9 Hal yang Dibenci Murid dari Seorang Guru

9 Hal yang Dibenci Murid dari Seorang Guru

guru killer

Sadar atau tidak, guru adalah pusat perhatian murid di kelas. Dari atas sampai bawah dan dari penampilan luar hingga dalam. Mereka memperhatikan ‘detail’ seorang guru, sehingga hal itu menjadi salah satu alasan sikap penerimaan mereka. Murid tentu bisa menempatkan diri di depan guru. Mereka ramah, menyalami, tersenyum dan bersikap hormat. Namun, bisa saja ada hal2 yang mereka kurang suka dari seorang guru. Apa itu? Masih dengan referensi buku “ Tips Menjadi Guru Inspiratif, Kreatif & Inovatif”, buah karya Jamal Ma’mur Asmani. Yuk, cek! ^_^

1. Penampilan Guru Kurang Rapi

Hmm… penampilan luar bisa menjadi kesan pertama bagi seseorang. Tak menutup kemungkinan bagi murid ke gurunya. Jadi, sebelum masuk kelas sangat dianjurkan bagi guru memeriksa kondisi fisik, baju, dandanan dsb. Barangkali kurang rapi. Dengan catatan, tidak terlalu berlebihan juga. Misalnya kadang kita risih melihat seseorang dengan bedaknya yang terlalu tebal, perhiasannya yang terlalu ‘berantai’, baju yang terlalu ‘mencolok’, atau hal2 ‘over’ lain.

2. Jarang Masuk

Ya, guru yang tak masuk kadang ber-efek menyenangkan bagi murid. Namun sebenarnya, dalam hati mereka, ada rasa butuh akan pelajaran. Apalagi tujuan mereka memanglah mengail ilmu dari guru. Sehingga kalau guru sering tak masuk atau hanya menekankan tugas, terutama dengan alasan kurang jelas, maka hal itu akan menjadikan murid tak suka pada guru bahkan mungkin pada pelajaran yang dibawakannya.

3. Pilih Kasih

Sebisa mungkin guru tahu semua nama murid2 tanpa kecuali, sehingga murid2 tidak beranggapan kalau guru hanya mengetahui murid2 tertentu (missal hanya yang pintar atau tenar saja). Guru juga mesti membagi ‘pelayanan’ secara rata, tidak melulu berdiam di salah satu bangku dan meladeni pertanyaan murid yang itu-itu saja. Atau, hanya menunjuk seseorang saja. Jika bisa, buat kelas menjadi kaya opini dengan tidak membuat murid canggung untuk berpendapat. Jika ada konflik, jangan dulu memberikan ‘keputusan prematur’ dengan cara memihak salah satu murid (walau murid tersebut terkenal baik dan di-anak-emas-kan), melainkan membuka diskusi dan memberi perhatian secara rata.

4. Memberi PR Tanpa Mengoreksinya

Jika memberi PR, tentu kita mesti bersiap memberikan evaluasi atas hasil PR tersebut. Jika tidak, bukan tidak mungkin murid akan semakin malas dan menganggap enteng semua tugas yang guru berikan. Bisa dengan menerapkan ‘tim independent’ (yang aku terapkan dalam PPL), bisa dengan bergerak langsung memeriksa satu-persatu, dengan membahasnya secara terbuka sambil meminta partisipasi siswa untuk berkomentar, membubuhkan paraf, menerapkan hukuman bagi yang tidak mengerjakan, atau lebih bersikap toleran dengan tidak menuntut pengerjaan PR secara benar dan menyeluruh, dst.

5. Berkata Kasar

Sejengkel-jengkelnya kita terhadap tingkah ngeyel murid, khusus untuk urusan lisan memang mesti dikendalikan. Ucapan kasar yang terangkum dalam ingatan tentu akan menumbuhkan trauma yang mendalam, sehingga sebisa mungkin kita mampu menata amarah dengan tidak meloloskan kata2 kasar secuil pun.

6. Suka Menyuruh (apalagi untuk kepentingan diri sendiri)

Umpamanya ketika belajar-mengajar dan kita merasa haus, tiba2 kita menyuruh murid untuk membelikan minuman. Tentu, hal tersebut selain tidak ada urusannya dengan kepentingan belajar-mengajar, juga hanya akan mengganggu aktivitas murid saja.

7. Menghukum dengan Semena-mena

Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, guru tidak mesti menerapkan keputusan ‘premature’. Perlu pengkajian dan penelusuran lebih lanjut. Selain untuk mendapatkan hasil baik, juga agar ada kesan bahwa guru memperlakukan murid dengan serius dan tak main2. Misalnya ketika sebuah kelompok murid tidak menyetorkan hasil pekerjaannya, lalu kita langsung menghukum tanpa mendengar alasan mereka. Bisa jadi karena hasil kelompok tersebut dibawa oleh teman yang kebetulan tidak sekolah. Namun demikian, kita tak juga harus langsung percaya, melainkan melakukan semacam ‘interogasi’ untuk meng-cek kejujuran mereka.

8. Cuek Di Dalam dan Di Luar Kelas

Cuek di sini bisa berarti sebenarnya, bisa juga tidak. Misalnya tidak gemar melakukan Tanya-jawab dengan murid atau berdialog di dalam dan di luar kelas. Bisa juga cuek akan hal2 yang menimpa murid/kelas, umpamanya menanyakan kabar murid yang lama tak sekolah, yang sering bolos, membicarakan kondisi kelas yang kurang bersih, dsb.

9. Susah Dimintai Tolong

Ketika murid ada kesulitan dan guru sulit dihubungi, tentu akan menimbulkan prasangka kurang baik bagi murid. Misalnya kita sulit berkomunikasi secara tidak langsung (sms yang tidak dibalas, telpon yang tidak diangkat atau komunikasi dalam jejaring sosial yang tidak direspon), bisa juga secara langsung, seperti susah ditemui, ‘sok’ sibuk, dst. Sebisa mungkin, kita luangkan masa untuk melayani kesulitan mereka.

Demikian hal2 yang sering dibenci murid dari seorang guru. Semoga bermanfaat! ^_^ [#RD]

*17 Februari 2013

2 Comments
  1. Ali genderuwo
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *