10 Kunci Agar Menjadi Guru Ideal

10 Kunci Agar Menjadi Guru Ideal

tips jadi guru ideal

Daku tak segera membacanya di perpustakaan, ya… hanya sekilas saja.

Barulah ketika di rumah, daku lebih merasa khidmat membacanya. Di sela-sela membaca tersebut, daku memutuskan untuk menuliskannya kembali dalam sebuah buku catatan, tertanggal 14 Oktober 2012. Alasannya tentu untuk ‘menjepret’ isi berharga dari buku tersebut. Bagaimana tidak, buku itu hanya mampir dalam genggaman. Selanjutnya, tentu ia akan kembali berjajar di rak perpustakaan untuk menebar manfaat ke khalayak. Terlebih lagi, aku akan menghadapi PPL pada Januari 2013. Tentu, mempelajari isi buku itu akan amat sangat perlu!

Benar saja, banyak hal yang aku reguk dari buku tersebut. Sampai-sampai aku terapkan dalam tugas PPL-ku di SMAN 1 Kadugede. Dan, cukup membantu. Berikut beberapa sari yang sempat aku rangkum. Ya, mengenai10 hal agar menjadi guru ideal:

1. Kuasai Materi

Poin pertama ini hukumnya w a j i b. Menguasai materi secara mendalam memang modal utama ketika menghadapi murid. Bukan hanya hapal, namun paham. Dengan begitu, sikap atau penyampaian kita di kelas pun akan memancarkan kepercayaan diri, santai, tidak bergantung pada buku sumber (sehingga secara psikologis anak akan yakin akan kedalaman ilmu sang guru) serta tidak was2 manakala murid menanyakan hal yang kurang ia pahami.

2. Punya Wawasan Luas

Sebagaimana kita tahu, informasi dan berita2 datang dengan cepat dan berubah-ubah. Kalau kata Ibu Utje Hamid Suganda yang intinya,

“Dunia sudah menjadi kampung kecil. Orang bisa tahu berita dari belahan dunia lain dalam waktu singkat.”

Maka membaca majalah, Koran, buku, situs online, page2 bermanfaat di fesbuk, artikel2, menonton berita atau memperluas pergaulan akan sangat bermanfaat dalam meng-up date berita bahkan ilmu pengetahuan. Jika kemudian kita sampaikan ke anak2, tentu akan menjadi daya tarik tersendiri, bukan?

3. Komunikatif

Komunikasi di sini, selain dalam rangka penyampaian dan penerimaan pesan, juga dalam upaya pendekatan psikologis antara anak didik dan guru. Hal-hal kecil semacam menanyakan kabar, pemahaman materi, masalah internal kelas, keluhan belajar dan mungkin mengobrolkan hal pribadi akan menimbulkan penerimaan atau ‘acceptability’. Lama-lama, murid akan menganggap guru tersebut sebagai bagian dari dirinya. Hal itu selain sangat penting untuk menopang kelancaran KBM, juga penting untuk mengakrabkan dan menumbuhkan rasa saying satu sama lain. Jika begitu, belajar pun nyaman, bukan? ^_^

4. Dialogis

Dialog interaktif, semacam pertanyaan guru ditanggapi seorang murid, lalu ditanggapi lagi oleh murid lain, dst bisa mengembangkan pikiran dan semangat ketika belajar. Ketika PPL pertemuan ke-2, saya pernah ditegur oleh guru pamong. Waktu itu, saya membahas jawaban PR mengenai ‘Past Perfect Tense’. Masing2 siswa yang mengacungkan tangan maju ke depan. Ketika hasilnya telah dituliskan, saya dengan cepat membenarkan atau mengoreksi pekerjaan mereka tanpa ‘berunding’ dulu dengan yang lain.

Saran bermanfaat dari guru pamongku itu adalah, membuka diskusi untuk menentukan salah-benarnya jawaban murid. Sehingga di sini argumentasi siswa akan diadu. Mereka secara tidak langsung akan tertantang untuk mempelajari materi lebih lanjut lewat referensi yang lebih luas lagi. Ya, keren sekali! Hal itu juga akan menimbulkan rasa simpatik siswa. Mereka akan termotivasi untuk berpikir kritis dan analitis. Maka, saya pun sering menjadikan mereka sebagai komentator atas pekerjaan maupun penampilan dari teman2 mereka sendiri. Interaksi pun i meletup-letup dan kelas jadi hidup.

5. Gabungkan Teori dan Praktik

Praktek diperlukan sebagai media menurunkan, mengendapkan dan melekatkan pemahaman materi pada otak anak didik. Bisa di laboratorium atau ke lapangan. Siswa akan terdorong untuk mengembangkan materi yang disampaikan.

Khusus dalam pembelajaran Bahasa Inggris, praktik memperhatikan skill yang diinginkan. Ketika ‘listening’, aku berusaha mengasah kemampuan mereka. Alangkah lebih baik jika dilakukan di laboratorium bahasa, menggunakan ‘tape’, ‘missing lyric’ dalam lagu atau jurus terakhir yakni men-dikte.

Ketika ‘speaking’ dengan materi ‘expressing’, aku menggunakan saran dari dosen pembimbingku untuk membuat dialog dengan situasi yang mereka kreasikan sendiri, lalu menggunakan sample untuk ‘act out’ di depan kelas. Akhir2 ini, aku pun membuka sesi ‘komentar’ dari mereka sendiri.

Ketika ‘reading’, aku lebih menajamkan pelafalan atau ‘makhroj’ mereka. Seringnya sih dari kosa-kata yang berkaitan dengan materi/teks. Dari mulai pembacaan sekelas, per-barisan, per-bangku sampai individu.

Lalu dalam ‘writing’, aku pun menekankan pemahaman grammar dan struktur mereka. Misalnya dalam pembuatan kalimat, mengembangkan paragraph, me-re-write sebuah teks bahkan menciptakan teks. Semua itu tidaklah gampang. Siswa membutuhkan perhatian ekstra. Namun hal2 itulah yang bisa manjadi tolok ukur pemahaman teori mereka jika diterapkan dalam praktik. ^_^

6. Bertahap

Bertahap bukan berarti lambat. Intinya adalah ‘pelan, namun kena sasaran!’ (prinsip Kyai Nafi). Ya dalam hal ini kita memiliki 2 target utama; memberi pemahaman materi kepada siswa dan memenuhi target kurikulum yang ada.

Nah, hal inilah yang menjadi salah satu momok bagi anak praktikan seperti saya. Bagaimana tidak, saya yang tengah mampir ‘belajar untuk mengajar’ mesti memperhatikan betul RPP, durasi yang tersedia, urutan materi dan target pencapaiannya. Sehingga, saya mesti ‘menumbalkan’ murid yang merasa cara penyampaian materi saya terlalu cepat. Padahal saya sudah menyiasati dengan membuka sarana komunikasi di luar kelas bagi mereka, namun kenyataannya mereka tidak begitu tertarik untuk membicarakan materi seputar pelajaran di luar kelas. Sehingga kadang saya mengulangi penjelasan mengenai materi yang sekiranya paling mereka anggap susah.

7. Miliki Variasi Pendekatan

Ada saatnya mengajar itu dengan menggunakan pendekatan ceramah, dialog interaktif, micro teaching (pengajaran pada kelompok kecil), club discussion, small group, student categories dst. Semakin beragam, semakin asyik dan berkualitas. Khusus untuk pembuatan kelompok, kita jangan ‘melepaskan’ begitu saja. Sangat dianjurkan untuk tetap mendampingi, meng-cek apakah semua anggota grup itu paham atau apakah ada budaya ‘mengandalkan’ seseorang saja, dst.

8. Tidak Memalingkan Materi Pelajaran

Dalam mengajar ada totalitas untuk mencurahkan perhatian kepada anak didik secara maksimal pada satu materi yang sedang dikaji, tidak melulu belok dari materi. Dalam kasus ini, aku pernah mendapat kritik dari seorang anak perempuan yang baik.

Dia bilang kadang aku sering kejauhan dalam membahas suatu hal, misalnya belok ke ranah sepakbola yang tidak dipahaminya. Hehehe… Waktu itu yang ada dalam pikiranku, anak2 (terutama laki2) tengah begitu jenuh, maka aku banting stir sebentar ke lingkup sepakbola. Baru setelah sadar waktu dan mendapati senyum mereka kembali, aku segera meluruskannya. Hehehe… Begitupun dengan menceritakan pengalaman, cerita inspiratif, prestasi, kisah penuh hikmah, dst. Bisa dijadikan ‘bumbu’ belajar, namun tidak menjadi topic utama. Segera kembalikan konsentrasi pada materi, apabila hal tersebut telah terlalu banyak menguras waktu.

9. Tidak Terlalu Menekan dan Memaksa

Memberi materi baiknya sih seperti air, mengalir pelan namun menerobos hal2 sulit bahkan merobohkan hal2 besar sekalipun, dengan catatan ketekunan, kerajinan dan kesungguhan. Sebagai guru, kita tertuntut untuk menyelami psikologi anak.

Ritme semangat dan energinya itu tentu tak sama tiap harinya, maka kita dituntut untuk peka. Barangkali mereka tengah menghadapi tugas2 berat dari pelajaran lain, menyiapkan ulangan2, presentasi2, tugas kelompok, pembuatan makalah, dst. Sehingga dengan begitu, baiknya kita tidak menumpukkan tugas terlalu banyak dan berat. Atau setidaknya tegas, namun lebih bersikap toleran. Hal itu akan menumbuhkan rasa ‘care’ dalam diri guru. Sehingga murid2 merasa sangat begitu diperhatikan dan dipahami. Semisal ketika memecah 10 soal, kita bagi saja dalam kelompok2. Sehingga satu kelompok bisa hanya ‘bertanggung jawab’ mengerjakan 2-3 soal saja. Selain tak memberatkan, bikin enjoy dan meningkatkan kerjasama sekaligus tanggung jawab.

10. Humoris, tapi Serius

Ciri guru ideal menurut buku ini adalah berwatak dinamis, kompetitif dan humoris. Humor tentu bukan tujuan, melainkan alat untuk menyegarkan pikiran. Dan, sangat dianjurkan humor2 tersebut bersifat mendidik, menggugah semangat belajar dan inspiratif sehingga misi konstruktif demi kepribadian anak menjadi lebih baik pun tergapai. Misalnya tidak dengan humor semacam ‘men-under estimate’ penampilan seseorang, bertingkah aneh/gila, dst. Humor kadang bisa muncul spontan, atau bisa juga dengan mempersiapkan bahan, umpamanya tebak-tebakan atau cerita lucu namun inspiratif, mengasah logika atau menajamkan konsentrasi. Barangkali kisah Abu Nawas bisa dijadikan referensi.

Demikian tips menjadi guru ideal. Semoga kita bisa manjadi guru yang ideal. Aamiin…

Makasih, semoga bermanfaat! ^_^ [#RD]

*17 Februari 2013

2 Comments
  1. Anka
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *