9 Ciri Pengguna MedSos yang Terkena Gejala Sindrom FOMO

9 Ciri Pengguna MedSos yang Terkena Gejala Sindrom FoMo

fomo adalah, Arti FoMo, Ciri pengguna media sosial yang terkena sindrom FoMo, solusi untuk sindrom FoMo, fomo, sindrom fomo, rempong adalah, woles adalah, php adalah, baper adalah, kepo

Via: kommunikationsforum.dk

FoMo itu apa, sih?

Istilah sindrom FoMO ini bisa dikatakan masih masuk dinastinya kepo ya, Bro-Sist. Tapi kepo itu lebih ke arah… pengin tahu masalah orang dan memasukinya, sehingga dia pun terlibat. #CMIIW

Ekhem…

Ceritanya daku lagi buka twitter, terus nongol deh isi tweet @PsikologID. Katanya:

“40% dari pengguna media sosial menderita sindrom FOMO (Fear of Missing Out) alias takut ketinggalan update terkini (JWTIntelligence).”

Hmm bener juga, ya… Media sosial itu kalau diusut (cie bahasanya!) bisa punya peranan yang kompleks. Misalnya karena medsos ini, orang bisa memperluas jaringan/relasi. Tapi kemudian, perluasan jaringan ini juga punya efek ganda; positif dan negatif.

Nah bagi kamu kita yang rajin memanfaatkan media sosial, apapun deh, sudah semestinya mempertimbangkan sindrom FoMO ini. Kalau dilihat-lihat, gejalanya enggak kayak penyakit biasa. Bukan keadaan badan yang memanas, badan gatal-gatal atau mendadak pegal-pegal. Hehe

Kalau dirangkum-rangkum berikut ciri pengguna medsos yang kena sindrom FoMo:

  1. Keseringan membuka media sosial. Tanpa nunggu ditanya, interogasi diri sendiri, yuk? Berapa hari sih log in ke akun-akun media sosial kita? Kalau sudah, jawab sendiri deh, jumlah itu wajar enggak? Kalau udah mencapai too much alias keterlaluan, demi masa depan yang baik dan benar, mohon kendalikan, ya? (nyuruh sama diri sendiri) Hehe.
  2. Kelamaan di dunia maya. Sama kayak poin sebelumnya. Kita tanya diri sendiri aja, di dunia maya itu seberapa lama dan ngapain aja? Penting, enggak? Oke, jadwal log in kita mungkin cuma sehari sekali, tapi kalau yang sekalinya itu malah berdurasi delapan belas jam? Whooaaa!
  3. Mengkhianati dunia nyata demi media sosial. Maaf, bahasanya emang rada provokatif, ya. Tapi udah deh, intinya kalau kita bisa sampai mengorbankan realitas demi dunia di media sosial… patut diwaspadai tuh. Misalnya kita kerap merampok waktu untuk beraktivitas di media sosial ketika tengah sibuk di dunia nyata. Misal ketika kerja, sekolah bahkan sampai ketika jalan kaki atau dalam kendaraan.
  4. Berkorban demi jadi update. Mungkin kita pernah kepikiran, kalau kegiatan di dunia maya itu cukup menguras waktu dan dana. Bahkan ada yang sampai tidur larut karena sibuk di dunia maya. Aneh, ya? Walau tak menguntungkan dari segi apapun, kita sampai mengorbankan jatah istirahat tubuh. Begitu pun dengan jatah uang buku kita, misalnya, yang tega kita pakai demi pulsa atau mojok di warnet. Kecuali kalau untuk sesuatu yang baik dan benar, maka hal ini enggak terlarang. Hehe
  5. Penasaran akut sama link-link yang tersebar. Link ini bisa bersumber dari teman, fans page, akun portal berita, dsb. Bagus sih, jadi kita bisa TAPI HATI-HATI nih, jangan nge-klik sembarangan. Sebab, satu klik bisa mengubah hidup kita. Aish! dramatis amat. Hehe, maksudnya takut datang dari virus atau hacker, gitu.
  6. Penasaran akut sama pemberitahuan/notifikasi. Nah, ada kalanya ketika mata sedang jelalatan di semesta maya, tiba-tiba nongol pemberitahuan. Padahal enggak ada hubungannya sama pribadi kita, tapi karena ingin tahunya menggebu, eh diklik aja. Bukan haram sih, hanya saja lebih baik dipertimbangkan. Bisa ngeluyur ke mana-mana tuh! Hehe
  7. Penasaran akut sama kronologi/timeline seseorang. Ya, zaman sekarang mungkin kita sudah maklum. Sering pengin tahu sama profil seseorang. Biasanya sama mantan, crush, idola bahkan orang asing yang bikin penasaran! Soal status mereka, posisi mereka lagi di mana, mereka lagi ngapain aja, dsb. Sekali lagi, enggak ada yang salah. Itu hak kita. Tapi, mohon utamakan dulu urusan hidup kita sendiri, ya. Jangan sampai terlalu ingin tahu orang lain dan dunianya sampai melupakan kehidupan sendiri.
  8. Penasaran akut sama percakapan orang lain. Hal ini bisa kita lakoni tanpa sadar. Ketika berselancar di dunia maya, tiba-tiba ada status teman, terus ada yang mengomentarinya. Kita enggak ikut komen sih, cuma tetiba pengin tahu aja sampai pengin tahu banget. Lupa deh sama status sendiri dan para komentatornya. Hehe
  9. Punya perasaan khawatir bahkan merasa bersalah karena sudah lama enggak buka media sosial. Hmmm pernah enggak sih ngerasa yang beginian? Mendadak khawatir gitu. Sampai diri kita bertanya-tanya entah pada siapa. Misalnya; “Duh! di beranda fesbuk lagi rame apa, ya?”, “Timeline twitter apa ya yang lagi ngetren?”, “Omg! daku enggak punya G+, jadi berasa manusia purba!”, dst. Nah, nah, hati-hati! Hehe

Demikian deh beberapa gejalanya. Semakin banyak gejala yang kita rasa, sepatutnya mesti semakin hati-hati. Mulai pertimbangkan bahwa waktu itu sangat berharga. Terlalu berharga untuk sekadar klik ini-itu yang enggak jelas ujungnya. Perhatikan hidup sendiri sama orang-orang di kiri-kanan kita juga. Heuheu.

Ini sebagai nasihat untuk daku juga, sebenarnya. Soal solusi, tentunya sangat bergantung terhadap pengendalian diri. Kecuali kalau sudah akut, baiknya kita libatkan pihak yang berwajib. Eh, maksudnya sama ahlinya. Psikolog, gitu?

Hhh… Anyway, ada tambahan? [#RD]

Gambar: Google Image

6 Comments
  1. inda chakim
    • deeann
  2. Janiarto Paradise
    • deeann
  3. umimarfa
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *