Cerita PPL; The Fifteenth Meeting in X.5

Cerita PPL; The Fifteenth Meeting in X.5

ppl sma 3

Teh Itha menyampaikan lagi rencananya, ketika kami tengah merapikan kerudung. AKu hanya mengangguk-angguk,

“Gimana Teteh aja.”

“Ya udah, sini soal-soal UTS Bahasa Inggrisnya. Teteh yang bawa. Terus, ini nih soal-soal UTS Sosiologinya. Kamu yang bawa, Dian! Oh ya, apa yang harus Teteh lakukan di X5?”

“Kumpulkan buku paket dan catatannya aja, Teh,” jawabku, sama seperti yang kulakukan di X6.

Aku hanya ingin memeriksa buku dan membubuhkan paraf pada lembar PR mereka. (walau pada kenyataannya lupa kulakukan. Hadeuh….)

“Oh… Oke deh. Nanti Teteh bakal menerapkan kiri-kanan saja. Kiri saja atau kanan saja yang keluar. Pakai cara ‘suit’, lah…”

Tanpa banyak komentar, aku menuruti saja. Kepalaku sangat pusing. Yep! Tetehku (sedari di kantin) merencanakan akan ‘tukar pengawas’ denganku. Jadi, pada jam pertama aku akan mengawas Sosiologi di kelas X.8 dan Teh Itha akan mengawas Bahasa Inggris di kelas X.5. Mungkin beliau yang memang pernah mengawas di X5 merasa nyaman, sehingga ingin kembali ke kelas tersebut. Sebaliknya, aku ingin merasakan sensasi mengawas UTS di kelas lain.

Usai bebenah, kami pun berjalan beriringan menuju ‘kompleks’ kelas X. Jalan yang kami ambil adalah dari arah laboratorium bahasa (tempatnya X6), melewati X1, X2, X3, X4 dan X5. Begitu di depan X5, beberapa anak AKSEL menyalamiku,

“Miss datang!”

“UTS!”

Tanpa menengok ke kelas, aku langsung saja meluruskan pandangan dan focus berjalan ke arah X8. Teh Itha pun tanpa disuruh segera memasukki kelas X5. Entahlah respon mereka bagaimana atas rencana Teh Itha ini. Hehehe… Tapi karena beliau adalah tipikal praktikan PPL yang baik dan professional, serta anak-anak AKSEL-nya sendiri langsung akrab, aku amat yakin beliau diterima sangat hangat oleh mereka.

Sementara di X8, beberapa diantara mereka menyalamiku. Aku rasa karakter anak-anaknya mirip X6. Eh tidak, lebih ramai. Sangat ramai. Begitu aku masuk, mereka bertanya-tanya,

“Sama Ibu?”

“Sosiologi kan, Bu?”

Setelah meng-iyakan, aku segera ingin membagi mereka menjadi dua. Sesuai kata Teh Itha yaitu kiri-kanan. Namun, belum juga berbicara, mereka telah berseru-seru,

“Gantian, Bu! Tadi absen 1-18 di dalam!”

“Iya, biar adil, Bu!”

“Itu bohong, Bu!” (dapat teriakan ‘huuuu’)

“Plis, Bu!”

Setelah berpikir dan mempertimbangkan, aku kabulkan permintaan mereka. Setelah sempat bersorak, kelas pun dengan cepat terbagi 2. Mereka yang di dalam segera mengerjakan. Begitu antusias kulihat, sebab memang soalnya Pilihan Ganda semua. Hum… soal seperti ini berpotensi ‘meramaikan’ kelas. AKu mesti sigap.

Benar saja, keheningan hanya tercipta sekitar beberapa menit. Hanya beberapa saat pula aku bisa mengawas sambil duduk damai di bangku guru. Menit-menit selanjutnya segera buyar. Terlebih lagi siswa yang di luar terus mengganggu. Hal itu menyebabkanku keliling dan menutup semua gorden. Ketika keliling itu ada seorang siswi yang bertanya, sok perhatian, hehehe…

“Udah makan apa belum, Bu?”

“Udah.”

“Hehehe…”

Tiba-tiba Teh Itha masuk sebentar,
“Boleh buka kamus gak, Miss?”

“Kamus manual mah boleh.”

Hening sebentar, namun ramai lagi. Beberapa dari mereka cepat terusik dan mengusik orang lain. Ada yang tengok sana-sini, berpura meminjam alat tulis, berseru segala hal, memberi kode, sok-sok menenangkan kelas juga memanggil-manggil nama seorang siswa, dst. Hadeuh… jadi ingat masa putih abu-abu ala jaman dulu. *Eh!

“Ssstt… Manggil-manggil Wina aja!” kataku yang menyebabkan beberapa diantara mereka senyum-senyum.

Wina, yang kukenal adalah anak ESA (English Association Club), mungkin memang menjadi siswi yang ‘diandalkan’ di kelas. Jadi, pantas saja dia menjadi sasaran teman-temannya. Hehehe

“Pokoknya Teteh bakal melindungi Wina!” seruku sambil mendekati gadis berjilbab itu.

“Ih Ibu mah hapalnya teh Wina aja!” seru seorang siswi berponi.

“Ini kenalin Si Ilyas, Bu!”

“Ini Kevin!”

“Ini Widi!”

“Udah… Udah… yang udah, segera kumpulkan, ya!”

Setelah gaduh beberapa saat, mereka pun perlahan mengumpulkan hasilnya. Sesuai kesepakatan, untuk jam kedua aku akan kembali ke kelas X5. Begitu keluar, anak-anak AKSEL yang di luar berseru-seru,

“Miss!”

“Waktunya udah habis, Miss!”

“Udah sejam lebih, Miss!”

Begitu aku masuk, Teh Itha sedikit kaget,
“Cepet amat, Miss?” ucapnya, ikut-ikutan memanggil ‘miss’. Hadeuh…

“Gak tahu, mungkin karena soalnya PG, Teh.”

Beliau pun keluar menuju kelas X8. Aku sendiri tadinya mau duduk saja di bangku guru. Penat rasanya. Namun niat itu kuurungkan dan aku segera saja berkeliling untuk memastikan mereka telah penuh mengisi lembar jawaban, sekaligus menawarkan diri, sekiranya mereka kurang memahami maksud soal. Agak kaget, ternyata ada yang masih kurang paham. Ada juga kolom essay-nya yang masih kosong. Ada pula jawaban PG yang memang terkecoh. Kenapa dengan kalian, Dik? Perasaanku tak enak. Duh…

Kalau saja semuanya normal, aku ingin memanjakan badan sebentar. Ingin rasanya aku menyandarkan badan yang serasa remuk pada kursi guru yang melambai-lambai itu. Ah, mungkin system imun dalam tubuhku sedikit mengalami ‘trouble’. Namun bagaimanapun, dengan memanfaatkan waktu yang teramat mendesak, aku mesti memaksakan diri memberi sedikit bimbingan. Sementara anak-anak gelombang 2 di luar perlahan merangsekki kelas,
haste
“Cepet dong, Miss!”

“Waktunya udah habis ih, Miss!”

“Kitanya mau sampai jam berapa atuh, Miss?!”

“Kasihani kami, Miss!?”

Ckckck… posisiku sulit. Antara kasian kepada para gelombang 1, kasian juga pada mereka di gelombang 2. Malah anak-anak gelombang 2 itu sampai ‘lesehan’ di depan kelas, tak tega melihatnya. Panggilan mereka memilukan, namun berusaha kuabaikan. Perlahan, anak-anak gelombang 1 pun mulai mengumpulkan hasil jawabannya. Kelas sempat tidak kondusif ketika gelombang 1 mengumpulkan soal ke depan dan gelombang 2 tak sabar ingin segera mengerjakan soal.

Kasian juga mereka semua. Sambil berusaha memaklumi polah mereka disertai kondisi (kalau boleh) ingin pingsan dengan indah, aku tidak banyak berseru. Kuhampiri dan menggeleng-gelengkan kepala pada anak-anak yang tak tertib. Gelombang 1-nya ada yang masih mengerjakan soal, anak-anak gelombang 2-nya memberi bantuan, anak-anak yang telah ulangan ingin mengambil tas dsb.

Akhirnya mereka kondusif sendiri. Khusus untuk gelombang kedua ini, aku memberikan perhatian penuh. Beberapa kali aku keliling dari bangku ke bangku, tak lain hanya untuk memastikan mereka paham maksud soal. Beberapa kali juga aku memberi ‘layanan’ menerjemahkan. Sebisa mungkin aku mengelilingi semua lapisan kelas; depan, belakang, kiri, kanan sampai ujung-ujungnya juga. Grias, muridku, sempat bercanda ketika aku hendak melihat kertas jawabannya,

“Ih jangan nyontek, Miss!” katanya. Hahaha, dasar! 😀

Ada juga yang telah dikunjungi pun, memanggil-manggil lagi. Dan, aku selalu dibuat tertawa oleh panggilan khas ‘kaum adam’. Seringnya sih, aku menahan tawa ketika mendengar panggilan itu,

“Miss… MissDALIFAH!” 😀

Entah soalnya susah, efek jam 7-8, mual oleh soal-soal UTS sebelumnya, atau apa, mereka kadang terlihat sedikit ‘lola’ dari biasanya. Hehehe… Melihat jawaban PG-nya pun banyak yang ‘terjebak’. Meski demikian, aku patut bangga sebab jawaban essay mereka rata-rata telah murni hasil gagasan sendiri, walau kata-kata dan strukturnya masih kurang sempurna. Tak apa.

Teh Itha telah masuk lagi. Rupanya ulangan di X8 telah selesai. Beliau sempat berbisik padaku, memberi nasehat yang bermanfaat,
“Jangan sering-sering menghampiri anak-anak, ah.”

Aku mengangguk-angguk dan memastikan tidak membocorkan isi soal. Aku juga agak mengurangi intensitas bantuanku. Bagaimanapun, saran Teh Itha itu benar adanya. Heuheu…

Lama-lama, anak-anak gelombang 1 panik ingin pulang. Mereka ada yang ingin mengambil tas dan bubar duluan. Kontras, gelombang 2 yang tengah konsentrasi berwajah sedikit kesal. Mereka merasa telah cukup setia untuk memberi waktu dan menunggu gelombang 1, malah dibalas dengan keinginan pulang dari gelombang tersebut.

“Datang bareng, pulang bareng…” kira-kira begitulah yang ada di benakku.

Namun hatiku serasa tawar. Aku sama-sekali tidak ingin marah atau emosi, toh memang keadaan yang mendorong mereka bertingkah demikian, atau mungkin karena kepalaku terlampau pusing. Entahlah… Anak-anak gelombang 2 ada yang mulai mengumpulkan jawaban, anak-anak gelombang 1 ada yang memaksa masuk dan mengambil tas, ada yang membantu temannya, ada yang berkerumun, dst. Dengan sisa-sisa tenaga, aku hanya menghampiri dan menegur saja.

Di sela-sela mengumpulkan jawaban dari mereka, aku ‘keceplosan’ bertanya,
“Nanti Kamis libur, gak?”

“Nggak!”

“Ih Miss mah gimana sih, libur-libur melulu?!” timpal Evy.

“Hehehe…”

Alhamdulillaah… acara mengawas pun selesai. Aku dan Teh Itha pulang dengan sangat nyaman. [#RD]

Kisi-kisi Soal Mid-Semester:

PRINT_KISI-KISI SOAL MID SEMESTER

Soal Mid Test:

PRINT_MID TEST X5 & X6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *