13 Tips Menghadapi Kuliah Kerja Nyata (KKN)

13 Tips Menghadapi Kuliah Kerja Nyata (KKN)

KKN, tips kkn, tips kegiatan kkn, kkn di desa, kkn mahasiswa, tips kkn di desa

Dokumentasi Pribadi; KKN Universitas Kuningan (UNIKU) Tahun 2012

Rasanya baru kemarin daku melaksanakan program KKN. Eh, sekarang-sekarang adik tingkatku mulai ‘galau’ dan kerap mendiskusikannya. Hum… beneran deh! Sidang komprehensif, skripsi, toefl, bla bla bla telah merenggut sebagian besar isi memoriku. -_-‘

Khawatir gak bakal hidup nyaman di daerah terpencil? Ragu-ragu bisa berbaur dengan anggota kelompok KKN yang asing-asing itu?

Bimbang dengan program kerja yang akan disuguhkan ke masyarakat? Takut gak bisa beradaptasi dengan cuaca, bahasa, adat-istiadat dan tetek-bengek tempat baru itu?

Hey… Semua pikiran or spekulasi itu w a j a r, kok. Tetapi… kalau meyakini semuanya, baru deh gak wajar. Hehehe. Kenapa? Daku pribadi telah membuktikan bahwa kekhawatiran dan pikiran negatifku pra-KKN ternyata tidak sepenuhnya terpampang nyata. Intinya… menerka-nerka sih boleh tapi baiknya jangan mensugestikan KKN-mu bakal buruk, gak berkesan, rumit, penuh konflik, dan seabreg catatan negatif lain. Kalau jadi kenyataan ‘kan bakal repot?! -_-‘

Baiklah baiklah… jom deh kita bahas tips menghadapi Kuliah Kerja Nyata alias KKN! ^_^

1. Luruskan Niat, Yuk?!

Masih percaya ‘kan dengan “segala sesuatu tergantung niat”? Kalau niatnya baik, insya Allah dimudahkan. Termasuk KKN. Hayuk deh kita niatkan tujuan utama KKN; mengabdikan diri pada masyarakat, mengaplikasikan teori yang kita dapat di bangku perkuliahan, belajar beradaptasi dengan kebudayaan daerah lain, belajar memahami perbedaan, belajar mandiri, kerja sama, dst.

2. Ikuti Apapun Kegiatan Pra-KKN

Biasanya sebelum KKN dilaksanakan, pihak lembaga akan membuat serangkaian acara pra-KKN. Entah itu pembagian kelompok, sosialisasi mengenai pembiayaan, lokasi KKN, pembekalan, dst. Kebayang deh waktu itu aku cuma kenal dua orang dari 20 anggota kelompok berbagai fakultas. Mereka asing dan sama sekali tak daku tahu sifat or karakternya.

So… kalau tak ada hal-hal yang penting, sangat dianjurkan deh jika kita mengikuti semua kegiatan itu. Selain mendapat informasi mengenai all about KKN, kita pun akan memiliki banyak kesempatan untuk berdiskusi dengan anggota kelompok KKN. Jadi insya Allah deh rasa persaudaraannya mulai terpupuk dan kita gak bakal kikuk.

3. “PDKT” dengan Anggota-anggota Kelompok KKN

Baiknya PDKT alias pendekatan dengan anggota kelompok KKN kita lakukan dari pra-KKN itu sendiri. Maka gak perlu merasa rugi untuk menghadiri diskusi kelompok (entah mendiskusikan program kerja, peralatan dan perbekalan yang diperlukan, ‘aturan’ internal bersama, alokasi dana/anggaran, penyusunan organisasi kelompok, dst) sebelum benar-benar berangkat ke lokasi KKN. Semua itu itung-itung ujian awal untuk kelompok kita, sebelum nanti menghadapi ujian sebenarnya yang lebih rumit dan tak terduga di lokasi KKN.

Nah, biasanya pertemuan demi pertemuan pra-KKN itu akan “membuka” topeng masing-masing secara perlahan. Yang awal-awalnya jaim akan “keluar” deh aslinya. 😀 Bagusnya, mengetahui sejak dini karakter masing-masing akan menjadi modal penting untuk “hidup bersama” di lokasi KKN.

survey kkn, KKN, tips kkn, tips kegiatan kkn, kkn di desa, kkn mahasiswa, tips kkn di desa

Dokumentasi Pribadi; KKN Universitas Kuningan (UNIKU) Tahun 2012

4. Google Map atau “Rekreasi” Sambil Survey?

Dosen Pembimbing atau pihak kampus biasanya akan memberi maklumat supaya kita melakukan survey lokasi terlebih dahulu. Semua anggota kelompok gak wajib ikut, yang penting ada perwakilan ke sana. So, pilihan ada di tangan kita; ikut survey langsung atau hanya tahu gambaran dari google map? 🙂

Kakakku sempat menggunakan google map untuk mengetahui gambaran lokasi KKN-ku, Desa Kubang Jero – Kecamatan Banjarharjo – Kabupaten Brebes. Namun karena tak puas, aku pun ikut survey saja. Kenapa survey-nya dibilang sambil “rekreasi”? Karena kedatangan kita ke lokasi KKN itu memang dalam suasana santai.

Ketika kami tiba… banyak hal yang kami pelajari. Beberapa diantaranya yaitu mengenai medan jalan (apakah memungkinkan jika beberapa diantara kami membawa sepeda motor?), keadaan geografisnya, rumahnya (apakah memadai dan strategis? dekat dengan balai desa? dekat dengan sekolah? dekat dengan pasar?), pasar atau tempat kami memenuhi kebutuhan primer, sambutan atau antusiasme aparat desa dan masyarakatnya, kebutuhan masyarakatnya (agar kita bisa mencocokkan dengan program kerja), adat-istiadat, bahasanya (apa sunda? sunda halus atau kasar? apa jawa?) dst.

Karena konsepnya santai, agenda kami pun hanya seputar mengobrol dengan aparat desa (Kepala Desa, Sekdes, Kepala Dusun, dst), pemilik rumah (mengenai keadaan rumah dan desa itu sendiri), ketua RT/RW dan berkeliling desa demi menghampiri, senyum + salam + sapa sekaligus mensosialisasikan keberadaan kami pada masyarakat.

5. Susun Rencana Program Kerja yang Baik dan Benar

Survey sekaligus “rekreasi” itu bukan berarti kita hanya observasi tempat lalu tak membawa ‘oleh-oleh’ apapun. Hasil survey berupa pengetahuan mengenai keadaan desa itu sangat membantu mendukung program kerja yang pas kita rencanakan untuk desa tersebut.

Contohnya di lokasi KKN-ku (Desa Kubangjero – Kecamatan Banjarharjo – Kabupaten Brebes). Program kerja budidaya ikan memang baik, tetapi keadaan desa kami tak memungkinkan, maka program kerja tersebut bakal gak bener jika diterapkan. Jadi selain program kerja yang baik, kita mesti pertimbangkan juga apakah program kerja tersebut cocok dan diperlukan pihak desa atau tidak. ^_^

6. Buat “Job Description”

Kalau program kerja sudah tersusun, selanjutnya kita buat pembagian kerja. Untuk memudahkan, biasanya pembagian kerja tersebut akan disesuaikan dengan spesialisasi masing-masing fakultas. Misalnya program pemberantasan buta huruf dipegang oleh anak-anak fakultas pendidikan, program vertikultur oleh anak fakultas kehutanan, program pengenalan komputer dan internet oleh anak-anak fakultas komputer, program tertib administrasi oleh anak-anak fakultas ekonomi jurusan manajemen, dst. Agar lebih tertata, kita juga bisa menunjuk koordinator program kerjanya.

7. Penampilan Berkesan di Awal-awal

Awal kedatangan kita ke desa cukup mempengaruhi respon masyarakat selanjutnya. Baiknya hari-hari pertama kedatangan kita ke desa, kita isi dengan PDKT ke seluruh elemen masyarakat (aparat desanya, tokoh masyarakatnya, anak-anaknya, ibu-ibunya, bapak-bapaknya, dst). Jangan sungkan untuk bergabung dengan ibu-ibu yang tengah mengobrol di teras sambil mengasuh anak-anaknya, ikut berjamaah di mesjid, berbelanja ke warung-warung sekitar rumah, menyapa bapak-bapak yang tengah bekerja, bermain bersama anak-anak, menawarkan makanan khas daerah kita, menceritakan perjalanan kita, dst. Ada salah satu komentar seorang ibu (Ibu Engkun) yang membanding-bandingkan kelompok KKN-ku dengan universitas sebelumnya,

Anak-anak yang sekarang (aku dkk kelompok 6 KKN UNIKU 2012) gak gengsi menyapa duluan, dekat dengan anak-anak, ikut manjat pohon mangga dan suka bercanda… jadi ke kitanya juga serasa akrab.”

next-page-RD-300x100-1

10 Comments
  1. maula
    • deeann
  2. rifan feri
    • deeann
  3. Anonim
    • deeann
  4. akmal s
    • deeann
    • akmal s
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *