8 Tips Agar Cepat Beradaptasi dengan Lingkungan Baru

Posted on

8 Tips Agar Cepat Beradaptasi dengan Lingkungan Baru

adaptasi sama lingkungan baru

Rasanya tak mungkin kita hidup tanpa sesuatu yang baru. Iya kan, Bro-Sist?

Tempat baru, lingkungan baru, teman-teman baru, adat-istiadat baru, dsb. Nah ketika menghadapi semua yang baru-baru itu rasanya gimana sih ? Mayoritas pasti canggung, gugup, serasa asing, penasaran juga, ‘takut’ gak diterima/ diakui, dst. Campur aduk deh!

Sejatinya rasa-rasa itu datang karena kita belum mengalami atau terjun langsung dalam lingkungan baru tersebut. Istilahnya sih sudah suudzon duluan. Wajar… tapi kalau gak segera diatasi bisa repot juga, ya.

Well, jom kita bahas 8 Tips Agar Cepat Beradaptasi dengan Lingkungan Baru berikut! ^_^

1. Tak Perlu Asal Nebak Dulu

Tak jarang ketika masuk ke sebuah lingkungan baru, kita akan berpersepsi sendiri. Contohnya pas kita masuk ke sebuah sekolah, kita suka tiba-tiba nebak ‘ini sekolah favorit, sedangkan aku otaknya limit! wah gak bakal bisa ngimbangin nih! ’, ‘kayaknya murid-murid di sekolah ini gak asyik deh!’, ‘jangan-jangan aku bakal gak betah nih di sini!’, bla… bla… bla…

Hal itu pernah kualami juga. Tepatnya ketika hendak KKN. Karena nebak-nebak sendiri, jadinya malah panik sendiri. Padahal, kenyataannya jungkir-balik. Daku malah bisa betah di tempat KKN-ku itu.

Nah, syah sih syah kalau kepo tentang info sesuatu atau seseorang yang baru, asal jangan buru-buru bereaksi dan mengambil kesimpulan dini.

2. Siap Sedia

Kalau kita sudah tahu sedikit-banyak tentang suatu lingkungan baru, tentu kita harus siap sedia fisik dan mental. Kita mesti punya gambaran tentang bagaimana harus bersikap, kebiasaan apa yang diterima/ tidak, cuacanya seperti apa, adat-istiadatnya bagaimana, watak orang-orangnya seperti apa dst.

Ketika hendak KKN, daku telah mendengar bahwa lingkungan baruku bercuaca panas, cukup agamis, kurang memprioritaskan pendidikan, berbahasa sunda yang agak kasar, dst. Begitu sampai, nyatanya memang demikian dan daku beserta kelompok KKN pun menyusun program serta bersikap sesuai dengan keadaan lingkungan tersebut.

3. Memulai Percakapan

Ketika kita ada dalam pusaran lingkungan baru, yang dilematis dalam benak kita adalah; kalau diam terus takut dibilang jutek, kalau tiba-tiba hangat takut dikira Sok Kenal Sok Dekat… Jadi?

Jika kita bandingkan efek negatifnya, pilihan kedua lebih baik. Sebisa mungkin kita bersikap hangat dengan senyum, menyapa bahkan membuka percakapan. Kita niatkan semata-mata agar terjalin rasa sayang setelah saling mengenal.

Daku contohkan waktu KKN lagi, ya? Hehehe… Daku dkk sengaja mendekati kaum ibu-ibunya dulu. Kebetulan waktu itu mereka tengah berkumpul. Kami pun ikut gabung sambil membawa makanan, lalu memulai percakapan.

Awal-awalnya kami menggunakan Bahasa Indonesia, namun ternyata respons mereka cenderung singkat dan kikuk. Lama-lama kami pun berbahasa sunda dan respons mereka ternyata lebih antusias dengan jawaban yang agak panjang. Mereka pun menyadari penggunaan bahasa sundanya cenderung kasar, namun justru itulah yang menjadi salah-satu guyonan kami. 😀

4. Bertanya Saja

Oh ya, lingkungan baru tentu asing bagi skema diri kita. Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita ketahui keadaan sekitar dengan bertanya pada orang sekitar. Wajar kita banyak bertanya, malah orang yang ditanya pun tentu tak akan risih. Aku yakin mereka bakal welcome.

Ketika KKN (lagi), kami sempat diskusi dengan kaum ibu-ibu mengenai penggunaan bahasa sundanya yang sangat beda, mengenai kebiasaan di kampung itu, tentang pendidikannya, tentang hasil pertaniannya, dst. Bukannya merasa repot atau terganggu, mereka justru saling timpal untuk menambahkan apa yang mereka tahu tentang sesuatu yang kami tanyakan.

5. Berkeliling

Mau di lokasi KKN yang baru, sekolah baru, tempat kerja baru, dst… ada baiknya kita berkeliling untuk melihat dan memahami situasi lapangan. Pada saat itu kita dan orang-orang ‘lama’ akan saling bertemu, nah itulah waktu yang tepat untuk saling membalas senyum, tanya-jawab sederhana, bersalaman, dsb. Sehingga mereka dan kita akan sama-sama tidak kaget dan saling menerima keberadaan masing-masing.

Ketika KKN (KKN lagi… KKN lagi :D), daku termasuk provokator “keliling kampung”. Hampir tiap gang, jalan pintas, bahkan area pemakaman dan desa tetangga pun tak luput daku singgahi. Kecuali ke pasar yang jaraknya 3-6 km, aku dkk biasa jalan kaki atau bersepeda mengelilingi desa dan kadang ke luar desa untuk sekadar ‘mengasuh’ anak-anak, membaurkan diri dengan masyarakat dan menikmati panorama alam. Wah pokoknya berefek super!

6. Sugesti diri

Tips yang bermanfaat lain adalah mensugesti diri dengan hal-hal positif. Yakinkan dalam diri kita bahwa lingkungan yang baru akan memperkaya diri kita sendiri dengan cerita-cerita baru, teman-teman baru, adat-istiadat baru, pengalaman baru, dst. Semua itu akan menyenangkan dan pasti melekat dalam ingatan. Sugesti itu dijamin memberi gairah dalam kehidupan di lingkungan baru kita!

7. Berbaur

Sebetulnya kita tak perlu memaksa diri untuk cepat-cepat menerima lingkungan baru. Kita tidak mesti sesegera mungkin berbaur dengan hal-hal formal dalam lingkungan tersebut.

Ketika KKN, misalnya. Jika masih malu dan enggan, jangan dulu berpartisipasi dalam kegiatan sosial-kemasyarakatan yang resmi seperti mengurus administrasi desa, kegiatan posyandu, rapat pemilu, dst. Secara perlahan, dekati saja dulu warganya dengan membaurkan diri untuk mengobrol, bersih-bersih lingkungan desa, sholat berjamaah, dst. Setelah diri merasa nyaman pun, partisipasi lain bakal menyusul. ^_^

8. Be your self!

Meski kita hidup di lingkungan baru, rasanya kita tak perlu memalsukan diri dengan identitas dan kepribadian baru. Cepat atau lambat, waktu akan tetap membongkar siapa diri dan karakter kita. Untuk itu, demi kenyamanan dalam bergaul dan interaksi, tetaplah jadi diri sendiri. Namun jangan lupa untuk menjunjung adat tempat kita berpijak.

Demikian deh 8 tips agar cepat beradaptasi dengan lingkungan baru. Mudah-mudahan bermanfaat. 8 Tips Agar Cepat Beradaptasi dengan Lingkungan Baru [#RD]


14 thoughts on “8 Tips Agar Cepat Beradaptasi dengan Lingkungan Baru

    1. Mas Rizki, pertanyaanmu sudah dijawab lewat postingan spesial di blog ini. Judulnya: “9 Tips atau Cara Agar Tetap Positif Di Tengah Lingkungan Negatif”. Semoga bermanfaat. Terima kasih. ^^

  1. Thanks info’y semoga bisa saya terapkan insyaallah karna saya akan memulai kehidupan baru, di lingkungan baru seorang diri,, untuk buka usaha kecil”lan mohon do’anya…

    1. Sama-sama. Senang sekali sudah berbagi niat “hijrah”-nya. Semoga bisa sabar, lancar dan berkah. Aamiin ya Robbal ‘alamiin… ^_^

  2. Sulit sekali menyesuaikan diri. Pdhl udh hidup 2 thn di lingkungan baru ini. Tp klo ktemu sm org” ttp aja merasa canggung. Kdg bingung hrs mulai obrolan apa… Sll merasa jd org asing. Pdhl mayoritas org” dsini tuh sm” perantau.. Gmn yh… Suka greget sm diri sendiri klo udh menghadapi situasi kya gini… 🙁

    1. Hehe… memang suka gemes sendiri kalau sudah “terperangkap” dalam keadaan itu. Tapi artikel ini berusaha menjawabnya. Mungkin perlu waktu cukup lama ya, Mbak. 🙂

  3. ya, Betul !!
    Udah ada usaha buat bisa dekat dan berbaur dengan teman2 baru tapi rasanya masih sangat sulit menahan rasa malu !! Gimana Tuh solusinya Gan ???

  4. Seperti yg selalu saya alami, saya punya masalah saat masuk disekolah baru, dari smp sma sampe kuliah sekarang saya selalu tidak bs menyesuaikan diri. Saya bahkan kadang nangis karna trlalu memikirkan bagaimana saya menjalani kehidupan saya di lingkungan baru, ada saran ?

  5. Mohon maaf saya mau tanya,bagaimana caranya agar apa yang kita lakukan dapat dianggap baik pula oleh orang lain,kadang saya bingung dengan yang saya alami ini,setiap kali saya punya niatan baik dan sudah saya lakukan tapi belum tentu diterima baik pula oleh orang lain,bahkan selalu dinilai buruk padahal maksud saya bukan yang seperti itu,tolong sarannya,terimakasih

  6. Bagaimana tanggapan anda terhadap orang pendiam dilingkungan kerja. Padahal kinerjanya bagus hanya saja dia jarang mengobrol atau bercanda atau sekedar basa basi. Dia hanya fokus pada pekerjaan?. Apakah ada yang salah dengan sikapnya?
    Terima kasih

    1. Daku tidak bisa men-judge sikapnya salah atau tidak. Ada banyak alasan kenapa seseorang lebih memilih untuk banyak diamnya atau banyak bekerjanya, ketimbang dengan banyak bicara. Mungkin dia memang kurang pede, kurang bisa bersosialisasi, ingin dibiarkan sendiri, sedang marah/ kecewa, ingin berbaur tapi tak tahu caranya, dsb. Mungkin kamu bisa mendampingi dan membuatnya lebih “cair” secara perlahan. 🙂

Comments are closed.