‘ibu/bapak guru’. Merekapun membuatnya. Cukup lama dan hening yang lumayan panjang. Namun begitu melihat hasilnya, rata-rata hasil karyanya tidaklah panjang. Sederhana, malah banyak yang mengutip kata-kata dalam puisi yang kucontohkan. Aku jadi tercenung, mungkin mereka butuh waktu cukup lama untuk mengail kata dari imajinasinya. Kecuali Didi. Aku memberinya nilai besar, 90, sebab hanya dialah yang temanya berbeda, yakni tentang persahabatan. Kata-katanya pun origional. Entah iri karena nilai Didi besar, atau masih penasaran dengan kemampuan berpuisi, sebagian dari mereka bersorak:

“Bikin lagi, Kak! Tapi di rumah….”

Aku tersenyum sambil mempertimbangkan pembuatan puisi di rumah hanya akan mengudang fitnah. Hehehe… kujawab saja, “Kalau mau bikin, silakan. Nggak, ya gak apa-apa. Gak wajib. Yang wajib mah PR bimbel matematika tadi, ya?”

Mereka mengangguk dan paham. Bimbel hari itu usai.

Keesokan harinya, di waktu dan tempat yang sama, mereka duduk lesehan menanti arahan serta pengajaranku malam itu. Seperti biasa, sebagai pembukaan bimbel dan usai berdoa, aku menanyakan PR mereka. Semuanya saling berebutan, meminta koreksi. Aku melayani mereka sambil sesekali menegur anak laki-laki yang jahil. Syukurlah, mereka begitu disiplin dan bersedia berkomitmen. Melihat mereka antusias dan taat mengerjakan PR-pun, aku amat senang.

Namun tiba-tiba, Ipeh dan Feni, anak perempuan kelas 5, mendekatiku, tertunduk lesu sambil memegang buku. Mereka seperti hendak menyodorkan buku itu, tapi ragu-ragu. Aku hanya mengernyitkan dahi sambil menanyakan maksud mereka.

“Ini, Kak…” Ipeh menyodorkan buku yang kuterka adalah hasil PR-nya.

“Itu ciptaanku bersama Feni,” tambahnya lagi, dan aku baru sadar kalau yang ia sodorkan adalah beberapa puisi. Aku hanya melihat wajah mereka. Tanpa menyembulkan kata.

“Maaf ya, Kak. Ipeh dan Feni malah membuat puisi-puisi ini dan lupa mengerjakan PR Matematika-nya,” ucapnya lagi, memelas.

Aku yang waktu itu masih dikerubungi anak-anak lainnya segera memutuskan pemakluman, “Oh… Iya, gak apa-apa, Ipeh… Feni…”

“Dibaca ya, Kak…” pintanya membuyarkan konsentrasiku yang tengah mengoreksi PR Matematika.

Aku memalingkan perhatian dari tumpukan buku dan angka-angka, pada buku Ipeh dan berbait-bait puisi di dalamnya. Kuhela dan napas dan tersenyum, “Kaka foto saja puisi-puisimu, ya. Nanti Kaka baca. Sekarang kita belajar matematika dulu, ya…” usulku sambil mengambil gambar lewat HP. Itupun susah-susah kulakukan mengingat anak-anak nerdesakan di sekitarku, ditambah lagi kondisi malam dan lampu yang tak terlalu terang.

Nah, berikut puisi-puisi Ipeh dan Feni yang sedikit kuedit:

PUISI 1: KUPU-KUPU
Alangkah elok warnamu
Terbang kesana-kemari
Diantara bunga-bunga
Mencari madu
Kadang kulihat engkau
Di tangkai dan daun-daun
Atau saat terbang mengitari taman
Kupu-kupu,
Alangkah sering aku melihatmu
Apakah aku bisa memiliku sayap yang indah
Seperti sayapmu itu?

PUISI 2: INDAHNYA PAGI
Setitik embun membasahi
Kuntum mawarku yang mekar
Pelangi di pagi hari yang
Membayang dari sungai suci
Aduhai harum semerbak, menyegarkan
Wangi di hati
Kuhirup udara segar
Kuciumi mawar
Alangkah berseri hati
Di pagi ini
Matahari yang menghampiri
Dan semilir angin
Lembut membelai rambut
Kicauan burung, menambah semarak indahnya
Pagi ini

PUISI 3: PENGGEMBALA ITIK
Sambil menggiring itikku
Kutiup seruling bambuku
Kunyanyikan lagu dengan merdu
Aku senang menjadi penggembala itik
Melihat sawah dan ladang
Yang luas, yang hijau
Walau kadang dimarahi orang
Karena itikku makan dan buang kotoran sembarangan
Aku tetap bersabar
Pagi, aku keluar
Petang, aku pulang
Begitulah kehidupanku

PUISI 4: SELAMAT ULANG TAHUN, ADIKKU SAYANG
Bintang bersinar gemilau
Disambut sinar terang sang rembulan
Menyambut hari ulang tahun adikku sayang
Lilin itu kau tiup sudah
Berarti usiamu juga bertambah
Oh, engkau semakin manis saja, adikku
Matamu bercahaya dan wajahmu bertambah indah
Turutilah kata mama dan papa
Jangan engkau menangis saja
Semoga Tuhan memberkatimu
Selamat ulang tahun, adikku sayang.

PUISI 5: TUNANETRA (Tanpa Editing)
Seorang tunanetra
Usianya masih muda
Rambutnya terurai panjang
Berjalan meraba-raba
Setiap pagi ia berjalan
Menuju ke sekolah
Untuk menuntut ilmu
Walau ia seorang tunanetra
Tapi dia tidak putus asa
Oh Tuhan, tolonglah dia
Jadikanlah dia manusia yang
Berguna bagi sesama

PUISI 6: WALAU HUJAN (Tanpa Editing)
Walau hujan, aku tetap pergi ke sekolah
Walau hujan, ibu tetap pergi ke pasar
Walau hujan, ayah tetap pergi ke sawah
Karena hujan
Adalah rahmat Tuhan [*]

Entah berlebihan atau tidak, tapi jujur saja, aku merasa bangga. Menulis puisi baru kukenalkan sekali, tapi rupanya hal itu membekas dan terpahat jelas. Ada beruntungnya juga aku menyelipkan salah satu minat literasi itu, walau secara kapasitas, jelas-jelas aku bukanlah apa-apa. Tapi setidaknya puisi itu melembutkan hati dan menjadikan jiwa lebih peka lagi.
Bahkan setelah aku pulang, ada yang meng-sms-kan puisi padaku. Tepatnya dari Nani, kelas 5 SD. Berikut puisi yang kuduga diadaptasi dari sebuah lagu:
Aku bernyanyi untuk semuanya
Aku kangen semuanya
Aku… kangen semuanya
Tolong jangan lupakan kami, oh!

Ditambah dengan Maerul, kelas 5, yang senantiasa meneleponku. Lalu usai sholat maghrib waktu itu, dia menelepon dan memintaku untuk mendengar pembacaan puisi hasil cipta Miftah, kelas 6, oleh Miftah sendiri. Sayang, waktu itu signal sedang kurang mendukung. Kata-kata yang jelas kudengar hanyalah ‘Keutamaan persahabatan’. Sambil pura-pura mendengar dan memahami betul semua isi puisinya, kukucurkan saja pujian untuk mereka.

Tak ada apresiasi lain yang bisa kupersembahkan untuk anak-anak dengan semangat membara itu, selain doa dan asa… Semoga mereka semua dapat merangkul cita-cita dan bermanfaat bagi hidup-kehidupan manusia. Amiin… [#RD]

*Catatan 21 November 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *