Syukurlah Aku Sakit

Syukurlah Aku Sakit

ketika sakit 1

Kamis, 28 Maret 2013

“Tunjukkan solidaritasmu di hari terakhir ini. Semangat!”

Kira-kira begitulah yang didentumkan hati ketika aku menghadapi Kamis kali ini. Sampai-sampai sebelum berangkat, aku getol mem-play intronya “As I Am” dan lagu “Go Ahead” dari Alicia Keys dengan cukup keras. Cukup memprovokasi energy. Hehehe…

Maklum, dari kemarin (Rabu, 27 Maret 2013) aku merasakan sakit kepala hebat. Waktu itu, usai melaksanakan bimbingan skripsi dengan pembimbing 2, kepalaku begitu sakit ketika perjalanan pulang. Sakit yang biasanya segera reda ternyata berlanjut. Di rumah, aku agak sedikit kewalahan menahan cengkraman pada kepala. Aku kira, tidur akan menjadi jalan keluar. Nyatanya, pagi itu aku masih dihantui sakit. Aku rasa, ada sesuatu yang kurang baik dalam badanku. Ya Allah…

Ujian PPL Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) berlangsung dari Senin (25 Maret 2013) sampai dengan Kamis (28 Maret 2013). Sesuai kesepakatan, kami akan datang semua ketika ujian tersebut dilaksanakan. Selain sebagai bentuk dukungan dan motivasi, kami juga memang mesti mempersiapkan konsumsi untuk Dosen Pembimbing dan Guru Pamong yang menguji.

Namun demikian, pada praktiknya tidaklah seindah itu. Kadang ada yang izin Semester Pendek, ada keperluan, kerja, dst. Ah andai saja aku tak ingat usaha super keras mereka ketika mengurusi ujian PPL-ku, mungkin selebihnya aku tak peduli. Tetapi aku memang tidak mengambil Semester Pendek, tak ada keperluan dan tak ada pekerjaan (selain bimbingan skripsi, itupun setelah ujian PPL selesai). Jadilah aku ke sekolah tiap hari.

Dan, alhamdulillaahirobbil ‘aalamiin… hari ini hari terakhir ujian PPL. Aku datang ke sekolah sekitar pukul 08.20. Sebelum masuk kantor, Pak Yogi (rekan praktikan dari Pendidikan Ekonomi) sempat memanggilku. Aku pun sedikit bercakap dengan beliau, seorang bapak-bapak yang asing dan Pak Yono (satpam) perihal perpisahan PPL. Begitu sadar akan jam, aku segera pamit menuju kantor. Di sana, Uus (yang ujian jam 3-4) telah datang, lengkap dengan Pak Sofyan dan Bu Hj. Iinnya. Setelah menyalami mereka dan sedikit memberi tepukan semangat pada pundak Uus, aku segera menuju kopsis. Ketika berjalan, Rizkia (X5) sempat menyapaku,

“Mau mengajar, Miss?”

“Nggak lah, Kia. Hehehe.” jawabku cepat dan tidak melihat responnya lagi karena buru-buru (Aku baru sadar, hari Kamis jam 3-4 ada jadwal mengajar di X5 dan jam 7-8 di X6. Alamak!).

Tanpa ragu, aku segera melewati etalase dan masuk ke bagian belakang. Sebelumnya, kami memang telah meminta bantuan Pak Komar dan Bu Sulastri (pengelola kopsis) untuk menyediakan ‘space’ tempat. Beruntung, mereka sangat baik dan mempersilakannya. Terima kasih banyak!

Di sana, aku mempersiapkan 6 box snack dan minuman. Ketika membentuk box-box tersebut, Wulan dan Teh Anih pun datang. Kami bertiga mempersiapkan snack sebagai kudapan Dosen Pembimbing dan Guru Pamong. Tak berlangsung lama, Uus beserta dua pengujinya berjalan menuju kelas. Dengan segera, aku, Wulan dan Teh Anih pun mengekori. Dari kopsis, kami ke kanan dan naik tangga menuju kelas tempat Uus ujian.

Usai menyajikan snack dan minumannya itu, kami duduk-duduk di muka kelas dan mengobrolkan banyak hal. Tak lama, Tatang datang dan ikut gabung. Obrolan merambah dari mulai kuliah, skripsi, anak-anak SMA, PPL dan masalah internal. Ya, ada kesalahpahaman dalam prodi kami (tentu tak bisa aku share secara terbuka). Jujur saja, aku sangat terusik dengan sedikit sindiran yang disembulkan. Aku tak merasa melakukan, namun seperti dipojokkan. Aku ibarat tersangka yang dihakimi berdasarkan dugaan-dugaan dan malangnya, aku tak punya bukti maupun saksi untuk menyangkalnya. Sungguh! Aku sangat menyesal telah menghapus beberapa inbox dan send item di ponsel. Err… Ditambah lagi dengan bonus dahsyatnya sakit kepala. Ahai, bagaimana rasanya?
emotion
Aku begitu berhasrat ingin menyetel lagu Madness-nya MUSE! Heuheu…

Begitulah, banyak hal serius yang kami perbincangkan. Namun, kami membawakannya dengan penuh canda. Meski demikian, kadang aku tertawa (tak lepas) lengkap dengan menekan kuat-kuat pada kepala. Ah, kadang tak menjadi perempuan sebenarnya (yang mengedepankan perasaan), ada hikmahnya juga. Sambil menahan sakit di segala penjuru hati dan kepala, aku mengundang logika sebagai tiang bersandar. Aku menguarkan pikiran-pikiran semacam; ah tak baik memberi kesan buruk di saat-saat terakhir, atau ah namanya juga salah paham, atau ah percuma juga beralasan jika tak didengar, atau ah diam saja dan biarkan waktu yang membuktikan dan atau-atau lainnya.

Di sana, kami menyempatkan diri untuk berpoto. Kebetulan atas rekomendasi Teh Anih, aku membawa kamera. Beliau ingin berfoto bersama anak-anak yang bimbingannya. Lha, aku sendiri malah gak kepikiran untuk berpoto dengan anak-anak X5 dan X6 lagi. Hadeuh… Lalu,

“Teteh boleh minta dipoto sama anak IPS 1 sekarang, gak?” pinta Teh Anih.

“Boleh,” jawabku.

“Aku juga ya sama anak-anak X3 dan X4?” tanya Wulan.

“Boleh…”

“Giliran aja. Nanti ke Teh Anih dulu, terus ke kelas X3, X4, X5 dan X6?” tambah Wulan lagi (X5 dan X6 adalah kelas yang kubimbing).

“Hayuk,” Aku setuju-setuju saja.

Setelah Pak Sofyan dan Pak Nana (guru pamong Uus) keluar, kami menyalami mereka dan segera menuju ke kelas IPS 1. Di sana, Teh Anih berpoto bersama murid-muridnya. Karena jelang persiapan acara ulang tahun SMA, ada beberapa yang dispend dan tak ikut belajar. Jadi, beliau tak dapat berpoto dengan siswa secara lengkap. Selanjutnya kami menuju ke kelas X3 dan X4 (tanpa Tatang yang pamit hendak bersiap ujian PPL).

Di kelas tersebut, siswa/i-nya lebih sedikit. Sebagian besar dari mereka memperoleh dispensasi kegiatan kesenian, silat dan olimpiade. Wulan pun urung melakukan poto-poto,

“Kenapa? Emang yang dispennya anak-anak yang deket denganmu, ya?” tanyaku.

“Nggak. Aku mah deket dengan semua anak, kok, Ya gimana gitu kalau sedikit mah,” jawab Wulan yang memang dekat dengan anak-anak di bawah bimbingannya.

Aku tersadar (lagi) kalau waktu itu adalah jam ke 3-4, jam biasanya aku mengajar di kelas X5. Begitu melintasi kelas tersebut, aku ingin segera menjauhinya. Aku sedikit takut mereka tidak belajar efektif, nongkrong di luar atau berkeliaran. Perkiraanku salah, kelas tersebut kondusif. Aku rasa, guru aslinya (Bu Hj Iin) telah masuk dan mengajar biasa. O, syukurlah. ^_^

Kelas X6 sebenarnya tidak begitu efektif, namun aku urung untuk berpoto di sana. Lagi-lagi, sakit kepala dan keadaan hati yang tengah keruh membuyarkan keinginan itu. Kami pun menuju kantor. Di sana telah ada rekan-rekan dari prodi Ekonomi. Kami pun berbincang dan menghangatkan suasana sebentar. Terlebih lagi memang ada beberapa yang belum ujian. Itung-itung menghibur. Hehehe

Setelah agak lama, bel berbunyi dan Tatang masuk untuk ujian. Seperti biasa, kami ‘mendampingi’ di luar kelas. Beberapa menit kemudian, Uus gabung. Di sana kami mengobrolkan banyak hal. Usai menyajikan makanan, kami ke kantor lagi. Tak lama,

“Ke kantin, yuk?!” pinta Teh Anih.

Aku, Uus dan Wulan langsung setuju. Di sana kami membeli bakso, siomay dan minuman. Ah sedikit menentramkan perut, namun khusus kepala, masih manja rupanya.

“Miss?” sapa seorang gadis sambil menyalamiku.

“Hey…” Aku menyambutnya.

“Ini Ajeng, Miss!” serunya.

Dia adalah anak kelas XI IPA yang sering menghubungi di fesbuk, namun tak kuketahui wajahnya. Usai menyalamiku, kami pun berbincang-bincang. Aku cuma masuk dua kali ke kelas dia, namun anak-anaknya terasa cepat akrab.

Di sana pula, aku bertemu dengan Jenita dan Fiona. Tak sengaja. Kebetulan aku membawa 3 buku kumcer Selepas Hati Pergi (pesanan Elsha). Dan untungnya, aku segera ingat akan niatku untuk memberikannya pada Fiona selaku coordinator ESA (English Students Association) yang dapat diandalkan. Meski kurang berkesan, namun ekskul itu cukup bersejarah untukku. Segera saja aku menyerahkannya satu dan disambut ceria oleh gadis berjilbab tersebut.

Setelah hak perut kami terpenuhi, kami menuju ke kantor lagi. Di sana, kami kembali berbaur dengan prodi ekonomi. Beberapa menit kemudian, Teh Itha mengajakku ke mushola. Aku mau-mau saja. Kebetulan waktu sholat dzuhur memang tak lama lagi tiba. Di beranda mushola sendiri suasananya sedikit hiruk-pikuk oleh anak-anak yang ikut olimpiade. Ada yang tengah mendalami matematika, geologi, fisika, kimia, dsb. Begitu hendak menapakkan kaki di lantai mesjid,

“Miss!” seru salah-satu adikku yang tak kuketahui dari mana datangnya.

“Eh, kamu! Gak ketahuan datangnya.”

“Iya kan langsung ‘tring’!”

“Hahaha.”

“Tahu gak, Miss?”

“Apa?”

“Tadi pas pelajaran Bahasa Inggris, karena ingat yang ngajar bukan lagi Miss, aku sama X milih dispen aja.”

“Dasar!” kataku reflex, padahal dalam hati aku cukup deg-degan, mereka nekad juga.

“Beneran!”

Aku terkunci. Beruntung ada Teh Itha yang menimpali,
“Ada apa?”

“Dia,” mataku melirik adikku tersebut, “Senang karena aku udah gak ngajar,” jawabku sekenanya.

“Ih Miss mah. Miss-nya jangan kemana-mana. Bila perlu, kita gaji!”

“Oh, jadi pengin belajar sama Miss Dian terus?” Teh Itha memanaskan suasana.

“Iyaaa.”

“Mau tahu caranya?”

Aku segera menarik lengan kakakku kelasku itu, “Udah ah, Teh. Hayuk…”

“Huuu…” Aku menerima seruan yang kompak dari mereka.

Yang bisa kulakukan hanya berwajah tanpa dosa, segera berjalan menuju tempat wudhu dan membasuh sesuai rukunnya. Duh, nyaman sekali. Kepenatanku sedikit tersapu, walau sakit masih melanda kepala. Tapi Alhamdulillaah… kami sholat berjamaah dengan damai dan tentram.

Usai sholat, Elsha (sahabat SMA) dan Ade, yang memang janjian untuk bertemu telah sampai. Aku pun mengajak mereka masuk lingkungan sekolah. Aku juga mengajak mereka ke dekat ruang kesenian, tempat anak-anak tengah berlatih degung, silat, menari, dst. Sementara itu, Teh Itha masuk ke X8 untuk melaksanakan ujian PPL.

Di sana kami sedikit mengulang-ulang cerita SMA. Semuanya seolah baru kemarin dilalui. Oh ya, aku juga baru menyadari kalau pada jam 7-8 itu biasanya masuk ke X6. Nia, meng-sms memintaku untuk masuk dan mengisi kelas yang kosong. Waktu terbuang sia-sia, katanya. Tentu saja aku menolak. Selain ada Elsha, tugas PPL yang telah lunas, sudah pamitan, kepalaku pun masih sangat pusing. Lagipula, pasti dalam hati masing-masing penghuni kelas, mereka merasa senang saat jam terakhir tak ada pelajaran. Hehehe

Begitu jam ke-8, datang Teh Itha. Aku segera menghampirinya,
“Ujian PPL-nya udah, Teh?”

“Udah, cuma se-jam. Se-jam berikutnya dipakai Eka.”

“Oh… Oh ya, Teh. Katanya Teteh pengin pamitan sama kelas X6? Sekarang kebetulan pelajaran Bahasa Inggris, isi aja dengan pamitan…” usulku, mengingat beliau pernah mengeluh belum pamitan ke kelas pimpinan Dicky.

“Iya, yah? Teteh udah 3x gak bisa masuk ke sana. Sekarang ada kesempatan.”

“Makanya, silakan aja masuk.”

“Tapi bareng dong sama kamu?”

“Aku udah pamitan, masak masuk lagi?”

“Ya gak apa-apa. Nanti aneh aja kalau Cuma Teteh yang masuk.”

“Ya udah, aku Cuma mau mengantar. Silakan Teteh aja yang ngasih prakata atau gimana gitu.”

“Baiklah.”

Aku, Elsha, Ade dan Teteh Itha menuju kelas X6. Namun begitu sampai di muka kelas, pintunya tertutup rapat. Hal itu sempat membuat Teh Itha ragu. Aku juga berpikir, mungkin mereka tengah mendiskusikan sesuatu yang penting. Bukannya hendak masuk, Teh Itha malah duduk di beranda IPS 1. Kami pun mengikuti. Heu

Setelah sekian lama, aku sms Nia, memberitahukan maksud baik tetehku. Namun begitu Nia membalas dan meminta kami masuk kelas, kami telah berjalan menuju kantor. Tepatnya, Teh Itha yang ke kantor. Sedangkan aku, Elsha dan Ade menuju ‘saung sosro’. Tak lama Alis dan Tia (alumni yang merupakan adik kelas satu tingkat di bawahku) bergabung. Kami sedikit bernostalgia dan saling melempar cerita. Jujur saja, asyik, namun aku tak begitu menikmatinya. Alasannya tak lain adalah rasa sakit kepala yang makin meminta perhatian. Namun, obrolan itu berlangsung sampai bel pulang. Mereka pun berpamitan. Begitu punggung mereka mengecil, Teh Itha datang. Tak lama, Meli dan Aef pun menghampiri.

solider

“Gimana nih, sekolah udah menagih penampilan dari praktikan, Dian!” seru Meli dan Aef.

“Udah Pak Aef nyanyi solo aja. Atau duet sama Meli?” jawabku asal cepat.

“Gimana kalau semua nyanyi? Jadi kayak paduan suara, gitu?” usul Teh Itha.

“Iya, bisa juga,” respon Meli.

“Boleh, bagus tuh. Tapi lagu apa, ya?”

“Lagu sunda aja, yuk? Yang liriknya ‘mungguuhiii’…” Meli beropini sambil menyanyikan bait lagu sunda yang cukup familiar tersebut.

“Lagu sunda itu perlu napas panjang,” kata Teh Itha.

“Lagipula, menghapal liriknya itu lama, Mel…” kataku lagi.

“Oh iya, ya?!”

“Lagu ‘paturay tineung’ aja? Kan bertemakan sunda sekaligus perpisahan?” usulku di tengah-tengah usaha menahan tekanan pada kepala.

“Yang kayak gimana?” Meli bertanya, sementara Aef telah menggut-manggut setuju.

“Gimana kalau yang ‘pileuleuyan sapu nyere pegat simpay’?” Teh Itha meminta pendapat yang membuat dahiku dan Aef berkerut,

“Iya itu kan lirik lagu ‘paturay tineung’?” timpalku.

“Aku gak hapal, euy!” jawab Meli.

“Oh… Ah, jangan deh kalau kamunya ragu-ragu. Kuncinya kan ada di kamu, Mel,” serobotku yang memang menganggap Meli lebih mumpuni dalam bidang seni.

Sempat buntu, kami pun menuju ruang OSIS, tempat para penampil tengah latihan vocal. Ketika berjalan, aku bertemu Imel dan Evy (anak AKSEL).

“Miss kok gak masuk?”

“Nggak deh.”

“Emang gak kangen sama kita?”

“Udah deh. Udah saatnya kalian dikembalikan ke pihak yang berwenang. Hehehe.”

Di depan ruang OSIS, Meli bilang, “Sebenarnya aku gak terlalu berkompeten dalam bidang tarik suara, Dian?!”

“Tapi kamu ada basic dalam dunia seni, Mel.”

Tak lama, datang Eka. Padanya Meli meminta pendapat juga,
“Oke saya siap nyanyi lagunya Iwan Fals. Asal sama kamu, Dian?”

Aku agak kaget mendengar ajakannya. Meskipun aku cukup nge-fans, namun untuk menyanyikan lagu-lagunya di depan umum aku sedikit ragu.

“Yang nyanyinya semua, Eka…”

“Tapi nada-nadanya terlalu rendah euy! Lagu pop yang lain aja, gimana?” Meli berargumentasi.

“Oh sorry, kalau lagu alay, saya mah pantang lah…” cetus Eka.

“Apa kita gak tampil aja?”

“Kalau emang gak siap dan daripada kurang maksimal, lebih baik jangan tampil aja. Latihan vocal group kan mesti lengkap, sedang anak-anak udah sibuk SP-lah, bimbinganlah, persiapan sidang kompre-lah, dst. Tapi daripada menimbulkan kasak-kusuk, ya tampil aja. Dengan catatan, kalau gak Meli dan Aef yang solo, ya kalian duet,” cerocosku dalam keadaan pusing beberapa keliling.

Mereka terdiam, Eka malah memilih pulang. Sedangkan Aef, dia hanya mengangguk-angguk sambil menggumamkan lagu barat.

“Nah, lagu itu saja, Pak!” usulku padanya.

“Liriknya gak hapal semua euy!”

“Browsing aja, gampang. Kamu juga, Mel. Udah lagu barat aja. Gimana?”

“Iya, yah? Dicoba aja gitu?” tanyanya lagi, namun mulai termotivasi.

Aku sendiri… jika boleh jujur, ingin segera telentang dengan nyaman. Usai sedikit sukses merayu dan memotivasi mereka, aku pamit pulang bersama Teh Itha. Aku baru menyadari, badanku panas. Dan sesuatu yang paling ingin aku jumpai adalah kasur yang lapang. :0

Tiba di rumah, aku langsung mandi dan makan (walau seleranya mulai berkurang, yang kuinginkan hanya kesembuhan). Semua seolah baik-baik saja.

Dengan mengabaikan rasa sakit yang kuderita, aku memilih menyalakan netbook dan menulis sesuatu. Tak lupa kuseduh juga kopi luwak sebagai teman setia ketika menulis. Makin petang, rasa sakitnya makin menggila. Tubuhku pun mulai menggigil. Aku menyerah. Segera kupakai jaket, kaus kaki, kuoleskan minyak angin, dan segera meringkuk di balik selimut. Aku rasa, ini adalah rasa sakit kepala paling membahana. Beberapa kali aku bermimpi dikelilingi bulatan-bulatan besar dari benang kusut dan mereka seolah-olah memintaku untuk menguraikannya. Aku terbangun beberapa kali, lalu bermimpi yang sama lagi.

Aku terbangun, berjalan terhuyung lalu sholat subuh. Ketika rukuk dan sujud, kepalaku rasanya berat sekali untuk diajak berdiri. Usai beribadah pagi itu, aku tergeletak lagi. Seolah tak memerdulikan dunia, aku pun memejamkan mata. Aku terjaga ketika adikku membawa semangkuk bubur, roti, kue dan segelas besar air mineral di meja tempat aku menulis.

Kupijit HP, waktu telah menunjukkan angka 8. Aku memintanya untuk mematikan lampu kamar. Kusadari, suaraku amat tak bertenaga. Malah nyaris seperti bisikan. Dalam hati, sebenarnya aku ingin minum. Namun, aku tak kuasa menjangkau meja itu. Mau memanggil adikku, suaraku seperti bersembunyi. Alhasil, aku terpejam lagi sampai siang. Selanjutnya, Ibuku yang super baik mengatur segalanya. Beliau memang cerewet tiap kali menanggapi anaknya yang sakit.

Tapi syukur alhamdulillaah… Aku sakit saat momen PPL-ku berakhir. Setidaknya rasa sakit itu tiba dengan sedikit toleransi waktu (tak dapat dibayangkan kalau aku sakit pas ujian PPL, lalu mesti mengulang? Oh, Engkau Maha Baik, Tuhan).
HikmahSakit-Muhasabah
Alhamdulillaah… Aku sakit saat aku telah melaksanakan bimbingan skripsi, jadinya aku masih berkesempatan untuk mengetahui sejauh mana projek-ku mesti direvisi, jadi aku juga diberi kesempatan untuk istirahat dahulu sebelum mulai ‘perang’.

Dan syukurlah, aku sakit saat hati tengah disakiti (duileh). Semoga hal ini menjadi balasan untuk pikiran, tulisan, perbuatan dan perkataanku yang tak sengaja membuat hati-hati lain lebih sakit. Dan, alhamdulillaah. Semoga sakit ini juga menjadi penghapus dosa-dosa. Aamiin…

Ya, aku patut bersyukur. Sakit ini mendorongku berintrospeksi diri. [#RD]

Sumber Gambar: Google

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *