Tempat itu Bernama “Rumah Duka”

Tempat itu Bernama “Rumah Duka”

rumah duka

Minggu, 18 November 2012

Sekitar jam setengah 11-an, aku telah berada di rumah teman sekelas, Aca, untuk ikut bertakziah ke rumah duka, rumah KM kelas kami. Dengan menumpangi Honda-nya Aca bersama Intan dan Ihab, kami menyusuri jalan menuju rumah duka. Meski tak ada satupun dari kami yang pernah berkunjung sebelumnya, beruntung rute jalan yang dideskripsikan seorang teman tidaklah susah. Sementara teman2 lain; Teteh Lissy, Wildan, Kaka, Irwan, Nova, Teteh Uni, Anti dan Andri mengekor pakai motor.

Di dekat sebuah took swalayan, kami belok kanan. Begitu menemui belokan, kami bertanya pada warga yang ada. Dengan sigap mereka menunjukkan arah ke kanan. Rupanya tak jauh dari situlah, rumah ada tengah terisak dengan sebuah kehilangan besarnya. Tiba2 kurasa bau airmata dan kesedihan makin tajam saja.

Ayahanda dan KM kami menyambut. Nampak sekali dalam kedua mata mereka, tapak-tapak kehilangan yang mendalam. Hhh… sosok ibu. Ia memang bagaikan malaikat yang berwujud wanita lembut.

Selalu kuhela napas atas kehilangan sosok tersebut. Betapa akan beratnya jiwaku jika kehilangan sosok itu menimpaku. Betapa aku mesti menghapus doa dan harapan terbesarku; Aku tak ingin ditinggalkan terlebih dahulu oleh ibu….

“Kemarin pulang kuliah, saya teh ke RS SK. Malah ketemu Nina dan sarah. Udah aja sekalian,” tutur Sang KM setelah kami berbasa-basi.

“Katanya RS WK?”

“Udah pulang dari san amah. Seminggu di RS WK, tapi gak ada perubahan. Dua mingguan stay di rumah, lalu 2dua harian kemarin di RS SK.”

“Oh jadi masih sempat ke RS toh…”

“Ngga. Pas di parkiran RS, saya ditelpon untuk pulang aja.”

“Udah ada feeling?”

“Iyalah, udah langsung ada firasat. Ya udah dari parkiran, belum sempat ke dalam, saya langsung ngebut ke rumah. Tapi pas ke rumah, ternyata jenazahnya masih di RS!”

“Ya Allaaah…”

“Kemarin, tanpa menunggu sodara2 lain yang di luar kota, langsung aja dikebumikan. Alhamdulillah cuaca masih mendukung saat upacara pemakaman berlangsung. Tapi pas udah beres, eh hujan turun….”

Kami medengarkan dengan seksama tiap untaian kata yang meloncat-loncat dari mulutnya, mencoba membuka kelapangan hati yang tengah dirundung duka. Tak ada yang bisa dijadikan topic nasihat, selain ketabahan dan ketawakalan, menerima apapun yang menjadi keputusan-Nya, mengembalikan apa yang memang merupakan hak milik-Nya. Meski kami tahu, semua itu tak mudah.
duka
Ya, sulit memang menghalau air mata dan sederet yang tiba2 datang menyesakki pikiran. Setidaknya KM kami itu telah merawat dan memaklumi sakit yang diderita ibundanya. Akhirnya kami hanya mampu memanjatkan doa; Semoga beliau ada dalam rangkulan-Nya. Amiin… [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *