ACC Dosen Pembimbing 2; Jangan GR dulu!

ACC Dosen Pembimbing 2; Jangan GR dulu!

jangan geer dulu

Belum usai kebahagiaan yang ‘menggantung’ atas di ACC-nya skripsiku oleh Dosen Pembimbing 1, hari ini aku dan kawan-kawan The Deixis Team bersiap hendak menjumpai Dosen Pembimbing 2. Sebut saja beliau sebagai Bu I. Ya, kami hendak menyempurnakan ACC skripsi dari beliau.

Konon kabarnya, Dospem 2 akan langsung meng-ACC begitu dalam approval skripsi tertera tanda tangan Dospem 1. Namun anggapan itu ambruk manakala kudengar kabar dari seorang teman. Dia memberitahuku kalau Dospem 2-nya cukup ‘menyulitkan’. Bukannya segera menandatangan, beliau malah menginstruksikan dia untuk menemukan ‘proof reader’ dan menambahkan 1 bab lagi dalam skripsinya terlebih dahulu sebelum benar-benar di-ACC. Janggal, namun begitulah prosesnya.

Dia sempat memberi mandat padaku sebagai ‘proof reader’ untuk skripsinya. Karena alasan solidaritas, mulanya aku berminat saja. Namun begitu tahu aku mesti membubuhkan tanda tangan, aku pun mundur. Bukan apa-apa, aku kira tak se-formal itu. Maklum, masih berstatus mahasiswi. Kurasa tak cukup kuat dijadikan alasan sebagai orang yang berkompeten. Heu

Baiklah, kita lanjutkan kembali. Pagi jelang siang itu, aku dkk tiba di tempat kami biasa janjian bersama Bu I. Mulanya P. Skripsinya masih harus direvisi di bagian-bagian tertentu. Namun akhirnya ditanda-tangani. Tak lama, aku. Sama dengan sebelumnya, ada bagian yang mesti aku revisi. Ah tak terbayang kalau Bu I hanya asal tanda-tangan, soalnya bagian tersebut cukup krusial. Aku belum membuat konklusi dari research question kedua di bab 5! Sungguh terlalu. Beruntungnya, beliau tetap menandatangani lembar ‘approval’ skripsiku.

Gede Rasa sekali aku, menganggap bahwa pekerjaanku ‘baik-baik’ saja. Karena GR telah mendapat tanda tangan Dospem 1, aku pun tidak memeriksanya sendiri sebelum kusodorkan pada Dospem 2. Duhai, segala puji bagi Allah yang telah menegurku dengan segera. Walau cukup repot, namun aku pun segera mengeditnya di warnet terdekat.

Sekalian. Hari itu aku dkk pun menyiapkan persyaratan sidang. Usai bertemu Dospem 2, kami menuju kantor fakultas. Kami berkumpul dan menyiapkan daftar kegiatan mahasiswa, surat tanda lunas pembayaran dan ke perpustakaan untuk meminta surat bebas pinjaman. Lepas itu, kami segera menuju kampus 1 tempat kantor prodi kami. Kawanku, N, sempat berujar sambil menenteng persyaratan sidang,

“Berapa duit nih buat nyiapin ini?! kurang lebih 4 tahun loh!”

“Hehe iya, ya… belum ongkos, potokopi, buku, ngenet, dst.”

“Bisa gak nih kita bayar ke orang tuanya?!” katanya lagi, setengah bercanda.

“Soal materi sih mungkin bisa…” kataku, sekenanya.

“Iya nih, udah mau sidang aja tapi belum tahu ke depannya mau kayak gimana…” P nimbrung.

Jujur saja, obrolan itu sedikit aku masukan ke hati. Bagi mahasiswi akhir sepertiku, nampaknya ‘nasib’ usai lulus memang sangat menggalaukan. Aku sendiri memang tengah berpikir mengenai apa yang mesti aku perbuat, setidaknya buat diri sendiri lalu keluarga dan masyarakat. Ketika pikiran itu masih berdengung, D memotong,

“Udah yang penting sekarang es-pe-de aja dulu. Sidang… sidang…!”

Aha, iya. Semestinya hal yang telah dekat, yakni sidang skripsi dahulu yang mesti memenuhi pikiranku. Walau masa depan juga mesti sama-sama direncanakan, namun jika mengganggu masa sekarang, baiknya utamakan yang prioritas, ‘kan? Heu

Lagipula, Gede Rasa sekali aku menganggap bahwa produk sarjana yang galau itu hanya aku seorang. Milyaran orang di luar sana bernasib persis sepertiku. Mereka pun sama memikirkan rencana masa depan yang sesuai keinginan. Terlebih, zaman sekarang itu cukup rumit untuk bekerja sesuai keahlian. Kata orang, setidaknya mesti ada 3 elemen penting. Mesti punya modal (uang), saudara dan orang ‘dalem’. Bahkan, milyaran lain belum berkesempatan mengenyam pendidikan sampai S1, SMA, SMP, SD dan putus tak sekolah sama-sekali. Ya, jangan GR dulu.

Urusan menyiapkan persyaratan sidang telah kelar. Aku dkk kembali pulang. Karena alamat kami beragam, kami pun terpisahkan oleh angkutan umum. Saat sendiri dalam angkot itu, pikiranku melayang. Aku terpikirkan masa depan, galau karena bisa dibilang jalan hidupku tak sesuai dengan keinginan. Ada cita-cita yang tak mampu kugapai. Sulit juga aku mesti melewati semuanya dengan rencana lapis kedua, ketiga, dst. #curcol -_-

Di perjalanan dalam angkot tersebut, sang sopir berhenti di kawasan sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB) sambil berseru,

“Kasian lah, naikin aja…”

Aku melongok keluar. Nampak 2 anak berseragam putih-biru tengah melambaikan tangan. Begitu dekat, mereka segera masuk. Aku baru ngeh, keduanya merupakan anak berkebutuhan khusus. Khusus yang satunya, terlihat sekali dari gesture tubuhnya. Dia memilih duduk berhadapan denganku dan melintasi seorang ibu. Ibu tersebut nampak ‘terusik’ dengan kedatangan keduanya. Jujur, aku tak suka dengan ekspresi ibu tersebut. Terkesan dia itu ‘terganggu’ dan berusaha menghindari mereka.

Angkutan umum itu kembali merayap. Sesekali aku mencuri pandang pada si anak. Menurutku wajahnya begitu tampan, namun begitulah… ia memiliki kekurangan. Lagi, aku memberangus Gede Rasaku bahwa bukan hanya aku yang tengah menghadapi ujian hidup. Kalau membaca sekitar, ternyata banyak sekali orang di sekitarku yang tengah menghadapi ujian dan cobaan yang lebih sulit dan berat.

Sungguh, hari ini Allah memapahku pada sebuah pelajaran yang penting dan berkesan. [#RD]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *