Cerita PPL; The Fourteenth Meeting in X.6

Cerita PPL; The Fourteenth Meeting in X.6

ppl sma 1

Kamis, 07 Maret 2013

Aku dan Teh Itha menuju mesjid sekolah. Di sana telah banyak juga siswa/i kelas XII IPA 1 yang hendak sholat atau sekedar melepas penat. Mereka tersenyum dan menyapa ramah.

Di mesjid juga aku melihat Jenita dan Fiona (anak AKSEL). Selesai wudhu, aku, Teh Itha, Fiona dan Jenita mengobrolkan banyak hal sembari menunggu adzan berkumandang. Bisa dikatakan, kami mengobrolkan semuanya dengan terang-terangan, malah nyaris hampir kebablasan. Aku selalu mengingatkan diri untuk ‘jaga image’ dan tidak terlalu terbuka. Hehehe

Adzan berkumandang dan sholat berjamaah pun digelar. Ada kedamaian menyusup. Lembut. Usai kutanggalkan mukena, beberapa siswa memanggilku dari belakang,

“Miss! Miss! Pinjem mukenanya, ya? Makasih, Miss!”

“Miss… Miss… terus! Jadi punya panggilan khas sendiri kamu mah!” Teh Itha berkomentar.

Aku tidak terlalu menanggapinya, selain segera menyunggingkan senyum pada mereka yang memanggilku. Wajah mereka asing. O, mungkin anak kelas XI. Aku pun menyerahkan mukena milik sekolah tersebut pada mereka. Sholat berjamaah gelombang 2-pun bersiap siaga. Sementara aku dan Teh Itha lebih memilih segera ke kantor.

AKu yang sangat tidak nyaman dengan kerudung, malah sibuk mematut diri di depan kaca. Meski pakaian kurang mewah, kurang mahal, kurang trendy, dst, namun hakikatnya adalah tertutup dan nyaman. Aku sangat menginginkan kenyamanan itu. Sebab jika penampilan telah dirasa tak nyaman, kepercayaan diri pun biasanya cepat pudar. Heu…

“Ayo kita masuk, Miss!” rajuk Teh Itha dengan ‘panggilan anehnya’.

“Nanti ah, Teteh…”

“X8 mah UTS. Kasian, kan mau sejam-sejam?!”

“Ya udah Dian ikut kelas Teteh aja dulu, baru nanti ke X6, yah?”

“Ihk iya atuh iya!” responnya antusias, lalu segera menggamit tanganku.

Kami pun berjalan ke X8. Lucu juga, aku mesti memutar arah dan melintasi X6 begitu saja. Di sana, anak-anak segera menyambut. Teh Itha pun dengan sigap mengkoordinir mereka. Siswa/i X8 itu dibagi 2 gelombang. Penentuannya adalah absen genap-ganjil. Tak berlangsung lama, aku pun segera sadar dan hendak masuk X6.

Konsekwensi. Aku pun mesti melewati X7, X5, X4, X3, X2, X1 dan barulah X6. Di tengah-tengah perjalanan, anak-anak ‘kaum neng’ AKSEL sempat ‘mencegatku’. Ada Rizkia, Imel, Lina, Evi, Lizza dkk. Mereka menyalamiku, namun kurasa ‘acara salam-salaman’ itu kok berlangsung lama. Tanpa sadar, aku telah ‘dijahili’. Mereka membentuk lingkaran, sehingga prosesi salam-salaman itu berlangsung berulang-ulang.

“Miss masuk Super Trap-nya AKSEL! Hahaha.”

“Kamera di mana-mana, Miss! Hihihi.”

“Gak nyangka ya, Miss? Hehehe.”

Wah, kurang asin! Rupanya mereka bisa juga membalas ‘kejahilan’ yang selalu aku berikan di kelas. Aku nyatanya masuk dalam ‘jebakan’ mereka. Tak ada daya dan upaya selain tersenyum lebar akan polah mereka itu. Heuheu…

Phew! Aku masuk ke kelas Gensixten dan mereka pun menyambut dengan seruan semacam,

“How are you, Miss?!”

Setelah menjawabnya dengan singkat, akupun menyalami dan menyapanya. Sempat ada insiden kecil ketika aku menyapa mereka,

“Hi, AKS…”

Mereka saling lirik. Ada yang berbisik, namun cukup keras,

“O, ingetnya AKSEL… Hmm… Iya deh…”

“Hi, Gensixten!!!” Aku mengulangi sapaanku.

Mereka menyambutnya dengan riuh dan kompak. Kutanyakan kabarnya. Jawaban mereka beragam. Ada yang menjawab ‘fine’, ‘bete’, ‘pusing’, dst.

Seperti di AKSEl, aku pun sedikit curhat tentang PPL-ku, ujianku, ‘trouble’ dalam perkuliahanku, dst, Aku juga berbasa-basi meminta maaf sebab tempo hari aku bilang bahwa itulah pertemuan terakhir. Mereka meng-tidak apa-apa-kan hal itu. Tak lupa, aku pun menyampaikan informasi berkenaan dengan ujian.

Seperti di AKSEl, aku sempat ‘curhat colongan’ yang cukup serius tentang perkuliahanku. Sampai akhirnya aku sadar dan segera meluruskan sesuai jadwal yang semestinya,

“Oke deh, kita lanjut aja ke PR!” potongku tiba-tiba.

“Ih lanjutkan ceritanya, Miss!” seru ‘kaum Jenny’.

“Cerita lagi, Miss!”

“Sekarang sharing aja, Miss!”

“Bahas PR aja Miss. Mereka mah gak mau belajar!” celetuk ‘kaum Jhon’.

“Cerita Miss juga banyak ilmunya, Miss!”

“Iya pengetahuan, Miss!”

Fiyuh… Dasar bocah!

“Boleh sih cerita aja, tapi efek sampingnya kalian bakal tertinggal jauh dari AKSEL,” kataku.

“Ih iya, daripada ketinggalan,”

“Bener… Bener…”

“O, gitu. Lanjut materi aja, Miss!” Mereka saling berbisik.

Setelah berhasil ‘merayu’ mereka, aku pun membuka pelajaran dengan pembahasan PR,
“Ada PR, kan?” tanyaku, menguji.

“PR?”

“Yang mana yah, Miss?” kata mereka berlagak polos.

“Ada, Miss!”

“Halaman berapa sih, Miss?” (Hey! PR-nya bukan dari buku! :-0)

Ckckck… Untung saja sekarang jam terakhir. Aku mesti ekstra sabar menanggapi ‘candaan’ dan guyonan mereka itu.

“Kalau dulu waktu awal-awal, Gensixten yang rajin mengerjakan PR. Tapi sekarang-sekarang malah terbalik. AKSEL lebih rajin,” ucapku, jujur.

“Saya mah ngerjain, Miss!”

“Selalu, Miss!” ada yang melakukan ‘pembelaan’, dan aku percaya itu.

Mereka terdiam sejenak lalu segera menuding-nudingkan jari tangan begitu kutawarkan spidol. Karena bingung, aku memilih saja secara acak. Berbeda dengan AKSEL yang berinisiatif memeriksakan PR-nya, Gensixten lebih memilih focus pada sample PR yang dikoreksi bersama. Setelah ter-judge benar/salahnya, mereka pun ada yang memindahkan isinya. Biarlah…

Selanjutnya kami membahas 4 dialog berkenaan dengan materi. Seperti yang kuterapkan di AKSEL, aku pun membagi dialog-dialog tersebut. Karena tidak memeriksa PR, aku pun melakukan aksi keliling. Aku mencoba menjangkau semua siswa/i, memastikan mereka mengerjakan serta ‘menawarkan’ diri untuk menjadi tempat bertanya. Benar saja, banyak yang menanyakan ini-itu. Dari arti, maksud pertanyaan, jawaban dsb. Sayang sekali, ada dua orang yang tidak membawa buku. Butuh kesabaran ekstra untuk membujuk mereka agar belajar dengan serius dan total. Hhh… Bagaimanapun ini adalah bagian dari proses. Aku benar-benar selalu diuji!

Pengerjaan mereka lumayan lebih cepat. AKu pun bisa lebih cepat membahasnya. Lagi-lagi begitu kutawarkan, mereka begitu antusias. Ciri khas Gensixten memang, sangat mudah berpartisipasi. Malah yang sering maju dan tak kutunjuk lagi selalu merasa ‘tersisihkan’. Hehehe…

Ketika satu persatu perwakilan menuliskan jawabannya, aku keliling lagi untuk sekedar mengobrol dengan mereka. Setelah selesai, kamipun membahasnya bersamaan. Dan, mereka segera memindahkan jawaban dalam dialog di buku masing-masing.

Waktu masih lumayan panjang, aku pun berkesempatan membahas ‘Observation Result’. Demi kesamaan antara Gensixten dan AKSEL, aku pun memberi PR kepada mereka; Berupa 2 butir soal yang jawabannya berasal dari sebuah teks. Lagi-lagi aku bercanda,

“Mohon maaf Cuma ngasih 2 soal buat PR-nya.”

Mereka menyemburkan tawa. Ah, senang rasanya mengendorkan pikiran sejenak dan melihat tawa lepas mereka itu. Dan karena waktu masih ada, namun aku begitu lelah, aku pun memutuskan untuk membereskan peralatan belajar. Mereka pun serempak melakukan hal yang sama,

“Cerita dulu, Miss!”

“Ayo sharing lagi, Miss!” bertalu-talu mereka memintaku.

Aku rasa terlalu banyak hal yang mesti disampaikan. Akhirnya,

“Menurut kalian menjelang ujian PPL ini, apa yang sebaiknya Teteh ubah atau kembangkan demi kelancaran KBM?”

Mereka agak tercenung. Sebagian berlagak sedang berpikir keras sambil memegang kepala dan menghentak-hentakkan jari telunjuk ke jidat. Lalu satu persatu mulai berseru,

“Jangan memanjakan anak, Miss!”

“Yang lebih tegas lagi ya, Miss!”

“Tapi sama Miss itu gak canggung!”

“Ngobrol itu jadi leluasa!”

“Pilih kasih!” ada ‘kaum Jhon’ nyeletuk.

Sementara itu yang lain membalas dengan gelengan dan seruan lebih lantang,

“Nggak kok, Miss!”

“Sama rata sama rasa, Miss!”

Aku jadi tersadar. Ya, entahlah ‘pilih kasih’ yang mereka maksud itu adalah kenyataan atau memang hanya perasaan. Yang jelas, aku sendiri telah berusaha memperlakukan mereka dengan se-adil mungkin. Walau tentu masih banyak kekurangan. Sebab, kadang interaksiku dengan masing-masing dari mereka itu berbeda. Ada yang mesti kudekati dahulu, ada juga yang agresif mendekatiku, ada yang seperlunya saja, dsb.

Soal ketegasan, aku memang maklum. Bukannya tidak bisa marah (secara aku pernah marah beberapa kali. Hehe…), namun aku hanya berusaha memahami situasi mereka yang (mungkin) tengah jenuh. Kadang aku juga berpikir, toh semua itu untuk diri mereka sendiri; mau memperhatikan atau tidak. Heuheu…

Namun di luar semua itu aku mengucapkan,

“Thank you very much for your advices!”

“You’re welcome, Miss!”

Sungguh, diskusi seperti ini sedikit mencerahkan pikiran. Heu… Tak lama, kusudahi saja kegiatan KBM hari ini. Aku segera keluar dan duduk dulu di pelataran kelas, menunggu Teh Itha. Di sela-sela menunggu itu, entah berapa kali ada siswi kelas X yang menyalami dan bertanya (dari semenjak istirahat),

“Sekarang ESA gak, Miss?”

Dengan tegas aku menggeleng, sebab aku memang tak tahu. Suka agak menyebalkan jika jadwal disusun tanpa sepengetahuan. Yang terakhir yaitu kelas XI yang bilang,

“Kata Bu Dina ada 1 pertemuan ESA lagi buat perpisahan, Miss.”

Aku pun menegaskan kalau jadwal yang mendadak atau tidak ada perjanjian sebelumnya itu tidak mengenakkan. Semuanya bilang,

“Tadinya mah mau Rabu kemarin perpisahannya, Miss.”

“Tapi???”

“Kata anak-anak, Miss-nya gak ada jadwal. Gak jadi deh!”

“Eh… Kalau anak-anaknya udah kumpul mah silakan aja tanpa Teteh juga. Kan ada yang lain?!”

“Hehehe…” mereka senyam-senyum saja.

Tak lama, aku memutuskan untuk menghampiri Teh Itha dan sejenak menemaninya mengawas UTS Ekonomi. Kulihat soalnya hanya 4 butir, namun angka-angkanya yang mencapai milyar-milyar itu sedikit membuat ciut. Tentu pengerjaannya mesti teliti. Salah di awal, bisa jadi bencana di akhir. Heu…

Kami pulang bersama dengan memonggok berjuta rasa. [#RD]

RPP: RPP 12_Sing2 Waterfall

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *