7 Kesalahan yang Menghambat Anak untuk Terampil dan Mandiri + Solusinya

7 Kesalahan yang Menghambat Anak untuk Terampil dan Mandiri + Solusinya

7 Kesalahan yang Menghambat Anak untuk Terampil dan Mandiri 1

playbuzz.com

Sebagai ortu/guru/orang yang lebih dewasa, tentu kita ingin mendidik dan menjadi teladan bagi anak/siswa sesempurna mungkin. Namun kadang kita tidak sadar, ada beberapa kesalahan yang ‘mengintai’. Ruginya, kesalahan-kesalahan itu malah menghambat anak untuk tampil terampil, cerdas, ekspresif dan mandiri. Wah! Apa aja tuh? Jom!

??????????????????????????????????????????????????????????????????????

Kesalahan 1: Memaksa Anak Menghentikan Aktivitas Positifnya

Di usia prasekolah, anak biasanya mulai menampakkan kegemaran mereka. Bisa dengan melakoni hobinya, seperti: mengaji, menggambar, menyanyi, membaca, dst. Kadang-kadang, mereka bisa sampai lupa waktu. Entah itu waktu untuk makan, mandi, tidur, dll. Selain lagi asyik-asyiknya, mereka pun memang belum paham konsep waktu dan cara me-manage-nya.

Sayangnya, banyak orang tua yang belum paham akan hal ini. Tak jarang para orang tua menjadi ‘pengganggu’ aktivitas-aktivitas anak yang tengah asyik-asyiknya dikerjakan. Mereka pun biasanya menyuruh menghentikan aktivitas itu. Misalnya, “Adek! Ngajinya udahan, ayo mandi dulu!”. Kalau Si anak menolak, “Bentar lagi dong, Ma, tanggung mau ke ke huruf Kho”, orang tua pun akan lebih kasar, “Gak bisa! (sambil nutup Iqro), kata Mama mandi ya mandi!”.

Meski maksudnya baik, namun sikap tanpa toleransi demikian akan membuat anak terkekang. Selain mereka merasa tak punya otoritas terhadap diri sendirinya, mereka juga akan kehilangan kemampuan untuk memutuskan dan menerima suatu konsekuensi akan keputusannya itu. Padahal di masa depan, anak akan dihadapkan pada pilihan-pilihan, skala prioritas dan tentu akibatnya.

Solusi 1: Menjadi ‘Alarm’ Jadwal

Selama ini orang tua sering menjadi ‘pembuat’ jadwal anak. Entah jadwal untuk mengerjakan tugas sekolah, mengaji, makan, tidur, melakoni hobi, dsb. Kalau anak sendiri yang jadi pengatur jadwalnya, kenapa tidak? Kecuali kalau anak melanggar jadwal bikinannnya sendiri, barulah ortu tampil sebagai ‘alarm’.

Misalnya, “Lho, Dek! Sekarang ‘kan udah maghrib. ‘Kan waktunya sholat sama ngaji? Kok masih nonton tivi, sih?”

“Tanggung, Ma! Penasaran sama akhir ceritanya…”

“Ya udah, 10 menit lagi, ya. Nanti kalau jarum jam udah ke angka 2 (pukul 18.10), berarti Adek harus wudhu, sholat sama pergi ngaji. Nanti ketinggalan, sayang lho!

Atau bisa juga ketika anak hendak menjalani kegiatan ekstra macam ekskul, les, lomba, dst, kita ingatkan dia bahwa jadwalnya mengalami perubahan. Seperti, “Adek mandinya jam 2, ya? ‘kan sekarang mau pergi pramuka, jadi nonton kartunnya nanti lagi, ya?!”

Tanamkan pemahaman pada anak bahwa menepati jadwal sehari-hari itu penting, demi keteraturan hidup mereka. Namun demikian, ortu tidak mesti otoriter juga. Ada kalanya jadwal tersebut dibuat lebih santai. Misal pada saat liburan sekolah, jadwal melakukan hobi positif diperbanyak untuk mengganti jadwal mengerjakan PR atau tugas.

~~~

Menyuapi anak

forgoodness-sake.com

Kesalahan 2: Menyuapi Makan

Suatu hari, saya memasak mie instan bersama seorang keponakan laki-laki (G). Setelah masak, kami pun makan berdua dengan mangkok masing-masing. Tak lama kemudian, kakak saya (ibu G) datang. Sontak saja, G senang. Ia pun terlihat berbisik-bisik sama ibunya.

“Dia mah gak biasa makan sendiri, Yang,” kata kakak saya sambil mengambil alih mangkok dan menyuapinya, “Jadi kalo makan sendiri suka repot.”

“Masak, sih?! Ya ampun!” Saya terkejut.

Bagaimana tidak, G sudah kelas 5 SD. Sedangkan keponakan saya yang satunya, S (masih 5 tahun), sudah sangat lihai makan ‘tanpa bantuan’.

Memang sih, G itu manja dari kecil. Karena susah makan, ia kerap disuapi ibunya ketika main. Kontras dengan S yang doyan makan, ia sampai tak susah lagi untuk makan sendiri. Kecuali ketika memakan bakso ukuran agak besar, barulah ia meminta seseorang untuk memotongnya.

Dari sana, bisa disimpulkan kalau kemandirian bisa diterapkan sejak kecil. Termasuk kemandirian ketika makan. Bisa-bisa, jika tidak ada orang yang menyuapi si anak, ia tidak makan dong? Waduh…

Seringkali, orang beranggapan kalau anak gemuk mencerminkan ‘kesuksesan’ orang tuanya. Sebaliknya, kalau anak kurus, orang tua takut dianggap kurang perhatian. Tak heran, acara makan sering jadi ajang ‘berantem’ ortu versus anak. Si ortu ‘keukeuh’ menyuapi, si anak keukeuh pula menampik. Padahal semestinya kita cari tahu dulu alasan penolakan si anak.

Solusi 2: Biarkan Mandiri dan Pahami Selera Makan Anak

Kenyataannya, gemuk-kurus bukan jadi patokan. Kalau anak terus-terusan dipaksa, disuapi dan berujung cekcok, bisa-bisa acara makan akan berubah menakutkan di mata mereka. Padahal ada tips-triknya supaya anak bisa doyan makan. Misalnya, memasak makanan dengan bentuk yang lucu. Yang penting, kita yakin kalau alasan anak tak mau makan bukan karena faktor sakit. Cirinya, meski anak menolak makan, namun ia tetap aktif beraktivitas.

Lagi-lagi, ortu juga bisa jadi alarm. Kalau anak larut dalam kegiatannya sampai lupa makan, ortu jangan langsung saja menyuapi mereka, melainkan mesti menerangkan dulu akan perlunya makan dengan cara yang mudah ia paham. Misalnya, “Kalau Adek gak mau makan, entar Adek lemes terus sakit loh! ‘Kan sayang ntar gak bisa ke sekolah, naik sepeda, pergi ngaji terus maen ama temen-temen.”

Kalau anak tetap tak mau makan? Mungkin ia memang memilih menunda untuk makan. Tak perlu dipaksa disuapi atau diancam lebih ekstrim lagi. Taruh saja piringnya dan ingatkan dia untuk makan setelah kegiatannya selesai. Atau, bisa juga kita sediakan camilan yang sehat. Cara lain, kita mesti paham selera mereka dan menawarkan pada mereka untuk me-request mau makan dengan lauk-pauk apa.

Halaman selanjutnya…

~~~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *