7 Tips Agar Tidak Materialistik/ Matre

7 Tips Agar Tidak Materialistik/ Matre

Shopping bags, MonbiotSebelum nunjuk orang lain, boleh dong tanya diri sendiri; Daku ini matre apa enggak, ya? -_-

Orangtua zaman sekarang memiliki pekerjaan rumah demikian banyak dalam mengasuh dan membesarkan anak-anaknya. Hal yang paling kentara dan dirasa cukup sulit bagi orangtua adalah membesarkan anak tanpa tumbuh menjadi pribadi materialistis. Upaya orangtua harus demikian kuat agar bombardir iklan di televisi, majalah, maupun pengaruh teman sebaya, yang menjadi beberapa faktor atas sifat materialistis, dapat diredam.

Studi yang dilakukan oleh Penn State’s Smeal College of Business, seperti dikutip dalam No More Misbehavin’ yang ditulis oleh Michele Borba, Ed.D, menyimpulkan bahwa anak-anak sekarang lebih materialistis di usia yang lebih muda lagi. Karena itu, menjadi tugas orangtua untuk menanamkan pemahaman kepada anak bahwa karakter moral, kontribusi terhadap lingkungan, dan kualitas hubungan mereka akan jauh lebih bernilai ketimbang materi yang bisa diperoleh.

Dengan kata lain, orangtua perlu meyakinkan anak bahwa identitas mereka tidaklah didasarkan pada apa yang mereka punya, tetapi pada siapa mereka. Orangtua perlu mempelajari sejumlah cara bagaimana cara membesarkan anak tanpa membuat mereka menjadi individu yang materialistis.

Berikut tips-tips sederhana supaya tidak menjadi matre:

1. Batasi tontonan televisi

Ini aturan yang sering disebutkan oleh para ahli. Sebaiknya kita tidak larut berlama-lama menikmati suguhan visual dari layar kotak itu. Iklan yang muncul di antara program tersebut maupun gaya hidup glamour yang ‘dicontohkan’ beberapa tayangan televisi kerap menarik perhatian kita dan pada akhirnya membuat kita menginginkannya.

2. Perhatikan apa yang kita perhatikan

Bila kita melihat celana jins skinn atau, pakaian dengan merek ternama karena melihatnya di majalah, lalu kita berhasrat sekali untuk memilikinya namun tak punya cukup uang. Atau, punya uang namun benda-benda tersebut tidak terlalu diperlukan, yakinkan pada diri sendiri kalau kita tak harus mengikuti arus. Kendalikan keinginan demi keuangan yang teratur rapi.

3. Berani Mengatakan “tidak”

Bukan tindakan tepat untuk selalu menuruti apa saja yang diri sendiri inginkan. Lagipula, menurut Michele, Anda tidak selalu mendapatkan apa yang diinginkan dalam hidup ini ‘kan? Mengatakan “tidak” atau menolak membeli benda-benda yang diinginkan bukanlah hal keliru.

4. Tak harus serba membeli

Sesekali ada baiknya juga melatih diri sendiri untuk tidak membeli hadiah bagi anggota keluarga. Hal itu akan mendorong kita untuk kreatif dalam membuat hadiah tanpa mengeluarkan uang, misalnya membuat kartu, puisi, atau poster yang menggambarkan rasa sayang bagi penerima hadiah. Hal serupa bisa berlaku untuk hal lain.

5. Menjadi panutan bagi orang lain

Sebelum terburu-buru menyalahkan iklan di televisi maupun teman sejawat, coba lihat kembali diri sendiri. Apakah Anda gemar mengoleksi barang tertentu yang harganya sangat mahal? Apakah Anda suka membeli aneka busana dari perancang atau merek terkemuka? Kalau jawabannya iya, kita perlu membenahi diri sebelum kelakuan kita ditiru anak, adik, keponakan atau orang-orang di sekitar kita sendiri.

6. Prinsip prioritas

Gunakan keputusan berbelanja sebagai peluang untuk mengajarkan perencanaan keuangan, termasuk bagaimana mengontrol keinginan yang tidak perlu. Saat berbelanja untuk keperluan sekolah, misalnya, buatlah daftar barang yang dibutuhkan dan diinginkan lalu buat prioritasnya.

7. Latih kesadaran untuk menyumbang

Kita bisa menyumbangkan barang sendiri untuk kegiatan amal dan meresapi alasan melakukanhal itu. Donasikan barang-barangnya juga. Barang tersebut bisa diberikan kepada saudara ataupun kepada mereka yang kurang mampu. Hal itu akan membantu kita menyadari bahwa barang hanya objek semata.

Kita juga belajar untuk melepaskan kesenangan dari barang yang dimiliki agar orang lain dapat merasakan, kesenangan yang sama, seperti yang dialaminya.

Mudah-mudahan bermanfaat ya, Bro-Sist. ^_^ [#RD]

*Dari berbagai sumber
*August 28, 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *