Cerita PPL; The Last Meeting in X.5

Cerita PPL; The Last Meeting in X.5

hari terakhir

Karena ujian PPL-ku telah selesai, sempat terpikir untuk pulang. Namun…

Bu Hj. Iin sempat bilang yang secara tidak langsung memintaku masuk kelas selanjutnya (X.5) pada jam ke 7-8,

“Mau pamitan dulu sama kelas X.5 kan, Dian?”

“Oh gitu?! Iya deh, Bu.”

Jelang dzuhur, aku ditemani Teteh Itha dan Mela untuk duduk santai di ‘saung sosro’. Ketika kami tengah berbincang, guru pamongku kembali mengingatkan,

“Nanti jam 7-8 mau masuk kan, Dian?”

“Eh, oh, iya Bu.”

Usai sholat, aku dan Teteh Itha menuju kelas X5. Memang ada baiknya aku berpamitan dahulu. Bagaimanapun, aku memulai semuanya dengan baik-baik. Maka, aku rasa akhirnya pun mesti baik-baik juga. Di sana, aku persilakan Teh Itha untuk ikut masuk bersamaku, namun beliau menolak halus.

“Teteh di luar saja,” jawab kakak kelasku sewaktu SMA itu.

Aku yang tak enak hati, mesti bolak-balik memintanya ikut masuk. Sampai akhirnya Tetehku itu memilih menuju lab computer dan menunggu di sana. Yah, di sana lebih baik daripada diluar kelas. Heuheu…

Well, sekarang aku sampai di kelas AKSEL.

Lagi-lagi karena factor jam 7-8, aku agak gontai. Kulihat anak-anak pun demikian. Mood buruk mereka sangat kelihatan. Aku mengucapkan salam dan menyapa mereka pun, tanggapannya lemas sekali. Ah, AKSEL memang selalu kelihatan kalau sedang bête berat. Hehehe

Kulirik buku agenda kelas, rupanya mereka langsung belajar. Aku pun berniat hendak belajar dulu, walau sebentar. Seperti biasa, aku melakukan review pelajaran. Tak berlangsung lama dan tak berlanjut ke materi. Melihat kelesuan mereka dan mengingat hari ini adalah hari terakhir pertemuan kami, aku pun belok arah; menjadi semacam mengobrol saja. Kubuat suasana se-santai mungkin.

“Lagi galau, Miss,” begitu saja alasan mereka.

Dan… Jujur saja, baru kali itu aku merasa sangat bersalah sebab mereka tidak mendapatkan pelajaran Bahasa Inggris. Hari itu juga aku merasa amat sangat menyesal yang mendalam. Pertemuan terakhirku terkesan ‘ga-je’ (Gak jelas). Aku hanya mengobrol, menceritakan sesuatu yang tak sistematis, saling memberi pesan dan kesan, mengasihkan apresiasi berupa kumcer “Selepas hat Pergi”, meminta maaf dan berterima kasih yang tak terhingga. Sungguh!

Aku merasa telah kalah oleh keadaan. Dengan alasan capek dan melihat raut tidak semangat anak-anak, aku malah membuat pertemuan menjadi kurang begitu berarti. Setidaknya, tak ada asupan materi untuk mereka. Phew!

Ketika aku mengutarakan permohonan maaf dan terima kasih, beberapa anak terisak dan tertunduk. Ada juga yang mulai tak kuasa membendung kesedihannya. Entahlah mereka itu sedih, gombal atau memang tengah menghadapi kegalauan. Aku membuat kesimpulan sepihak, mereka itu g o m b a l. Hehehe… Lagipula, kesedihan apapun (termasuk karena perpisahan) itu pasti akan reda dengan sendirinya. Meski entah, waktunya singkat atau lama. Namun kuyakin, lambat-laun mereka akan lupa. Ya! aku siap terlupakan, sebagaimana aku dulu yang lupa pada praktikan semasa SMA. Heuheu…

Tapi jujur, aku sendiri kurang berani menatap mata mereka lama-lama. Yang bisa kulakukan hanya menyembulkan candaan,

“Jangan gombal, ah. Bukannya seneng gak ada yang rewel PR dan tugas lagi? Gak ada yang keliling-keliling lagi kayak setrikaan? Gak ada yang nyuruh-nyuruh bikin dialog lagi, dst?”

“Ini dari hati, Miss,” Ina menempelkan tangan pada dadanya. Ah, gesture yang mengharukan.

“Ah kaum adam juga gak usah gombal, pake terisak segala. Lagi pilek itu mah! Hehehe…” kataku lagi, menghibur diri.

“Pilek kepaksa, Miss!” kata mereka.

“Poto-poto lagi, Miss!” (Selain tak membawa kamera, entah kenapa aku kurang berminat untuk berpoto. Raut mereka itu jelas-jelas dalam keadaan bête.)

“Kalau boleh curcol, keberadaan Teteh di sini udah kelewat batas. Ini juga maaf banget baru pamitan sekarang…”

“Yah…”

“Ngomong-ngomong, ada kritik gak buat cara Teteh mengajar? Ini buat ke depannya…”

“Gak ada!” seru Lina.

“Harus ada.”

“Waktu PPL-nya singkat!” kata ‘kaum neng’ lagi.

“Miss itu ‘woles’” timpal ‘kaum adam’.

“Sebutkan yang buruk-buruknya saja. Tadi kelas X.5 juga banyak yang mengkritik, kok…”

“X.6 kali, Miss!”

“Maaf ingetnya X.5 euy!”

“Ah gombal, Miss!” balas mereka. Haha, dasar! 😀

Hum… Bicara perpisahan PPL, aku jadi ingat perpisahan waktu KKN…

Waktu itu juga dilematis, memang. Aku yang sudah mulai akrab dengan anak-anak, aparat desa, warga dan adat-istiadat desa, malah mesti terpisah. Ya, perpisahan itu datang ketika pertalian hati kami mulai rekat satu sama lain.

Perpisahan itu datang ketika aku mulai merasa betah dan menerima keadaan desa. Perpisahan itu datang ketika aku mulai merasa sangat sayang kepada adik-adik SD-ku di SDN Kubang Jero (saat menulis ini, mataku berkaca-kaca. Nyesek juga kalau ingat adik-adik mungilku di sana. Hiks).

Perpisahan itu datang… ketika aku mencintai mereka dengan begitu dalam. Bagaimana tidak, kami bertemu, berinteraksi dan menjalani kehidupan hampir dari pagi sampai malam. Dari mulai di sekolah, lapangan, lingkungan sekitar desa, mesjid dan posko bimbingan belajar. Bahkan, anak-anak masih rutin menghubungiku via ponsel sampai sekarang (ketika aku menulis postingan ini). :’(

Hhh… namun di sisi lain, aku amat rindu rumah, hidup dan keluargaku. Begitulah… waktu yang mempertemukan, waktu juga yang memisahkan. Jika waktunya telah tiba, tak ada kuasa untuk menundanya.

Ok, PPL pun sama. Aku tidak membicarakan betah atau tidak betah. Tanpa peduli dengan nilaiku nanti, aku sangat berhutang budi kepada semua yang telah menunjang pelaksanaan PPL-ku. Dari mulai pihak kampus, civitas akademika SMAN 1 Kadugede, dosen pembimbing, guru pamong, rekan-rekan seperjuangan PPL, dan tentu saja anak-anak kelas X5 dan X6. Mereka amat sangat banyak memberi pelajaran, langsung tak langsung.

Setidaknya, aku sedikit banyak tahu praktik merencanakan, mempersiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. Sementara pada praktiknya di kelas, aku jadi sedikit tahu tentang bagaimana memperlakukan anak-anak di kelas, membangun motivasi dan kecintaan mereka terhadap pelajaran, membentuk interaksi, memahami psikologis mereka dsb. Terima kasih banyak!

Di kelas X5 ini juga, aku mengutarakan apresiasiku. Mereka kelas yang baik, cukup aktif, hangat, dan tak ada rekor bolos. Selanjutnya, aku menyerahkan kumcer “Selepas Hati Pergi”. Jujur, sungguh sangat sulit memilih salah satu anak yang berhak menerima buku sederhana itu. Sampai akhirnya, buku itu mendarat kepada Lina Yasmin. Aku sangat mengapresiasi usahanya untuk selalu menjadi “peredam” kegaduhan kelas. Terlebih lagi, dia cukup aktif berpartisipasi dan mendukung kegiatan belajar-mengajar.

Entah kenapa, kelas X5 ini memang daya konsetrasinya tak berlangsung lama. Terlebih lagi kaum adam. Jadilah keheningannya hanya sebentar, lalu cepat rusuh lagi. Kadang risih dan cukup menguji emosi. Dan tanpa gadis berperawakan tinggi itulah, kadang aku merasa tak bisa mengkondisikan kelas.

Dengan diam saja, kadang mereka paham kalau aku mulai tak suka dengan kegaduhan mereka. Namun tak lama, mereka mengulanginya lagi. Dan Lina serta kaum neng lainnya lah yang selalu meredakannya. Kadang aku berpikir, aku belum terlalu paham apa keinginan AKSEL itu. Baik kaum neng dan adam, kadang-kadang sulit dimengerti juga. Apalagi kalau mereka telah diam semua. Hehehe…

Setelah menerima buku tersebut, Yasmin bilang,

“Makasih. Aku bakal jaga buku ini baik-baik, Miss.”

“Terima kasih.”

Aku juga menghadiahkan kumcer itu kepada Fiona Artha di waktu yang lain (Kamis, 28 Maret 2013). Sebelumnya dia tidak masuk sekolah karena sakit. Beruntunglah pada waktu itu aku membawa buku dan bertemu langsung dengannya di kantin. Selain dia adalah coordinator ESA (English Student Association), dia juga mampu jadi fasilitator teman-temannya di kelas. Seringkali kulihat, anak-anak AKSEL yang kurang paham maksud soal atau tidak tahu makna sebuah kata, berbondong-bondong bertanya padanya.

Berkali-kali kurilik jam untuk memeriksa waktu pulang. Rasanya lama sekali jarum jam menuding waktu pulang. Sampai akhirnya, bel pulang menguar. Sekali lagi, aku mohon pamit sekaligus meminta maaf dan berterima kasih pada mereka. Kemungkinan besar, yang terakhir kali. Kepada Rezza, Agung, Neng, Anisa, Jenita, Khaerul, Donny, Shofi, Nina, Afni, Elsha, Rizkia, Lina, Dea, Ina, Isnaenul, Grias, Ifin, Cahya, Candra, Kosasih, Ghozwan, Adam, Imel, Liza, Lela, Evy, Novy, Linda, Yanti, Tati, Silva, Tiara dan Fiona.

Sambil membereskan tas, kubiarkan mereka pulang. Sebagian besar menyalamiku, mungkin untuk yang terakhir kali.
end
“Tetep semangat, Miss! Ini bukan perjuanganmu yang terakhir kali,” kata Rezza, sang KM, usai menyalamiku. Pesannya sangat super.

“Komunikasi lewat fesbuk ya, Miss!” timpal Adam, yang suatu petang mengirim inbox padaku untuk kembali mengajar. Fiyuh!

“Jangan lupain kita, Miss!”

Insya Allah… Meski tak janji untuk ingat seluk-beluk semua kenangan dan pribadi mereka (andai saja tak kutulis, aku tentu telah lupa. Heuheu), aku pasti ingat dan mengakui bahwa mereka adalah bagian tak terpisahkan dalam titian hidupku.

Well… Teteh pamit, Dik. [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *