8 TIPS AGAR ANAK ATAU MURID DISIPLIN DAN TAAT ATURAN

8 TIPS AGAR ANAK ATAU MURID DISIPLIN DAN TAAT ATURAN

anak nakal 2

Bagaimana rasanya memiliki atau menghadapi anak yang tak taat aturan? Humm… pasti repot juga, ya. Eh, memang dulu kita gimana? Begitu taat atau sama aja? -_-‘

Berikut ini beberapa tips supaya anak atau murid kita bisa taat aturan:

Ikuti Kata ‘Aa’

Aa, siapa? Aa Gym, masak gak kenal? Hehe. Saran-saran Ustadz asal Bandung itu memang mantap ya, Bro-Sist. Salah satu yang fenomenal dan bisa orang hapal sampai sekarang adalah 3M; Mulai dari Hal terkecil, Mulai Sekarang dan Mulai Dari Diri Sendiri. Begitupun dengan usaha agar anak/murid kita disiplin.

Bentuk anak jadi pribadi yang taat pada hal-hal baik, sesederhana apapun kebaikan itu. Lalu, jangan takut untuk memulainya sekarang juga. Dan tak lupa, kita mesti menjadi contoh, bukan sekadar memberi contoh. Dengan demikian, kita tak hanya dipandang sebagai makhluk yang kerap menyuarakan aturan, namun juga teladan yang baik.

Perhatikan Komunikasi

Anak akan mau mendengar dan mentaati saran kita kalau komunikasinya baik. Bisa dibayangkan orang tua yang mencak-mencak sama anak, atau guru yang menghardik muridnya, ‘hey! taat aturan dong!’. Anak mungkin akan mengangguk dan memakai wajah kepolosan mereka sebagai senjata, tapi kalau sudah diluar pengawasan kita, kemungkinan besar anak akan kembali melanggar aturan. Karenanya, komunikasikan segala aturan dengan baik dan sederhana, supaya anak bisa lebih mudah mencernanya.

anak nakal 1

Perhatikan usia anak/murid. Kalau mereka masih sekitaran 1-2 tahun, tentu mereka memiliki ego yang tinggi. Jadi, tak ada yang lebih bijak selain bersabar menuntun dan membimbing mereka. Kalau mereka sudah remaja, cara semacam dialog mungkin akan lebih tepat diterapkan ketimbang dengan memerintah secara otoriter.

Konsisten dengan Aturan

Jika dulu kita memerintahkan anak agar datang tepat waktu dan akan menghukum jika terlambat, maka semestinya kita pegang omongan itu. Anak akan bingung kalau ada yang datang telat dan kita diam saja, tanpa memperingatkan atau menghukum. Bahkan anak bisa geleng-geleng kalau kita sendiri yang telat dan tak meminta maaf sama sekali.

Semasa PPL, aku pernah mendapat kritik dari seorang murid. Dia bilang aku ini plin-plan. Bilangnya, ada tiga opsi hukuman untuk mereka yang tidak mengerjakan PR, agar siswa bisa disiplin. Nyatanya ketika ada yang lupa tak mengerjakan PR, aku malah meloloskannya. Hummm.

Ada Reward dan Punishment

Ada kalanya kita terapkan pemberian reward alias hadiah pada anak/murid yang taat aturan. Sebaliknya, kita pun bisa menerapkan punishment alias hukuman pada mereka yang melanggar aturan. Hukuman itu tentu mesti memerhatikan banyak aspek, termasuk hikmah dari hukuman, kadarnya, berefek lebih baik atau tidak, dst.

Jelaskan Mengapa Begini, Mengapa Begitu

Masih ketika PPL. Ketika aku membiarkan mereka untuk melontarkan kritik, ada yang bilang; datangnya suka tepat waktu. Well, itu kritik apa pujian sih? Heuheu. Mungkin mereka belum paham, bahwa datang tepat waktu semestinya sudah jadi aturan tersendiri. Bisa kita jelaskan kenapa harus seperti itu. Kenapa pula, kita menerapkan aturan jangan ini-jangan itu. Misalnya jangan meng-copypaste liar karya orang.

Jangan Biarkan Mereka Sendiri

Ketika memerintahkan sesuatu pada anak, kita semestinya ‘ada untuk mereka’. Jangan sampai mereka merasa sendirian ‘menanggung tugas’. Kalau mereka tengah mengerjakan PR, kita bisa mendampingi atau minimal berada di sisi mereka. Hal itu bisa membesarkan hati juga menciptakan suasana yang hangat.

Hargai Alasan Anak

Di tempat les, aku sempat dibikin kecewa dengan aksi terlambat massal anak-anak. Untung aku belum keceplosan meluapkan amarah. Usut punya usut, ternyata mereka terpaksa datang telat karena mesti mengaji dulu.

Kejadian itu, di satu sisi bikin kedisiplinanku terusik. Tapi di sisi lain, aku juga dituntut untuk menghargai alasan dan perasaan sang anak. Mereka tentu sudah memikirkan betul-betul skala prioritas antara mengaji dan les. Nyataya, mereka ingin kedua kegiatan itu sama-sama terlaksana.

Sediakan Multiple Choice

Ketika aturan yang kita buat malah dilanggar sang anak dan mereka memiliki alasan yang jelas, maka alangkah baiknya kita sediakan pilihan atau jalan alternatif. Bagaimanapun, kita mesti menjadi contoh atas sikap bijaksana dan kebijakan kita.

Tentu banyak lagi tips-tips supaya buah hati atau anak didik kita bisa sebaik yang kita harapkan. Yang terpenting, kita semua bisa sama-sama taat aturan atau norma yang berlaku, khususnya norma agama yang menyelamatkan kita. [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *