7 Tips Memaafkan Diri Sendiri

7 Tips Memaafkan Diri Sendiri

tips memaafkan diri sendiri

Mungkin sebagian dari pembaca merasa ‘aneh’ dengan judul artikel ini. Tetapi mungkin juga sebagian lainnya langsung ‘ngeh’ dan pernah mengalami hal yang sama – merasa bersalah atas niat, pikiran, ucapan maupun tingkah diri sendiri dan cukup kesulitan untuk memaafkannya.

Termasuk daku. Ada hal yang tiap kali mengingatnya, dakumerasa bersalah terhadap diri sendiri. Ingin rasanya memanjatkan doa paling mustahil pada Tuhan, yakni dengan mengembalikan masa lalu itu untuk daku ‘edit’ sedikit. Namun daku ingat pesan Rasulullah bahwa dalam kata “seandainya” itu ada celah masuk bagi syetan. Misalnya dalam kalimat “seandainya begini, mungkin jadi bakal begitu”.

Memang benar, bersalah dan lupa merupakan sesuatu yang pasti menyandingi setiap manusia. Wajar. Namun bagaimana jika kesalahan tersebut cukup besar dan fatal? Sehingga kita terus dirongrong penyesalan? Ah penyesalan… benar kata orang, memang selalu datang belakangan. :’(

Duh, maaf jadi curcol begini. Bagaimanapun, menyalahkan diri sendiri tak akan mengubah keadaan. Hal berat namun wajib ditempuh hanyalah menyadari bahwa semua itu terjadi atas scenario Allah Swt. Skenario-Nya pasti luput dari kesalahan. Ya, siapa tahu dalam isak tangis tersimpan senyum paling manis. Hum… jom deh kita bahas! ^_^

1. Akui dan ikhlaskan semuanya
Jika menurut kita apa yang dulu kita perbuat itu salah, maka akui saja. Kita khilaf, tidak matang dalam memutuskan dan mengakui bahwa hal itu memang tidak sepatutnya kita lakukan. Anggap saja semua akibat yang kita rasakan adalah konsekwensi atas kesalahan diri sendiri. Ikhlas dan kembalikan segala urusan pada Allah Swt. Rasanya cukup bijak jika kita memohon kemudahan dan kelancaran hanya pada-Nya, sebab tiada lagi yang Maha Tahu apa-apa yang terbaik bagi hamba-Nya kecuali Tuhan itu sendiri.

2. Membuka diri
Daripada terus-terusan menuding dan menghukum diri sendiri, alangkah baiknya mulai membuka diri. Mesti kita ingat bahwa kesalahan masalalu bukanlah satu-satunya yang kita punya. Masih ada kebaikan dan potensi (walau kecil) dalam diri kita. Sebaiknya kita gali dan kembangkan kebaikan-kebaikan itu.

3. Yang kita miliki adalah SEKARANG dan DI SINI
Untuk mengembalikan masa lalu, siapa yang mesti kita suap? professor mana yang mesti kita sewa? penyihir mana yang mesti kita bayar? Presiden mana yang mesti kita demo? Well, TAK ADA satupun di dunia ini yang menerima layanan mengembalikan masa lalu.

Semenyesal apapun kita, tak ada yang mampu mengembalikannya. Tak ada yang kita punya selain “masa kini” dan “di sini”. Fokus saja memperbaiki dan memanfaatkan masa kini agar tak berbuah penyesalan lagi di masa nanti.

4. Ambil hikmahnya

Selalu ada saat-saat di mana kita tercenung menghadapi kenyataan. Saat pikiran dan hati jernih itulah biasanya kita menyadari keberadaan hikmah dibalik suatu hal. Ada pelajaran berharga di tiap kesalahan dan kegagalan yang kita perbuat. Minimal kita tahu bahwa cara A itu salah jika diterapkan dalam usaha B, maka seyogyanya kita tidak melakukan kesalahan yang sama. Lebih berhati-hati dan pastikan langkah kita berada dalam jalur keridhaan-Nya.

5. Coba bicarakan dengan sahabat, keluarga atau professional
Jika kenangan pahit itu ‘kambuh’, tak ada salahnya kita mengobrol, bertukar pandangan atau berkonsultasi dengan sahabat, keluarga, ahli atau orang-orang yang sangat kita percaya. Barangkali mereka memiliki cara pandang atau solusi yang berbeda untuk masalah kita.

6. Mencoba “tantangan” baru

Ketika kita terus menyalahkan diri sendiri, rasa trauma akan terus menjangkiti hari-hari. Jika masalalu melukiskan kegagalan hubungan kita dengan seseorang, bukan berarti kita akan selalu gagal berhubungan dengan semua orang. Sebisa mungkin beranikan diri sendiri untuk memperbaiki hubungan berikutnya dengan menghindari kesahalan yang dahulu pernah terjadi.

7. Ikut sertakan Allah Swt
Allah Swt adalah Dzat Maha Penting yang pasti berperan dalam tiap hela napas makhluknya. Namun seringkali kita lupa untuk memohon petunjuk dan kemudahan dari-Nya. Maka baiknya kita berubah untuk segera ‘menggandeng’-Nya dalam tiap keputusan apapun. Kemungkinan besar jika suatu hari nanti keputusan tersebut tidak sesuai dengan keinginan, kita bisa bermental legawa dan menyerahkan seluruh-Nya pada Sang Pengatur Urusan yang terbaik, Allah Swt.

Demikian. Semoga bermanfaat, ya. Terima kasih banyak atas kunjungannya. Keep visiting, Friends! ^_^ [#RD]

*13 Juni 2013

Referensi: Senyumkita.com

3 Comments
  1. Frida
    • deeann
  2. susanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *