Tak Ada Galau yang Abadi

Tak Ada Galau yang Abadi

tak ada galau yang abadi

Minggu, 16 Juni 2013

Kebagian dosen pembimbing 1 yang super sibuk memang cukup ‘menggalaukan’. Saking sibuknya, pertemuan dengan beliau pun jadi terasa sangat mahal dan berharga. Tak heran, begitu ada kabar dosen pembimbing 1 (yang juga dosen UPI – Bandung) mau datang, aku dkk begitu antusias sekaligus harap-harap cemas.

Pagi itu, Tita menjemput dan memberi tumpangan padaku. Ketika dalam perjalanan menuju kampus itu, aku ‘keep contact’ dengan beberapa rekan yang juga memiliki misi yang sama. Tiba-tiba, seorang teman (N) mengirim pesan:

“Dosennya udh mulai”

Kubalas juga sms temanku (N) itu. Aku memintanya mengisi absenku dan Tita agar nomor urut kami tidak terlampau jauh. Sedikit berdegup, kusampaikan berita itu pada Tita dan segera kukirim pesan ke banyak nomor. Sekitar pukul 08.40, aku dan Tita sampai di pelataran kampus 1. Beberapa pesan masuk, salah satunya dari N lagi. Segera ku-klik dan betapa kagetnya aku membaca sms-nya itu,

“Aku nanya, Dian. Dosennya udah mulai belum?”

Glek!!! Gak pake ‘tanda tanya’, sih!

Tanpa menunggu apapun, kukirim pesan ‘ralat’ ke banyak nomor. Sudah kupersiapkan lahir-bathin, siapa tahu nanti di kampus mereka akan menghujaniku dengan protes-protes rusuhnya. Belum juga bertatap muka, balasan sms mereka membuatku nyengir sepanjang jalan. -___-‘

Begitu kami benar-benar sampai ke muka fakultas, benar saja, di sana telah banyak teman-teman yang juga menanti sang dosen. Sayang, kendaraan para dosen itu pun belum nampak. Usai ke prodi untuk mendapat nomor urut lebih awal, kami pun mengisi waktu luang dengan mengobrolkan banyak hal. Mentari mulai percaya diri menampakkan kemilaunya dan satu-persatu teman-teman berdatangan.

Tibalah para dosen pembimbing datang. Kami menuju lantai 2, tempat di mana kami biasa bimbingan. Di sana, kami cukup menunggu lama para dosen tersebut. Bukannya dosen pembimbing yang datang, malah petugas prodi yang memberitahukan bahwa lokasi bimbingannya di lantai 3 saja. Kebetulan di kelas-kelas lantai 2 itu tengah diadakan TOEFL. Ya amplop! Kami menaiki tangga lagi. Hm… gak apa-apalah, itung-itung melancarkan aliran darah. Heuheu

Bimbingan pun dimulai. Mengingat urutan kami cukup awal (aku ke-8), aku dkk menempati kursi paling depan (lagi). Kali ini satu orang mahasiswa pun sangat menguras waktu. Kalau aku perhatikan, beliau seperti tengah ‘sensitif’. Atau mungkin, beliau memang semakin detail memeriksa pekerjaan kami. Tak ayal, pegal mulai melanda dan kursi pun memanas. Segala hal telah kami upayakan demi mengisi waktu. Membolak-balik skripsi sendiri, membaca skripsi orang lain, mengobrol, curhat, buka-buka sosmed, sms-an, dst.

Saking menyebalkannya masa penantian, beberapa diantara teman-temanku memilih keluar. Entah sekadar cari angin, makan, nongkrong atau apapun lah. Pas aku tanya beberapa diantara mereka, “Emang nomor berapa?” mereka menjawab “12, 20, 29, dst.” Hum… pantes aja! -___-‘

Lamaaa sekali nomor urut 7-8 mendapat giliran. Kebetulan mahasiswi yang memiliki nomor urut 1-2 tengah melaksanakan TOEFL, yang maju duluan pun nomor urut 3-4, lanjut 5-6. Sepertinya 1 orang memiliki jatah waktu cukup panjang untuk ditelaah grammar-nya, outline-nya, kontennya, dst. Sementara ponselku terus bergetar dan jika dari teman-teman sesame mahasiswa, isinya banyak menanyakan, “sekarang nomor urut berapa?” Phew!

Ada satu pernyataan beliau yang tak sengaja aku dengar, namun sangat menarik untuk disimak. Beliau bilang sambil memegang sebuah calon skripsi yang tebal,

“Jangan lebay, ah. Kalau salah ‘kan jadi sampah. Tebal-tebal begini juga mengorbankan berapa pohon nih?!”

Aku pikir… entah skripsi, makalah, jurnal atau tugas-tugas biasa dari para siswa/mahasiswa pun, entah hasil berpikir sendiri/ hasil ngedit dari pekerjaan orang lain/ hasil copas total, mungkin ujung-ujungnya memang akan menjadi sampah. Kalau tak dibaca, nyesek juga. Kertas-kertas kerja yang menguras banyak waktu, dana dan pikiran itu kadang berakhir jadi pembungkus serabi, cabe, kue pancong, klepon, dst. Dibuang, diinjak-injak bahkan dibakar. :’(

“Nomor 7-8…” akhirnya beliau pun memanggilku dan seorang teman (M).

Dosen kami yang jenius itu memeriksa pekerjaan M terlebih dahulu. Skripsinya berjenis kuantitatif, tentu cukup sulit untuk aku ikuti. Kadang aku berusaha memahami komentar, revisi dan penjelasan beliau terhadap skripsi itu. Sesekali aku bisa menjaringnya, namun berkali-kali dahiku mengerut-ngerut karenanya. Tak heran, kalau ponselku bergetar, aku lebih memilih membalas inbox-inbox yang masuk saja. Lama-lama, teman-teman yang menanyakan nomor urut pun bosan membaca balasanku “masih nomor 7.”

Bahkan, beliau menerangkan dengan begitu detail di white board mengenai penelitian eksperimen itu. Menurutnya, penjelasan itu bisa berlaku general. Sehingga beliau berharap penjelasannya itu, meski lama, tapi bisa menjawab pertanyaan dan kesulitan seluruh pengguna jenis kuantitatif. Hum… yasud.

Setelah penantian yang sangat lamaaa, tibalah giliranku. Melihat skripsiku berjenis kualitatif, beliau langsung bilang bahwa penelitian itu penjelasannya tak bisa di-general-kan. Lebih privat. Di bab-bab awal, beliau memintaku untuk menjelaskan secara paragraph saja. Ya ampun, kenapa gak disuruh dari dulu sih?

Selanjutnya di bab 2. Ada lagi kesalahan pengutipan, khususnya dalam pemberian tanda kutip. Terus kesalahan huruf, seperti penambahan huruf ‘s’ untuk ‘pragmatic’ dan ‘beside’. Selanjutnya kesalahan kata-kata semisal ‘with’ dalam kata ‘concern with’. Duh, sotoy n gegabah sekali aku! Dan… subhanallaah, jenius n teliti sekali dosen pembimbingku ini. Bab 3 aman sentosa. Lalu, bab penentuan alias bab 4 sangat kutunggu-tunggu apapun hasilnya.

Dengan seksama beliau membolak-balik bab demi bab, mempertimbangkan research questions (RQ), teori dan cara analisisnya. Untuk analisis RQ 1, komentarnya seputar elaborasi alasan dan penambahan indexical untuk dianalisis (kebetulan penelitianku itu mengenai DEIXIS). Sempat terjadi juga adu argument mengenai ‘third person’ yang ternyata anaphoric, bukan deixis. Boro-boro kami, yang punya teorinya saja berbeda, kok.

Pas mengamati RQ 2, petaka terjadi. Beliau sempat tanya-jawab denganku mengenai teori konteks yang dipakai untuk menjawab RQ 2. Kujelaskan semampunya. Bisa kumaklumi beliau itu cukup pening. Toh bukan skripsiku saja yang beliau ubek-ubek. Juga, bukan tentang DEIXIS saja yang mesti beliau urai. Raut bingung beliau pun kutanggapi dengan wajar.

“Jangan pake teori itu, ah…” kata beliau, akhirnya.

“Kenapa, Pak? salah, ya? Konteks mah emang seputar itu…” kupertahankan teorinya.

“Gak salah, sih…” Beliau mencondongkan wajahnya, “Tapi kurang rame, gitu…”

Glek!!!

“Teori siapa ya, Pak?”

“Tauk!” ketus juga jawaban beliau, lalu tersenyum.

“Yah…” sebal juga ‘digondokkan’, namun kuyakin beliau pun tengah memikirkan sesuatu.

“Cari aja teori yang ada kategori atau tipenya. Atau gini aja…” beliau menggantung sejenak, “Ganti aja RQ keduanya, gimana?”

“Nggak ah, Pak,” terang saja aku keberatan.

“Ya udah alternatifnya ada 2. Ganti RQ keduanya atau RQ tetap, tapi teorinya jangan pakai yang ini. Konteks itu rumit, emang… kalau merasa kesulitan RQ-nya ganti dengan yang lebih mudah…”

Pilihan beliau benar-benar mengundang dilemma besar. Sampai-sampai, kami sempat berdiskusi dengan tempo cukup lama. Segala alternative yang beliau munculkan kutangkis dengan alasan kurang cocok. Lagipula dalam hati, aku cukup penasaran dengan teori konteks itu. Aku percaya, untuk ‘naik kelas’ memang mesti disuguhi ujian yang sangat rumit terlebih dahulu. Bukankah menaklukan 10 soal yang susah itu terlihat lebih menawan dibandingkan dengan menendang 100 soal yang gampang, yah? 🙂

will be fine
Walau masih mengganjal dan ingin berlama-lama diskusi dengan beliau, waktu jua yang menyudahinya. Terlebih teman-teman yang lain nampak ingin juga segera mendapatkan haknya. Begitu aku menyalami beliau dan pamit keluar, rekan-rekan “Deixis Team” (D, P dan R) langsung mencecarkan pertanyaan mengenai hasil bimbinganku. Kebetulan ketiga rekan yang sama-sama membahas deixis itu nomor urutnya cukup jauh denganku.

Berat juga kukatakan bahwa pembahasan deixis memiliki masalah yang cukup pelik di RQ keduanya. Sama denganku, merekapun lemas. Namun tak ada yang bisa kami terbitkan selain menyemangati satu sama lain. Mereka bilang ‘galau’, tapi galaupun tak akan abadi, bukan? Segala yang berawal tentu memiliki masa sendiri untuk berakhir. ^_^

Karena jarak bimbingan mereka cukup jauh, aku pun pamit pulang saja. Meski demikian, kami masih ‘keep contact. Siapa tahu dosen pembimbing 1 kami itu mengusulkan alternative yang berbeda terhadap rekan-rekan The Deixis Team-ku. Namun bukannya beliau menelusuri skripsi mereka, beliau malah menulis saran dalam skripsi rekan-rekanku. Sarannya cukup singkat:

“Ngobrol dengan Dian.”

Benar saja… baik D, P dan R bilang saking banyaknya mahasiswa yang hendak bimbingan, nomor urut bimbingan belasan-puluhan hanya dijatah kurang lebih 2 menit saja. Jadi mereka tak memiliki waktu luang untuk konsultasi lebih dalam.

Hm… baiklah, Kawan. Mungkin Tuhan dan dosen pembimbing kita memang sangat percaya bahwa kita bisa menaklukan semuanya. #KeepSpirit [#RD]

Gambar: Google

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *