4 Pesan dari Lelaki yang Bikin Jatuh Hati

4 Pesan dari Lelaki yang Bikin Jatuh Hati

4 pesan dari lelaki pencuri hati

tr.azimage.com

Sabtu, 14 Februari 2015

Daku tengah bersama dua muridku, menunggu elf yang mendekat. Tetiba,
tinnn… tinnn… tinnn..!!!

Klakson angkutan umum 01 dari arah seberang membuatku menoleh. Sang sopir melongokkan kepala dan memberi tanda agar daku menunggunya. Senyumku mengembang begitu tahu dia siapa.

Ekhem… perkenalkan. Si Mang ini langgananku ketika kuliah. Biasanya dia bawa angkot 02, tapi rupanya sekarang beralih. Whatever. Daku hanya menggeleng ketika elf sudah di depan mata. Kuputuskan untuk menanti Si Mang saja.

Tak lama kemudian, kulihat beliau langsung parkir dan sedikit mempercepat laju kendaraannya ke arahku. Senyumnya masih sama. Kumisnya pun demikian. Wkwk. Oh ya, beliau hendak membuka pintu depan, namun daku refleks masuk ke tempat penumpang. Jadinya tetap duduk di belakang.

“Oh jadi sekarang mah di sini? ngajar?” tanyanya.

“Iya, Mang. Ngisi waktu aja.”

“Berapa hari seminggu?”

“Empat hari,” Daku tercenung sejenak, teringat sesuatu, “Eh tapi bulan ini kayaknya mau full.”

“Full?”

“Iya, di dua tempat sih. Tanggung udah bilang sanggup.”

“Wah! Bagus atuh, dapet uang dari pasar juga, dari tempat les juga.”

Daku hanya tersenyum. Jadi, beliau ini sudah tahu daku jaga kios di pagi hari sampai siang. Lalu, siang sampai sorenya menghabiskan waktu sama murid-murid les. Tapi beliau pasti enggak tahu kalau daku mesti tidur lebih awal, untuk kemudian bangun lagi dan mengkhususkan waktu untuk menulis. Eh, emang penting? *pout*

Perjalanan kami begitu pendek. Maklum, jarak lembaga kursus dan rumahku hanya sekitar 2 km. Namun laju kendaraannya santai dan obrolan yang menggelinding pun cukup bikin mood baikku jadi tambah baik.

“Waktu kuliah mah ngeluarin uang terus ya, Neng?” tanyanya lagi, memainkan kontak mata lewat kaca mobilnya, “Sekarang alhamdulillaah punya pendapatan sendiri.”

“Iya, Mang,” Daku teringat betapa mengurasnya urusan kampus, “Tapi pendapatan saya mah apa atuhdibanding biaya yang udah dikeluarkan.”

“Orang tua emang kerja banting tulang buat nyekolahin anaknya, tapi yang penting punya kegiatan positif.”

“Ngamalin ilmu juga ya, Mang?”

Si Mang tahu daku ngambil fakultas keguruan, tapi sepertinya lupa jurusan apa. Beliau kembali bertanya. Kami kemudian membicarakan betapa lulusan keguruan zaman sekarang sulit masuk sekolah. Lebih lagi, maaf, apresiasinya kurang. Hal inilah yang membuatku (sampai tulisan ini diposting) belum pernah bikin surat lamaran ke sekolah manapun.

Si Mang nampak membenarkan posisi duduknya, “Nih, Neng. Sekarang mah yang penting waktu kita terisi sama hal yang bermanfaat, soal besar-kecilnya rezeki yang kita dapat, nanti juga nyusul…”

Kali ini daku banyak menunduk, mengangguk-angguk dan mengiyakan saja. Seumpama anak yang tengah diceramahi ayahnya, atau mirip keponakan kecil yang tengah dinasihati paman terdekatnya. Begitulah, daku hanya menyimak dan memberi keleluasaan pada beliau untuk bicara. Daku suka kok sama lelaki yang bijak.

Lebih lagi, akhir-akhir ini daku sadar sudah jarang cerita lebih intim dengan seseorang. Nah, kalau daku tuliskan. Berikut intisari dari nasihatnya:

Pertama, jangan anggap apa yang tengah kita jalani sekarang itu sebagai beban. Nikmati saja, biar semuanya berjalan lancar dan ringan. Syukuri dan tumbuhkan rasa suka.

Kedua, niatkan untuk mengamalkan apa yang sudah dipelajari. Tapi jangan memaksakan diri juga. Anak beliau saja, lulusan Stikes, sudah dapat panggilan tapi enggak diambil. Alasannya tempatnya jauh. Beliau sebagai orang tua sempat kecewa, tapi kemudian menghormati keputusan anaknya. Takut kalau dipaksakan, nanti pekerjaannya hanya akan menjelma jadi beban.

Ketiga, apapun aktivitas kita, yang penting bisa mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat. Sekali lagi beliau bilang, rezeki bakal ngikutin.

Keempat, ingat-ingat pilihan kita sendiri. Kalau dulu kita sekolah SMK jurusan pertanian dan sekarang bekerja di bidang pertanian, maka jalanilah dengan penuh tanggung. Sebab, kita yang memutuskan, kita yang melakoni dan kita pula yang mengambil konsekwensinya.

Ah, hatur nuhun, Mang. See you soon… ^_^ [#RD]

*February 17, 2015

2 Comments
  1. eka fikry
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *